RYEOWOOK’S POV

Beginilah rasanya menjadi member yang tidak memiliki popularitas bersinar seperti member lainnya. Saat semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, aku malah mendekam sendirian di dorm. Aku tidak pernah mengeluh. Tidak. Toh aku sudah sangat bersyukur dengan keadaanku sekarang. Memiliki keluarga dan penggemar, bukankah itu sudah lebih dari cukup?

Aku bangkit dari sofa dan pergi ke dapur. Perutku lapar tapi aku sedang malas memasak. Aku hanya ingin makan makanan ringan sebelum waktu makan malam datang 4 jam lagi karena sekarang masih jam 3 sore. Aneh, biasanya perutku tidak pernah bereaksi seperti sekarang. Ini pasti gara-gara Shindong hyung yang sering mengajakku makan cemilan sehingga perutku mulai terbiasa dan langsung memberontak di jam-jam seperti ini.

Aku membuka kulkas dan mendapati makanan-makanan ringan yang biasanya ada disana raib begitu saja. Pasti kerjaan hyung-ku itu lagi. Padahal dia kan tinggal di atas. Hmm, atau Eunhyuk hyung yang memang suka kelaparan malam-malam? Kyuhyun juga bisa dijadikan tersangka karena biasanya dia menghabiskan banyak cemilan saat main game, padahal dia punya apartemen sendiri, tapi tetap saja dia selalu mengambil makanan di dorm ini. Haaah, kenapa ini bisa terjadi di saat aku sedang kelaparan seperti sekarang?

Aku merengut kesal dan memutuskan pergi ke supermarket di lantai bawah apartemen untuk membeli cemilan. Lama-lama di dorm tanpa melakukan apa-apa bisa menyebabkan bosan juga.

Aku mengambil jaketku dan menutupi kepalaku dengan hoodie. Aku tidak memerlukan masker, kacamata hitam, atau berbagai peralatan untuk menyamar lainnya seperti yang biasa dilakukan hyung-hyungku yang lain, karena biasanya tidak ada yang akan mengenaliku meskipun aku sedang berkeliaran di area publik. Aku hanya terlihat bersinar saat berdiri bersama member yang lain, lain halnya jika aku hanya sendiri. Mungkin karena aku tidak tampan seperti Siwon hyung, berkharisma seperti Leeteuk hyung, atau menarik perhatian wanita seperti Kyuhyun. Tapi hal ini tidak membuatku merasa rendah diri, karena member-member lain malah iri denganku yang bisa berkeliaran sembarangan sesuka hati.

Cuaca di luar cukup dingin, walaupun tidak membuat tubuh sampai membeku seperti saat malam hari. Aku mengurungkan niatku ke supermarket dan malah berjalan keluar dari gedung apartemen. Di luar cukup banyak kafe-kafe kecil yang menjual makanan ringan dan kue-kue. Lumayan untuk mengganjal perut. Mumpung aku sedang tidak punya pekerjaan. Aku jadi ingat dengan kegiatan SuJu M di Taiwan sebentar lagi. Kami harus berada disana selama tiga bulan. Hah, pasti aku akan merindukan Leeteuk, Heechul, Yesung, dan Shindong hyung lagi. Apalagi Yesung hyung, dia kan sangat dekat denganku.

Aku berhenti di depan sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari apartemen kami. ChocoBerry Love. Itu nama kafenya. Sepertinya pemilik kafe ini sangat tergila-gila dengan cokelat dan stroberi. Kalau aku mengajak Eunhyuk hyung ke sini dia pasti akan senang sekali.

 

Aku membuka pintu kafe dan terdengar bunyi lonceng berdentang. Seorang pegawai tersenyum ramah ke arahku dan mempersilahkanku duduk. Aku menyukai desain interior kafe ini. Lain dari kafe-kafe biasanya. Bagian konter kue dipenuhi lukisan-lukisan cokelat dan stroberi di sepanjang dindingnya, sesuai dengan konsep kafe ini, penuh dengan nuansa cokelat dan merah. Tapi bagian tempat duduk pengunjung bernuansa hijau dan dindingnya ditutupi lukisan pepohonan, memberi aura menenangkan.

Seorang pelayan menyerahkan buku menu kepadaku, lagi-lagi diikuti dengan senyum ramahnya. Pelayanan yang baik, komentarku dalam hati. Ah, lain kali aku harus mengajak hyung-hyungku mengunjungi kafe ini.

Aku membolak-balik buku menu itu dan langsung merasa sakit kepala. Apa yang harus aku pesan? Semuanya kelihatan enak di mataku. Aigoo, aku mau semuanya! Hah, lebih baik setiap hari aku datang ke kafe ini dan mencoba semua menunya satu per satu. Itu ide terbaik yang bisa kutemukan.

Aku memutuskan memesan chocolate cake with strawberry and mint dan semangkuk pat bing soo. Pasti rasanya enak sekali. Belum-belum aku sudah meneteskan air liur membayangkannya. Aish, Kim Ryeowook, kenapa kau jadi tidak ada bedanya dengan Shindong hyung?

 

***

 

AH-ZIN’S POV

Aku sedang mengaduk krim cokelat yang akan kugunakan untuk menghias kue berikutnya saat Ha-Kyo berlari masuk ke dapur dengan nafas terengah-engah. Aku mendelik menatapnya. Dapur adalah tempat paling sensitif untukku, semuanya harus rapi, bersih dan… hening. Aku pemilik sekaligus satu-satunya pembuat kue di kafe ini, karena itu aku memegang kendali penuh atas semuanya. Dan aku paling tidak suka ada orang yang mengganggu konsentrasiku dalam membuat kue.

Jika kalian mengira aku adalah gadis kaku yang susah bergaul, kalian salah besar. Satu-satunya hal yang membuatku menjadi kaku hanya dapur, keluar dari sini aku hanyalah gadis biasa seperti yang lain. Bercanda, berbuat jahil, dan sebagainya, itu kepribadianku setelah keluar dari dapur.

Ha-Kyo adalah sepupuku, sekaligus pelayan di kafe ini. ada dua pegawai lain yang bertugas menyambut tamu dan menjadi kasir, Jang-Mi dan Hana onnie. Kami semua satu keluarga dan kami berempat juga yang mendirikan kafe ini bersama-sama sampai menjadi sukses seperti sekarang.

“Kau kenapa, Ha-Kyo~ya?” tanyaku tajam, berusaha tidak meneriakinya. Gadis ini masih berumur 19 tahun dan sangat labil.

“Aigoo, onnie, jangan memasang tampang menyeramkan seperti itu, aku juga tidak akan masuk kesini kalau aku tidak ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting padamu.”

“Apa?” Aku membelakanginya karena sibuk mengoleskan krim tadi ke badan kue. Aku melakukannya dengan sangat cepat. 5 tahun bergelut di bidang ini membuatku amat sangat terampil sekarang.

“Di luar ada Ryeowook oppa!” jeritnya dengan suara cempreng andalannya itu.

Aku berbalik dan menatapnya sangsi.

“Kau yakin? Mana mungkin seorang artis datang kesini.”

“Aish, onnie, aku ini fansnya, mana mungkin aku tidak mengenali idolaku sendiri! Onnie lihat saja di luar, tapi jangan bertingkah memalukan, ya!”

Aku menjitak kepalanya pelan dan melangkah meninggalkan Ha-Kyo yang meringis kesakitan, mengintip dari balik pintu dapur. Benar saja, aku melihat namja itu sedang duduk di salah satu kursi sambil memainkan HP-nya. Aigoo, aku bahkan tidak pernah membayangkan bisa melihatnya dalam jarak dekat seperti ini. Dia imut sekali!

“KYA!!!! Eotteoke?” teriakku tanpa sadar sambil meremas tangan Ha-Kyo.

Kim Ryeowook itu adalah satu-satunya namja yang berhasil menjadi idolaku, karena selama ini aku tidak pernah tertarik dengan hal-hal semacam itu. Aku tidak tahu kenapa aku menyukainya, karena dia tidak tampan, tidak macho, tidak mempesona seperti member SuJu lainnya. Tapi entah kenapa dia terlihat begitu bersinar di mataku, tanpa aku tahu alasannya. Aku menyukai suaranya, cara dia bernyanyi, dan caranya tersenyum. Dia kelihatan imut sekali! Dan sekarang… namja itu ada di tempat yang sama denganku!!!

“Onnie, kau mau menatapnya sampai kapan, hah? Kau mau membuatnya menunggu lama?” Suara Ha-Kyo menyusup ke telingaku, membuatku tersadar dari lamunanku yang memalukan.

“Hah? Ne. Dia pesan apa, Ha-Kyo~ya?”

Chocolate cake with strawberry and mint dan pat bing soo.”

“Hmm. Eh, Ha-Kyo~ya, kau tadi melihatnya dari jarak dekat, kan?”

“Ne. Waeyo? Kau mau mengantar pesanannya sendiri?”

“Ani. Melihatnya dari sini saja kakiku sudah gemetaran, apalagi kalau aku sampai berdiri di hadapannya. Bisa-bisa aku pingsan di tempat.”

“Kau ini terlalu berlebihan, onnie~ya! Kau menyukainya, ya?”

Aku mengerutkan keningku bingung.

“Tentu saja aku menyukainya, dia kan idolaku.”

“Bukan itu maksudku!!! Apa kau menyukainya sebagai seorang namja? Maksudku, apa kau mencintainya sebagai namja biasa, bukan sebagai seorang idola? Karena terkadang, kau terlalu berlebihan menyangkut seorang Kim Ryeowook, onnie. Kau sampai menangis semalaman kan gara-gara dia menari hot dengan dancer di SuShow 2? Kau juga cemburu setengah mati saat dia duet dengan Beige onnie. Banyak bukti lainnya. Jadi bagaimana?” tanya Ha-Kyo menyudutkanku.

“Aish, kau ini ada-ada saja!” elakku. Aku buru-buru menyiapkan pesanannya. Kebetulan kue pesanannya itu baru saja matang, tinggal dihias saja. Sebenarnya bisa saja aku mengambil kue yang sudah jadi, tapi aku ingin memberikan kue paling istimewa untuknya. Aku menumpuk dua lapis kue berwarna cokelat. Kue bagian atas kulapisi dengan krim vanilla, kemudian menuangkan cokelat leleh di atasnya. Tidak lupa aku meletakkan sebuah stroberi dan daun mint sebagai sentuhan terakhir. Aku menyelesaikan pekerjaanku dan menyodorkan baki ke tangan Ha-Kyo.

 

 

“Onnie benar-benar tidak mau menghampirinya? Ini kesempatan sekali seumur hidup loh, onnie. Mungkin saja kau tidak akan memiliki kesempatan lagi,” godanya.

Aku merengut mendengar ucapannya itu. Aku tahu ini kesempatan sekali seumur hidup, tapi aku juga tahu apa yang akan terjadi kalau aku sampai menghampirinya. Benar, aku bisa-bisa pingsan di hadapannya. Ini pertama kalinya aku menyukai seorang namja, jadi sepertinya aku sama sekali tidak bisa mengendalikan diri dengan baik.

Tiba-tiba saja sebuah ide melintas di otakku. Cukup bagus, setidaknya bisa saja dia tertarik dan… datang kesini lagi kapan-kapan.

“Tunggu sebentar!” seruku ke arah Ha-Kyo yang sudah melangkah keluar dapur. Aku cepat-cepat mengambil kartu di atas meja yang biasanya kugunakan untuk menulis pesan dari pelanggan untuk orang yang dikiriminya kue dan menulis beberapa baris kalimat di atasnya.

Aku meletakkan kartu itu di atas piring kecil berisi kue tadi dan mendorong tubuh Ha-Kyo keluar.

“Kalau dia bertanya tentang kartu itu, kau tidak boleh memberitahunya apapun. Ara?”

Dia mengangkat bahunya dan tersenyum.

“Kau mau menggodanya seperti di film-film ya, onnie?”

 

***

 

RYEOWOOK’S POV

“Selamat menikmati!” ujar pelayan tadi setelah menghidangkan pesananku di atas meja.

“Gomaweobseumnida,” ucapku sambil tersenyum. Gadis itu berlalu, meninggalkanku sendirian dengan makanan menggiurkan di hadapanku.

Mataku tertumbuk pada kartu yang tergeletak manis di atas piring. Aku mengerutkan keningku heran dan mengambilnya. Ada semburat wangi stroberi saat aku membuka kartu itu.

 

Annyeonghaseyo, oppa! Kau tampak imut sekali hari ini! ^^

Tidak usah memikirkan siapa aku, anggap saja aku ini penggemar beratmu.

Kue ini… kau harus menikmatinya dengan sepenuh hati, karena aku juga membuatnya dengan sepenuh hati.

Terima kasih telah datang kesini hari ini, oppa. Aku harap kau tidak keberatan untuk mampir lagi kesini kapan-kapan.

Ah, dan… aku suka suaramu. Kau adalah member SuJu paling bersinar menurutku. Jangan berpikir kau itu member paling biasa, setidaknya kau terlihat luar biasa di mataku.

Makanlah kue ini oppa, aku harap setiap harinya kau makan dengan baik.

Gamsahamnida.

 

Aku tertegun membaca tulisan itu. Aku member SuJu paling bersinar?

Aku tersenyum dan melipat kartu itu, menyelipkannya ke dalam saku jaketku. Dia adalah orang pertama yang berkata seperti itu padaku. Orang pertama yang mengatakan bahwa aku bersinar dan tampak luar biasa. Gadis ini… dia pasti juga gadis yang luar biasa.

Aku mengambil garpu kecil di samping piringku dan memotong kue itu dengan hati-hati. Rasanya sayang sekali untuk memakan kue secantik ini.

Aku menyuapkannya ke dalam mulut dan merasakan lelehan cokelatnya lumer di lidahku. Manis. Kuenya memang enak sekali. Lembut dan struktur kuenya terasa gurih di mulut. Gadis itu membuatnya dengan sepenuh hati, kan? Siapa ya namanya? Aku jadi penasaran.

Aku menghabiskan kue itu dalam sekejap dan mulai menikmati pat bing soo-ku. Sama enaknya. Manis, tapi tidak membuat mual. Gadis ini benar-benar pintar memasak.

 

Aku menyelesaikan makanku dan melangkah ke meja kasir. Pelanggan yang datang sudah cukup banyak dan aku tidak cukup berani untuk mencoba keuntunganku hari ini. Para pelayan itu bahkan bisa mengenaliku dengan mudah.

Setelah membayar, aku menghampiri pelayan yang tadi mengantar pesananku. Dia terlihat cukup kaget, tapi berhasil menguasai dirinya dengan cepat.

“Permisi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Ne?” tanyanya gugup.

“Gadis yang menulis kartu untukku… apa dia satu-satunya chef disini?”

“Ah… ng… ne, oppa.”

Aku tersenyum, berusaha bersikap ramah agar dia tidak merasa ketakutan.

“Bisa sampaikan padanya bahwa kue buatannya enak sekali dan mungkin aku akan sering mampir kesini bersama member yang lain?”

Dia tertegun sesaat dan cepat-cepat mengangguk. “Ne, oppa.”

“Gomaweo.”

Aku membungkuk dan melangkah pergi, tapi dia memanggilku kembali dengan suara yang terdengar ragu-ragu.

“Ng… apa oppa tidak mau menanyakan siapa gadis itu?”

Aku menggeleng, mengeluarkan senyumku lagi.

“Dia bilang aku tidak perlu tahu siapa dia. Lagipula jika dia memang berniat berkenalan denganku, dia pasti akan menghampiriku sendiri, kan? Jadi tidak. Aku tidak akan bertanya dia siapa karena dia yang menginginkannya. Setiap orang punya hak masing-masing untuk menyembunyikan dirinya, kan?”

Gadis itu mengangguk dan membungkuk ke arahku.

“Shin Ha-Kyo imnida. Bangapseumnida, oppa.”

“Ne, mannasseo bangapseumnida, Ha-Kyo~ya.”

 

***

 

AH-ZIN’S POV

“Dia bilang begitu?” tanyaku memastikan setelah Ha-Kyo menyelesaikan ceritanya.

Ha-Kyo mengangguk semangat dengan wajah berbinar-binar.

“Jadi… dia akan sering mampir kesini, ya? Haaah, senangnya!!!!”

“Semoga besok dia datang bersama member yang lain! Aku ingin melihat Kyuhyun oppa dari dekat!!!!” teriak Ha-Kyo.

“Kyuhyun oppa?” seru Jang-Mi onnie yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Yeoja ini, kalau mendengar nama Kyuhyun telinganya nyaring sekali.

“Ne. Wookie oppa berjanji akan datang bersama member yang lain kesini.”

“Ah, jinjjayo? Sungmin oppa  ikut tidak, ya?” tanya Hana onnie dengan wajah menerawang.

Aku mengacuhkan mereka daan malah sibuk dengan pikiranku sendiri. Dia akan datang kesini lagi? Aku bisa melihat wajahnya setiap hari? Hal apa di dunia ini yang lebih baik dari itu?

 

***

 

RYEOWOOK’S POV

 

“Woa, jinjjayo? Kau beruntung sekali, Wookie~a, akhirnya ada juga orang yang menyukaimu!” seru Yesung hyung setelah aku menceritakan kejadian di kafe tadi padanya.

“Yak, hyung, kau pikir aku tidak laku apa?” protesku kesal.

“Setidaknya aku lebih terkenal darimu! Ya kan, ddangkoma sayang?” ujarnya sambil mengelus-elus cangkang kura-kura kesayangannya itu. Ckckck, sudah menikah masih saja tetap seperti orang gila, berbicara dengan hewan bercangkang yang bisu itu. Dia pikir kura-kura itu akan membalas ucapannya apa?

“Wookie~a, aku lapar!!! Ada makanan tidak?”

Aku mengernyit mendengar suara Kyuhyun yang memekakkan telinga. Siapa bilang suaranya itu indah? Tidak sama sekali! Potensi untuk menjadi tuli amat sangat besar kalau kau mendengar teriakannya.

“Kyuhyun~a, tidak perlu berteriak-teriak seperti itu, aku juga dengar. Lihat saja di meja makan, aku sudah memasak tadi.”

Bocah itu langsung menghilang ke ruang makan setelah mendengar ucapanku. Dasar, dia itu tidak ada dewasa-dewasanya sama sekali. Gayanya saja yang sudah tua, sifatnya? Tidak usah ditanya. Tapi dia partner terbaikku untuk menjahili hyung-hyung yang lain dan kalau itu sudah terjadi, kami berdua akan menjadi pasangan magnae yang tidak terkalahkan!

“Ya, Wookie~a, kue ini untukku, ya!!!”

Hyukkie hyung muncul dari ruang makan sambil mengacungkan kotak berisi kue yang kubeli tadi sore. Sebelum pulang aku memang membeli beberpaa potong kue lagi untuk dibawa pulang.

“Ne, hyung.”

“Mmm… masshita! Kau beli dimana?” tanyanya dengan mulut penuh.

“Di kafe ChocoBerry Love.”

“Oh, kafe itu! Aku sudah lama ingin kesana tapi tidak punya waktu.”

“Besok aku mau kesana lagi. Hyung mau ikut?”

“Boleh. Besok jadwalku kosong. Wah, kue ini benar-benar enak.”

“Tentu saja, gadis yang membuat kue itu kan menyukai Wookie,” cetus Yesung hyung.

“Yak, hyung!” seruku malu.

Eunhyuk hyung melongo mendengar hal itu. Tampangnya terlihat tolol sekali.

“Mwo? Ada gadis yang menyukaimu? Benarkah? Wah, aku harus bertemu dengannya! Dia cantik tidak?”

Aku mengangkat bahu sambil menggeleng.

“Aku belum bertemu dengannya.”

“Hah, kau ini!”

 

***

 

“Wah, kafenya nyaman sekali! Aku pasti akan sering mampir kesini!” komentar Eunhyuk hyung saat kami baru melangkahkan kaki masuk ke dalam kafe. Masih pagi, jadi belum ada pelanggan. Baguslah, kami bisa santai-santai disini.

“Gadis yang menyukaimu itu mana?” tanya Yesung hyung penasaran sambil menoleh kesana kemari, bersikap seolah-olah gadis itu akan muncul tiba-tiba dari balik dinding dan menampakkan wujudnya di hadapan kami.

“Yak, hyung, dia kan tidak mau diketahui,” ujarku untuk yang entah keberapa kalinya. Hyungku satu ini entah memang bodoh atau apa, kenapa dia tidak pernah menangkap apa yang aku ucapkan?

Aku menoleh mencari Kyuhyun yang tiba-tiba menghilaang dari pandangan. Kemana lagi anak itu?

“Dia sudah duduk disana,” tunjuk Sungmin hyung. Benar saja, bocah setan satu itu sudah duduk dengan nyaman sambil memainkan PSP-nya. Kapan sih dia mau berhenti main game? Aku sempat berharap dia menemukan istri yang bisa membuatnya berhenti dari kegiatan favoritnya itu, eh ternyata dia malah menikah dengan gadis yang juga gila game. Bukannya sembuh, kebiasaannya itu malah semakin menjadi-jadi saja.

“Annyeonghaseyo, ini buku menunya. Silahkan memesan,” ujar Ha-Kyo yang lagi-lagi menjadi pelayanku untuk hari ini. Sepertinya kafe ini hanya memiliki 4 pegawai. Satu untuk menyambut tamu, satu untuk menjaga meja kasir, satu untuk melayani para tamu, dan satu lagi sibuk berkutat di balik dapur. Aku hanya baru bertemu tiga dari mereka. Tinggal gadis misterius itu saja yang belum.

Aku terkekeh melihat Ha-Kyo yang terang-terangan menatap kami semua dengan kagum. Tatapannya berhenti lama di wajah Kyuhyun yang tampak serius memainkan game-nya. Lagi-lagi bocah itu membuat yeoja terpesona.

Hyung-hyungku yang lain sibuk memilih menu yang menggugah selera mereka, sedangkan aku malah menatap pintu dapur yang tertutup, berharap gadis itu muncul dari sana. Entah kenapa aku jadi memikirkannya, begitu penasaran dengan gadis yang menganggap aku luar biasa. Hanya karena kartu itu, gadis misterius itu berhasil membuatku kebingungan setengah mati.

Ha-Kyo mencatat pesanan kami dan menghilang ke balik dapur. Saat pintu itu sedikit terbuka, aku berusaha melihat ke dalamnya, tapi gadis itu sama sekali tidak muncul. Ck, kenapa aku jadi begitu penasaran seperti ini, sih?

“Yak, Cho Hye-Na, kau mau tidur sampai kapan, hah? Cepat bangun! Kau itu sudah seperti beruang saja! Aku sedang ada di kafe di dekat apartemen, ChocoBerry Love, kau cari saja. Kalau kau mau sarapan cepat kesini!”

Aku mendongak mendengar teriakan Kyuhyun yang lagi-lagi hampir merusak gendang telingaku. Anak ini, dia tidak tahu apa kalau ini tempat umum? Untung saja tidak ada pelanggan lain. Apa dia mau semua orang tahu kalau dia sudah menikah?

“Yak, Kyuhyun~a, bersikap manislah pada istrimu itu sedikit. Kau mau dia meninggalkanmu apa?”

Dia tampak melongo sesaat mendengar nasihat Sungmin hyung.

“Mwo? Bersikap manis pada gadis gila itu? Tidak, tidak. Mau ditaruh dimana mukaku yang tampan ini kalau aku bersikap manis padanya? Bersikap manis pada Cho Hye-Na tidak ada di dalam kamus hidupku!” gerutunya denagn bibir mengerucut.

Kami semua berpandangan satu sama lain sambil menggelengkan kepala. Itulah akibatnya kalau namja kekanak-kanakan seperti dia menikah dalam usia muda. Emosinya terlalu meledak-ledak dan tidak terkendali. Suami istri sama saja parahnya.

20 menit kemudian Ha-Kyo datang lagi sambil membawa pesanan kami. Wangi kue yang baru matang menyeruak ke dalam indera penciumanku.

“Wah, wangi sekali baunya!” seru Eunhyuk hyung, menyuarakan pikiranku.

“Iya, maaf menunggu lama. Kuenya baru matang dan harus dihias dulu.”

“Gwaenchana,” kataku, ingin dia cepat-cepat menghidangkan kue-kue itu ke atas meja. Aku melirik piring kueku yang lagi-lagi terdapat kartu di atasnya.

 

“Wah, Wooki~a, ada kartu lagi! Ayo baca!”

Aku mengambil kartu itu dan membukanya. Bau yang sama. Bau stroberi.

 

Kau menepati janjimu, oppa. Kau benar-benar datang lagi. Aku senang sekali karena aku bisa melihat wajahmu lagi. Ah, ternyata benar pikiranku bahwa kalian semua sangat dekat. Keluarga yang membuatmu tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkannya. Aku benar, kan?

Oppa, aku tahu kau mengintai pintu dapur dari tadi. Kau penasaran, ya? Hahaha….

Tidak perlu penasaran siapa aku. Aku ini sama saja dengan gadis yang lain. Yang membedakanku dengan mereka hanyalah kenyataan bahwa mereka mencintaimu sebagai seorang idola,

sedangkan aku…

aku mencintaimu sebagai seorang namja.

Kau tidak percaya mungkin… dan pasti kau berpikir kalau aku ini agresif, tapi… karena aku hanya mengatakannya lewat kartu ini, jadi aku pikir aku tidak perlu merasa malu.

Kebalikannya jika aku langsung mengatakannya di hadapanmu. Aku sama sekali tidak punya keberanian melakukannya. Kalau aku ini agresif, aku pasti akan menemuimu langsung secara terang-terangan, bukan dengan cara seperti ini. tapi kenyataannya tidak, kan? Aku tetap bertahan di dapur, bersembunyi dari pandanganmu.

Apa menurutmu aku ini bodoh? Tapi bukankah setiap orang yang jatuh cinta memang bersikap seperti orang bodoh?

Ah, aku sudah berbicara terlalu banyak. Hehehe….

Sudah dulu ya, oppa. Nikmati kuemu.

 

“Dia mencintaimu, Wookie~a! OMO, kau beruntung sekali! Dia benar-benar gadis idamanmu, kan? Bisa memasak. Kau harus menemuinya! Pasti kau juga menyukainya, kan?”

Aku tersenyum dan mengangguk. Benar, aku menyukai gadis ini walaupun dia hanya menunjukkan dirinya lewat kartu-kartu yang diberikannya padaku. Gadis yang memasak kue-kue ini dengan sepenuh hati. Gadis impianku?

“Wah, enak sekali kalian makan tanpa mengajakku!” gerutu Shindong hyung yang tiba-tiba muncul bersama Donghae hyung, Hye-Na, dan Jin-Ah.

“Hyukkie~a, kau meninggalkanku!” rengek Donghae hyung. Dasar hyungku satu ini, benar-benar seperti anak kecil.

Jin-Ah dan Hye-Na langsung mengambil tempat di samping suami mereka masing-masing. Aku menahan geli melihat tampang Hye-Na yang tampak sangat kusut dan rambutnya yang diikat acak-acakan. Tapi gadis seperti dia, mau dalam keadaan apapun tetap saja kelihatan cantik.

Gadis itu merebahkan kepalanya ke atas meja, diikuti jitakan keras dari Kyuhyun.

“Yak, appo!” teriaknya marah.

“Kau ini sudah mandi belum, sih? Kau mau mempermalukanku? Lihat wajahmu yang jelek itu!”

“Yak, kau sudah mengganggu tidurku dengan teriakanmu itu dan sekarang setelah aku bangun kau malah memukulku! Kejam sekali kau!”

“Kalau kau masih mengantuk kenapa datang kesini, Hye-Na~ya? Lanjutkan saja tidurmu,” komentarku.

“Kau tidak mungkin takut dengan amukan setan ini, kan?” goda Eunhyuk hyung.

“Tentu saja tidak! Aku datang kesini hanya karena aku lapar! LAPAR!” ujarnya penuh penekanan. Seolah ingin membuktikan ucapannya itu, dia merebut piring kue Kyuhyun dan langsung memakannya tanpa meminta izin terlebih dulu.

“YAK, ITU PUNYAKU! Kalau kau mau pesan saja sendiri!” teriak Kyuhyun tidak terima.

“Kau saja yang pesan lagi! Aku sudah terlalu lapar!”

Kyuhyun tampak merengut, tapi tidak seperti biasanya, dia hanya diam saja dan memanggil Ha-Kyo untuk memesan lagi. Hmm, sepertinya hanya Hye-Na satu-satunya orang yang bisa mengendalikannya. Kekuatan cinta, eh?

 

***

 

AH-ZIN’S POV

“Onnie, gadis yang bersama Kyuhyun oppa itu siapa, ya? Apa itu pacarnya? Haaah, aku jadi patah hati. Gadis secantik itu mana mungkin aku mengalahkannya.”

Aku tertawa geli melihat ekspresi wajah Ha-Kyo.

“Jang-Mi onnie juga sudah meratap dari tadi.”

“Huh, Kyuhyun oppa sepertinya sangat mencintai gadis itu. Aku perhatikan dari tadi mereka selalu saja bertengkar dan saling berteriak, tapi tatapan Kyuhyun oppa benar-benar lain. Hoa… aku benar-benar patah hati. Ternyata artis itu memang memiliki pacar tanpa sepengetahuan media, ya! Aku rasa gadis yang satu lagi juga pacarnya Yesung oppa. Onnie, menurutmu Wookie oppa itu sudah punya pacar belum, ya?”

Aku tertegun mendengar ucapannya. Wookie oppa? Punya pacar?

“Tapi kurasa tidak. Kelihatannya dia menyukaimu, onnie! Dari tadi dia selalu melihat ke arah dapur dan dia terlihat senang saat menerima kartu darimu. Kau beruntung, onnie.”

Benarkah? Aku beruntung?

 

***

 

“Hari ini dia datang tidak, ya?” gumamku pelan sambil melirik pintu masuk kafe dengan cemas. Sudah sore, tapi dia tidak muncul dari tadi.

“Onnie menunggunya?” goda Ha-Kyo saat melihat wajahku yang harap-harap cemas. “Dia tidak akan datang, onnie. Kau lupa kalau malam ini SuShow 3 Taiwan?”

“Ah, benar. Aku lupa,” ujarku kecewa. Bahuku merosot ke bawah dan semangatku langsung turun drastis.

“Sudah, tidak perlu kecewa seperti itu. Dia hanya pergi empat hari. Nanti juga dia muncul lagi. Kau harus tahu bahwa pekerjaannya memang menuntut seperti itu.”

“Aku tahu,” ucapku lemah. “Tapi aku merasa dia itu kurus sekali. Gizinya tidak terjaga dengan baik.”

“Kau tidak perlu khawatir. Dia memang kurus seperti itu, kan? Kyuhyun oppa bahkan lebih kurus dari dia. Ayo semangatlah onnie, bagaimana mau membuat kue yang enak, kalau kokinya dalam keadaan buruk?”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ne, kajja!”

 

***

 

RYEOWOOK’S POV

 

Aku membolak-balik kartu di tanganku sambil menerawang. Kami baru saja sampai di Korea sore tadi. Sudah 4 hari tidak ke kafe itu, dan entah kenapa rasanya ada yang hilang. Aku rindu mencicipi kue buatannya dan tulisan-tulisan di kartu yang diberikannya. Aku juga merindukan bau stroberi yang kuhirup dari kartu-kartu itu. Bau yang sangat familiar di hidungku akhir-akhir ini.

“Kau merindukannya?” tanya Yesung hyung yang tiba-tiba saja sudah duduk di sampingku.

“Ne?”

“Gadis pemilik kartu itu, apa kau merindukannya?”

“A… ani.”

“Sudahlah, tidak usah berbohong. Hal itu jelas sekali terlihat di wajahmu.”

“Yak, hyung, apa menurutmu aku benar-benar menyukainya?”

“Tentu saja.”

“Tapi aku bahkan belum pernha melihat wajahnya.”

“Memangnya kau menyukai seorang yeoja hanya karena wajahnya saja?”

Aku menggeleng.

“Tapi rasanya aneh hyung menyukai seorang yeoja yang bahkan belum pernah kulihat sama sekali. Namanya saja aku tidak tahu.”

“Itu namanya takdir. Sudahlah, kau nikmati saja. Ini seperti di film-film, kan?”

Aku tersenyum miris dan mengalihkan pandangan ke arah pasangan setan yang dari tadi asyik bertanding game di PSP-nya masing-masing. Mereka berdua duduk berseberangan, menunjukkan bahwa hal ini tidak main-main. Tapi kali ini Hye-Na hanya bermain sendirian karena Kyuhyun sedang… eh, memperhatikannya lekat-lekat. Tatapannya yang biasanya tajam, dingin, dan membunuh, sekarang terlihat lembut, seolah sangat menikmati apa yang sednag ditatapnya. Seolah-olah… dia tidak pernah melihat yeoja manapun sebelumnya. Ah… jadi begitukah kalau orang sedang jatuh cinta?

Hye-Na mendongak dan dalam waktu sepersekian detik tatapan Kyuhyun tadi langsung berubah galak seperti biasa.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu?”

“Karena kau bodoh. Hanya memainkan game mudah seperti itu saja wajahmu serius sekali.”

“KAU!!!!”

Aku langsung kabur ke kamar sebelum perang dunia itu dimulai lagi. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung kalau terus seperti ini.

 

***

 

AH-ZIN’S POV

 

Aninde naneun aninde jeongmal igeon mari andweneunde

Pabeul meogeodo jami deul ddaedo michyeonneunji geudaeman boyeoyo

Eonjena nareul jongil namaneul motsalgehae miweonneunde

Eotteoke naega eotteoke geudael saranghage dwaenneunji isanghajyo

(Tidak, ini bukan aku, ini benar-benar tidak masuk akal

Bahkan saat aku makan ataupun tertidur, aku tetap memikirkanmu seperti orang gila

Setiap saat aku begitu membenci diriku sendiri

Bagaimana bisa, bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu? Itu sedikit aneh)

 

Nae maeumeun geudaereul deudjyo meoribootuh balkkeutkkaji

Chingudeul nareul nollyeodo nae gaseumeun modu geudaeman deullyeoyo

Hanadulset geudaega wutjyo sumi meojeul geotman gatjyo

Geudae misoreul damaseo maeil sarangiran yorihajyo yeongweonhi

(Hatiku mendengarmu… dari kepala sampai kaki

Teman-temanku mengolokku karena ini, tapi hatiku hanya mendengarkanmu

Satu dua tiga, kau tersenyum, dan aku pikir aku tidak bisa bernafas dengan benar

Demi melihat senyummu, aku akan memasak dengan penuh cinta setiap hari selamanya)

 

I love you… love you… love you….

Love you… love you… love you yeah….

 

Wae geudaen nareul jamshido nareul gamanduji anhneun geonji

Giga makhigo eo ee eobseodo nae gaseumeun geudaeman bulleoyo

Geudael wihaeseo yoril haneun nan hwiparame shini najyo

Hwanhage wuseul geudae moseube soneul bedo nae mameun haengbokhajyo

(Mengapa kau bahkan tidak mau meninggalkanku sedetik saja?

Meskipun kelihatannya aku kehilangan energiku dan usahaku menjadi sia-sia

Saat aku memasak untukmu, aku merasa begitu bersemangat sampai-sampai aku ikut bersiul

Aku memikirkan senyummu saat tanganku terluka, dan hatiku merasa bahagia)

 

Eonjenga bami jinagago ddo bami jinagago ddo bami jina na gieoki heemihaejyeodo

Eonjena nae mameun misojitneun nae nuneun ddeonaji anhgeddago geudael yeongweonhi

(Kapanpun malam berlalu, berlalu, dan berlalu lagi, meskipun dengan memoriku yang kabur

Hatiku dan mataku yang tersenyum tidak akan pernah sekalipun meninggalkanmu selamanya)

 

Nae maeumeun geudaereul deudjyo meoributeo balkkeutkkaji

Sesangi modu wuseodo nae gaseumeun modu geudaeman deullyeoyo

Hanadulset geudaega wutjyo sumi meojeul geotman gatjyo

Geudae yegireul damaseo maeil saranghanda kiseuhajyo yeongweonhi

(Hatiku mendengarmu… dari kepala sampai kaki

Meskipun dunia menertawakanku, tapi hatiku hanya mendengarkanmu

Satu dua tiga, kau tersenyum, dan aku pikir aku tidak bisa bernafas dengan benar

Tetaplah seperti dirimu apa adanya, aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu dan menciummu setiap hari selamanya)

 

Love you… Love you… Love you…

Love you… Love you… Love you… Oh my baby my love…

 

Aku tersenyum saat mendengar alunan suara Kyuhyun dari I-Phodku. Bukan, bukan karena aku berpaling dari Wookie oppa, tapi karena lagu ini sangat mewakili isi hatiku. Benar, demi melihat senyumnya saat memakan kue buatanku, aku akan memasak dengan penuh cinta. Hahaha….

“Kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu, onnie?” tanya Ha-Kyo curiga. “Wookie oppa belum tentu datang, kau sudah tersenyum-senyum seperti orang gila.”

“Aku yakin kalau hari ini dia akan datang.”

“Cih, percaya diri sekali kau, onnie!”

“Lihat saja,” kataku, tidak peduli dengan ejekannya. Kali ini aku sangat yakin dengan intuisiku.

“Ah-Zin~a, idolamu sudah datang!” seru Jang-Mi onnie dari balik pintu.

“Nah, aku benar, kan? Cepat hampiri dia!” ujarku sambil mendorong tubuh Ha-Kyo.

“Huh, onnie menyebalkan!”

 

***

 

RYEOWOOK’S POV

Aku memesan dua piring kue hari ini. Aku sedang kelaparan. Hahaha. Sepertinya aku sudah ketagihan kue buatannya.

Ha-Kyo kembali dengan mengantarkan dua pesananku itu, tidak lupa dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.

“Kau pasti akan suka, oppa. Onnie membuatnya dengan sepenuh cinta. Hahaha,” guraunya.

“Gomaweo,” ucapku sambil membalas senyumnya.

Aku menatap dua piring kue itu dengan kagum. Keduanya sama-sama kue cokelat-stroberi 4 lapis. Yang membedakan hanyalah kue pertama yang dipenuhi taburan stroberi berlapis cokelat, sedangkan yang satu lagi dipenuhi taburan serbuk gula seperti salju. Aku mencicipinya sedikit. Rasanya memang dingin seperti salju. Manis.

 

Aku meletakkan kembali garpuku ke atas meja dan mengambil kartu yang terletak di atas piringku seperti biasa.

 

Oppa, cheongmal bogosipo!!!

Sudah 5 hari tidak melihatmu, energiku seolah terhisap tiba-tiba.

Tapi hari ini entah kenapa semangatku terisi penuh. Ah, ternyata benar, hari ini kau muncul lagi di hadapanku.

Kaau terlihat lebih kurus, apa kau makan dengan baik?

Oppa, entah kenapa aku sangat menyukai lagu Kyuhyun oppa yang Listen To You…

Tidak, aku tidak selingkuh darimu. Hehehe… hanya saja lagu ini snagat mewakili perasaanku.

Aku suka saat melihatmu tersenyum setiap kau memakan kue buatanku. Itu hal paling membahagiakan untukku sejak kau datang ke kafe ini.

Saat aku membuatkan kue ini untukmu, tanpa sengaja aku melukai jari telunjukku saat memotong stroberi. Tapi kau tahu? Gadis bodoh ini malah tersenyum. Merasa bahagia karena bisa membuatkan kue ini untuk orang yang dicintainya. Merasa bahagia hanya karena ingin melihat senyummu saat kau memakannya. Hal yang mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya itu adalah hal yang luar biasa. Apalagi hal yang lebih berharga selain melihat senyummu?

Sudah, aku sudah terlalu mempermalukan diri sendiri siang ini. Semoga kau menyukai kue ini. Selamat makan!!!

 

Dia melukai tangannya saat membuatkan kue ini untukku? Apa dia tidak apa-apa?

Aku melambaikan tanganku memanggil Ha-Kyo.

“Waeyo, oppa? Ada yang kurang?”

Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan plester luka yang biasanya kubawa kemana-mana.

“Ini, bisakah kau memberikan ini padanya? Dia bilang tangannya terluka. Apa dia tidak apa-apa?”

Ha-Kyo melongo sesaat, kemudian mengambil plester itu dari tanganku.

“Dia tidak apa-apa. Aku akan memberikan ini padanya.”

 

***

 

AH-ZIN’S POV

Aish, benar-benar pasangan romantis. Aku iri!” ujar Ha-Kyo penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.

Aku mengacuhkannya, menatap plester luka itu penuh suka cita. Aku tidak akan memakainya tentu saja, lebih baik aku memuseumkannya. Ini kan pemberian pertama Wookie oppa untukku.

“Hah, lama-lama kau benar-benar gila, onnie!” sungutnya.

“Eh, Ha-Kyo~ya, kau mau menolongku tidak?”

 

***

 

WOOKIE’S POV

“Ini apa?” tanyaku bingung saat Ha-Kyo menyodorkan sekotak kue saat aku mau pulang. “Aku kan tidak memesan apa-apa.”

“Ini khusus untukmu. Pemberian onnie. Ini kue terbaru ciptaannya. Dia ingin kau jadi orang pertama yang mencicipinya. Aku bahkan tidak diizinkan mencobanya sama sekali,” kata Ha-Kyo kesal sambil menggembungkan pipinya.

Aku mengulurkan tanganku dan mengacak-acak rambutnya.

“Sudahlah dongsaeng~ya, nanti kau minta lagi padanya, pasti dia mau memberikannya padamu.”

“Aish, kau tidak kenal onnie-ku sih, oppa! Eh oppa, aku kembali kerja dulu, ya! Annyeonghi gaseyo,” katanya sambil membungkuk dan berlalu dari hadapanku.

Aku melangkah ringan, kembali ke apartemen. Kira-kira seenak apa kue kali ini? Apa ada kartunya lagi?

 

***

 

Lagi-lagi aku terkagum-kagum melihat kue ciptaannya.  Kue stroberi dan vanilla yang ditumpuk dengan cokelat leleh yang sudah beku di atasnya. Di permukaan kue itu terlihat potongan-potongan stroberi kecil. Dia benar-benar gadis yang sangat berbakat. Rasa kue ini tidak perlu diragukan lagi. Pasti sangat enak, seperti biasa.

 

Aku menarik kartu yang terselip di dalam kotak. Bau parfum stroberi kembali menyeruak. Entah kenapa bau ini membuatku sangat nyaman. Padahal aku bukan penggila stroberi seperti Eunhyuk hyung ataupun Teukie hyung.

 

Oppa, gomaweo plesternya. Kau benar-benar perhatian. Tapi maaf, aku tidak akan memakainya. Aku akan menyimpannya sebagai kenangan-kenangan darimu. Aku bahagiaaaaa sekaliiii!!!!

Oppa, kau terlalu baik padaku. Apa kau tidak berpikir bahwa kau bisa saja menyakiti hatiku?

Ah, aku tahu, kau pasti tidak memiliki pemikiran seperti itu, kan? Kau itu polos sekali.

Oppa, kalau kau terlalu baik padaku, aku akan menggantungkan terlalu banyak harapan padamu. Karena aku rasa kau tidak memiliki perasaan yang sama terhadapku, aku bisa jatuh dan patah hati. Dan kalau itu terjadi, aku rasa akan sangat sulit bagiku untuk bangkit lagi.

Setelah berpikir, aku merasa sudah saatnya aku menghentikan ini semua. Kau tentu saja masih boleh datang berkunjung ke kafeku, aku juga akan tetap membuatkan kue sepenuh hati untukmu, tapi kau tidak akan menerima kartu-kartu bodoh ini lagi.

Kau pasti merasa kerepotan dengan gangguan-gangguan dariku ini, kan?

Tapi oppa, aku memiliki permintaan yang terdengar bodoh dan mungkin tidak akan pernah kau kabulkan.

Tidak bisakah kau mencoba menyukaiku? Karena aku menyukaimu….

 

Menyukainya? Mencoba menyukainya? Gadis bodoh! Aku kan sudah menyukainya.

Tapi… bagaimana kalau dia benar-benar berhenti memberikan kartu-kartu ini untukku? Aku jadi takut memikirkannya. Apa aku harus berbuat sesuatu?

 

***

 

“Wookie~a, hari ini giliranmu berbelanja ke supermarket,” seru Leeteuk hyung.

“Ne, hyung,” jawabku malas. Setelah membaca kartu darinya, semangatku jadi menghilang tiba-tiba.

“Kau kenapa, Wookie~a?”

“Ani. Aku pergi dulu, hyung,” pamitku.

Aku memakai jaket tebalku dan pergi keluar. Aku memilih pergi ke supermarket di luar gedung apartemen. Aku sedang ingin mendinginkan pikiran sekarang.

BRUK!!!

“Mianhae, mianhaeyo, aku tidak sengaja. Mianhae.”

Gadis yang tadi menabrakku membungkukkan tubuhnya berkali-kali.

“Ani, gwaenchana. Aku juga tidak melihat-lihat tadi,” kataku sambil membantunya mengumpulkan barang-barangnya yang terjatuh. Sekilas aku menghirup bau stroberi yang tercium samar-samar dari tubuhnya. Aku terkesiap sesaat. Bau itu bau yang sama dengan bau kartu-kartu yang diberikan gadis misterius itu padaku. Aku teringat sesuatu dan mengalihkan tatapanku ke tangannya. Benar saja, ada plester yang melingkar di jari telunjuk tangan kirinya. Gadis ini… apa dia gadis misterius itu?

Dia masih menunduk, sibuk memasukkan barang-barangnya yang terjatuh ke dalam tas plastik, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Setelah semuanya kembali rapi, dia akhirnya mendongak dan terlonjak kaget melihatku.

Manis. Itu kesan pertama yang kudapat darinya. Kesan yang sama dengan kue buatannya dan tulisan-tulisan di kartu yang diberikannya. Manis. Dia manis sekali.

Aku memegangi tubuhnya yang sedikit terhuyung saat akan bangkit berdiri.

“Gomaweo,” ucapnya gugup dengan pipi yang memerah. Dia berusaha mengalihkan tatapannya dariku, membuatku bertambah yakin bahwa aku baru saja bertemu dengan gadis yang membuatku penasaran setengah mati selama ini.

“A… aku harus pulang sekarang,” katanya dan buru-buru berlalu dari hadapanku.

“Chakkaman, agasshi!” seruku sambil menyentuh tangannya, membuat langkahnya terhenti.

“Ne?”

“Boleh aku tahu namamu?” Aku yakin wajahku juga ikut-ikutan memerah sekarang. Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku memberanikan diri seperti ini.

Dia mengerutkan keningnya sesaat kemudian tersenyum.

“Cho Ah-Zin imnida. Bangapseumnida, Ryeowook ssi.”

 

***

 

“Dia tidak masuk?” tanyaku bingung setelah aku bertanya pada Ha-Kyo kenapa hari ini tidak ada kartu untukku.

“Ne, oppa. Onnie sedang sakit. Untung saja stok kue masih ada.”

“Ha-Kyo~ya, bisa aku bertanya sesuatu?”

Ha-Kyo tampak ragu, mungkin Ah-Zin sudah memperingatkannya.

“Ayolah!”

“Ng… kau mau bertanya apa padaku, oppa?”

“Onniemu itu, apa namanya Cho Ah-Zin?”

“N… ne? Dari mana oppa tahu?”

“Tadi malam aku bertemu dengannya.”

“Onnie memang cerita, tapi… kenapa oppa bisa mengenalinya? Onnie memberitahu namanya karena merasa oppa tidak akan mengenalinya.”

“Bau parfumnya, bau yang sama dengan kartu-kartu yang diberikannya padaku. Aku juga melihat plester di jari telunjuknya.”

“Aaah, jinjja? Hmm, onnieku itu bodoh juga! Eh oppa, apa kau menyukainya? Maksudku… apa kau memiliki perasaan terhadap onnieku itu? Dia sangat mencintaimu, oppa.”

Wajahku langsung memerah mendengar pertanyaannya.

“Ah, jadi oppa memang menyukainya, ya?” ujar Ha-Kyo menarik kesimpulan sendiri. “Tahu tidak, oppa? 2 hari lagi onnieku itu ulang tahun. Kau mau tidak memberi kejutan untuknya?”

“Kejutan?”

“Mmm, oppa bisa mengungkapkan peraasaan oppa pada hari itu.”

Aku berpikir sesaat. Mengungkapkan perasaan? Apa aku berani?

“Kau ada kartu tidak? Boleh aku minta?”

“Mau mengirimkan kartu untuk onnie, ya? Tunggu sebentar.”

Ha-Kyo berlalu dari hadapanku, meninggalkanku yang menatap kue di atas piring tanpa selera. Kue cokelat dengan saus stroberi di atasnya, ditambah serbuk gula di sekekelingnya.

 

Masih mengagumkan seperti biasa, tapi entah kenapa aku jadi tidak tertarik untuk menikmatinya. Gadis itu… entah kenapa aku tiba-tiba merasa sangat merindukannya.

 

***

 

AH-ZIN’S POV

“Yak, kendalikan ekspresi wajahmu itu, onnie! Kau membuatku mual!”  protes Ha-Kyo karena aku tersenyum-senyum sendiri setelah menerima kartu dari Wookie oppa.

 

Ah Zin-a, kau sedang sakit, ya? Kuharap kau cepat sembuh. Makan yang banyak, ara?

Ng… hari Minggu besok, bisakah kau menemuiku di taman dekat kafe? Jam 4 sore. Aku akan berusaha datang tepat waktu.

Kau butuh jawaban atas pertanyaanmu waktu itu, kan? Apa aku bersedia mencoba menyukaimu, karena kau menyukaiku.

Jadi, kau harus datang, Ah Zin-a.

 

“WOA!!!! Bagaimana ini?! Dia mengajakku bertemu!!! Astaga, aku saja sampai jatuh sakit hanya karena terlalu gugup setelah bertemu dengannya malam itu, dan sekarang dia malah mengajakku bertemu berdua? Aigoo, kalau aku jatuh pingsan bagaimana?” teriakku histeris.

“Kau ini berlebihan sekali, onnie. Eh tapi… tunggu, tunggu!” seru Ha-Kyo yang sedang duduk di depan laptopnya. “Hari Sabtu kan jadwal SuShow 3 Malaysia, jadi mana mungkin dia bisa pulang ke Korea hari Minggu. Apa dia tidak sadar?”

“SuShow 3 Malaysia?”

 

***

 

RYEOWOOK’S POV

“Ayolah, hyung! Aku pulang duluan, ya!” rengekku.

“Memangnya ada apa?” tanya Teukie hyung bingung.

“Dia mau mengungkapakan perasaannya pada seorang gadis, hyung!” goda Kyu.

“Benarkah? Kau juga mau punya pacar? YAK, kenapa aku satu-satunya member yang tidak laku disini? Apa aku kurang tampan? Jelas-jelas aku ini tampan sekali!!!” teriak Teukie hyung frustrasi.

“Terimalah nasibmu, hyung! Kau akan terus sendiri sampai tua! Hilangkan dulu sifat pelitmu itu! Hahahaha,” ejek Kyu dengan tawa membahana. Sesaat kemudian dia terdiam setelah mendapat jitakan yang cukup keras dari leader kami itu.

“Appo, hyung!” protesnya.

“Hyung,” bujukku lagi.

“Ya sudah. Tapi apa yang harus kukatakan kalau ada yang menanyaimu? Kau ini merepotkanku saja!”

“Hahaha, gomaweo, hyung!” seruku sambil memeluknya erat.

Asyik, aku bisa bertemu dengannya lagi!

 

***

 

AH-ZIN’S POV

Aku duduk di bangku taman dengan gelisah. Sudah lewat satu jam. Apa dia akan datang? Bagaimana kalau tidak? Setahuku anak SuJu baru akan pulang sore ini, apa mungkin dia pulang duluan? Jarak dari Malaysia ke Korea kan 6 jam.

Salju sudah tidak ada lagi sekarang karena sebentar lagi akan memasuki musim semi. Udara juga sudah cukup hangat sehingga aku tidak perlu memakai mantel lagi kemana-mana. Pohon-pohon sudah mulai menghijau. Aku jadi ingat, ini hari ulang tahunku, ya? Hahaha, dasar Ah-Zin babo! Ulang tahun sendiri saja bisa lupa!

Tapi… kalau dia tidak datang bagaimana? Apa aku harus patah hati di hari ulang tahunku?

Aku meraba dadaku, tempat dimana jantungku berdetak tidak karuan. Aku benar-benar merasa sangat gugup. Apa yang akan terjadi kalau dia berdiri di hadapanku? Bagaimana kalau aku bertindak bodoh? Aish, ini benar-benar menyusahkan!

“Annyeonghaseyo, Ah-Zin ssi, maaf aku terlambat.”

Aku menoleh cepat dan mendapati Wookie oppa sudah duduk di sampingku. Dia tampak imut seperti biasa dan saat ini dia sedang tersneyum ke arahku. Manis sekali. Aigoo, kepalaku sampai terasa pusing!

“Neomo yeppeoyo,” komentarnya.

Aku tersenyum malu. Pasti pipiku sudah memerah lagi sekarang. Aku memang sengaja berdandan sedikit untuk menemuinya. Setidaknya kan aku harus memberi kesan yang baik.

“Gomaweo,” ucapku pelan.

Dia tersenyum lagi dan menyodorkan sebuah kotak yang berisikan kue tart ke arahku.

“Saengil chukhahae,” ujarnya.

“Dari mana oppa tahu kalau hari ini ulang tahun? Pasti dari Ha-Kyo, ya?”

“Kau tidak boleh memarahinya. Dia kan yang sudah banyak membantu kita?”

“N… ne.”

Kami terdiam beberapa saat, tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia memang pemalu, aku tahu itu, dan aku juga terlalu malu untuk mulai bicara.

“Ng… aku suka dengan kue buatanmu. Enak sekali. Kau pintar memasak,” katanya tanpa menatapku.

“Ne, gomaaweoyo.”

“Aku… aish,” serunya frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Dia menoleh ke arahku, wajahnya benar-benar sudah merah padam sekarang.

“Mianhae, aku memang tidak seperti hyung-hyungku yang kelihatan keren di depan wanita. Aku tidak tahu harus berkata apa dan harus bersikap bagaimana. Kau tahu kan kalau aku ini sedikit pemalu?”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Aku… aku menyukai kata-kata yang kau tuliskan untukku, Ah-Zin ssi. Kau orang pertama yang menganggapku bersinar dan luar biasa. Awalnya aku pikir aku hanya merasa tersentuh, tapi… terkadang, saat aku tidak datang ke kafemu, aku merasa kehilangan sesuatu. Tulisan-tulisanmu, kue-kue yang kau buat dengan sepenuh hati untukku. Saat aku membaca kartumu yang terakhir, aku merasa ketakutan karena kau bilang itu kartu terakhirmu untukku.”

Dia terdiam sesaat, wajahnya menunduk, menghindar dari tatapanku. Aku sendiri sudah tidak tahu seperti apa wajahku sekarang. Pasti mirip kepiting rebus.

“Kau bertanya apakah aku bisa mencoba menyukaimu, karena kau menyukaiku. Tidak, aku tidak perlu mencoba, karena sejak pertama kali mencicipi kue buatanmu dan membaca tulisanmu, aku sudah menyukaimu, Ah-Zin ssi.”

Rohku sepertinya melayang keluar dari tubuh saat mendengar ucapannya itu. Dia menyukaiku? OMONA, yang benar saja!

“Kau tidak apa-apa?” tanya Wookie oppa sambil mendekatkan wajahnya untuk mengecek keadaanku.

“A… aku… aku tidak apa-apa,” ucapku dengan susah payah.

“Hahaha… kau imut sekali,” katanya sambil mengambil kotak kue tadi dari tanganku, mencolek krim di atasnya, dan dengan gerakan cepat mengoleskannya ke pipiku.

“OPPA!!!” jeritku kaget.

“Nah, begitu lebih bagus. Tidak perlu malu-malu denganku. Kalau kita berdua saling malu-malu, apa jadinya nanti?” Dia menujukkan senyum manisnya itu lagi, membuatku lagi-lagi kehilangan kata-kata.

Aku menjernihkan pikiranku dan balas mengoleskan krim ke wajahnya. Setelah itu kami malah main perang-perangan krim.

“Oppa, kuenya jadi rusak, kan? Sayang tahu!” protesku dengan wajah cemberut. Ini kan kue darinya untukku.

“Kau pasti bisa membuat yang lebih enak dari ini. Benar, kan?”

Aish, lagi-lagi dia membuatku tersipu malu.

“Wajahmu kotor, Ah-Zin~a,” katanya dan tiba-tiba saja dia sudah melap wajahku dengan selembar tisu.

DEG! Wajah kami berdua dekat sekali. Aku jadi bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. Mulus seperti kulit bayi.

Dia menghentikan gerakan tangannya dan menatap mataku. Perlahan wajahnya semakin mendekat. Tunggu tunggu, aku bisa terkena serangan jantung kalau begini caranya!

Sedetik kemudian aku merasakan kecupan ringan di pipiku, membuatku terpana. Aigoo, Ryeowook Super Junior baru saja mencium pipiku! Pipiku!!!

“Aww!” jeritku saat tangannya mencubit pipiku yang memerah.

“Kau ini! Jangan memasang wajah imut seperti itu! Nanti kalau aku kalah imut bagaimana?” protesnya.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya itu. Ternyata dia memang sangat kekanak-kanakan seperti dugaanku selama ini.

“Ah-Zin~a,” panggilnya tiba-tiba dengan raut wajah serius.

“Ne?”

“Bisakah setiap hari kau membuatkan kue khusus untukku?”

“Setiap hari? Untukmu?”

“Aish, masa kau tidak mengerti? Itu kalimat lain untuk menyampaikan bahwa aku ingin hidup bersamamu selamanya!” sungutnya dengan wajah cemberut.

Aku terkekeh geli dan entah setan dari mana, aku tiba-tiba mengulurkan wajahku dan balas mengecup pipinya.

“Saranghae, oppa.”

 

END

 

Ehm, saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneun Asty Onnie, saengil chukhahamnida!!!! Hahaha… dirimu tambah tua saja, onnieku sayang!

Oke, ini hadiah dariku untukmu. Mian kalo onnie nggak suka ceritanya, atau ceritanya terlalu membosankan, tapi aku susah nyari ide untuk Wookie oppa onn, jadi harap maklum. Dan mungkin ff ini g onnie banget, ato g mirip Wookie oppa sama sekali. Hahaha.

Dan untuk keluarga Emut Famz, yang merasa namanya digunakan tanpa izin, gyahahaha, pinjem bentar namanya boleh, dong! Terkhusus buat dongsaengku tercinta Lia yang punya peranan cukup penting di ff ini. Mungkin ada bagian yang menurut kamu g bagus ato mungkin aku terkesan amat sangat narsis di ff ini, tapi itu kan suka-suka aku. Wkwkwk.

Dan buat reader, maaf kalo KyuNa ngeksis lagi disini. Abis gatel sih kalo g bikin adegan KyuNa.

Ng… untuk Silent Reader, biasanya aku g pernah mempermasalahkan, tapi setelah aku ngecek statistik blog, jelas-jelas disana tertulis pengunjung blog aku nyampe seratus ribu, tapi yang komen cuma dua ratusan. Jauh banget kan persentasenya? Jadi mohon, tolong komen, seenggaknya hargai dikit usaha aku bikin ff, walaupun ff nya jelek dan semacamnya. Dan aku harap disini g ada bashing2an, ya! Soalnya dongsaeng ma onnie aku udah ngalamin dan pasti down banget rasanya. Kita kan keluarga. Kalo mau kritik tolong disampaikan dengan bahasa yang sopan.

Oh iya, mampir ya ke blog dongsaeng aku, yang bikin Ravidelle itu, tuh! Disana ada ff tentang GB Sorciere, GB baru bikinan SM, dan aku juga ikut jadi membernya. Hohoho. Jangan lupa komen dan no bashing! Kasian tau dia udah capek2 bikin tapi ujung2nya malah dibashing. Alamat blognya http://anamie.wordpress.com/

Oke, sekian dan terima kasih. Aku udah nyerocos terlalu panjang kayaknya. Hohoho. jangan lupa komen, kritik, dan sarannya!!! Dan kalo abis baca ff ini kalian pada kelaparan, itu sama seklai bukan tanggung jawab aku! Wkwkwk. LOVE YOU ALL!!!!