SUNGMIN’S POV

Aku sedang menonton TV saat Kyuhyun masuk ke dorm sambil membanting pintu dengan tampang cemberut. Hari ini semua member sibuk dengan kegiatan masing-masing, hanya aku saja yang ada di dorm. Aneh juga melihatnya disini, karena sejak menikah dengan Hye-Na, magnae kami ini lebih suka mendekam di apartemennya untuk bertanding game dengan istrinya itu. Ah, pasti Hye-Na belum pulang lagi.

“Kenapa tampangmu?”

“Hyung,” katanya dengan tampang memelas, menghempaskan tubuhnya di sampingku. “Yeoja menyebalkan itu lagi-lagi tidak memberitahuku kalau dia pulang telat. Apa aku kurang keras memperingatkannya?”

“Kau ini, sesekali bersikap romantislah pada istrimu itu. Kau terlalu galak padanya.”

“MWO?” serunya dengan wajah syok. “Bersikap romantis pada ratu iblis itu? Yak, hyung, apa kau sudah gila? Aku bukan Donghae hyung yang kerjaannya hanya menggoda setiap yeoja yang lewat! Aish, itu sangat menjijikkan!”

“Kau pikir dengan sikapmu yang seperti itu dia mau bertahan di sampingmu? Sesadis apapun dia, dia kan juga seorang yeoja, Kyuhyun~a.”

“Daripada hyung menasihatiku, lebih baik hyung urus saja kisah percintaan hyung yang menyedihkan itu. Ji-Yoon tidak pernah kesini lagi. Wae? Kalian bertengkar? Sudah lewat 1 bulan sejak dia terakhir kali kesini. Biasanya kan dia selalu merusuh di dorm kita.”

Aku mengangkat bahuku dan berpura-pura fokus ke TV. Topik ini sedikit… sensitif bagiku.

Jung Ji-Yoon. Dia sahabatku. Banyak orang yang merasa aneh dengan persahabatan kami berdua. Aku, yang cinta mati dengan warna pink, bersahabat dengan yeoja yang jelas-jelas tergila-gila dengan warna hitam. Dia tidak tomboy, gayanya juga seperti yeoja-yeoja lain. Memakai rok jika memang dia harus memakai rok. Hanya selera kami terhadap warna saja yang jauh berbeda.

Kami sudah bersahabat sekitar 7 tahun. Dia itu teman adikku, Lee Sung-Jin, tapi entah kenapa selalu menempel padaku. Dia suka sekali berteriak-teriak dengan suaranya yang cempreng itu. Mencintai SuJu setengah mati. Hampir setiap hari dia selalu main ke dorm kami, membuat telinga para member tuli mendengar suaranya.

Bulan lalu kami bertengkar besar-besaran untuk pertama kalinya. Aku ingin merubah image pinky dan aegyo-ku, bahkan berniat operasi plastik untuk menghilangkan keimutanku dan dia langsung memarahiku habis-habisan. Kami memang mempunyai selera yang berbeda, tapi dia tidak pernah merasa keberatan denganku yang menyukai warna pink. Bahkan malah dia yang terkadang membelikanku barang-barang berwarna pink.

Sejak hari itu dia tidak pernah lagi datang ke dorm ataupun mengangkat teleponku. Dia bilang aku ini tidak ada bedanya dengan artis-artis lain yang melakukan operasi plastik demi meraih popularitas. Padahal kan maksudku tidak seperti itu. Aku ini sudah 25 tahun, tapi semua orang masih menganggapku seperti anak remaja karena wajahku yang terlalu imut. Aku kan juga mau punya imej dewasa, sesuai dengan umurku.

“Hyung, sebenarnya perasaanmu pada Ji-Yoon bagaimana? Kau betah sekali hanya bersahabat dengannya. Bukankah ada pepatah yang bilang bahwa pria dan wanita itu tidak akan pernah bisa hanya sekedar bersahabat?” kata Kyuhyun dengan tampang sok tahu.

Memang tidak akan pernah bisa murni persahabatan. Aku tahu. Karena aku juga mengalaminya. Jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Tapi sepertinya hanya aku saja yang memiliki perasaan seperti itu. Dia sama sekali tidak.

FLASHBACK

Hari ini Sung-Jin mengenalkan pacarnya kepadaku. Yeoja itu tetangga sebelah rumah kami. Mereka berdua sudah berteman sejak kecil dan aku sama sekali tidak merasa heran saat Sung-Jin akhirnya mengenalkan yeoja itu sebagai pacarnya.

Saat itu mau tidak mau aku memikirkan persahabatanku dengan Ji-Yoon. Sudah 2 tahun berlalu sejak aku menyadari perasaanku padanya tidak murni sebagai sahabat. Entah sejak kapan aku mulai melihatnya sebagai seorang wanita dan jatuh cinta padanya. Dan… apa mungkin dia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku? Bagaimana kalau tidak?

“Oppa, jangan sampai kau seperti Sung-Jin, jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Kau tidak boleh jatuh cinta padaku!” ujarnya tiba-tiba, membuat detak jantungku langsung berhenti.

“Waeyo?” tanyaku. Rasanya… sakit sekali saat mendengarnya berkata seperti itu.

“Aku tidak mau punya kekasih artis. Aku tidak mau menderita karena cemburu melihat begitu banyak yeoja yang mengantri untuk berada di posisiku. Itu bukan hal yang menyenangkan, kau tahu?”

FLASHBACK END

“Walaupun aku jatuh cinta padanya sekalipun, kami tetap tidak bisa bersama,” jawabku dengan suara pelan.

“Ah, jadi kau memang menyukainya, hyung? Aku sudah tahu itu!” serunya senang. “Tapi kenapa kalian tidak bisa bersama? Memangnya kau sudah mengutarakan perasaanmu? Dan dia menolaknya?”

“Ani. Dia… tidak mau punya kekasih seorang artis. Itu yang dulu dikatakannya padaku.”

“Lalu kau menyerah begitu saja? Ah, kau benar-benar payah, hyung! Padahal aku tidak terlalu keberatan dia jadi kakak iparku.”

Belum sempat aku berkata apa-apa, pintu dorm terbuka dan Hye-Na masuk dengan wajah yang sedikit pucat. Udara luar sepertinya benar-benar dingin.

“Babo, aku harus melakukan apalagi supaya kau menuruti perkataanku, hah? Beritahu aku kalau kau pulang terlambat! Aku kan bisa menjemputmu!”

Sesaat aku tertegun melihat ekspresi Kyuhyun. Walaupun dia berteriak marah, wajahnya terlihat begitu lega mendapati bahwa istrinya itu baik-baik saja. Matanya terlihat berbinar senang seperti anak kecil yang baru mendapat kado natal. Apa sebegitu senangnya melihat wajah orang yang kau cintai setelah tidak bertemu seharian?

“Aku lapar, makanya aku langsung ke dorm. Ada makanan tidak?” tanya Hye-Na dengan tampang polos.

“Ada. Lihat saja di meja makan,” kataku.

“Gomaweo, oppa!” serunya senang dan sesaat kemudian dia sudah menghilang ke ruang makan.

“Aish, yeoja itu benar-benar! Apa dia tidak tahu aku cemas gara-gara dia? Dia benar-benar minta dicekik sampai mati!” geram Kyuhyun.

“Kalau dia mati, kau pikir bagaimana hidupmu? Sudah sana, temani dia makan!” suruhku.

Kyuhyun mendecak kesal, tapi tetap pergi menyusul Hye-Na. Magnae-ku yang selalu bersikap dewasa di depan semua orang, sekarang tampak seperti anak-anak yang tidak tahu apa-apa hanya karena dia sedang jatuh cinta. Bukankah… seharusnya memang seperti itu? Jatuh cinta memang berpotensi membuat seseorang jadi bodoh, kan?

Aku menghempaskan tubuhku lagi ke atas sofa. Jung Ji-Yoon, menurutmu aku harus menunggu berapa lama lagi? Sudah satu bulan lebih aku tidak melihat wajahmu. Dalam keadaan merindukanmu setengah mati seperti ini, aku bisa melakukan apa saja tanpa sadar, kan? Jadi sebaiknya kau harus muncul di hadapanku duluan.

***

JI-YOON’S POV

“Yak, Ji-Yoon~a, kau mau aku bunuh, ya? Hah? Aku sudah bosan melihat tampang mayat hidupmu itu setiap hari! Kau tahu tidak? Kenapa kau tidak temui saja hyung-ku itu? Aku juga sudah bosan mendengar suaranya setiap hari. Meneleponku hanya untuk bertanya, “Sung-Jin~a, apa Ji-Yoon hari ini baik-baik saja? Apa dia sudah makan?” Cih, apa peduliku kau sudah makan atau belum? Kau mati sekalipun belum tentu aku peduli! Menyusahkanku saja!” cerocos Sung-Jin, membuatku menutup telinga.

“Yak, jadi kau sudah tidak menganggapku sebagai temanmu lagi? Hah? Aku mati sekalipun kau juga tidak peduli?”

“Intinya bukan itu!” potongnya kesal. “Kenapa sih kalian berdua suka membuat susah hal yang begitu mudah? Kau itu sudah seperti orang sekarat tidak melihatnya selama satu bulan, Sungmin hyung juga sama. Kenapa kalian tidak bertemu saja? Persoalan yang kalian ributkan juga tidak bermutu sama sekali! Hanya gara-gara dia mau operasi plastik? Cih, itu kan haknya!”

Aku mengerucutkan bibirku mendengar ucapannya. Memang, itu hanya masalah sepele. Tapi menurutku tidak sama sekali! Dia mau operasi plastik? Aku tidak rela kalau wajahnya itu tidak imut lagi!!! Itu kan salah satu alasan kenapa aku menyukainya!

Aku teringat kejadian 7 tahun yang lalu saat aku pertama kali bertemu dengannya. Saat itu aku baru kelas 1 SMP. Seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu membantu ibuku mengantarkan pesanan makanan ke rumah-rumah. Keluarga kami memang memiliki usaha restoran yang cukup besar. Dan hari itu aku harus mengantarkan makanan ke alamat yang sangat kukenal. Rumah teman sekelasku, Lee Sung-Jin. Aku tidak pernah masuk ke rumahnya, hanya sering lewat di depannya saja setiap berangkat dan pulang sekolah. Rumahnya besar sekali. Ah, tentu saja. Mereka kan memang orang kaya.

Aku tidak tahu apakah hari itu hari keberuntungan atau malah hari sialku. Yang pasti, saat aku sudah hampir sampai di rumah itu, hanya berjarak 10 meter lagi, sepedaku hilang keseimbangan dan menabrak tiang. Makanan pesanan yang seharusnya aku antar terjatuh ke jalan, tapi tidak sampai berserakan, dan tubuhku dengan sukses mendarat di atas aspal.

Saat itu tiba-tiba ada seseorang yang membantuku berdiri dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Dan yang aku lakukan hanyalah terpaku menatap wajahnya yang benar-benar imut seperti boneka. Dia bertanya apakah aku pengantar makanan, yang kujawab dengan sebuah anggukan, karena pita suaraku macet mendadak. Siapa sangka bahwa dia ternyata adalah hyung-nya Sung-Jin, karena dia bilang bahwa dia tinggal di rumah besar itu.

Dia memungut kotak makanan yang terjatuh itu dan membukanya. Isinya tentu saja sudah berantakan dan sama sekali tidak menggugah selera untuk dimakan. Tapi dengan santainya dia mencicipi makanan itu di hadapanku, mengatakan bahwa makanan itu sangat enak dengan senyum manis di wajahnya.

Namanya Lee Sungmin. Dan mulai detik itu aku memutuskan tidak akan menatap namja lain selain dia.

***

Sejak pertemuan kami hari itu, aku selalu bertanya pada Sung-Jin tentang dia. Sung-Jin bilang hyung-nya itu adalah trainee SM, makanya dia jarang di rumah. Dengan nekat aku meminta Sung-Jin mengenalkanku padanya. Walaupun merasa enggan, Sung-Jin akhirnya mau mengenalkanku pada Sungmin oppa. itu juga karena dia takut tuli mendengar rengekanku yang memekakkan telinga.

Seperti yang sudah kuperkirakan sebelumnya, dia memang namja yang sangat ramah. Aku sedikit syok saat mengetahui bahwa dia menyukai warna pink, tapi itu sama sekali tidak masalah. Memangnya aku harus berhenti menyukainya hanya karena dia tergila-gila dengan warna pink?

Kemudian dia debut bersama Super Junior. Aku ikut senang dengan kesuksesan yang dicapainya. Sangat senang malah. Tapi kemudian gosipnya dengan Sunny SNSD membuatku sedikit gentar. Bagaimanapun, tentu saja Sunny unggul dalam segala hal, jauh daripada aku yang hanya seorang gadis biasa. Aku kemudian berusaha menghilangkan perasaanku padanya, tapi sia-sia saja. Seharusnya aku berusaha dari awal, bukan setelah cintaku padanya menumpuk banyak.

Sudah satu bulan. Tidak ada komunikasi sedikitpun. Lalu… apa persahabatan ini hanya sampai disini saja?

***

SUNGMIN’S POV

Kami semua berkumpul di dorm lantai 11 malam ini. Jarang-jarang semua member bisa berkumpul bersama. Mungkin karena kami baru saja menyelesaikan jadwal SuShow 3, jadi kami bisa sedikit santai. Hanya Siwon saja yang tidak ada. Jin-Ah dan Ji-Yoo bahkan juga ikut bergabung.

“Yak, Kyuhyun~a, hari ini giliranmu ke supermarket. Beli makanan sana! Kami lapar!” perintah Leeteuk hyung.

Kyuhyun yang sedang bertanding game dengan Hye-Na mengangkat wajahnya dengan kesal.

“Aku? Kenapa harus aku? Suruh yang lain saja!”

“Aish! Kau selama ini kan tidak pernah melaksanakan tugasmu untuk belanja, kau harus melakukannya sekarang! Tidak boleh menolak!”

Kyuhyun berdiri dengan malas-malasan dan menatap Wookie.

“Wookie~a, temani aku!” pintanya. Tidak perlu ditanya apa jawaban Wookie. Anak satu itu mana pernah menolak permintaan seseorang.

Ji-Yoo dan Jin-Ah sibuk di dapur, sedangkan Hye-Na tidak beranjak sedikitpun dari depan laptop. Yeoja satu itu benar-benar.

“Sungmin~a, kenapa kau tidak undang saja Ji-Yoon kesini? Seingatku sudah lama dia tidak ke dorm. Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Leeteuk hyung.

“Memangnya jelas sekali ya kalau kami berdua sedang bertengkar?”

“Tentu saja. Aneh sekali Ji-Yoon tidak muncul disini untuk waktu yang lama. Apalagi alasannya kalau bukan karena kalian berdua bertengkar.”

“Dia marah padaku gara-gara aku ingin operasi plastik untuk menghilangkan aegyo-ku.”

“Aku mau meiliki tampang imut sepertimu tapi kau malah mau operasi untuk menghilangkannya?” seru Leeteuk hyung tak percaya.

“Tapi aku kan juga ingin punya imej manly, hyung!” protesku.

“Yak, kau itu lebih cocok dengan imejmu yang sekarang, Sungmin~a. Setiap member kan punya kelebihan masing-masing. Kau itu terkenal dan disukai orang karena imej aegyo-mu itu. Kau tidak perlu berubah hanya untuk disukai orang lain. Sekarang aku tanya, apa Ji-Yoon pernah marah kau suka dengan warna pink sedangkan dia menyukai warna hitam? Tidak, kan?”

Aku mengangguk, menyetujui ucapannya.

“Nah, lalu apalagi masalahnya? Bukankah kau hanya perlu terlihat mengagumkan di hadapan orang yang kau cintai?”

“Aish, jinjja. Apa aku tidak boleh punya rahasia? Kenapa semua orang tahu bahwa aku menyukai Ji-Yoon?” protesku kesal.

“Tidak perlu kau beritahu juga sudah kelihatan jelas,” ejeknya.

“Jinjja? Memalukan! Bagaimana kalau dia tahu?”

“Bukankah memang sudah seharusnya dia tahu? Kau tidak berencana memberitahunya?”

“Dia tidak mau punya kekasih artis, hyung!”

“Loh, kupikir dia juga menyukaimu. Kalau bukan begitu kenapa dia mengikutimu terus-terusan seperti parasit?”

“Tidak hyung, dia yang bilang sendiri padaku.”

“Memangnya dia suka namja seperti apa, sih? Apa kau tidak cukup baik?”

“Jangan-jangan benar-benar karena aku suka pink hyung, dan imej-ku yang terlalu imut. Dia… mungkin menyukai namja yang tampan dan berotot seperti Siwon.”

“Mwo? Bukannya namja tertampan di dunia itu Cho Kyuhyun?” celetuk Hye-Na tiba-tiba dengan wajah polosnya.

Suasana langsung hening setelah kalimatnya yang mengejutkan itu. Heechul hyung sampai melongo dengan mulut ternganga lebar.

“Waeyo?” tanya Hye-Na gugup. “Apa aku salah?”

“Astaga Hye-Na~ya, untung saja tidak ada Kyuhyun disini!” ujar Eunhyuk sambil menggeleng-geleng tak percaya.

“Yak, apa kau sudah gila, hah? Aku jauh lebih tampan daripada si setan itu!” teriak Heechul hyung tak terima.

“I…. itu hanya pendapatku saja. Jangan menatapku seperti itu!” serunya ketakutan karena Heechul hyung menatapnya sadis.

Aku hanya tertawa melihat kelakuan mereka. Benar kan, cinta memang benar-benar membuat semua orang jadi tolol. Kyuhyun namja tertampan di dunia? Yeoja ini benar-benar sudah gila!

***

“Hae~a, kau kan berpengalaman soal yeoja. Menurutmu apa yang harus kulakukan? Besok Ji-Yoon ulang tahun,” ujarku.

“Apa hyung mau menyatakan perasaan padanya?”

Aku mengangkat bahu.

“Molla.”

“Hah, hyung tidak boleh takut ditolak. Aku rasa dia juga tidak akan menolakmu. Kau buat kejutan saja, hyung! Bagaimana?”

“Caranya?”

***

JI-YOON’S POV

Aku pulang ke apartemenku dengan langkah gontai. Semangatku sudha hilang entah kemana sejak sebulan yang lalu. Aku harus menemuinya besok kalau aku masih mau tetap hidup dengan normal. Kalau memang aku harus menjadi sahabatnya seumur hidup ya mau diapakan lagi? Setidaknya bisa melihat wajahnya saja rasanya juga sudah cukup.

Aku membuka pintu apartemenku dan langsung terpaku syok. Pintunya tidak terkunci! Padahal aku yakin sudha menguncinya sebelum berangkat tadi!

Aku hanya tinggal di apartemen sendirian. Aku sengaja menyewa apartemen sendiri yang dekat dengan kampus, juga agar aku tidak perlu terlalu merepotkan orang tuaku.

Aku bergegas masuk ke dalam dan mendapati Sungmin oppa sudah duduk di sofa ruang tamuku. Dia memang memiliki kunci cadangan apartemenku. Tapi… astaga, sedang apa dia disini?

Dia berbalik dan tersenyum menatapku.

“Kau sudah pulang.”

Nafasku tercekat di tenggorokan. Ternyata aku benar-benar merindukannya. Aku sampai harus menahan diri untuk tidak menghambur memeluknya.

“Sedang apa oppa disini?” tanyaku setelah berhasil menemukan pita suaraku kembali.

“Jadi aku juga dilarang kesini? Apa kau masih marah?”

“Ani.” Aku menggeleng cepat-cepat. “Mianhae. Aku terlalu kekanak-kanakan,” kataku dengan wajah tertunduk.

“8 Februari. Saengil chukhahae.”

Dia menunjuk kue ulang tahun berwarna hitam di atas meja.

“Tiup lilin?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya ke arahku. Aku menyambutnya dengan hati meledak-ledak bahagia. Dia masih ingat ulang tahunku ternyata.

“Sebutkan keinginanmu dulu,” ujarnya.

Aku mengangguk dan menutup mataku.

Tuhan, bisakah 3 permintaanku diubah hanya menjadi satu permintaan saja? Aku tidak mau menjadi sahabatnya lagi. Bisakah? Atau permintaan ini terlalu sulit dikabulkan? Apakah terlalu sulit membelokkan hatinya sehingga dia bisa jatuh cinta padaku?

Aku meniup lilin di hadapanku dan menatapnya heran.

“Kenapa kuenya berwarna hitam?”

“Kau kan suka hitam,” ucapnya santai. Dia menyodorkan pisau pemotong kue. Aku memutar mataku, tapi dia hanya tersenyum.

Aku memotong kue itu sedikit dan langsung menatapnya tak percaya. Bagian dalam kue itu berwarna pink! PINK!

“Bagus, kan? Hei, apa hatimu seperti kue itu? Di dalam hatimu ada aku tidak?”

“Oppa… kau salah makan sesuatu? Kenapa jadi aneh begitu?” tanyaku bingung.

“Aneh?”

“Ah, sudahlah, aku ambil piring dulu!”

Aku berdiri dan berjalan ke arah dapur. Tapi belum beberapa langkah, dia sudah menarik tanganku dan memelukku erat-erat.

“Aku merindukanmu…. Bukankah ini rekor terlama kita tidak bertemu?” bisiknya.

Pelukannya terasa hangat, tapi tubuhku malah menegang seperti patung. Ini pertama kalinya dia memelukku seperti ini. Dan… aku rasa… ini sama sekali bukan pelukan persahabatan.

“Persahabatan ini kita akhiri saja. Bagaimana?”

“Mwo? O… oppa, kau tidak mau bersahabat denganku lagi?” tanyaku kaget.

“Keurae. Kita tidak bisa bersahabat lagi.”

“Waeyo?”

Dia melepaskan pelukannya dan menatapku. Wajahnya tampak serius. Jenis ekspresi yang jarang ditunjukkannya padaku.

Sedetik kemudian aku harus sport jantung saat dia tiba-tiba mengecup bibirku cepat. Mataku hampir meloncat keluar mendengar kata-kata yang diucapkannya setelah itu.

“Kau menjadi kekasihku saja bagaimana? Sepertinya aku menyukaimu. Ah tidak, salah. Aku mencintaimu.”

Aku hanya terpaku syok, tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.

Dia melepaskanku, membuat tubuhku terhuyung ke belakang mencari keseimbangan. Dia duduk di atas sofa sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi.

“Ah, aku memang tidak berbakat melakukan hal-hal seperti ini! Padahal Donghae sudah susah payah mengajariku. Apa aku terlihat memalukan?” tanyanya dengan tampang aegyo-nya.

“Mwo?”

“Aku serius dengan ucapanku tadi. Aku tidak mau lagi bersahabat denganmu. Apa kau masih tidak mau memiliki kekasih artis?”

Aku melangkah ke sofa dan duduk di sampingnya.

“Kau benar-benar membuatu syok, oppa.”

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Apa kau juga mau menghentikan persahabatan ini?”

“Menurutmu?”

“Apa kau sudah mau memiliki kekasih artis?”

“Ani.”

“Ah, begitu, ya?” tanyanya kecewa.

“Oppa babo,” kataku sambil tersenyum. “Aku memang tidak mau punya kekasih artis. Yang aku cintai kan Lee Sungmin, sahabatku yang orang biasa. Bukan namja yang terlihat begitu mengagumkan di atas panggung. Bukankah itu berbeda?”

“Jinjjayo?”

Dia tersenyum lagi. Senyum kesukaanku. Aku sudah bilang kan kalau aku sangat menyukai senyumnya?

“Ne. Oppa pikir untuk apa aku mengikuti oppa terus-terusan selama ini? Untuk apa aku susah payah membujuk Sung-Jin agar mau mengenalkanku pada oppa 7 tahun lalu?”

“Jadi kau sudah lama menyukaiku?”

Aku mengangkat bahu.

“Oppa benar-benar belajar pada Donghae oppa untuk melakukan ini semua?”

“Ne. dia kan sudah berpengalaman. Tapi lagi-lagi aku mengacaukan segalanya. Dia bilang langsung cium saja, pasti yeoja-yeoja akan meleleh. Leeteuk hyung juga bilang seperti itu.”

“Yak, enak saja mereka! Langsung cium saja? Aigoo! Isi otak mereka itu apa, sih?” jeritku tak terima.

“Kau marah ya aku menciummu sembarangan seperti tadi?”

Wajahku langsung memerah mendengar pertanyaannya.

“Haha… kau malu, ya?”

Dia mengacak-acak rambutku pelan, kemudian menarik tubuhku lagi ke pelukannya.

“Aku mau menjanjikan satu hal padamu,” katanya tiba-tiba.

“Apa?”

“Hari ini aku akan mencintaimu sesedikit mungkin.” Sebelum aku sempat membuka mulutku untuk protes gara-gara ucapannya itu, dia sudah memotongku duluan. “Jadi besok, besok lusa, dan seterusnya, aku masih akan mempunyai cukup persediaan untuk jatuh cinta padamu lagi. Boleh kan aku mencintaimu seperti ini?”

END

Wkwkwk, pasti banyak yang mau bunuh aku gara-gara ff yang gaje tingkat berat ini! Udah nggak mosting ff lama, eh sekalinya mosting malah ff yang kagak jelas gini! Hahaha… Pas bikin ini ff aku sama sekali nggak punya ide. Baru nyadar kalo feelingku terhadap Umin oppa lebih parah daripada feeling aku terhadap Yesung oppa. Bener-bener nol besar! Aku kan anti pink! Kekeke…

Aku maksa bikin nih ff gara-gara bininya Umin a.k.a Tyas onnie ulang tahun. Eh, aku malah bikin dia tambah bad mood pasti kalo baca ff ini! Sumpah, aku beneran minta maaf. Aku tahu ini gagal berat. Mianhaeyo, onnie!

Ah sudahlah, minggu ini sebagai permintaan maaf, mungkin hari Kamis aku bakal posting FF baru lagi. FF Heechul kayaknya. Moga-moga nggak gagal lagi.

Mianhaeyo, yeorobeun! Kali ini aku bener-bener bikin kalian semua kecewa.