Ada suatu ketakutan yang amat sangat…

Mungkin suatu saat nanti kau akan melupakan aku,

Namaku, wajahku, siapa aku, dan posisiku dalam hidupmu…

Tapi harus kau tahu, tak pernah terlintas di benakku

Bagaimana aku kelak jika tidak ada kamu dalam memoriku…

 

 

JI-YOO’S POV

Aku mengetuk-ngetukkan jariku ke atas meja dengan raut wajah gusar. 28 Maret. 1 minggu sebelum ulang tahun namja itu. Apa yang harus kuberikan untuknya? Lee Hyuk-Jae, apa yang kau inginkan?

Aku mendesah dan membaringkan kepalaku ke atas meja. Tanganku sibuk memencet-mencet keypad HP, mencari kabar tentangnya di internet.

Aku sama sekali belum memaafkan keputusannya untuk bergabung dengan SuJu M. Tidak, jika itu hanya membuat kesibukannya semakin bertambah banyak. Cih, dia pikir dia sekuat itu apa? Apa dia tidak puas dengan menjadi member dua sub grup dan memiliki setumpuk pekerjaan yang jauh lebih banyak dibandingkan member lain? Rasanya aku ingin mentransplantasi otaknya yang bodoh itu sesegera mungkin!

Lihat, dia bahkan harus berada di Taiwan untuk dua bulan ke depan. Aku bahkan tidak bisa bertemu dengannya sama sekali! Tubuhnya itu juga semakin kurus saja. Aish, Lee Hyuk-Jae itu selalu saja membuatku khawatir setengah mati. Pokoknya aku tidak akan memaafkan namja itu kalau dia tidak pulang ke Korea secepatnya!

Aku mendengus membaca berita terbaru tentangnya. Tidak bisa makan dengan baik, eh? Mau makan kimchi? Siapa suruh kau pergi ke Taiwan, Lee Hyuk-Jae?

Huh, sepertinya aku sudah menemukan hadiah yang tepat untuknya.

***

“Onnie, bisakah kau mengajariku memasak? Kau kan koki hebat. Mau, ya?” bujukku sambil menarik-narik baju Ah-Zin onnie yang sibuk menghias kue di depannya.

“Aigoo, Yoo~ya, aku ini cuma bisa membuat kue. Aku tidak bisa memasak sama sekali. Kau salah orang.”

Aku mengerucutkan bibirku dengan tampang putus asa. Aish, kenapa Wookie oppa harus ikut ke Taiwan segala, sih? Sungmin oppa juga. Aku tidak punya harapan lagi!

Aku menarik kursi dan duduk di atasnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ck, kenapa aku tidak bisa memasak sama sekali?

Jalan terakhir yang patut dicoba hanyalah….

***

“Tangpyeongchae,” gumamku, membaca tulisan yang terpampang di layar laptopku. Aku sedang mencari resep-resep masakan Korea di Google, berharap setidaknya ada keajaiban yang membuatku bisa memasak dalam waktu kurang dari lima hari.

Aku mengambil pena dan mulai membuat daftar makanan yang akan aku buat di atas kertas.

“Miyeok guk (sup rumput laut), itu harus dimasukkan ke daftar. Hmm… bulgogi? Kimchi? Kimbap, setidaknya itu kelihatannya sedikit mudah. Hanya nasi gulung saja. Aku pasti bisa! Aish, bagaimana dengan ddeokbokki? Ya sudah, itu saja!”

Aku menatap deretan huruf di atas kertas sambil tersenyum senang. Sepertinya lumayan. Tapi sedetik kemudian bahuku langsung melorot turun lagi. Apa aku yakin bisa membuat itu semua?

Aish, Lee Hyuk-Jae, semenyebalkan apapun kau, tetap saja aku mau bersusah-payah untukmu!

Pikiran bodohku terhenti saat HP-ku bergetar. Poo?

“Yeoboseyo?”

“Yoo~a, kenapa kau tidak pernah menghubungiku? Apa kau tidak merindukanku?”

“Dan kenapa harus aku yang menghubungimu duluan? Kenapa bukan kau saja yang menghubungiku?” tanyaku ketus. Dia ini membuatku darah tinggi saja.

“Kau kan tahu menelepon ke luar negeri itu mahal sekali, jadi….”

Belum selesai dia berbicara, aku langsung mematikan hubungan telepon. Apa dia tidak bisa mengenyahkan sifat pelitnya itu sebentar saja?

***

AUTHOR’S POV

“Hyung, jadi bagaimana rencana kita untuk memberi Eunhyuk hyung kejutan? Apa sudah ada ide yang bagus? Dua hari lagi kan ulang tahunnya,” ujar Wookie. Dia menatap Donghae penuh harap.

“Aku juga tidak punya ide.”

“Aku ada ide,” potong Henry dengan tampang imutnya, yang kali ini dicemari oleh seringai setan di bibirnya. Namja itu mendekat ke arah member lain dan berbisik.

“MWO? Apa itu tidak keterlaluan?” teriak Siwon syok.

“Yak, hyung, kecilkan suaramu. Kalau Eunhyuk dengar bagaimana?” ujar Kyuhyun sambil melotot. “Idenya bagus. Pakai ide Henry saja.”

“Karena kau setan, tentu saja menurutmu idenya itu bagus. Tapi menurutku idenya keterlaluan.”

“Karena kau terlalu alim tentu saja menurutmu ide itu keterlaluan,” kata Kyuhyun membalikkan kalimat Siwon tadi.

“Hah, susah bicara denganmu!”

“Tapi… Hyukkie pasti akan syok sekali. Kalau dia menangis bagaimana?”

“Kau berlebihan, Donghae~ya!”

***

JI-YOO’S POV

Aku menghabiskan tabunganku selama sebulan untuk membeli tiket ke Taiwan dan untuk membeli bahan-bahan masakan yang pada akhirnya terbuang sia-sia karena ketololanku dalam memasak. Tapi sepertinya kemampuanku tidak meningkat sama sekali. Huh, kenapa sih dia harus merindukan masakan Korea? Tidak yang mudah dilakukan saja? Misalnya susu stroberi? Itu kan mudah! Aku tinggal ke supermarket saja untuk membelinya.

“Bibi!” seruku sambil melambaikan tangan ke arah Bibi Jung yang menungguku di antara para penjemput lainnya. Bibi Jung adalah adik ibuku, tapi dia sudah 5 tahun terakhir tinggal di Taiwan untuk menemani suaminya yang bekerja disini.

“Aaah, Ji-Yoo~ya, kau semakin cantik saja! Aku terkejut sekali saat kau meneleponku dan berkata ingin datang kesini. Kau kesini dalam rangka apa? Apa kau rindu pada Bibi?” tanyanya sambil memelukku.

“Tentu saja aku merindukan Bibi. Aku kesini ingin merayakan ulang tahun temanku. Boleh kan aku menginap di rumah Bibi?”

“Aigoo, tentu saja boleh! Kau ini ada-ada saja! Ayo, Bibi sudah memasakkan makanan kesukaanmu di rumah!”

Aku tersenyum dan berjalan mengikutinya. 3 April. Malam ini ulang tahunnya. Hari dimana dia terlahir ke dunia ini. Bukankah hal itu sangat amat pantas untuk dirayakan?

***

Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur sambil menatap buku catatan resepku dengan sangsi. Kemarin, aku masih menghancurkan hasil masakanku. Menggulung kimbap yang benar saja aku tidak bisa. Benar-benar payah!

Rencananya aku akan datang ke dorm mereka besok pagi. Aku sudah menghubungi Seung-Hwan oppa dan dia sudah memastikan agar aku mendapat akses masuk. Nah, masalahnya sekarang adalah, apakah aku bisa menghasilkan masakan yang benar?

Sudah jam 12 malam. Aku tersenyum saat melihat foto pesta ulang tahun yang diuploadnya ke twitter. Buram dan gelap. Hanya memperlihatkan mereka sedang bermain kembang api bersama dan foto Hyukkie sedang berdiri di balkon dorm dengan tangan membentuk hati di atas kepala.

Namja itu. Setelah teleponnya aku putuskan waktu itu, dia bahkan tidak berusaha untuk menghubungiku lagi. Tapi aku tetap saja datang kesini dengan bodohnya. Choi Ji-Yoo, bagaimana kalau ternyata dia sudah melupakanmu dan menemukan yeoja baru?

Coba saja kalau dia melakukannya. Aku akan mencincang dan menggorengnya seperti ikan teri!

***

Aku mencoret makanan keempat yang sudah selesai kukerjakan. Tinggal kimbap saja yang belum. Oke, semangat, Choi Ji-Yoo!

Aku sengaja bangun pagi-pagi buta untuk mulai memasak. Kimchi sudah aku bawa dari Korea, jadi yang tinggal kukerjakan hanya bulgogi, sup rumput laut, ddeokbokki, dan kimbap saja.

Aku meletakkan nasi, daging, dan sayur-sayuran di atas kim, rumput laut kering, dan menggulungnya dengan hati-hati. Seperti biasa, pekerjaanku selalu gagal. Nasinya malah berantakan kemana-mana. Tapi biar saja, setidaknya ini masih bisa dimakan.

Aku menggeliatkan badanku dan langsung tersenyum salah tingkah saat melihat bibiku yang berdiri di pintu dapur.

“Maaf, sepertinya aku baru saja menghancurkan dapur Bibi,” kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Gwaenchana. Kau bangun jam berapa, Ji-Yoo~ya? Sepertinya kau sibuk sekali. Kau memasak untuk pacarmu?”

“Ne?”

“Ah, tentu saja untuk pacarmu. Mana ada gadis yang mau bangun pagi-pagi buta untuk memasak kalau hanya untuk temannya saja? Apalagi Bibi tahu, kau kan tidak bisa memasak, Ji-Yoo~ya.”

“Ng… apa menurut Bibi dia akan menyukainya? Bagaimana kalau masakanku ternyata tidak enak?”

Bibiku tersenyum dan mengusap rambutku pelan.

“Kau tahu? Kalau dia memang mencintaimu, dia tidak akan peduli apakah kau tampil cantik atau tidak, apakah kau bisa memasak atau tidak, dia akan menerima dirimu apa adanya. Bahkan mungkin dia akan tetap mengatakan bahwa masakanmu enak dan memakannya sampai habis, padahal sebenarnya malah kebalikannya. Ini semua, akan membuatmu menyadari perasaannya padamu, Yoo~ya.”

Benarkah? Aku sangsi namja itu akan memakan masakanku dengan suka rela. Jadi kalau dia menolak memakannya, itu berarti dia tidak mencintaiku?

***

Aku berdeham membersihkan kerongkonganku dan menatap gedung apartemen di hadapanku. Oke Ji-Yoo, tidak mungkin kan kalau kau menyerah sekarang? Jadi cuek saja! Kau bisa menghadapinya!

Aku melangkah masuk dan naik ke lantai atas. Setelah menguatkan diri, aku mengulurkan tanganku dan memencet bel.

“Aigoo, Ji-Yoo~ya! Kau datang!” seru Wookie oppa syok. Aku tahu kedatanganku kesini memang mengejutkan, tapi tampangnya tidak harus seperti itu, kan? Wajahnya kelihatan pucat sekali. Mencurigakan.

“Boleh aku masuk?”

“Eh… ng… i… iya, si… silahkan,” ujarnya dengan wajah yang jelas-jelas ketakutan.

“Oppa kenapa?” tanyaku bingung.

“A… ani.”

“Ji-Yoo~ya!” Kali ini Donghae oppa yang terlihat syok dengan kedatanganku.

“Annyeong, oppa!” sapaku ramah.

Siwon oppa muncul dan lagi-lagi juga terkejut dengan kedatanganku. Dia tersenyum dengan wajah terpaksa dan langsung mendekat ke arah Wookie dan Donghae oppa. Mereka bertiga saling berpandangan kemudian mengangkat bahu.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Kali ini aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Mereka benar-benar mencurigakan. “Hyukkie mana?”

“Eh… ng… dia belum bangun,” jawab Donghae oppa gugup.

“Ya sudah, kamarnya dimana? Biar aku yang bangunkan.”

“Biar aku saja yang bangunkan!” ujar Donghae oppa buru-buru, membuatku semakin curiga.

“Bisa oppa beritahu aku dimana kamarnya? Aku jadi curiga dia sedang melakukan sesuatu,” kataku penuh penekanan. “Wookie oppa?”

Dia tampak mengkeret ketakutan di bawah tatapanku yang menghujam dan dengan takut-takut menunjuk ke salah satu pintu.

Aku baru saja sampai di depan pintu kamar dan berniat membukanya, saat Henry oppa tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku sambil merentangkan tangannya.

“Annyeong, Ji-Yoo~ya! Kita belum berkenalan, kan?” sapanya sambil memasang wajah aegyo-nya.

“Tidak akan mempan, oppa! Minggir, aku ingin tahu apa yang kalian sembunyikan!”

Aku mendorong tubuhnya dan membuka pintu. Apa yang kulihat sedetik kemudian sukses membuat mataku terbelalak lebar. Eunhyuk sedang berbaring di atas tempat tidurnya hanya memakai boxer, dengan posisi memeluk seorang gadis yang memakai tank-top dan celana pendek.

Aku menarik nafas berat, berusaha menahan air mataku yang mendesak keluar. Tubuhku sedikitt terhuyung ke belakang, tiba-tiba kehilangan keseimbangan untuk berdiri dengan benar. Kotak makanan yang tadinya kupegang dengan hati-hati dengan mudah aku jatuhkan ke lantai begitu saja.

“Aku rasa… aku harus pergi sekarang,” kataku dengan suara bergetar. “Tolong beritahu dia, jangan pernah muncul di hadapanku lagi.”

Aku membanting pintu dorm sampai menutup dan berlari pergi. Kali ini air mataku benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi.

Aku tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Seorang Lee Hyuk-Jae, member boyband terkenal, tidak mungkin bisa mencintai gadis biasa sepertiku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana mungkin dia mengejar-ngejarku dan memintaku menjadi kekasihnya. Alasannya mencintaiku, itu mungkin hanya ketertarikan sesaat dan dia sudah menyadarinya sekarang. Aku sudah tahu dia akan meninggalkanku cepat atau lambat. Dan sekarang saatnya. Perlahan-lahan aku akan menghilang dari memori otaknya.

***

EUNHYUK’S POV

“Hyukkie~a, bangun! Hyuk~a, kau harus bangun sekarang! Ppali!”

Aku membuka mataku dengan susah payah sambil menguap. Kenapa rasanya kepalaku berat sekali? Aku bahkan tidak ikut minum-minum tadi malam.

“IGE MWOYA?!” teriakku keras saat menyadari bahwa aku sedang memeluk seorang yeoja. Aku bahkan tidak memakai baju sekarang.

Tunggu, aku yakin semalam aku tidak melakukan apa-apa. Melihat yeoja ini saja belum pernah. Tapi kenapa dia bisa ada di atas ranjangku dan berada dalam pelukanku?

“Apa kalian semua bisa menjelaskan ini padaku sekarang?!” ujarku marah.

***

“Mi… mianhae hyung, itu ideku. Aku… memberi ide sebagai kejutan ulang tahunmu. Rencananya kami memberi obat tidur di minumanmu dan menyuruh gadis itu tidur di sampingmu. Gadis itu teman Zhoumi hyung. Saat kau bangun, kami semua akan berpura-pura terkejut dan menyuruhmu bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan dan mengancam memberitahukannya pada manajer. Kami akan mengerjaimu sampai kau menangis. Tapi… eh, sesuatu terjadi dan rencana kami gagal,” jelas Henry dengan bahasa campur aduk, Korea dan Mandarin.

“Apa yang terjadi?” tanyaaku sambil berkacak pinggang.

“Eh… ng… Ji-Yoo datang, Hyuk~a.”

Aku menatap Donghae dengan pandangan tak percaya.

“Ji-Yoo?” ulangku. “Dia kan berada di Korea.”

“Ani. Dia tadi datang kesini. Sepertinya bermaksud memberi kejutan untukmu.”

Donghae menujuk kotak makanan besar di atas meja yang masih terbungkus rapi. Aku bergegas membukanya dan menemukan makanan-makanan yang beberapa hari terakhir sangat aku rindukan. Susunannya sudah berantakan, sepertinya Ji-Yoo sempat menjatuhkannya tadi.

Ji-Yoo, gadis yang sangat benci masuk ke dapur, bahkan melakukan hal yang tidak disukainya hanya untuk memberiku kejutan? Dan aku malah mengecewakannya seperti ini?

“Jadi maksud kalian, dia kesini dan mendapatiku sedang tidur dengan gadis itu? Begitu?” tanyaku marah.

“Dia bilang… kau tidak boleh muncul di hadapannya lagi,” kata Siwon hati-hati.

Aku menahan amarahku yang sudah mencapai ubun-ubun dan menggertakkan gigiku kesal. Setengah mati aku menahan tanganku yang terkepal agar tidak meninju salah satu dari mereka.

“Kami akan menemui Ji-Yoo dan menjelaskan semua ini padanya,” ujar Donghae buru-buru.

“Tidak perlu. Dia gadisku, biar aku yang menjelaskan semuanya. Dan dia harus mendengarkanku.”

 

***

 

Karena cinta itu bukan karena, tapi walaupun…

 

Aku mengetuk pintu rumah bercat putih di hadapanku beberapa kali. Seung-Hwan hyung memberitahuku bahwa Ji-Yoo menginap di rumah bibinya dan baru akan kembali ke Korea besok, membuatku lega bahwa aku tidak perlu mengejarnya ke Korea dan menimbulkan masalah baru lagi.

“Astaga, bukankah kau Eunhyuk Super Junior? Sedang apa kau di rumahku?” Seorang wanita berusia sekitar 50-an yang membukakan pintu menatapku takjub. Jadi ternyata ada juga orang yang mengenaliku?

“Annyeonghaseyo, bibi. Apa aku bisa bertemu Ji-Yoo?” tanyaku sambil membungkukkan badan sopan.

“Ah, jadi kau pacar Ji-Yoo? Aigoo, aku tidak menyangka keponakanku memiliki kekasih artis. Jadi kau yang membuatnya bangun pagi-pagi buta untuk memasak dan melukai tangannya? Ayo masuk. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tadi Ji-Yoo pulang sambil menangis dan belum keluar kamar sama sekali. Aku rasa kau kemari untuk menjelaskan, kan? Dia di kamarnya. Masuk saja.”

Aku membungkuk sekali lagi dan membuka pintu yang ditunjuknya.

Kamar itu gelap karena semua gordennya ditutup. Aku melihat Ji-Yoo meringkuk di atas lantai di sudut kamar sambil memeluk kakinya.

Dengan susah payah aku berjalan masuk dan membuka gorden yang menutupi jendela, membiarkan cahaya matahari menerobos masuk.

Ji-Yoo mengangkat wajahnya dan menatapku dengan matanya yang bengkak.

“Apa mereka tuli atau memang bodoh sampai tidak memberitahumu bahwa aku tidak mau kau muncul lagi di hadapanku?”

Aku melangkah mendekat dan duduk di atas lantai, tepat di depannya.

“Aku akan menjelaskannya dan aku tidak peduli kau membenciku saat ini, tapi kau benar-benar harus mendengarkanku baik-baik. Aku tidak mau kehilangan gadis yang aku cintai tepat di hari aku terlahir ke dunia ini hanya gara-gara kesalahpahaman bodoh.”

“Kesalahpahaman bodoh katamu? Kau….”

“Yoo,” potongku penuh penekanan. “Itu hanya rencana para member untuk merayakan ulang tahunku. Gadis itu teman Zhoumi. Mereka tidak menyangka ternyata kau akan datang ke dorm.”

Dia mendengus dan memalingkan wajahnya.

“Yak, aku kan sudah menjelaskannya, kenapa kau masih marah padaku?”

Dia tidak menjawab dan malah membenamkan wajahnya ke lutut lagi.

“Yoo?” panggilku sambil menarik nafas berat.

“Aku bukan gadis yang tepat untukmu,” ujarnya dengan suara serak. “Aku hanya gadis biasa. Cepat atau lambat kau mungkin akan sadar dan memutuskan untuk meninggalkanku. Jadi sekarang atau nanti tidak akan ada bedanya. Wajahku biasa saja, aku tidak bisa memasak, keras kepala, selalu membuatmu kesal dengan tingkah lakuku, aku bukan gadis yang baik untukmu, aku….”

“Menurutmu apa alasanku jatuh cinta padamu? Apa aku pernah bilang bahwa aku jatuh cinta padamu karena kau cantik? Lalu apa karena kau tidak cantik lagi kemudian aku akan meninggalkanmu?”

“Keurae, aku akan menjelaskannya padamu sekarang. Kau ingat pertemuan pertama kita? Ah bukan, saat itu kau bahkan tidak menyadari kehadiranku. Saat itu, aku jatuh cinta pada gadis yang bahkan tidak aku tahu namanya, gadis yang merangkai bunga sambil tersenyum bahagia, gadis yang menyerahkan bunga rangkaiannya secara cuma-cuma kepada seorang nenek tua yang tidak dikenalnya. Jadi… apa menurutmu aku jatuh cinta pada wajahmu? Karena jawabannya tidak. Aku jatuh cinta bukan karena kau cantik, bukan karena aku berharap kau bisa memasak dan bisa kubanggakan pada semua orang. Aku mencintai Ji-Yooku, walaupun dia tampil berantakan, walaupun dia tidak bisa memasak, walaupun dia keras kepala, walalupun dia mengacuhkanku berhari-hari karena aku memutuskan bergabung dengan SuJu M. Aku mencintai gadisku yang bangun di pagi buta untuk melakukan hal yang sangat dibencinya hanya demi memberiku kejutan, bahkan melukai tangannya sendiri. Kau tahu? Aku mencintaimu dengan cara lain. Bukan karena, tapi walaupun.”

“Poo….”

Aku tersenyum dan mencubit pipinya.

“Kau jelek sekali kalau menangis tahu!” ujarku sambil mengacak-acak rambutnya.

Perlahan aku merengkuh wajahnya dengan kedua tanganku dan mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.

“Ji-Yoo bodoh, mulai sekarang berhentilah berpikiran bahwa aku akan meninggalkanmu. Kan sudah aku bilang, satu-satunya gadis yang kutawarkan untuk menduduki posisi sebagai Nyonya Lee hanya kau saja.”

“Kau menyebalkan!”

“Dan kau bodoh karena mencintai namja menyebalkan sepertiku.”

***

JI-YOO’S POV

Aku menatap wajah di hadapanku dengan senyum terkembang di wajah. Dia selalu membuatku kesal, tapi dalam waktu singkat dia juga berhasil membuat perasaanku tenang lagi dengan mudah. Namja ini, namja yang bersinar ini, aku mencintainya….

“Saengil chukhahae,” ucapku dengan suara pelan, mengulurkan tanganku dan memeluk tubuhnya. “Mungkin terdengar seperti basa-basi, tapi… aku senang kau terlahir ke dunia ini.”

“Tumben kau mengatakan sesuatu yang manis padaku,” ejeknya dengan bibir mengerucut.

“Hanya sekali ini saja, Lee Hyuk-Jae.”

“Hmm… tidak apa-apa. Aku pasti akan membuatmu mengatakannya lagi kapan-kapan. Ah iya, aku sudah menghabiskan makanan yang kau masakkan untukku.”

“Meng… habis… kannya?” tanyaku terbata. “Tapi… aku saja sempat mencobanya tadi. Dan itu benar-benar tidak pantas untuk dimakan.”

“Rasanya memang tidak karuan, tapi kau sudah susah payah memasakkannya untukku, mana mungkin aku tidak menghabiskannya.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Jadi dia memang mencintaiku, eh?

“Saranghae,” ucapnya sambil mengecup bibirku sekilas.

Dia mengangkat wajahnya dan menatap mataku lekat-lekat.

“Jadi… apa kau terlalu mencintaiku sampai jauh-jauh datang ke Taiwan, bangun pagi-pagi, dan memasak demi memberiku kejutan? Aigoo, Choi Ji-Yoo, kau benar-benar menakjubkan!!!”

“Lee Hyuk-Jae,” ujarku dengan nada berbahaya. “Kau benar-benar merusak suasana!”

 

END

 

Wah, ini rekor, loh! Dua hari dua ff. Hehehe. Tapi khusus untuk ulang tahun Hyukkie, aku dengan senang hati melakukannya!

Yak, ff ini lanjutan yang Like An Idiot, ya! Masih inget, kan?

Dan untuk dongsaengku, Shela aka Choi Ji-Yoo, mian ff nya telat sehari dari jadwal yang ditentukan. Kemaren aku lagi buntu ide! Dan mian juga kalau ceritanya biasa-biasa aja. Aku nggak tahu apa hadiah yang tepat buat Hyukkie. Satu lagi, hwaiting buat ujian akhirnya. Semoga lancar dan lulus dengan nilai memuaskan!

Hyukkie oppa, saengil chukhahae!!!!

Jangan ada yang protes kalau FF nya kependekan! Hohoho, ini emang cuma 12 halaman, FF terpendek yang pernah aku bikin. Ini kan ff khusus, makanya pendek. Seperti biasa, ditunggu komen, kritik, dan sarannya.

7 April, FF Siwon. Semoga bisa selesai tepat waktu.