MIN-HYO’S POV

FLASHBACK

“Min-Hyo~a!!! Park Min-Hyo!!!”

Aku berbalik dan menatap namja yang tadi berseru memanggil namaku. Tersenyum saat menyadari siapa dia. Yoon Jin-Ho. Sahabatku sejak SMP. Tahun ini genap 6 tahun kami berkenalan.

Terkadang aku merasa heran kenapa yeoja biasa sepertiku bisa menjadi sahabatnya. Dia idola, baik saat masih SMP dulu, maupun sekarang, saat kami sudah kuliah. Banyak yeoja yang mengejarnya karena wajahnya yang tampan dan otaknya yang pintar. Saat kelas 2 SMP aku sekelas dengannya, bahkan menjadi teman sebangkunya. Aku ingat dulu begitu banyak yeoja yang iri padaku. Saat itu aku berpikir betapa merananya nasibku duduk sebangku dengan namja yang terkenal sangat dingin. Tapi akhirnya kami jadi dekat juga karena tidak mungkin kan kami berdua duduk satu meja tapi saling mengacuhkan satu sama lain?

Mengenalnya lebih dekat ternyata hanya membawa malapetaka untukku. Aku jatuh  cinta padanya. Dan aku tahu betapa sakitnya memiliki perasaan seperti itu kepada sahabatmu sendiri. Ya, sahabat. Status itu yang kini kusandang. Sepertinya aku tidak bisa membedakan perasaan terhadap sahabat dengan perasaan terhadap seorang namja dengan baik. Aku kebablasan. Dan inilah akibatnya. Menderita sendirian.

“Ayo pergi makan! Aku lapar!” ajaknya sambil merangkul bahuku.

Hal ini sudah sering terjadi, tapi tetap saja aku tidak bisa mengontrol diri dengan baik saat dia melakukannya. Wajahku akan langsung memerah dan dia selalu saja menyadari hal memalukan itu.

“Woa, wajahmu memerah lagi!!!” serunya.

Nah, kan! Menyebalkan!

“Yak, Hyonnie, kau naksir padaku, ya? Aku rangkul saja wajahmu sudah seperti kepiting rebus begitu! Hahahaha….”

“Jangan panggil aku Hyonnie!” protesku sambil memukul lengannya.

“Waeyo? Itu kan nama panggilan kesayanganku untukmu dan aku tidak akan merubahnya. Jadi berhentilah memprotesku, kau hanya menghabiskan tenaga!”

Dari pembicaraan kami, kalian pasti bingung kan kenapa namja yang awalnya kusebut dingin malah bisa bersikap seramah ini? Aku juga tidak tahu. Setelah lama mengenalnya ternyata dia adalah namja yang hangat dan humoris, berbeda dari kesan yang biasa kudapat di sekolah. Katanya sih dia hanya galak terhadap yeoja yang mengejar-ngejarnya. Menurutnya kodrat laki-laki itu untuk mengejar, bukan dikejar. Karena itu juga aku tidak mau dia tahu perasaanku terhadapnya. Pasti dia akan menjauhiku kalau itu terjadi.

“Tapi aku tidak suka kau memanggilku seperti itu! Kedengarannya sangat kekanak-kanakan! Aku sudah 19 tahun, babo!” ujarku dengan bibir mengerucut.

Tiba-tiba dia mencubit pipiku dengan kedua tangannya, membuatku meringis kesakitan.

“Aigoo Hyonnie~a, neomu kyeopta!”

“YAK, JIN-HO~A!!!” teriakku marah. Dia mengacuhkanku dan menarik tanganku agar mengikutinya.

“Aku lapar! Kajja!”

Aku menghembuskan nafas kesal tapi tetap melangkah mengikutinya. Aku merasakan tatapan iri yeoja-yeoja di sekelilingku. Hal itu sudah menjadi pemandangan yang biasa bagiku. Beberapa orang bahkan terang-terangan menanyaiku tentang hubungan kami yang sebenarnya. Walaupun sudah kujawab sejujur mungkin bahwa kami berdua hanya bersahabat, tetap saja tidak ada yang percaya. Dalam anggapan mereka, Jin-Ho tidak pernah ramah pada yeoja manapun, jadi itu artinya kami pasti ada apa-apa. Kalau sudah begitu aku hanya mengangkat bahu dan pergi begitu saja. Sia-sia kalau aku berusaha menjelaskan pada mereka. Toh Jin-Ho juga tidak pernah keberatan dengan gosip yang berkembang. Katanya itu ampuh agar para yeoja berhenti mengejarnya.

“Kapan sih mereka berhenti menatapku seperti itu?” dumelku.

“Itu resiko bersahabat dengan namja terkenal sepertiku!”

“Menjijikkan!” dengusku sambil mengeluarkan suara ingin muntah.

***

Aku menyendok es krim di hadapanku dengan penuh semangat. Es krim adalah makanan kesukaaanku. Jenis es krim apapun pasti akan kulahap habis.

“Kau tidak lapar?” tanya Jin-Ho sambil mengunyah jajangmyeon pesanannya.

“Ani. Tadi pagi aku sarapan dan sampai sekarang aku masih kenyang. Es krim lebih menggugah selera, kau tahu?”

“Cih! Kau itu terlalu maniak es krim. Mengherankan! Es krim itu membuat badan cepat gemuk tahu! Kau itu yeoja bukan, sih?”

“Memangnya menurutmu aku ini gemuk, hah? Lagipula untuk apa aku diet dan berhenti memakan makanan kesukaanku, toh tidak ada namja yang ingin kugoda!”

“Kau mau jadi perawan tua? Dari dulu sampai sekarang tidak laku-laku!” ejeknya.

“Heh, Yoon Jin-Ho babo, kau pikir kenapa aku belum punya pacar sampai sekarang, hah? Mana ada namja yang mau mendekatiku kalau kau selalu menempel padaku? Kau itu berbicara seolah kau itu laku saja! Sampai sekarang kau juga belum pernah pacaran, kan?”

“Itu karena aku yang tidak mau pacaran. Lagipula aku juga sudah menyukai seorang yeoja, karena itu aku selalu berkeliaran di sampingnya agar tidak ada namja lain yang merebutnya dariku. Sayang dia begitu bodoh sehingga tidak menyadari perasaanku.”

“Mwo? Nugu?” tanyaku bingung. Memangnya dia pernah dekat dengan yeoja lain? Kenapa aku tidak tahu? Ah, mungkin karena kami beda jurusan, jadi aku tidak tahu bagaimana dia saat kuliah. Mungkin saja ada yeoja yang dekat dengannya.

Aku merasakan sakit yang menusuk di hatiku. Akhirnya saat ini datang juga. Aku sudah menyiapkan diri sejak lama, tapi kenapa rasanya tetap begitu menyakitkan? Seolah diriku memang tidak pernah akan siap jika hal ini terjadi.

Dia memukul kepalaku, membuatku tersentak kaget.

“Yak, appo! Kenapa kau memukulku tiba-tiba?”

“Karena kau itu bodoh sekali!”

“Mwo? Wae?”

“Memangnya siapa lagi yeoja lain yang kubuntuti terus menerus selain kau? Aish, aku juga bodoh karena menyukai yeoja bodoh sepertimu! Apa perasaanku begitu tidak jelasnya sampai kau tidak sadar-sadar?” bentaknya.

Aku ternganga mendengar ucapannya itu. Dia… menyukaiku?

“Hah? Kau bilang apa tadi? Aku tidak salah dengar, kan?” tanyaku tolol.

“Aish, jinjja! Kau ini benar-benar!” gerutunya sambil mengacak-acak rambutnya putus asa.

“Park Min-Hyo, aku menyukaimu!” katanya dengan nada kesal, tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.

“Yoon Jin-Ho, kau sedang mengungkapkan perasaanmu atau sedang memarahiku, hah?”

“Kau jawab atau aku lempar sendok ini ke kepalamu?” ancamnya sadis.

“Ne, ne,” kataku takut. “Nado choahae.”

Dia tersenyum dan menarik tanganku sampai aku bangkit berdiri.

“Ajjushi!!!” teriaknya ke arah paman pemilik kafe langganan kami ini. Ajjushi itu menoleh dan menatap kami bingung. “Yeoja babo ini sudah jadi pacarku!”

“Jinjja?” seru ajjushi itu senang. “Baguslah, aku pikir kalian mau bersahabat selamanya. Aku jadi gemas sendiri!”

Aku mendelik menatap namja itu sebal.

“Kau pikir ini rumah pribadimu? Ada banyak orang tahu!” ujarku malu.

“Waeyo? Biar saja, memangnya aku peduli.”

***

One year later…

Hari ini genap setahun kami pacaran. 365 hari berlalu begitu cepat dan menyenangkan. Walaupun dia tetap saja semenyebalkan dan seusil biasanya, tapi status kami sudah berubah. Banyak yang iri dengan terwujudnya hubungan ini dan berharap kami segera putus. Bulan-bulan pertama memang cukup berat, karena para yeoja di kampus seolah memusuhiku, tapi kami akhirnya berhasil bertahan sampai satu tahun. Bukankah itu membanggakan?

“Min-Hyo~a, kita berpisah saja.”

Seolah waktu berhenti di tempat saat dia mengucapkan kalimat itu. Nadanya terdengar datar tanpa emosi. Aku bahkan harus mendongakkan wajah dan menatapnya, membuktikan bahwa dia hanya bercanda. Tapi tidak. Wajah itu tidak pernah tampak seserius ini. Kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Apa ada sesuatu yang membutnya marah padaku? Atau… dia menyukai gadis lain?

“Aku harus melanjutkan kuliahku ke Amerika. Aku rasa… tidak akan baik jika kita menjalani hubungan jarak jauh. Jadi… kita berpisah saja….”

“Amerika?” tanyaku dengan suara tertahan. Dia tidak pernah bilang apa-apa tentang masalah ini sebelumnya.

“Aku awalnya menolak, tapi orang tuaku tidak setuju aku menetap di Korea. Mereka ingin aku ikut pindah kesana. Dan… mungkin saja aku tidak akan kembali kesini untuk waktu yang lama.”

Mungkin… aku memang gadis paling bodoh sedunia. Bukankah aku bisa mengatakan aku akan menunggunya? Tapi yang kulakukan hanya mengangguk. Yang terlintas di otakku hanyalah… bahwa ini semua sudah seharusnya terjadi. Dia punya kehidupannya sendiri. Aku tidak bisa bersikap egois dengan menahannya di sampingku.

“Bisakah setelah ini kita tetap saling menghubungi satu sama lain? Tetap menjadi sahabat? Karena aku hanya bisa menjanjikan hal itu saja padamu.”

Lagi-lagi yang kulakukan hanya mengangguk saja. Apakah aku bodoh? Mungkin. Mungkin aku memang terlalu bodoh. Mencintainya seperti seorang idiot. Dan menunggunya kembali seperti orang sakit jiwa. Menunggu namja yang mungkin tidak akan kembali atau yang lebih parah… mungkin dia tidak akan mengingatku lagi.

***

Chilnyeoneul manatjyeo amudo uriga

Ireoke swipge ibyeol hal jureun mollatjyeo

Geuraedo urineun hae ojyeo beoryeotjyo

Gin sigan ssahawatdeon gieogeul namginchae…

(Kita sudah saling mengenal selama 7 tahun

Bahkan tidak ada seorang pun yang berpikir

Bahwa kita akan mengucapkan selamat tinggal semudah ini….

Tapi kita memang berpisah)

 

Urin eojjeom neomu eorinnaie

Seororeul manna gida enneunji molla

Byeonhaeganeun uri moseupdereul

Gamdanghagi eoryeo wonneunjido

Ibyeolhamyeon apeudago hadeonde

Geureongeotdo neukilsuga eobseotjyo

Geujeo geunyang

Geureongabwa hamyeo damdamhaenneunde

(Satu-satunya hal yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan yang kita bangun bersama

Aku bahkan tidak ingat bagaimana kita saling bertemu satu sama lain di umur yang masih muda

Berat bagi kita untuk menghindari perubahan-perubahan yang terjadi

Orang-orang berkata bahwa mengucapkan selamat tinggal sangat menyakitkan

Tapi kita bahkan tidak bisa merasakannya

Kita hanya berpikir bahwa… ini sudah seharusnya terjadi)

 

Ureotjyo uuu… sigani

Gamyeonseo naegejun

Aswiume geuriume

Naetteutgwaneun dareun naui mameul bomyeonseo

Cheo eumen chinguro

Daeu meneun yeoninsairo

Hae ojimyeon gakkaseuro chingusairaneun

Geumal jeongmal matneunde

(Tapi aku menangis…

Seiring waktu yang berlalu

Menyesal dan merindukanmu

Melihat diriku dengan sudut pandang yang berbeda

Awalnya hanya sekedar sahabat

Kemudian menjadi kekasih

Benar yang mereka bilang bahwa sulit mempertahankan persahabatan setelah kita berpisah)

 

Geu huro samnyeoneul bonaeneun donganedo

Gakkeumsik seoroege yeollageul haesseotjyo

(Sejak saat itu, hampir tiga tahun

Kita terkadang saling menghubungi)

***

Aku tahu sulit untuk tetap bersahabat setelah berpisah, tapi tetap saja aku melakukannya, walaupun aku tahu dampaknya bagiku. Bukannya melupakan perasaanku padanya, tapi aku malah semakin mencintainya. Tersenyum saat dia menceritakan kehidupan barunya yang menyenangkan, tempat-tempat indah yang disinggahinya disana, sekaligus menangis saat dia berkata bahwa dia sangat merindukan Korea dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Kadang aku merasa… bukankah tidak ada orang yang lebih idiot dariku? Menunggu orang yang jelas-jelas berkata bahwa aku tidak usah menunggunya. Bahkan mungkin dia tidak tahu bahwa aku masih menggantungkan banyak harapan padanya.

Sesekali dia bercerita tentang gadis-gadis yang ditemuinya disana. Dan lagi-lagi, dengan bodohnya aku berkata bahwa dia harus menemukan gadis yang tepat, sedangkan yang kuharapkan adalah bahwa dia masih memiliki sedikit rasa cinta yang mungkin tersisa untukku. Tidak adakah harapan bahwa dia masih mencintaiku? Apa itu hanya pikiran bodohku saja? Begitu?

Bahkan… 3 tahun setelah itu… aku masih menunggunya. Itu adalah hal bodoh. Aku tahu dengan jelas. Mencemaskannya seolah dia masih milikku seperti dulu. Apakah dia baik-baik saja disana? Apakah cuacanya sama dengan Korea sehingga dia bisa dengan mudah menyesuaikan diri? Apakah makanan disana sesuai dengan seleranya?

Apakah seumur hidup harus aku habiskan untuk menunggunya?

***

Dareun han sarameul manna ttodasi

Saranghage doe eosseumyeon seodo nan

Seul peulttamyeon hangsang jeon hwalgeorro

Sorieobsi nunmulman heulligo

Neodo joheun saram mannaya deonda

Maeumedo eomneun mareul hamyeonseo

Ajik nareul joahana gwaenhi dollyeo malhaetjyo

(Bahkan jika aku bertemu orang lain kemudian jatuh cinta lagi

Kaulah yang kupanggil kapanpun aku merasa sedih

Tanpa kata… diam-diam aku menangis

“Kau harus menemukan orang yang tepat,” ucapku

Tapi jauh di dalam hatiku, aku tidak ingin itu terjadi

Berpikir sia-sia bahwa… mungkin saja kau masih mencintaiku….)

 

Arayo uuu… seoro gajang sunsuhaesseotdeon

Geuttae geureon sarang dasi hal su eopdaneun geol

Chueogeuro nameulppun

Gakkeumssik chagaun geuael neukkiltaedo isseoyo

Hajiman ijeneun amugeotdo yoguhal su eopdaneun geol jal aljyo

(Aku tahu….

Cinta yang kita miliki begitu suci

Kita bahkan tidak akan pernah memiliki cinta seperti itu lagi

Bahwa itu hanya akan membekas sebagai kenangan dalam ingatan kita

Terkadang aku bisa merasakan perasaan yang dingin darimu

Tapi aku tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa aku lakukan)

 

FLASHBACK END

***

Setelah tamat kuliah dengan nilai memuaskan, aku bukannya mencari pekerjaan yang sesuai dengan gelar sarjana yang kusandang, tapi aku malah melakukan sesuatu yang sesuai dengan hobiku. Penata rambut. Bukan penata rambut sembarangan, tapi penata rambut artis. Super Junior lebih tepatnya.

Aku baru satu bulan bekerja. Itu pun karena temanku yang menawarkan. Biasanya aku menata rambut Kyuhyun, tapi entah kenapa hari ini aku disuruh menata rambut Heechul. Namja aneh itu? Astaga, membayangkannya saja aku sudah malas. Aku sudah sering mendengarnya membentak-bentak orang lain sembarangan, dan aku tidak mau hal itu juga terjadi padaku.

Aku sedang menyiapkan peralatanku untuk menata rambut, saat tba-tiba HP-ku bordering nyaring. Nomor tidak dikenal.

“Yeoboseyo?”

“Hyonnie~a!!!”

Hanya satu orang yang memanggilku seperti itu. Hanya Jin-Ho saja.

“Jin-Ho?” tanyaku hati-hati dnegan raut wajah tak percaya. Dia meneleponku? Apa dia sedang di Korea?

“Aish, kau selalu bisa menebak dengan tepat! Hei, aku baru saja sampai di Korea. Bisakah kita bertemu? Aku merindukanmu!”

Dia merindukanku? Benarkah?

“Baiklah,” kataku, berusaha tidak kedengaran terlalu senang. “Sepulang kerja aku akan menemuimu. Makan malam?”

“Bagus. Makan di kafe yang dulu, ya! Aku kangen dengan paman penjualnya.”

“Kau ini ada-ada saja. Sampai nanti!”

Aku memasukkan HP-ku ke dalam tas dan meloncat-loncat senang. Aigoo, dia pulang ke Korea dan ingin bertemu denganku? Apa dia… Aish, Min-Hyo, enyahkan pikiran itu dari otakmu! Jangan berharap terlalu banyak lagi!

Pintu ruangan terbuka dan member-member SuJu yang sudah cukup kukenal baik masuk. Aku melihat Heechul berjalan di belakang Leeteuk oppa. Serius, aku memang sedikit takut dengannya. Dia… sedikit tidak normal. Auranya aneh.

Tenang Min-Hyo~a, tenang, hari ini akan baik-baik saja! Oke? Tidak ada yang bisa merusak hari indahmu! Kau akan bertemu Jin-Ho nanti.

Benar! Aku akan bertemu Jin-Ho dan bahkan seorang Kim Heechul yang kutakuti sekalipun tidak akan bisa merusak hariku!

“Kau yang akan menata rambutku hari ini?”

Aku terlonjak kaget saat dia tiba-tiba sudah berada di hadapanku dan berbicara padaku.

“N… ne,” kataku gugup. Aku belum pernah berdiri sedekat ini dengannya. Biasanya aku akan berusaha berada di tempat yang paling jauh dari makhluk ini. Aish, kenapa Ha-Ni harus sakit dan memaksaku menggantikannya?

Aku tidak tahu alasannya kenapa aku sampai takut dengan namja satu ini. Dia pribadi sih belum pernah melakukan hal buruk padaku. Hanya saja setelah menonton semua acara reality show SuJu, aku merasa aku harus berada jauh-jauh dari namja AB tidak waras ini. Dia berbahaya!

“Awas saja kalau kau melakukan sesuatu yang buruk pada rambut kesayanganku! Kubunuh kau!”

Astaga, kalimat tadi akan kuralat! Sepertinya dia berpotensi besar merusak hari indahku!

***

HEECHUL’S POV

Aku melotot saat mendengar bahwa Ha-Ni sakit dan yang akan menggantikannya adalah yeoja yang biasanya menata rambut Kyuhyun. Aku tahu kerja yeoja itu bagus, toh rambut Kyuhyun tidak pernah terlihat jelek akhir-akhir ini. Tapi masalahnya, rambutku dan Kyuhyun kan jauh berbeda! Bagaimana kalau dia tidak bisa menata rambutku yang indah ini dengan baik? Aku saja membutuhkan waktu lama untuk mempercayai Ha-Ni, apalagi yeoja ini! Huh, awas saja kalau dia melakukan sesuatu yang buruk terhadapku! Aku tidak akan melepaskannya!

Karena merasa terlalu lelah dan tidak cukup istirahat, aku akhirnya malah tertidur saat dia mulai menata rambutku. Jadwalku sangat padat akhir-akhir ini, jadi sangat sulit mencari waktu tidur yang pas.

Aku baru membuka mataku saat tubuhku digoyang-goyang oleh seseorang. Aku menggeliat sesaat dan memfokuskan pandanganku. Aku mengucek-ucek mataku dan langsung terbelalak lebar saat melihat bayanganku di cermin.

“KAU APAKAN RAMBUTKU, HAH?!”

***

MIN-HYO’S POV

Aku mengguncang bahu Heechul yang sedang tertidur karena aku sudah selesai menata rambutnya. Dia menggeliat sesaat dan melihat ke arah cermin.

“KAU APAKAN RAMBUTKU, HAH?!”

Aku terlonjak mendengar teriakannya yang memekakkan telinga itu. Aku sudah menata rambutnya sebagus mungkin dan reaksinya malah seperti itu? Aku sudah lama gatal melihat rambut pirang panjangnya yang membuatnya malah terlihat seperti boneka Barbie dibandingkan seorang namja. Aku memotong rambutnya sampai pendek dan mengecatnya kembali menjadi warna hitam. Dan aku pikir dia terlihat jauh lebih tampan dan segar dengan rambutnya yang seperti ini. Jadi kenapa dia harus marah-marah begitu?

“Aku tidak peduli bagaimana caranya, tapi kau harus mengembalikan rambutku seperti semula! Apa aku pernah memintamu menggunting rambutku? Kau harus tanggung jawab! Atau kumasukkan kau ke dalam penjara!”

Aku menelan ludah dengan susah payah menghadapi kemarahannya itu. Dia hampir seperti gunung api yang meletus dan melenyapkan satu kota. Hanya karena rambut saja dia bisa kesetanan seperti ini?

“Heechul~a, sudahlah! Kau terlihat lebih tampan dengan rambut seperti ini,” kata Leeteuk oppa menenangkan.

“Benar hyung, lebih bagus seperti ini. Kau terlihat lebih keren sekarang!” tambah Eunhyuk oppa.

“Heh, kali ini aku akan bersabar. Tapi kalau ada satu saja orang yang mengatakan bahwa aku terlihat jelek dengan rambut ini, aku tidak akan melepaskanmu!” ancamnya sadis.

Aku mengangguk takut-takut. Tamatlah riwayatku sekarang!

***

Aku tidak tahu kenapa, tapi bahkan saat aku sudah sampai di kafe, aku masih saja memikirkan ucapan namja gila itu. Perasaanku tidak enak. Bagaimana kalau ada yang mengatakan dia jelek? Bisa-bisa Park Min-Hyo hanya tinggal nama saja. Hoa… dia benar-benar menakutkan!

“Yak, kau tidak senang ya aku pulang? Wajahmu kusut sekali! Ada masalah?” tanya Jin-Ho, membuyarkan lamunanku.

“Ah, ani…. Hanya masalah pekerjaan.”

“Sepertinya berat sekali. Kau masih bekerja dengan Super Junior? Mereka melakukan sesuatu padamu?”

Aku meringis dan menceritakan masalahku padanya.

“Aish, kau ini, sudah tahu dia seperti itu, masih saja cari gara-gara!”

“Tapi aku gatal sekali ingin merombak rambutnya itu! Rambut lamanya membuatnya terlihat seperti seorang yeoja!”

“Sekarang kau yang harus bertanggung jawab, kan?”

“Lupakan masalah itu! Aku tidak apa-apa! Bagaimana kabarmu? Sepertinya kau bahagia sekali tinggal disana.”

Dia memang terlihat lebih tampan daripada 3 tahun lalu. Dan tumbuh dengan sempurna. Benar, kan? Dia kelihatan benar-benar bahagia.

“Begitulah,” katanya sambil tersenyum. “Hei, bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan?”

“Ini kan musim dingin. Kau mau pergi jalan-jalan kemana-mana?”

“Kemana saja. Mau tidak?”

Aku mengangguk. Mana pernah aku menolak apapun yang diinginkannya?

Dia menjulurkan tubuhnya dan menatapku lekat-lekat.

“Ah, Park Min-Hyo-ku tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik sekarang. Apa kau sudah punya pacar?”

“Mwo?” tanyaku kaget. Dia kelihatan santai sekali saat menanyakannya.

“Kalau belum, kembali padaku saja bagaimana?”

Aku melongo mendengar ucapannya. Apa dia… serius?

“Hahaha… aku hanya bercanda! Wajahmu syok seklai!” Dia tertawa dan mendorong kepalaku.

Hanya bercanda. Hatiku tergores satu luka lagi. Ah, itu masih tidak seberapa. Hatiku memang penuh luka memar. Terluka beberapa kali lagi karena namja yang sama sepertinya tidak akan masalah. Benar. Pasti tidak masalah.

***

“Kenapa kau tersenyum-senyum seperti orang gila begitu?” tanya Heechul keesokan harinya saat aku sedang menata rambutnya lagi.

Astaga! Apa tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri? Hari ini aku kan ada janji dengan Jin-Ho dan isi otakku dari pagi hanya itu saja. Sepertinya aku gagal menyembunyikan perasaan senangku.

“Ani. Bukan urusanmu.”

“Kau mau pergi kencan? Seperti anak remaja saja! Memalukan!” ejeknya.

“Yak, kenapa kau ikut campur urusanku, hah? Terserah aku mau pergi kencan atau tidak! Kau tidak berhak mengomentariku!” teriakku kesal. Namja ini membuatku darah tinggi saja!

“Memang bukan urusanku. Yang menjadi urusanku adalah kalau kau mengacaukan rambutku lagi!”

“Apa ada orang yang mengatakan rambutmu itu jelek? Aku jamin tidak ada!”

“Kemarin So-Hee bahkan memuji rambut barumu itu kan, Heechul~a?” seru Leeteuk.

Aku mendelik menatap Heechul, menahan keinginan untuk membabat habis rambutnya itu.

“So-Hee Wonder Girls? Seharusnya kau berterima kasih padaku, bukannya membentak-bentakku!”

“Heechul kan memang gengsian!” kata Kyuhyun yang duduk di samping Heechul.

“Panggil aku hyung!” teriak Heechul tak terima sambil menggeplak kepala magnae-nya iitu.

“YAK, APPO! Kau kasar sekali, hyung! Pantas saja kau tidak laku-laku!”

Sepertinya akan terjadi perang dunia ketiga kalau mereka berdua tidak segera dihentikan. Aku menahan bahu Heechul yang berniat menghajar Kyuhyun. Bagaimanapun Kyuhyun itu member yang paling aku sukai. Jangan sampai namja gila ini melakukan apa-apa pada idolaku itu!

“Kenapa kau menahanku, hah?” bentaknya.

“Diam kau! Atau aku akan memotong habis rambutmu itu! Kau mau?” ancamku.

Aku melihat tampang syoknya di cermin dan dia langsung diam seketika. Member lain hanya bisa terkekeh geli melihatnya. Apa dia sebegitu menyayangi rambutnya itu?

“Lebih baik kau memikirkan ucapan terima kasih untukku, Kim Heechul!”

Dia berdiri tiba-tiba, membuatku terdorong dan berusaha mencari pegangan di belakangku.

“YAK, BERAPA UMURMU, HAH? KAU PANGGIL AKU APA TADI? KIM HEECHUL? AKU INI LEBIH BESAR DARIMU!”

Satu lagi pelajaran yang kudapatkan. Jangan pernah memanggilnya tanpa embel-embel oppa. Astaga, hampir saja aku terkena serangan jantung!

Leeteuk oppa cepat-cepat bangkit dari kursinya dan menarik Heechul duduk.

“Min-Hyo~a, gwaenchana?” tanya Donghae oppa. Aku hanya bisa mengangguk sambil mengelus-elus dadaku, berusaha menenangkan diri.

“Mulai sekarang panggil aku oppa. Awas kalau kau hanya memanggilku Heechul!” serunya.

“N… ne, oppa.”

***

“Kau sudah menunggu lama?” tanyaku tidak enak saat melihat Jin-Ho sudah berdiri di depan mobilnya. Dia sengaja menjemputku ke tempat kerja biar tidak perlu repot-repot bertemu di suatu tempat dulu.

“Tidak juga,” katanya sambil tersenyum. Dia mengulurkan tangannya dan merapikan rambutku yang sedikit berantakan tertiup angin, membuat wajahku dengan refleks memerah.

“Ini mobilmu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Ne. Aku kan akan menetap di Korea, jadi aku memutuskan untuk membeli mobil saja.”

“Menetap di Korea? Kau tidak akan kembali ke Amerika?” Aku menatapnya tak percaya. Benarkah? Jadi… aku bisa melihatnya kapan pun aku mau?

Dia mengangguk, kemudian menarikku masuk ke mobil.

“Cuaca dingin sekali, lebih baik kita pergi sekarang. Wajahmu sampai merah begitu,” ejeknya.

“Sialan kau!” umpatku.

***

Dia mengajakku ke tempat-tempat yang sering kami singgahi dulu sebelum dia pindah ke Amerika. Dia bilang bahwa dia merindukan semuanya. Dengan bodohnya aku berpikir bahwa dia mungkin ingin agar hubungan kami juga kembali seperti dulu. Dia tidak berubah sama sekali. Masih suka menggoda dan menjahiliku, memeluk dan merangkulku seenaknya. Dari sikapnya yang seperti ini tidak heran kan kalau aku lagi-lagi berharap banyak?

Kami menghabiskan waktu berjam-jam bermain ice-skating. Aku awalnya sempat menolak mentah-mentah usulnya itu, tapi dia memaksa dan berjanji akan mengajariku. Jadilah setelah itu aku merelakan tubuhku jatuh berkali-kali. Pasti sesampainya di rumah nanti pantatku sudah memar-memar.

“Tampangmu kenapa jadi cemberut begitu?” godanya, saat kami sudah berada dalam sebuah kafe yang hangat.

Aku menghirup cokelat panasku dengan hati dongkol. Badanku benar-benar sakit dan dia malah mengejekku. Menyebalkan!

“Hahaha… baru pertama kali belajar tentu saja seperti itu.”

“Kau tidak merasakan sakitnya! Sial!” keluhku.

Dia lagi-lagi tertawa, membuatku semakin kesal.

“Min-Hyo~ya, aku ingin mengenalkan seseorang padamu.”

“Nugu?”

Bukannya menjawab dia malah melirik jam tangannya. “Seharusnya dia sudah datang,” gumamnya.

Aku menatapnya bingung, sedangkan dia melihat pintu masuk kafe. Sesaat kemudian dia tersenyum dan melambaikan tangannya kepada seorang gadis yang baru masuk. Gadis itu cantik sekali dan gaya pakaiannya sangat modis. Dia berjalan ke meja kami dan tersenyum sopan padaku.

“Kenalkan, dia ini teman sekampusku di Amerika. Namanya Jung Ri-In. Dia calon istriku. Makanya aku memutuskan kembali ke Korea. 3 hari lagi kami menikah.”

Rasanya ada petir yang menyambarku teppat di kepalaku. Tidak bisakah aku mati saja saat ini? Kenapa… kenapa setelah dia memperlakukan aku dengan begitu baik, dia malah menghempaskan aku dengan begitu kejam lagi ke bumi?

Aku berusaha menahan air mataku dan tersenyum.

“Aish, kenapa kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya, hah? Menyebalkan! Jadi aku ini orang yang terakhir tahu begitu? Jadi aku bukan sahabatmu lagi?” tanyaku pura-pura marah, padahal baru saja dia membuat hatiku berdarah.

“Mianhae, Min-Hyo~ya, aku sengaja ingin memberimu kejutan! Bagaimana? Calon istriku cantik, kan?”

Ri-In tersenyum dan aku hanya mengangguk saja. Seharusnya aku ikut audisi menjadi artis. Aktingku meyakinkan sekali, kan?

Min-Hyo babo! Mana ada gadis yang lebih babo lagi dari aku? Seharusnya aku tidak menunggunya dan tidak berharap terlalu banyak. Kalau seperti ini….

HP-ku tiba-tiba berdering nyaring. Aku mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon. Aku akan sangat berterima kasih kepada si penelepon ini. Dia sudah menyelamatkanku dari situasi mengerikan yang sednag kualami.

“Ah, jinjja? Baik, aku kesana sekarang!” kataku sebelum orang itu sempat bicara apapun. Aku mematikan HP-ku dan memasukkannya ke dalam tas.

“Mianhaeyo, aku harus pergi sekarang. Ternyata aku harus bekerja malam ini. Cheongmal mianhaeyo, Ri-In ssi. Yak, Jin-Ho~ya, aku pergi dulu. Kirimkan undangan pernikahanmu ke rumah.”

“Perlu kuantar?”

“Tidak. Kalian kencan saja berdua. Sampai jumpa!”

Aku cepat-cepat berlari keluar tanpa menoleh lagi. Aku tetap tidak menghentikan langkahku sampai aku terduduk di kursi halte yang kosong. Tidak ada orang disana, jadi aku bisa menangis dengan puas.

Ternyata rasa sakitnya seperti ini. Lebih parah daripada saat dia bilang kami sebaiknya berpisah sebelum dia pergi ke Amerika dulu. Rasanya seperti ada yang menonjok jantungku sampai darahku menghambur keluar, lalu meneteskan asam tepat di atasnya.

Min-Hyo bodoh! Benar-benar bodoh! Aish, rasanya aku mau mati saja!

Aku masih menangis histeris dengan kepala tertunduk saat tiba-tiba saja ada seseorang yang berdiri di depanku dan menarik tubuhku ke pelukannya. Dia masih berdiri, sehingga kepalaku terbenam ke perutnya. Wangi tubuhnya menenangkan.

Aku tidak punya tenaga untuk berontak, jadi aku diam saja. Siapa tahu namja ini mau membunuhku? Itu ide bagus sepertinya. Aku jadi tidak perlu repot-repot bunuh diri segala.

“Kencanmu gagal? Payah! Dia pasti selingkuh darimu, kan?”

Suara ini….

***

Na ije gyeorhonhae geu aeui maldeutgo

Hanchameul amumaldo hal suga eobseotjyo

Geurigo ureotjyo geuae majimak mal

Saranghae deutgosipdeon geu hanmadi ttaemune

(“Aku akan menikah” Itulah yang kau katakan padaku

Setelah itu… untuk waktu yang cukup lama… aku kehilangan kata-kata

Kemudian aku menangis….

Itu kata-kata terakhirmu padaku

Tapi… “Aku mencintaimu” Kata-kata itulah yang sebenarnya ingin kudengar darimu….)

***

HEECHUL’S POV

Aku melihat Min-Hyo bergegas mengumpulkan barang-barangnya dan melemparnya ke dalam tas setelah menerima telepon dari seseorang.

“AKU PULANG!” teriaknya sambil buru-buru berlari keluar.

Cih, pasti pacarnya. Dasar yeoja kekanak-kanakan. Pergi kencan saja dia sudah sebegitu senangnya. Dia pikir dia itu masih anak sekolahan apa?

Aku melihat buku yang tergeletak di lantai di dekatku. Pasti bukunya. Gadis ceroboh!

Aku berdiri dan mengambil buku kecil itu. Sepertinya buku diari. Aku membawanya ke dorm. Malam ini aku tidak da kegiatan, jadi aku bisa santai.

Setelah selesai mandi, aku duduk di atas sofa ruang tamu sambil membawa buku itu. Karena aku tidak pernah memedulikan sopan santun sama sekali, jadi dengan cueknya aku membuka buku itu dan membacanya.

Di halaman pertama ada fotonya dengan seorang namja yang cukup tampan. Tapi tentu saja aku jauh lebih tampan! Pasti ini pacarnya.

 

15 Februari 2006

Setelah mencintainya seperti orang gila selama bertahun-tahun, akhirnya hari ini dia bilang bahwa dia menyukaiku di depan semua orang. Aigoo, rasanya aku mau pingsan saking senangnya. Tidak ada lagi yang kuinginkan dalam hidupku selain bisa bersamanya. Dan dia baru saja mengabulkan satu-satunya permintaanku itu. Yoon Jin-Ho. Namja yang selamanya akan ada dalam otakku.

 

Halaman-halaman selanjutnya penuh dengan ceritanya tentang pria itu. Kencan pertama mereka, pertama kalinya mereka pergi ke taman main bersama. Aneh, tidak ada cerita tentang ciuman pertama. Gaya pacaran macam apa itu?

 

15 Februari 2007

Dia bilang dia akan pergi melanjutkan kuliah ke Amerika. Jadi lebih baik kami berpisah saja….

Kenapa kalimat itu tidak bisa diganti dengan, “Jadi… lebih baik biarkan aku menunggu sampai kau kembali….”

Dan… walaupun dia berkata bahwa mungkin dia tidak akan pernah kembali lagi ke Korea, dengan bodohnya aku memutuskan bahwa aku akan menunggunya. Idiot? Park Min-Hyo memang idiot jika menyangkut Yoon Jin-Ho.

 

Aku membuka halaman terakhir. Tanggal yang tertera adalah tanggal hari ini.

 

Woa… kencan seharian dengan Jin-Ho? Pasti akan sangat menyenangkan. Dia bilang dia akan menetap di Korea, itu artinya aku bisa melihatnya setiap hari!

Merindukan seseorang itu bukan hal yang enak. Aku sudah menghabiskan seluruh tenagaku untuk merindukannya selama 3 tahun terakhir dan sekarang semuanya berakhir. Dia kembali. Apa lagi yang lebih baik daripada itu?

Ah, bolehkah aku sedikit berharap bahwa dia mau kembali kepadaku? Boleh, kan?

 

Apa dia sebegitu mencintai namja itu? Mereka sudah berpisah dan sekarang dia berharap mereka bisa kembali lagi? Dasar bodoh!

Aku menelepon manajerku dan menanyakan nomor HP yeoja itu. Setelah mendapatkannya, aku meneleponnya, bermaksud mengembalikan buku itu. Hitung-hitung rasa terima kasihku karena gara-gara dia, So-Hee memuji bahwa aku terlihat tampan. Itu benar-benar membuatku senang sampai tersenyum seharian seperti orang gila.

Aish, bukan berarti aku naksir padanya. Aku hanya mengaguminya. Itu saja. Dia gadis idamanku. Tapi dia kan masih kecil, jadi aku tidak tertarik menjadikannya milikku.

Terdengar nada sambung dan sesaat kemudian dia mengangkat teleponku. Belum sempat aku berkata apa-apa, dia sudah memotongku duluan.

“Ah, jinjja? Baik, aku kesana sekarang!” katanya dan langsung menutup telepon begitu saja.

APA-APAAN DIA, HAH?! Gadis ini benar-benar minta kucekik sampai mati! Jarang-jarang aku berbaik hati dan mau menelepon seorang yeoja yang tidak terlalu aku kenal!

Tapi kenapa suaranya terdengar aneh begitu? Dia seperti sedang melarikan diri dari sesuatu. Apa kencannya kacau? Hah, apa peduliku? Lebih baik aku pergi mencari angin keluar!

***

Aku sedang melajukan mobilku di sepanjang jalanan Dongdaemun saat aku melihat seseorang yang kukenal duduk di halte sendirian. Mobilku cukup pelan sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas.

Sedang apa dia disitu? Bahunya sedikit terguncang-guncang, membuatku bisa menebak dengan tepat dia kenapa. Pasti kencannya kacau dan dia sedang menangis menyesalinya sekarang.

Aku menghentikan mobilku dan keluar. Aish, aku paling benci dengan adegan seperti ini!

Aku berdiri di depannya dan menarik tubuhnya ke pelukanku. Dia sama sekali tidak berontak. Lebih tepatnya, tidak punya tenaga untuk berontak. Aku bisa mendengar dengan jelas tangisnya sekarang. Apa sekacau ini?

“Kencanmu gagal? Payah! Dia pasti selingkuh darimu, kan?” ejekku.

Tubuhnya menegang saat aku berbicara. Dia pasti sudah tahu siapa yang berdiri di depannya dan sedang memeluknya sekarang. Tentu saja. Siapa lagi yang punya suara seperti ini?

“Oppa sedang apa disini?” tanyanya dengan suara serak. “Kenapa kau yang datang, sih? Aku kira tadi yang memelukku orang jahat, jadi mungkin dia mau membunuhku. Aku tidak akan perlu repot-repot untuk bunuh diri. Ternyata malah kau yang datang!”

Aku melepaskan pelukanku dan menjitak kepalanya keras. Dia meringis kesakitan, tapi aku sama sekali tidak peduli. Biar otaknya itu bisa berjalan dengan benar!

“Yak, kau mau mati? Baik, biar aku yang mencekikmu sampai mati! Dasar gadis bodoh! Kau mau mati hanya gara-gara patah hati? Dia mencampakkanmu? Aku tidak akan heran! Otakmu itu kan memang terlalu bodoh!”

Wajahnya merengut dan dia menunduk lagi, melanjutkan tangis histerisnya yang tadi sempat tertunda.

“Aish, hentikan tangismu itu! Kalau ada orang yang lewat bagaimana? Pasti aku yang dituduh sudah membuatmu menangis!” bentakku. Gadis ini merepotkan saja!

Bukannya menuruti perintahku, tangisnya malah jadi lebih keras daripada yang tadi.

“Ck, kau ini! Ada apa, sih? Apa yang sudah diperbuatnya?” tanyaku kesal.

“Dia memperlakukanku dengan sangat istimewa seharian, lalu tiba-tiba saja saat makan malam dia memperkenalkan calon istrinya padaku dan berkata bahwa mereka akan menikah 3 hari lagi! Menurutmu aku harus ikut tertawa bahagia begitu?!” teriaknya dengan suara pecah. “Untung saja ada yang meneleponku sehingga aku bisa melarikan diri dari sana.”

“Jadi karena itu kau langsung memotong ucapanku dan mematikan telepon?”

“Jadi yang meneleponku tadi itu oppa? Ah, mian. Aku tidak tahu. Ada apa kau meneleponku? Apa ada yang bilang rambut barumu itu jelek?”

“Aku mau mengembalikan buku harianmu. Tadi jatuh di ruang ganti.”

“Buku harianku?” tanyanya bingung.

Aku mengangguk. “Jadi… Yoon Jin-Ho yang kau tunggu seperti orang bodoh selama 3 tahun itu mau menikah? Kasihan sekali kau!”

Aku tidak bermaksud berkata seperti itu, tapi sudahlah. Gadis ini juga bodoh karena menghabiskan hidupnya untuk pekerjaan yang sia-sia. Namja itu menikah? Setelah membaca buku hariannya tadi aku tahu bagaimana perasaannya pada namja itu. Tidak heran kalau dia sampai berniat bunuh diri.

“Oppa pergi saja sana kalau hanya mau meledekku!” ujarnya ketus.

“Yak, aku sudah menyelamatkanmu tapi kau malah mengusirku?” teriakku tak terima.

Dia hanya diam tanpa membalas ucapanku. Sepertinya dia benar-benar patah hati.

Aaaah, aku ada ide!

***

MIN-HYO’S POV

“Neomu neomu meotjyo, nuni nuni busyeo…..”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap Heechul yang sedang menari di depanku. Aku hanya terpana melihat tingkah gilanya itu. Untung saja jalanan sepi, kalau tidak, dia pasti sudah dikira orang gila!

Dia melanjutkan dance gilanya dengan lagu lain. Gee, Hoot, Oh!, Nu ABO, Bo Peep Bo Peep. Astaga, ternyata namja ini benar-benar sudah tidak waras.

Mau tidak mau aku akhirnya tertawa melihat dancenya yang lebih dahsyat daripada penyanyi aslinya itu.

“Haaah, akhirnya! Aku pikir aku harus menari semalaman untuk menghiburmu!” ujarnya lega.

“Kau sedang menghiburku?” tanyaku tak percaya. Sejak kapan dia jadi baik begitu?

“Kau pikir untuk apa aku menari seperti orang gila, hah? Kau benar-benar bodoh ternyata!”

Aku tersenyum, berdiri, dan dengan refleks memeluknya sebagai ucapan terima kasih. Wanginya… aku suka wangi tubuhnya. Entah kenapa rasanya begitu menenangkan.

***

HEECHUL’S POV

“Kau pikir untuk apa aku menari seperti orang gila, hah? Kau benar-benar bodoh ternyata!” ujarku kesal. Aku tidak menyangka dia benar-benar sebodoh itu.

Sesaat kemudian dia tersenyum, membuatku terpana sesaat. Dia cantik sekali saat melakukannya. Walaupun wajahnya pucat dan sembab karena air mata, tapi saat dia tersenyum, wajahnya terlihat bercahaya.

Aku jadi merasa bingung dengan diriku sendiri. Biasanya senyum seorang yeoja tidak berpengaruh apa-apa untukku. Aku sudah lama tidak berurusan dengan hal-hal seperti ini. Berurusan dengan seorang yeoja maksudku. Aku akhir-akhir ini tidak pernah sempat memikirkan urusan cinta.

Dia berdiri dan tiba-tiba saja memelukku. Tubuhku langsung menegang, tidak tahu harus berbuat apa. Mendadak jantungku berdetak cepat dan paru-paruku tidak bisa berfungsi dengan benar. Rasanya terlalu tepat saat mendapatinya berada di dalam pelukanku seperti ini.

Aigoo, Kim Heechul! Apa yang sedang kau pikirkan? Jangan bilang kaau tertarik pada yeoja bodoh ini! Andwae, andwae, hal itu tidak boleh terjadi!

“Gomaweo, oppa! Kau ternyata namja yang baik.”

“Kau baru tahu? Babo! Sudahlah, kuantar kau pulang!”

***

“Sudah sampai,” kataku dan menoleh ke arahnya. Gadis bodoh itu malah tertidur nyenyak di kursinya. Aish, dosa apa aku sampai harus terjebak dnegan gadis bodoh ini?

Aku menatap wajahnya yang tampak polos. Saat tertidur seperti itu dia tampak begitu lemah dan gampang pecah. Dan aku dengan bodohnya berpikir bahwa aku ingin melindungi gadis ini.

Aku mengulurkan tanganku dan menyentuh pipinya dengan jari telunjukku. Benar, aku sudah gila! Ini sepertinya tanda-tanda bahwa aku….

***

“Itu tanda-tanda jatuh cinta, hyung!” kata Donghae enteng setelah aku bercerita padanya.

“Woa… itu tidak boleh terjadi! Andwae!” teriakku frustrasi. Dengan gadis seperti itu? Bagaimana bisa? Kenal juga baru beberapa hari!

“Jatuh cinta kan tidak harus membutuhkan waktu lama, hyung,” ujar Donghae seolah bisa membaca pikiranku. “Min-Hyo cantik. Kalau diperhatikan dia sedikit mirip dengan So-Hee. Gadis idamanmu. Aku benar, kan? Waktu itu kau juga bilang begitu. Dia selalu mengikat rambutnya, memperlihatkan lehernya. Gadis seperti itu kan yang kau cari?”

“Aish, tapi dia itu terlalu bodoh! Tidak cocok denganku yang jenius! Shireo! Aku tidak mungkin tertarik pada gadis itu!”

“Hyung juga sama bodohnya. Menolak perasaan sendiri. Itu kan bodoh namanya. Dua orang bodoh menjalin hubungan, pasti keren!”

Aku memukul kepalanya kesal. Enak saja dia bilang aku bodoh.

“Appo, hyung! Aku menolongmu tapi kau malah memukulku! Menyebalkan!”

Apa benar aku menyukai gadis itu? Bagaimana bisa?

“Cinta tidak butuh alasan, hyung!” seru Donghae yang sudah berada di depan kamarnya. Anak itu! APA DIA BISA MEMBACA PIKIRANKU?!

***

Aku menghentikan langkahku di depan ruang tempat para penata rias berkumpul. Aku melongok dari balik pintu yang sedikit terbuka. Dia duduk bersama gadis-gadis lain, entah sedang membicarakan apa. Aku menatapnya yang tertawa karena ucapan gadis yang biasanya menata rambut Donghae. Senyumnya membuatku tidak bisa mengalihkan tatapan selama beberapa saat. Benar, sepertinya aku memang tertarik padanya.

Dia menunduk dan aku melihat wajahnya berubah muram lagi. Ck, bisakah dia berhenti memperlihatkan wajah seperti itu di depanku?

Aku membuka pintu dan seketika percakapan terhenti karena kehadiranku. Aku melangkah ke arah yeoja itu dan langsung menarik tangannya tanpa permisi.

“Yak, oppa, kau mau membawaku kemana? Aku sedang membicarakan konsep untuk penampilan kalian nanti malam!” serunya.

Aku tidak mengacuhkannya dan tetap menarik tangannya. Kami akhirnya sampai di lantai teratas gedung yang terbuka tanpa atap.

Dia melepaskan tangannya dari genggamanku dan mengeratkan mantel yang dipakainya karena udara terasa sangat dingin.

Aku mengulurkan buku hariannya.

“Buang saja,” katanya ringan. “Aku mau melupakannya. Jadi… buang saja.”

Aku mengangkat bahu dan berjalan ke pagar pembatas lalu membuang buku itu begitu saja ke bawah.

“Oppa membawaku kesini hanya untuk mengembalikan buku itu? Disini dingin sekali tahu! Kau mau aku sakit?”

Aku memasukkan tanganku ke dalam saku celana dan menatapnya tajam.

“Kau… aku tertarik padamu. Ayo kita pacaran.”

***

MIN-HYO’S POV

“Kau… aku tertarik padamu. Ayo kita pacaran.”

Aku hanya bisa melongo menatapnya. Apa? Pacaran?

“Mwo?” tanyaku syok.

“Aku tertarik padamu. Ayo kita pacaran.”

“Pacaran?” ulangku tak percaya. Kim Heechul mengajakku pacaran? Pacaran?

“Ne. Waeyo? Kau pikir aku main-main? Kalau masalah satu ini aku tidak pernah main-main, Park Min-Hyo ssi.”

“Oppa, kau tahu aku baru saja patah hati, mana mungkin kau menyukai gadis sepertiku. Sudahlah, toh aku juga tidak tertarik padamu.”

“Kau akan tertarik padaku. Sebentar lagi. Aku bisa memberi jaminan,” katanya. Dan setelah itu dengan seenaknya dia meninggalkanku begitu saja.

Aku berbalik dan melihat punggungnya yang baru saja menghilang di balik pintu. Cih, namja itu! Bisa kacau hidupku kalau dia benar-benar berniat mengejarku.

***

Hari ini hari pernikahannya dan dengan bodohnya aku akan menghadiri pesta pernikahannya itu.

Aku mematut bayanganku di cermin. Rambut ikalku aku ikat ekor kuda dan diberi poni. Aku mengenakan gaun putih selutut dan high heels dengan warna senada. Aku rasa tampilanku sudah cukup sempurna. Aku ingin tampak cantik di hadapannya. Padahal bukankah itu akan sia-sia saja?

Oke, kau bisa Min-Hyo~ya! Hwaiting!

***

Dan kenyataannya aku memang tidak bisa. Melihat mereka berdua berdiri di depan altar yang aku rasakan adalah lukaku terbuka lebar lagi. Aku nyaris menangsi histeris di tempat dudukku.

“Chukhahae,” kataku. Aku mengulurkan tanganku ke Ri-In, yang langsung disambutnya dengan senyum lebar di wajahnya.

Aku sedang berjalan ke arah Jin-Ho saat seseorang mencengkeram tanganku dari belakang dan menarikku pergi dengan paksa.

“OPPA!!!” teriakku marah saat tahu siapa yang menarik-narik tanganku sembarangan. Aku mengibaskan tangannya dengan sekuat tenaga.

“Kenapa kau bisa muncul disini dan menarik-narikku sembarangan? Aku tidak butuh bantuanmu!”

Dia berbalik dan menatapku tajam.

“Kau pikir aku tidak tahu kau ingin menangis? Lihat wajahmu itu! Tidak usah sok tegar!”

“Kau tidak perlu mengurusiku! Aku mau mempermalukan diriku sendiri disana apa urusannya denganmu?”

“Hentikan pikiran bodohmu itu dan mulailah gunakan akalmu! Kau tidak lihat dia sudah menikah? Apa lagi yang kau harapkan, hah?”

“Jangan ganggu aku! Kalau dia sudah menikah memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh tetap berteman dengannya?”

“Kau hanya menyakiti dirimu sendiri, Min-Hyo~ya. Berhentilah.”

Aku menggeleng dan berbalik pergi, tapi dia mencekal tanganku, menarik pinggangku cepat sehingga aku kehilangan keseimbangan. Saat itulah aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.

Aku terbelalak kaget saat menyadari apa yang terjadi. Aku berusaha mendorong tubuhnya menjauh dengan seluruh tenagaku yang tersisa, tapi itu bahkan tidak berhasil membuatnya mundur sedikitpun. Dia memegangi kepalaku dengan kedua tangannya. Lumatannya di bibirku semakin dalam, membuat persediaan oksigenku habis dengan cepat.

Tapi kenapa rasa marahku menguap begitu saja? Aku tidak tahu alasannya, tapi… namja ini… terlalu mengkhawatirkanku. Bukankah dia yang menghiburku seperti orang gila saat aku menangis histeris? Dan sekarang dia juga yang datang saat air mataku ingin tumpah keluar di depan orang yang aku cintai setengah mati. Aku… tidak bisa tidak melihatnya.

Dia melepaskanku dan menangkup wajahku dengan tangannya. Matanya menatap tepat di manik mataku.

“Kalau aku menunggu sedikit lebih lama lagi, apa ada jaminan kau akan jatuh cinta padaku?”

Aku tidak pernah melihat wajahnya yang tampak seserius ini sebelumnya. Aku bahkan tidak tahu bahwa kalimat barusan bisa keluar dari mulut seorang Kim Heechul.

Aku menggeleng.

“Ah, jadi aku harus menunggu seumur hidup begitu? Tidak masalah. Aku kan Kim Heechul. Tidak ada apapun yang tidak bisa aku lakukan. Oke, aku akan menunggumu.”

Aku menggeleng karena kau tidak perlu menunggu lagi. Karena aku sudah melihatmu. Dasar bodoh!

***

HEECHUL’S POV

Aku menatap Min-Hyo yang sedang makan es krim dengan rakus di depanku. Gadis ini memang tidak pernah berusaha menjaga kelakuannya di depanku. Lihat saja es krim yang menempel di pipinya. Ck, seperti anak kecil saja! Bodoh sekali aku menyukai gadis seperti ini!

Aku melempar tisu ke arahnya dan memberi tanda agar dia membersihkan wajahnya. Dia hanya cengegesan saja melihatku.

“Kau kotor sekali! Sudah puas kan makan es krimnya?”

“Sudah.”

“Tentu saja sudah. Kau sudah menghabiskan lima mangkuk es krim. Dasar yeoja gila! Apa kau tidak malu dnegan dandananmu itu?”

“Kenapa? Aku cantik, ya?”

Iya. Dia memang kelihatan cantik sekali dalam balutan gaun putih selututnya. Aku kan memang suka melihat yeoja yang mengikat rambutnya ke atas dan memakai gaun selutut.

“Terlalu percaya diri!”

“Aku kan memang cantik.”

“Aku lebih cantik darimu!” seruku tak terima.

“Kau bangga sekali dengan fakta itu. Kau normal, kan?”

“Tentu saja! Kalau tidak aku tidak akan mengejar-ngejarmu seperti orang bodoh!”

“Kenapa kau menyukaiku, oppa?” tanyanya penasaran.

“Mana aku tahu! Aku sendiri juga syok! Sepertinya otakku sedang tidak waras!”

“Mana ada namja yang menjawab seperti itu terhadap yeoja yang disukainya.”

“Ada. Aku. Kim Heechul!”

“Kalau kau begini mana mungkin aku bisa menyukaimu.”

“Itu mudah sekali. Kau berkonsentrasi padaku dan cobalah hanya melihatku saja. Setelah itu kau akan tahu bahwa melupakan Yoon Jin-Ho dan jatuh cinta pada Kim Heechul itu semudah membalikkan telapak tangan.”

***

MIN-HYO’S POV

Mengenalnya sedikit lebih dekat ternyata menyenangkan. Aku tahu dia sedikit tidak waras, suka membentak-bentak, dan suka sekali kencan dnegan teman-teman prianya, tapi di balik itu semua, dia adalah namja yang menyenangkan.

Aku tidak tahu sejak kapan, tapi tiba-tiba saja kemanapun aku melihat selalu ada dia. Dia benar-benar melaksanakan ucapannya waktu itu, bahwa dia akan membuatku tertarik padanya. Tapi aku tidak menyangka bahwa ternyata semudah ini.

Dan sekarang, saat aku tidak bisa melihatnya selama beberapa hari karena dia harus pergi SuShow 3 dengan Super Junior. Aneh. Aku merindukannya. Min-Hyo payah! Sebegitu mudahnyakah melupakan Jin-Ho?

***

HEECHUL’S POV

“Kenapa lagi dia?” tanyaku, mengedikkan dagunya ke arah Kyuhyun yang menatap HP-nya dengan pandangan kosong di sudut ruang tunggu bandara.

“Dia sedikit labil sekarang. Baru meninggalkan Korea dua hari saja sudah seperti mayat hidup begitu,” tukas Leeteuk.

“Hye-Na lagi?”

“Memangnya apa lagi yang bisa membuatnya seperti itu?”

“Kali ini kenapa?”

“Aish, Kim Heechul, lebih baik kau cepat mencari pacar sana! Pengetahuanmu tentang masalah cinta benar-benar parah! Dia itu merindukan Hye-Na! Babo!” gerutu Leeteuk kesal.

“Rindu? Kenapa tidak telepon saja? Dasar payah! Dia sama babonya denganku!” dengusku.

“Kau seperti tidak tahu Cho Kyuhyun saja. Mau ditaruh dimana mukanya kalau dia menelepon duluan dan berkata bahwa dia merindukan gadis itu? Bisa-bisa si ratu iblis itu menertawakannya seumur hidup.”

“Ah, separah itukah? Hubungan mereka benar-benar aneh!”

“Seperti kau normal saja! Memangnya kau punya pacar sampai kau mengatakan hubungan mereka berdua aneh?”

“Tentu saja. Sebentar lagi, yeoja itu akan takluk di tanganku!” ucapku penuh tekad.

“Aigoo, yeoja sial mana yang harus bertekuku lutut padamu itu?” tanya Leeteuk ngeri.

Aku mengedikkan bahu.

“Tunggu aku mendapatkannya, nanti akan kukenalkan padamu.”

“Aish, sepertinya aku benar-benar harus mencari pacar!”

***

Aku mengetuk pintu rumah Min-Hyo sambil tersenyum senang. Akhirnya aku pulang juga ke Korea dan bisa melihatnya lagi. Hah, jatuh cinta seperti ini membuatku merasa kembali menjadi remaja saja. Rindu. Aku tidak pernah merindukan yeoja manapun sebelumnya. Tapi kali ini berbeda. Kebutuhan untuk melihatnya begitu kuat.

“Hai,” sapaku saat dia membukakan pintu. Dia terpana sesaat, tapi langsung mengendalikan dirinya dengan baik.

Aku langsung masuk tanpa menunggu izin darinya dan menjatuhkan tubuhku ke atas sofa.

“Yak, kau punya sopan santun tidak, sih?” teriaknya kesal.

Aku menarik tangannya sampai dia terduduk di sampingku dan menjelajahi wajahnya dengan mataku.

“Bagus,” gumamku.

“Apa?” tanyanya bingung.

“Kau. Kau menjaga dirimu dengan baik selama aku pergi.”

Dia tertunduk malu dengan wajah memerah.

“Ah, aku lupa. Aku merindukanmu. Sudah lama tidak melihaatmu. Rasanya tidak enak. Padahal kau tidak sebegitu berharganya sampai aku harus merindukanmu segala.”

Dia memukul kepalaku dan mendelik.

“Kau menyebalkan!”

“Jadi… apa kau sudah menerimaku? Aku tidak menerima penolakan, Min-Hyo~ya.”

“Dengan tingkahmu yang seperti ini apa kau pikir aku mau menerimamu?” katanya ketus.

“Tentu saja. Aku sudah mengizinkanmu bersamaku selama beberapa minggu terakhir. Aku juga sudah menciummu. Apa kau pikir aku mencium seorang yeoja sembarangan? Nah, kau tidak boleh menolakku kalau begitu.”

“Apa? Kau bahkan tidak pernah bilang bahwa kau mencintaiku!”

“Mencintaimu? Haruskah? Aku tidak mau! Kata itu terlalu berharga!”

“MWOYA?”

“Suaramu berisik sekali!”

Dia merengut kesal dan memalingkan wajahnya dariku.

“Siapa member SuJu yang paling kau sukai?”

“Kyuhyun,” jawabnya cepat.

“Setan itu? Astaga, apa bagusnya sih dia? Aku ini jauh lebih tampan! Dengar, karena sekarang kau adalah milikku, kau harus ikut peraturanku!”

Aku mengeluarkan sehelai kertas yang sudah aku siapkan dari dalam tasku dna menyodorkan kertas itu padanya.

“Tidak boleh melirik namja manapun, tidak boleh memuji namja lain dan mengatakan bahwa mereka lebih tampan daripada Kim Heechul, harus memanggil Heechul oppa, harus selalu mengangkat telepon dari Heechul, siap sedia 24 jam bagi Kim Heechul. IGE MWOYA?!” teriaknya syok.

***

MIN-HYO’S POV

“Tanda tangan,” katanya sambil mengulurkan pena.

“SHIREO! Apa kau sudah gila, hah? Yang benar saja! Aku tidak mau!”

“Aish, tanda tangan saja! Itu kontrak seumur hidup.”

“Kontrak seumur hidup?”

“Ne. Kau harus bersamaku seumur hidup.”

“Lalu apa kau pikir aku tidak akan menikah?”

“Menikah? Kau kan menikah denganku. Dasar bodoh! Heh, aku ini tidak pernah memikirkan tentang pernikahan sebelumnya, tapi sekarang aku berubah pikiran. Menikah dneganmu sepertinya bukan ide buruk. Ayo tanda tangan.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Aku akan menciummu.”

Aku merebut pena itu dari tangannya dan dengan cepat mencoretkan tanda tanganku.

“Kau takut sekali aku cium,” ejekku.

“Tentu saja! Kau mengerikan!”

“Tapi walau kau tanda tangan sekalipun aku akan tetap menciummu, Min-Hyo~ya.”

Aku hanya bisa terbelalak kaget saat dia merengkuh kepalaku dan mengecup bibirku pelan. Hanya sebuah kecupan, tapi masih sanggup membuat jantungku berolahraga.

“Aku merindukanmu. Aku menertawakan Kyuhyun yang merindukan istrinya, tapi ternyata aku juga merasakan hal yang sama. Tidak tahu apa itu hal yang bodoh, tapi… aku merindukanmu.”

***

Aku terbangun tengah malam karena HP-ku yang terus menerus berdering. Heechul. Astaga, ini sudah jam 2 pagi. Mau apa dia?

“Yeoboseyo?” kataku dengan suara serak.

“Kenapa kau lama sekali mengangkat telepon, hah?” bentaknya.

“Aku sudah tidur. Ini jam 2 pagi, babo!”

“Tidak perlu berteriak padaku!”

“mau apa kau meneleponku?”

“Aku berubah pikiran.”

Entah aku yang salah atau suaranya memang terdengar gugup?

“Kau dengar baik-baik! Aku tidak akan mengulangnya lagi.”

“Apa?”

“Min-Hyo~ya… saranghae.”

***

HEECHUL’S POV

“Min-Hyo~ya… saranghae.”

Hah, akhirnya aku berhasil mengatakannya! Hahaha…. Kim Heechul benar-benar jenius!

Dia terdiam, membuatku berniat mematikan telepon. Tapi sesaat kemudian dia mnegatakan sesuatu yang membuatku mematung di tempat.

“Nado saranghae, oppa….”

***

MIN-HYO’S POV

“Ini pacarku!” serunya kepada seluruh member yang sedang berada di ruang ganti.

Mereka semua menoleh ke arah kami berdua. Aku mencoba melepaskan rangkulannya dari bahuku, tapi lagi-lagi itu hanya perbuatan sia-sia. Namja ini membuatku malu saja!

“Woa, Min-Hyo~ya, kenapa kau mau dengannya? Kau sudha tidak waras, ya?” kata Leeteuk oppa tak percaya.

Aku mengangguk semangat, membuatku mendapatkan jitakan di kepalaku.

“Lihat, dia saja kasar sekali padamu!” seru Donghae oppa.

“Lee Donghae,” kata Heechul dengan nada berbahaya, membuat namja itu langsung menutup mulutnya.

“Tentu saja dia mau pacaran denganku. Aku kan namja paling tampan se-Asia.”

Saat itulah aku melihat Kyuhyun yang sedang duduk di sudut ruangan. Tatapannya bertumbukan dneganku dan dia langsung tersenyum. Aigoo, dia benar-benar tampan!

“Benar kan, Min-Hyo~ya?”

“Apa?” tanyaku bingung.

“Benar kan kau menyukaiku karena aku ini namja paling tampan se-Asia?”

“Hah? Benarkah? Menurutku Kyuhyun lebih tampan,” ujarku polos dengan mata tidak lepas dari namja itu.

“PARK MIN-HYO!!! KUBUNUH KAU!!!”

END

Toeng, toeng! Eotteoke? Kacau lagikah? Hahahaha…. Apakah Heechul cukup narsis dan setan disini? Hah, dia bener-bener bikin sakit kepala! Tapi aku cukup terhibur karena seharian denger suara yeobo yang lagi nyanyiin Ost. Secret Garden. Kenapa video pas dia nyanyi itu di SuJu KRY Concert in Seoul belum ada? Aku udah kelimpungan nyarinya dari tadi! Sebel!

Buat yang nunggu NBY, abis ini, ya! Aku bakal mulai ngetik besok. Ditunggu ditunggu.

Seperti biasa, mohon komen, kritik, dan sarannya. Semoga kalian puas. *deep bow*