KIM JIN-AH’S POV

Aku menunggu berkurangnya antrian di depanku dengan tidak sabar. Aigoo, berapa lama lagi aku harus menunggu sampai aku bisa berhadapan dengannya? Dengan namja yang sudah memenuhi isi otakku satu tahun terakhir? Namja babo bernama Kim Jong-Woon.

Aku melangkah ke depan saat satu orang berkurang dari antrian. Tara… akhirnya aku mendapat kesempatan berhadapan dengan leader terhebat sepanjang masa, malaikat tanpa sayap, Park Jung-Soo. OMO, dia tampan sekali! Senyumnya manis.

“Siapa namamu?” tanyanya ramah, tidak ketinggalan lesung pipinya yang imut menyertai senyumnya yang terkembang untukku.

“Kim Jin-Ah,” ucapku gugup.

Dia menuliskan namaku di atas kertas yang aku sodorkan kemudian mencoretkan tanda tangannya.

“YAK, panggil aku oppa! Kau itu lebih kecil dariku!” Teriakan itu terdengar begitu keras, membuatku terlonjak kaget.

Aku menatap namja yang duduk di samping Leeteuk oppa dengan ngeri. Kim Heechul, si AB yang menakutkan. Tapi sepertinya gadis yang berdiri di depannya lebih tidak normal dari dia. Bukannya ketakutan, gadis itu malah tersenyum-senyum seperti orang gila. Sepertinya dia fans beratnya Heechul oppa dan sengaja memanggilnya tanpa embel-embel oppa, karena dia tahu bahwa Heechul oppa akan marah diperlakukan tidak sopan. Dia pasti ingin menarik perhatian namja itu.

“Aish, Heechul~a, pelankan suaramu. Anti fans kita sudah cukup banyak, jangan kau tambah lagi,” tegur Leeteuk oppa dengan suara pelan. “Mannasseo bangapseumnida, Jin-Ah ssi,” lanjut Leeteuk oppa sambil mengalihkan tatapannya padaku.

Aku hanya mengangguk, terlalu terpesona sampai-sampai aku kehilangan pita suaraku tiba-tiba.

Aku melangkah maju, berdiri di depan Heechul oppa dengan tatapan takut. Astaga, jangan sampai dia melabrakku. Sepertinya mood-nya sedang tidak bagus hari ini. Aku tahu kenapa, karena rambut barunya yang dipotong terlalu pendek. Padahal menurutku dia terlihat jauh lebih muda dan tampan dengan rambut barunya yang sekarang berwarna hitam itu. Mulutku jadi tidak tahan untuk berkomentar.

“Heechul oppa, aku suka rambut barumu. Kau terlihat jauh lebih tampan seperti ini.”

Dia mendongak menatapku dan kemudian dia tersenyum senang.

“Jinjjayo? Kau tidak berbohong?” serunya semangat.

“Ne. kau pikir apa gunanya aku berbohong?”

“Hahaha… aku ini memang tampan! Siapa namamu? Aku akan menuliskan beberapa kata yang bagus untukmu!”

Aku tertawa kecil dan menyebutkan namaku. Sambil menunggunya menulis entah apa, aku mengalihkan pandanganku ke arah namja yang duduk di sampingnya. Namja itu sedang menunduk, mencoretkan tanda tangannya di atas kertas yang disodorkan oleh gadis di hadapannya.

Kim Jong-Woon, berdiri di dekatmu seperti ini agak merusak sistem kerja otakku. Kau tidak sadar? Ah, tentu saja. Memangnya siapa aku?

Apa yang aku sukai darinya? Hah, tidak usah ditanya lagi, aku ini menyukai semuanya. Semua yang berasal darinya. Suara indahnya, wajahnya yang seolah tidak pernah menua, tatapan matanya yang tajam, tingkah lakunya yang terkadang abnormal dan tidak tahu malu. Semuanya. Aku menggilainya seperti tidak ada lagi namja yang hidup di atas dunia ini.

Aku meremas tanganku grogi. Aigoo, apa aku harus melaksanakan rencana gilaku yang kurancang semalam? Aku ini memang terkadang tidak tahu malu, jenis yeoja yang akan berteriak di tengah jalan hanya karena melihat poster Super Junior, yeoja yang akan tersenyum seharian seperti orang gila hanya karena mendengar lantunan lagu It Has To Be You. Yeoja yang terlalu mencintai namja bernama Kim Jong-Woon. Tapi bukan berarti aku tidak punya harga diri. Aish, sayangnya rencanaku itu juga amat sangat menggoda untuk dilaksanakan.

“Hei, Jin-Ah ssi, ini kertasmu!”

Heechul oppa melambai-lambaikan kertas di depan wajahku, membuatku tersadar dari lamunan.

“Ah… ne, gomaweobseumnida, oppa!”

Aku melirik tulisannya di atas kertas.

Kau ingat baik-baik, aku ini Kim Heechul, member Super Junior yang paling tampan dan cantik. Kau tidak perlu memujiku bahwa aku ini tampan, dari sejak aku dilahirkan aku juga sudah tahu.

P.S: YAK, KIM JIN-AH, KENAPA KAU MELIHAT JONG-WOON SEOLAH HENDAK MEMAKANNYA?

Aku tersentak kaget dan menatap Heechul oppa dengan tatapan tersadis yang aku punya. Dia hanya cengar-cengir menatapku, membuatku ingin merobek kulit wajahnya yang mulus terawat seperti kulit wanita itu. Awas saja dia!

Aku meraba dadaku, memeriksa apakah jantungku masih tetap berada di rongganya atau sudah melompat keluar. KIM JONG-WOON TEPAT BERADA DI HADAPANKU! BISAKAH KAU MEMBAYANGKANNYA????!!!!!!!!!

“A… annyeonghaseyo, oppa,” ujarku dengan suara bergetar saking gugupnya.

Dia mendongak menatapku, matanya yang tajam membuatku sedikit takut tapi sekaligus membuat jantungku memompa darah lebih keras dari biasanya.

“Kau… kenapa dari tadi kau melihatku dengan tatapan mengerikan seperti itu? Kau pikir aku tidak sadar? Gadis aneh!”

DEG! Ya Tuhan, mau dikemanakan mukaku ini? Aigoo, aku tahu mulutnya itu memang ceplas-ceplos, berbicara tanpa disaring terlebih dahulu, tapi… haruskah dia membuka aibku terang-terangan seperti itu?

Aku berusaha menenangkan diri, berpikir positif bahwa Yesung oppa itu ya seperti itu. Jadi aku tidak perlu terlalu memasukkannya dalam hati. Lagipula itu salahku juga, tidak bisa menahan kendali tatapanku kepadanya.

Jantungku mulai berdetak di luar kendali. Dia mencoretkan tanda tangannya ke atas kertas yang aku sodorkan tanpa bersusah payah menanyakan namaku. Menyebalkan!

Ah, apakah aku harus melaksanakan rencanaku? Haruskah?

Aku mengambil kertas yang sudah selesai ditandatanganinya tapi tidak beranjak sama sekali dari hadapannya, sehingga dia mendongak menatapku. Dan saat itulah….

CHU~

Tanpa tahu malu aku mengecup bibirnya cepat dan bergegas kabur dari tempat itu sebelum orang-orang sadar dari keterkejutan mereka dan menangkapku. Kalau hal itu terjadi, aku yakin Kim Jin-Ah hanya tinggal nama.

Aku memegangi  dadaku saat berhasil keluar dengan selamat. Aku masuk ke dalam taksi yang berhenti di depanku dan menyuruh sopirnya cepat-cepat menjalankan taksi itu karena aku melihat beberapa orang bodyguard mengejarku di belakang.

Aish, aku berhasil memberikan ciuman pertamaku kepada namja bernama Kim Jong-Woon. Aigoo, beruntungnya aku!

***

YESUNG’S POV

“YAK, panggil aku oppa! Kau itu lebih kecil dariku!”

Aku menatap Heechul hyung yang seperti biasa berteriak-teriak tidak jelas. Astaga, dia ini! Ini kan fanmeeting, berani-beraninya dia menghardik fans seperti itu.

Aku melihat Leeteuk hyung memarahinya dan dia tetap saja cuek. Dasar!

“Heechul oppa, aku suka rambut barumu. Kau terlihat jauh lebih tampan seperti ini.”

Aku mendongak dan menatap yeoja yang berdiri di depan Heechul hyung. Cih, dia berkata seperti itu malah membuat sifat narsis Heechul hyung kumat dan itu bisa gawat.

“Jinjjayo? Kau tidak berbohong?” seru Heechul hyung semangat.

“Ne. kau pikir apa gunanya aku berbohong?”

“Hahaha… aku ini memang tampan! Siapa namamu? Aku akan menuliskan beberapa kata yang bagus untukmu!”

Nah, kan! Pasti nanti di dorm dia akan memulai acara panggung ketampanan Kim Heechul. Melenggok-lenggok seperti model di atas catwalk. Aigoo, aku ngeri membayangkannya.

Aku menandatangani kertas yang disodorkan yeoja di hadapanku. Sesaat aku merasa ada yang memandangiku sehingga aku mendongak. Yeoja tadi. Yeoja yang memuji Heechul hyung tadi. Dia menatapku lekat-lekat, membuatku merasa tidak nyaman.

“Hei, Jin-Ah ssi, ini kertasmu!” Heechul hyung melambai-lambaikan kertas yang dipegangnya ke depan wajahn gadis itu.

Jin-Ah? Jadi namanya Jin-Ah? Ah, sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Dimana, ya?

Aku sibuk berpikir saat tiba-tiba saja gadis itu sudah berdiri di hadapanku dan menyodorkan kertasnya. Aku bisa melihat tangannya yang sedikit gemetaran.

“A… annyeonghaseyo, oppa,” ujarnya gugup.

Aku mendongak menatapnya, menatapnya dengan tajam. Tanpa sadar aku memperhatikan wajahnya dan terpaku pada matanya yang besar dan berbinar-binar. Aneh, tapi aku rasa aku menyukai matanya.

“Kau… kenapa dari tadi kau melihatku dengan tatapan mengerikan seperti itu? Kau pikir aku tidak sadar? Gadis aneh!”

Ah, apa yang aku ucapkan barusan? Mulutku ini kadang memang suka bergerak di luar kontrol!

Dia terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya ternganga gara-gara ucapanku. Aku mengacuhkannya dan mencoretkan tanda-tanganku di atas kertas.

Dia mengambil kertas yang sudah selesai aku tanda tangani, tapi dia tidak beranjak sama sekali dari hadapanku, sehingga aku mendongak menatapnya bingung. Dan saat itulah….

CHU~

Kejadian itu begitu cepat sampai aku hanya bisa terpana syok selama beberapa saat. Tanpa tahu malu gadis itu mengecup bibirku cepat dan bergegas kabur karena bodyguard kami segera mengejarnya.

“H… hyung, gwaenchana?” tanya Wookie sambil mengguncang tubuhku.

“Jong-Woon~a?” panggil Leeteuk hyung. Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Otakku rasanya kosong.

Gadis itu… berani-beraninya gadis itu!!!

***

JIN-AH’S POV

“Hai, kau sudah lama?” tanya Jong-Jin sambil duduk di depanku. Aku tersenyum dan menggeleng.

Jong-Jin. Kim Jong-Jin. Namjachingu-ku. Ah, kalian kenal dia, kan? Benar, dia adik Kim Jong-Woon, namja yang aku cintai setengah mati.

Jangan berpikir bahwa aku hanya memanfaatkan Jong-Jin. Sama sekali tidak. Aku mencintainya sebagai namjachingu-ku. Masalah Kim Jong-Woon, dia hanya idolaku. Kurasa.

Aku pertama kali bertemu Jong-Jin di Babtol, restoran eomma-nya Jong-Woon. Karena aku mengidolakan anaknya, aku berkunjung setiap hari ke restoran itu. Berharap mungkin saja Yesung akan mampir kesana. Tapi yang aku temui malah Jong-Jin, namja ramah dengan senyumnya yang menawan.

Hari ketujuh aku datang ke restoran itu berturut-turut mungkin membuatnya penasaran sehingga dia memutuskan untuk menghampiriku dan bertanya apa alasanku yang aku jawab dengan amat sangat jujur. Ingin bertemu Jong-Woon. Sejak itu kami dekat dan sebulan kemudian dia mengungkapkan perasaannya padaku. Aku yang menyukai senyumnya, sifatnya, dan kehadirannya di sekitarku langsung menyetujui permintaan untuk menjadi yeojachingu-nya. Aku menyukainya dan tidak pernah terpikir sedikitpun untuk memintanya mempertemukanku dengan hyung-nya itu. Malah yang aku dengar Yesung sendiri yang mendesak Jong-Jin untuk mempertemukan dia denganku, pacar dongsaengnya, yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Jong-Jin dengan alasan dia takut aku berubah pikiran dan malah berbalik menyukai Yesung kemudian meninggalkannya. Aigoo, memangnya dia pikir aku gadis seperti apa? Aku ini kan gadis yang dengan nekat mencium hyung-nya itu di muka umum. Astaga, jangan sampai dia tahu masalah ini. Bisa-bisa pernikahan kami satu bulan lagi terancam gagal. Aku tidak mau itu terjadi!

Ah, menikah? Benar, menikah. Dia melamarku untuk menjadi istrinya di bulan keenam kami pacaran. Aku setuju-setuju saja. Memangnya apalagi yang aku harapkan? Tapi ngomong-ngomong tentang menikah, astaga, mau tidak mau kan aku akan bertemu Yesung, dan apa yang akan dilakukannya kalau dia tahu calon adik iparnyalah yang tanpa malu menciumnya paksa saat fanmeeting? Dia pasti akan mendepakku dari kehidupan adiknya. OMO, kenapa aku baru terpikir sekarang? Aish, Kim Jin-Ah, kau benar-benar tolol!

“Kau kenapa? Sakit? Mukamu pucat sekali,” komentar Jong-Jin sambil memperhatikan wajahku lekat-lekat.

“Gwaenchana,” ucapku sambil memalingkan wajahku. Aku selalu saja salah tingkah jika dia menatapku seperti itu.

“Hai, masa wajahmu masih saja memerah saat aku menatapmu? Kita sudah pacaran 6 bulan, Jin-Ah~a, malah sebentar lagi akan menikah,” godanya.

“Aish, oppa, berhentilah menggodaku!” protesku malu.

Dia tersenyum dan mengacak-acak rambutku pelan.

“Hei, kau tahu tidak kalau hyungku dicium paksa oleh seorang gadis di acara fan meeting Super Junior kemarin?” tanyanya tiba-tiba.

Aku menatapnya gelisah dan mengangguk.

“Tentu saja, aku kan fans beratnya oppa, masa berita semenghebohkan itu aku tidak tahu,” jawabku gugup.

“Ah, benar juga. Gadis itu benar-benar berani dan sangat beruntung karena berhasil kabur dengan selamat.

Aku mengangguk setuju. Benar, aku ini beruntung sekali.

“Jadi, mau kemana kita malam ini?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Ah, mianhaeyo oppa, malam ini aku harus bekerja. Satu minggu ini Chun-Ji cuti, jadi pekerjaanku bertambah dua kali lipat. Aku harus mulai bekerja dari siang sampai toko tutup. Mianhaeyo. Mungkin selama seminggu ini kita akan jarang bertemu,” ujarku dengan wajah bersalah.

“Ne, gwaenchana. Asalkan kau janji akan datang ke pernikahan kita, aku sama sekali tidak keberatan.”

“Oppa!!!” protesku. “Tentu saja aku akan datang. Kenapa kau berbicara seperti itu? Aku tidak suka.”

“Entahlah Jin-Ah~a,” katanya dengan senyum yang dipaksakan. “Rasanya kau akan segera terlepas dari genggamanku.”

***

Aku menyusun barang-barang di rak. Makanan-makanan hewan, hiasan akuarium, pernak-pernik, dan hal-hal aneh lainnya yang mungkin untuk orang-orang yang tidak terlalu menyukai binatang sama dengan membuang-buang uang.

Aku memang bekerja di sebuaah pet shop. Biasanya aku mendapat shift siang, tapi sekarang gara-gara Chun-Ji, pegawai lain di toko ini cuti, sekarang aku jadi mendapat shift kerja dari siang sampai malam. Tapi lumayanlah, toh aku juga tidak punya kegiatan lain dan gajiku juga bertambah jadi dua kali lipat.

“HATCYIIII!!!” Aku mengusap hidungku dengan sapu tangan yang selalu kubawa dari tadi pagi. Ck, flu saat bekerja benar-benar menyusahkan! Aku bahkan harus memakai masker kemana-mana.

Aku beranjak ke akuarium kura-kura, pojok kesukaanku. Awalnya aku menyukai kura-kura hanya gara-gara Yesung oppa memelihara binatang ini, tapi lama kelamaan aku merasa hewan ini lucu dan malah keasyikan menghabiskan waktu dengan kura-kura yang dijual di toko ini jika sedang tidak ada pelanggan.

Aku mengambil salah satu kura-kura dan membawanya ke meja tempat aku melayani pelanggan. Aku sedang mengusap-usap cangkangnya saat pintu toko terbuka, sehingga aku mengalihkan perhatianku dari kura-kura itu dan berbalik menyambut pelanggan yang datang.

“Annyeonghaseyo! Ada yang bisa saya bantu?” sapaku ramah.

Namja itu melangkah masuk dan berdiri di hadapanku. Dia memakai topi dan kacamata hitam, plus sebuah masker yang menutupi hampir sebagian besar wajahnya. Dia tidak menatapku ataupun membalas sapaanku tadi. Yang dilakukannya malah memandang kura-kura yang tadi bermain bersamaku dan sekarang tergeletak di atas meja.

“Kau suka kura-kura?” tanyanya. Kali ini dia menatapku. Sepertinya begitu karena aku tidak bisa melihat matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam itu.

“Ne,” jawabku dengan rasa bingung. Namja ini aneh sekali.

“Kau bukan pegawai yang biasanya,” katanya. Dia membuka kacamatanya dan menatapku dengan pandangan menilai. Hei, dia bahkan tidak tahu bagaimana wajahku karena aku memakai masker, jadi bagaimana dia bisa tahu bahwa aku bukan Chun-Ji?

“Darimana Anda tahu?” tanyaku sopan.

“Aku sering kesini. Biasanya yang shift malam gadis pendek dengan rambut dikuncir. Aku benar, kan?”

“Ne, namanya Chun-Ji. Dia sedang cuti selama seminggu, jadi aku yang menggantikannya.”

Tiba-tiba dia mencondongkan wajahnya ke arahku sampai wajah kamii hanya berjarak beberapa senti. Dia membuka kacamatanya dan matanya menghujam ke dalam mataku.

“A… apa yang Anda lakukan?” tanyaku takut. Hampir saja aku terkena serangan jantung dengan tindakannya yang mendadak itu.

Dia menarik tubuhnya dengan kening berkerut.

“Matamu rasanya familiar. Kenapa kau memakai masker?” selidiknya.

“Aku sedang flu.”

Kali ini aku merasa takut dengannya. Dia mengenali seseorang dari matanya? Dia pasti peramal atau semcamnya. Auranya juga aneh. Mengerikan!

“Benar. Aku rasa aku pernah melihatmu. Matamu familiar sekali.”

“Maaf Tuan,” ujarku gugup, berusaha mengenyahkan rasa takutku. “Kalau boleh tahu apa ada yang bisa saya bantu?”

Dia masih memandangku dan sesaat kemudian mengedikkan bahunya.

“Aku mau beli makanan kura-kura.”

“Anda memelihara kura-kura, ya?”

“Tentu saja. Kalau tidak untuk apa aku membeli makanan kura-kura? Pertanyaan bodoh!” dengusnya.

Aku mendelik ke arahnya. Namja ini tidak tahu sopan santun! Itu kan hanya sekedar basa-basi.

Aku berbalik dan mengambil makanan kura-kura yang diinginkannya.

“Apa kura-kura ini milikmu?” tanyanya saat aku kembali. Kura-kura yang tadi aku letakkan di atas meja sekarang sudah berada dalam genggamannya.

“Bukan. Itu kura-kura untuk dijual.”

“Kau suka kura-kura, kan? Kenapa tidak mencoba memeliharanya?”

Namja ini cerewet sekali!

“Aku tidak punya waktu untuk mengurusnya.”

Lagi-lagi dia menmandangku dengan tatapan yang sama. Tatapan yang membuatku risih, seolah dia bisa membaca pikiranku.

“Aneh sekali ada yeoja yang menyukai kura-kura. Nah, kau mendapat keberuntungan hari ini. Jarang-jarang aku mau melakukannya,” katanya sambil menarik lepas maskernya. Dan detik berikutnya aku membelalak lebar melihat wajah yang tadi tersembunyi di balik masker itu. Oksigen di sekelilingku mendadak lenyap.

“Jo… Jong… Jong-Woon oppa?” seruku tertahan.

“Aku lebih suka kau memanggilku Yesung, nama itu terdengar lebih artistik setidaknya,” jawabnya santai, sedangkan aku hampir tergagap-gagap menghirup udara.

***

YESUNG’S POV

Ada rasa senang saat melihatnya terpana menatapku. Apa aku sebegitu tampannya? Ah, sepertinya memang begitu.

Aku merasa aneh dengan aura gadis ini, rasanya aku pernah bertemu dengannya. Matanya… benar, matanya mengingatkanku pada seseorang. Rasanya terlalu familiar.

“Kau yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya?”

Dia tampak begitu gugup dan tangannya memegangi maskernya kuat-kuat, seolah takut masker itu akan lepas, membuatku semakin curiga.

“Mu… mungkin,” katanya ragu. “Aku kan ELF, jadi mungkin kau pernah melihatku.”

“Kau datang ke fanmeeting kemarin?” selidikku.

“Ani. Aku tidak datang karena aku harus bekerja.”

Entah kenapa aku merasa jawabannya sama sekali tidak bisa kupercaya. Yeoja ini… matanya terlalu mirip dengan…. Ah, mungkin hanya perasaanku saja.

***

JIN-AH’S POV

Aku menghembuskan nafas lega saat dia keluar dari toko. Astaga, hampir saja! Untung aku kena flu hari ini dan memakai masker, kalau tidak, tamatlah riwayatku kali ini!

Aku baru menghempaskan tubuhku ke atas kursi saat HP-ku berdering. Dengan malas aku mengangkatnya. Aish, rasanya aku sudah tidak punya tenaga lagi.

“Jin-Ah~a, kau masih di toko?”

“Ah, ne, oppa. Waeyo?”

“Mau kujemput?”

“Tidak usah. Aku naik bis saja.”

“Baiklah. Oh iya, apa besok lusa kau ada waktu? Jong-Woon hyung mengajak makan malam. Kali ini aku tidak bisa menolak. Kita sebentar lagi sudah mau menikah, tidak enak kalau aku belum mengenalkanmu padanya. Dia kan akan menjadi pengiringku nanti. Bagaimana? Kau bisa tidak?”

Aku tertegun mendengar ucapannya. Makan malam? Dengan Yesung oppa? Sepertinya aku akan menggali lubang kuburku sendiri.

“Jin-Ah~a? Gwaenchana?”

“Ne? Aku… aku rasa aku bisa.”

“Baguslah. Aku akan memberitahu Jong-Woon hyung kalau begitu.”

Inilah akibatnya kalau aku tidak pikir panjang sebelum melakukan sesuatu. Aku terancam kehilangan calon suamiku kalau Yesung oppa mengatakan hal yang sebenarnya. Aish, mati kau Jin-Ah. Mati!

***

YESUNG’S POV

“Jadi benar Jong-Jin akan menikah?” tanya Sungmin yang sangat dekat dengan adikku itu.

Aku mengangguk.

“Wah, hyung bahkan belum punya pacar,” ejek Wookie.

“Diam kau!” seruku, berniat melempar Ddangkoma ke kepalanya, tapi langsung kubatalkan. Bisa-bisa aku dituduh melakukan kekerasan terhadap binatang.

“Namanya siapa, hyung? Cantik tidak?”

“Aku tidak tahu. Waktu itu Jong-Jin sempat menyebut namanya, tapi aku lupa. Aku belum pernah mendengar nama gadis itu. Kau kan dekat dengannya Sungmin~a, masa kau tidak tahu.”

“Jong-Jin memang pernah cerita, tapi akhir-akhir ini kami jarang bertemu dan telepon-teleponan. Dia hanya bilang gadis itu tergila-gila padamu, makanya dia selalu menolak saat kau meminta bertemu dengan pacarnya itu.”

“Jinjja? Pesonaku memang lebih dahsyat daripada si Jong-Jin itu!” kataku pede.

“Kau menjijikkan, hyung!”

***

Entah kenapa malam ini aku mengemudikan mobilku ke pet shop itu lagi. Aku baru tersadar saat aku sudah sampai di depan pintu masuk toko. Apa yang sedang aku lakukan?

Mata gadis itu meembelalak lagi menatapku saat aku berdiri di hadapannya. Dia masih memakai masker seperti kemarin. Kali ini aku juga tidak repot-repot menyamar, toh dia sudah mengenalku.

“Kehabisan makanan kura-kura lagi?” tanyanya dengan nada sinis.

Aku tersenyum, mengabaikannya, dan duduk di atas kursi yang diletakkan di depan mejanya.

“Kali ini kalau tidak ada yang ingin kau beli, lebih baik kau tidak mengganggu pekerjaanku, oppa.”

“Aku lihat kau sedang tidak melakukan apa-apa, agasshi. Siapa namamu?”

Lagi-lagi dia kelihatan gugup dan ketakutan.

“Kau tidak perlu tahu namaku.”

“Baiklah, kalau menurutmu begitu.”

Dia berpura-pura sibuk merapikan barang-barang di toko dan dengan sengaja mengacuhkanku. Tapi aku sama sekali tidak merasa keberatan. Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi aku merasa aku harus mencari tahu. Tarikan dari gadis ini begitu kuat, sehingga entah kenapa aku jadi tertarik memandanginya lama-lama, mengikuti gerak tubuhnya, setiap hal yang dilakukannya. Aura di sekelilingnya menenangkan.

Aku menghembuskan nafas. Aish, bahkan aku belum pernah melihat wajahnya sama sekali.

Aku akui kalau kebanyakan orang menganggapku aneh. Memang. Aku tidak akan mengelak. Karena itu setiap hal yang aku lakukan juga akan terlihat aneh di mata orang lain. Datang kesini tanpa tujuan dan hanya menatap gadis itu, juga tanpa alasan yang jelas. Tapi aku akui, dia membuatku tertarik. Matanya mengingatkanku pada gadis yang merebut ciumanku waktu itu. Mata yang besar dan berbinar-binar. Dan rasanya dia memang orang yang sama. Dia menyembunyikan sesuatu dariku.

***

JIN-AH’S POV

Aku bergerak gelisah, berpura-pura sibuk merapikan barang-barang di rak, padahal tidak ada yang perlu kurapikan.

Ck, kenapa dia datang lagi? Aku hampir terkena serangan jantung tadi. Untung saja aku masih flu dan memutuskan untuk tetap memakai masker hari ini.

Aku tahu dia dari tadi mengamati gerak-gerikku. Rasanya dia mencurigaiku. Tapi aku langsung menyingkirkan kemungkinan itu jauh-jauh. Masa dia bisa mengenaliku hanya dari mataku saja? Itu mustahil.

“Yesung oppa, kau sudah satu jam disini tanpa melakukan apa-apa. Apa tidak lebih baik kau pulang saja?” tanyaku akhirnya.

“Di dorm juga tidak ada yang bisa kulakukan.”

Aku mendengus putus asa.

“Kau mau memberitahuku alasan kau datang kesini, oppa?”

“Tidak tahu,” ucapnya santai. “Tadinya aku mau berkeliling mencari udara segar dan ternyata tanpa sadar malah sampai di toko ini.”

“Kenapa?”

“Kan sudah kubilang aku tidak tahu. Kau… aku penasaran padamu. Bisakah kau membuka maskermu?”

“Tidak,” jawabku cepat.

“Wae?”

“Aku tidak mau. Kau tidak bisa memaksaku.”

“Kau tahu? Aku curiga padamu. Kau tahu kan berita tentang seorang gadis yang menciumku tiba-tiba saat fan meeting? Rasanya mata kalian terlalu mirip.”

“Jangan mengada-ada,” tukasku.

Aku kembali ke balik meja dan memutuskan untuk mengerjakan pembukuan keuangan hari ini. Dia masih saja tidak beranjak dari duduknya dan aku yakin dia masih memandangiku dari tadi.

Aku melempar penaku dan menatapnya gusar.

“Kau tidak bosan menatapku terus dari tadi, oppa?”

Dia menggeleng.

“Aku tertarik padamu. Dan aku rasa aku tidak butuh izin untuk itu.”

***

Aku berbaring gelisah di atas tempat tidurku. Tidak bisa kupungkiri bahwa dua hari berturut-turut bertemu dengannya membuat perasaanku sedikit kacau. Ah tidak, bukan sedikit. Perasaanku benar-benar kacau sekarang.

“Aku tertarik padamu. Dan aku rasa aku tidak butuh izin untuk itu.”

Apa-apaan dia itu? Tertarik padaku? Padaku? Dia bahkan bisa menebak dengan tepat bahwa aku gadis yang sama dengan gadis yang merebut ciumannya waktu itu. Apa dia benar-benar peramal?

Besok malam, apa ketertarikanmu padaku akan tetap bertahan, Kim Jong-Woon?

***

YESUNG’S POV

“Kau kenapa, hyung? Dari tadi melamun saja,” komentar Wookie yang baru membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

“Bagaimana menurutmu kalau akau jatuh cinta?”

“Aish, benarkah? Akhir-akhir ini banyak sekali member yang jatuh cinta. Hyukkie hyung, Kyuhyun, Donghae hyung, lalu kau. Ck! Siapa gadis itu?”

“Dia pegawai toko tempat aku biasa membelikan makanan untuk Ddangkoma.”

“Kenapa baru sekarang? Kau kan sudah lama bertemu dengannya. Gadis yang mungil dan rambutnya suka dikuncir itu, kan?”

“Bukan yang itu!” seruku. Wookie memang beberapa kali pernah menemaniku kesana, makanya dia mengenal gadis itu. “Dia menggantikan pegawai yang biasa itu karena gadis itu sedang cuti.”

“Cantik?”

“Mmm. Mirip Geun-Young.”

“Aish, jadi karena itu kau menyukainya?”

“Ani. Tentu saja tidak. Aku hanya merasa auranya sangat menenangkan dan membuat nyaman.”

“Lalu kapan kau akan mengungkapkan perasaanmu padanya?”

“Tidak secepat itu, babo!” dengusku. “Kau tahu tidak, entah kenapa aku merasa dia adalah gadis yang sama dengan gadis yang menciumku waktu itu.”

“MWO? Aigoo hyung, memangnya kau tidak ingat lagi dengan wajah gadis yang menciummu waktu itu?”

“Ingat. Tentu saja aku ingat. Kau pikir aku sudah pikun?”

“Lalu?”

“Gadis pegawai toko ini selalu memakai masker, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Dia juga tidak mau memberitahuku namanya.”

“Kau jatuh cinta pada gadis yang belum pernah kau lihat wajahnya dan bahkan kau tidak taahu namanya? Lalu kenapa kau bilang dia mirip Geun-Young?”

“Postur tubuh mereka mirip. Memangnya apa salahnya aku naksir dengan gadis yang belum pernah kulihat wajahnya?”

“Tentu saja aneh. Jadi apa yang membuatmu menyukainya?”

Aku berpikir sesaat. Apa yang membuatku menyukainya? Aku juga tidak tahu. Berbicara dengannya juga hanya sebentar dan bukan pembicaraan yang serius.

“Aku hanya merasa nyaman dengannya. Itu saja kurasa.”

“Lalu kenapa kau curiga mereka gadis yang sama?”

“Matanya. Mata mereka mirip.”

Wookie menggeleng-gelengkan kepalanya bingung.

“Kau benar-benar aneh, hyung.”

***

JIN-AH’S POV

Aku menatap bayanganku yang terpantul di cermin. Gaun putih selutut, rambut yang digerai, dan make-up tipis. Cantik. Aku cukup puas dengan penampilanku malam ini. Tapi mengingat bahwa Yesung oppa juga akan datang, perutku mendadak langsung mulas lagi.

Aku terlonjak kaget mendengar bunyi bel rumahku. Pasti Jong-Jin oppa. Aish, jinjja, upacara pemakamanku akan segera datang.

***

YESUNG’S POV

Aku menatap Jong-Jin yang datang dengan seorang gadis di sampingnya. Kepala gadis it uterus menunduk sehingga aku tidak bisa melihatnya dnegan jelas. Tapi sepertinya dia adalah gadis yang cantik. Aku suka cara berpakaiannya.

Mendadak jantungku berdetak cepat saat mereka semakin dekat. Aneh, aura nyaman itu lagi. Gadis itu… kenapa rasanya begitu….

“Hyung~a, kau sudah lama?” tanya Jong-Jin membuat perhatianku teralih padanya.

“Belum terlalu lama.”

“Ah, kenalkan, ini Jin-Ah. Kim Jin-Ah. Calon istriku.”

Aku sudah tersentak mendengar namanya dan saat gadis itu mengangkat wajahnya aku merasa hidupku berakhir seketika.

Gadis itu…. Mereka bertiga adalah gadis yang sama.

***

JIN-AH’S POV

Aku tidak bisa konsentrasi sepanjang makan malam berlangsung. Berkali-kali aku melakukan kesalahan. Menumpahkan air, makanan yang berkali-kali meleset dari garpuku. Aku bahkan tidak bisa bernafas dengan benar.

Jelas seklai bahwa dia sangat terkejut dengan kenyataan bahwa aku adalah tunangan adiknya. Tapi dia bisa mengendalikan diri dengan sangat baik. Sama sekali tidak menyinggung-nyinggung insiden ciuman itu.

Sepanjang makan malam tatapannya menghujam tajam ke arahku, aku bahkan heran Jong-Jin tidak menyadarinya.

“Aku permisi ke toilet sebentar,” kata Jong-Jin, meninggalkan kami berdua begitu saja. Aura mencekam langsung menyeruak ke permukaan.

“Kim Jin~ah,” ujarnya dengan suara dingin. “Apa kau juga mau memberitahuku bahwa kau juga gadis pegawai pet shop itu? Kau punya berapa kepribadian, hah?”

“Aku tidak tahu apa maksudmu, Jong-Woon ssi.”

Dia membanting garpunya ke atas piring, menimbulkan suara yang cukup nyaring.

“Kau,” tukasnya tajam. “Apa aku harus memberitahu Jong-Jin bagaimana kau sebenarnya? Apa aku harus membiarkan adikku menikahi wanita licik sepertimu? Atau kau memang memperalatnya untuk mendekatiku?”

“Jangan menarik kesimpulan sembarangan. Apa kau pernah mendengar aku mendesak Jong-Jin oppa untuk mempertemukanku denganmu? Pernahkah? Aku mencintainya, tidak bisakah kau memikirkan kemungkinan sederhana itu? Aku hanya mengidolakanmu dan maaf atas insiden itu. Aku memang salah. Terserah kau mau memberitahu Jong-Jin oppa atau tidak. Aku juga tidak peduli.”

Jong-Jin oppa sudah kembali sebelum dia sempat membalas ucapanku. Aku menunggu dengan takut apakah dia benar-benar akan melaksanakan ucapannya atau tidak, tapi dia tidak membahas hal itu sama sekali.

“Pulang?” bisik Jong-Jin oppa, membuaatku mengangguk lega. Kali ini aku lolos. Apa ada kemungkinan dia akan berubah pikiran?

***

“Gwaenchana?” tanya Jong-Jin oppa dalam perjalanan pulang.

Aku mengangguk.

“Kau terlihat agak pucat. Apa kau terlalu gugup bertemu hyungku? Kau sebegitu mengidolakannya, ya?”

“Mungkin.”

Apa perasaan ini masih sekedar dalam tahap mengidolakan?

Kami terdiam sampai mobilnya berhenti di depan rumahku.

“Aku turun dulu, oppa,” pamitku.

Dia meraih tanganku saat aku bermaksud membuka pintu mobil. Aku berbalik dan menatapnya bingung.

“Jin-Ah~a….”

“Mmm?”

“Kau yakin mau menikah denganku?”

Aku menatapnya kaget. Diserang tiba-tiba seperti itu aku malah semakin gamang dengan perasaanku sendiri. Aku mencintainya. Aku tahu itu. Tapi… apa hanya benar-benar mencintai dia? Hanya dia? Hal ini membuatku sedikit bingung.

“Tentu saja,” jawabku setelah beberapa saat.

“Berpikirlah baik-baik. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Kau tahu, aku tidak terlalu yakin di hatimu hanya ada aku. Aku tidak mau kau menyesal nanti.”

Aku menatapnya nanar. Dia mengusap rambutku dan tersenyum.

“Kau hanya perlu tahu bahwa aku akan menerima apapun keputusanmu. Aku akan membuatmu bahagia, untuk hal ini kau bisa yakin seratus persen. Tapi kau juga harus tahu, apa kau ingin aku atau orang lain yang membahagiakanmu. Walaupun aku berusaha keras membahagiakanmu, sedangkan kau malah menginginkan orang lain, kau akan sakit dan merasa lelah, Jin-Ah~a.”

“Oppa,” selaku, merasa takut dengan ucapannya. “Oppa, kau kenapa?”

“Tidak kenapa-napa. Hanya memastikan gadisku bahagia. Apa itu tidak boleh?”

“Oppa.”

Dia menarikku ke dalam pelukannya dan membenamkan wajahnya di bahuku.

“Aku mencintaimu. Sangat. Dengan fakta itu, aku akan melakukan apapun untuk memastikan kau hidup dengan benar. Jadi… kalau kau berubah pikiran beritahu aku.”

Aku mengeratkan rangkulanku di pinggangnya. Seharusnya aku sudah mengambil keputusan pasti tentang hal ini. Hidup dengan orang yang mencintaiku dan juga aku cintai. Bukankah itu benar? Tapi bagaimana kalau hatiku terbagi dan belahan yang lebih besar bukan untuknya? Bagaimana kalau….

Memikirkan hal itu membuatku diserang ketakutan yang amat sangat. Namja yang memelukku ini mencintaiku sebesar itu, aku tidak akan pernah rela menyakitinya. Hal itu tidak akan terjadi. Walau hatiku tidak mau bekerja sama sedikitpun. Walau di otakku lebih sering berkeliaran nama lain selain dia. Walau di mataku… tidak hanya ada dia….

***

YESUNG’S POV

Aku melempar jasku sembarangan dan menjatuhkan tubuhku ke atas sofa. Wookie dan Sungmin menatapku bingung. Hanya mereka berdua yang ada di dorm. Eunhyuk sepertinya masih ada rekaman di Sukira dan Kyuhyun pastinya lebih memilih bersama istrinya.

“Kenapa, hyung?”

Aku menggeleng dan mengacak-acak rambutku.

“Istri Jong-Jin kenapa? Kau tidak menyukainya?” tanya Sungmin ingin tahu.

Aku menimbang-nimbang apakah akan bercerita kepada mereka atau tidak. Rasanya aku tidak sanggup menahan semuanya sendirian.

“Gadis itu… gadis yang akan dinikahi Jong-Jin itu gadis yang sama dengan gadis yang menciumku waktu itu. Dan gadis yang sama dengan gadis yang aku temui di pet shop.”

Mata Wookie membelalak lebar mendengar penjelasanku.

“Pet shop?” tanya Sungmin bingung.

“Ne. Aku menyukai gadis pegawai pet shop tempat aku biasa membeli makanan untuk Ddangkoma.”

“Lalu bagaimana? Apa Jong-Jin sudah tahu? Kau memberitahunya?”

“Entahlah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

“Kalau Jong-Jin tahu pernikahannya bisa batal, hyung.”

Aku menghela nafas berat. Kemungkinan itu benar-benar mengerikan. Karena aku tahu seberapa besar Jong-Jin mencintai gadis itu.

***

Aku melangkahkan kakiku lagi ke toko itu. Kebutuhan untuk melihatnya lagi terlalu besar. Dan aku rasa… kalau aku bertemu dengannya aku bisa mengambil keputusan.

Aku membuka pintu toko dan mendapatinya sedang membungkuk di depan salah satu rak. Rambutnya tergerai menutupi wajahnya, membuatku menahan diri untuk tidak menyentuh rambutnya itu.

“Hai,” sapaku ringan.

Tubuhnya menegang dan perlahan dia mendongak menatapku.

Dia tidak memakai masker lagi sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan leluasa. Wajahnya tampak pucat dan semakin pucat saat melihatku.

“Kau sakit?” tanyaku khawatir.

“Bukan urusanmu, Jong-Woon ssi,” katanya dan melangkah menjauhiku.

“Apapun yang bersangkutan denganmu semuanya menjadi urusanku.”

Dia berbalik cepat dan menatapku marah.

“Apa kau masih belum sadar bahwa aku ini calon adik iparmu?” teriaknya.

“Tentu saja tidak. Baru sehari yang lalu aku mengatakan bahwa aku tertarik padamu dan kemarin kau malah datang sebagai tunangan adikku. Menurutmu aku akan santai-santai saja begitu?”

“Persetan denganmu!”

Aku menarik tangannya mendekat, sehingga tubuhnya menempel ke tubuhku.

“Dengar,” tukasku tajam. “Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan adikku, termasuk menyerahkan orang yang kusukai. Tapi asal kau tahu, aku juga tidak bercanda dengan ucapanku waktu itu. Aku tertarik padamu. Ah, bukan, sepertinya lebih parah dari itu.”

Dia menatapku bingung di sela-sela usahanya memberontak melepaskan diri.

“Aku dengan bodohnya jatuh cinta padamu.”

***

JIN-AH’S POV

Aku terperanjat kaget saat dia menarik tanganku, membuatku jatuh ke pelukannya. Detak jantungku langsung berantakan saat itu juga. Aku berusaha membebaskan diri tapi cengkeramannya begitu kuat.

“Dengar,” tukasnya tajam. “Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan adikku, termasuk menyerahkan orang yang kusukai. Tapi asal kau tahu, aku juga tidak bercanda dengan ucapanku waktu itu. Aku tertarik padamu. Ah, bukan, sepertinya lebih parah dari itu.”

Aku menatapnya bingung karena ucapannya terhenti tiba-tiba.

“Aku dengan bodohnya jatuh cinta padamu.”

Tanganku terkulai lemas dalam genggamannya.

Kalau seperti ini… kalau seperti ini rasanya tambah sulit melaksanakan keputusanku. Kalau seperti ini… aku akan tambah sulit melepaskannya.

Tanpa sadar aku jatuh terduduk di lantai sambil menangis.

“Jin-Ah~a….”

Aku menggeleng kuat-kuat dan menepis tangannya yang menyentuhku.

“Pergilah, Jong-Woon ssi, jangan membuatku tambah sulit seperti ini. Aku mohon. Aku benaar-benar lelah.”

Dia melepaskanku dan sesaat kemudian aku mendengar langkah kakinya menjauh.

Sial, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

***

JONG-JIN’S POV

“Hai Jong-Jin~a, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bahkan kau tidak memberitahuku bahwa kau akan menikah!” kata Sungmin saat dia baru duduk di hadapanku.

Aku hanya tersenyum singkat. Aku menghubunginya dan memintanya agar menemuiku siang ini. Untung saja dia sedang tidak ada syuting.

“Tumben kau meminta bertemu denganku. Kapan kau akan menikah?”

“Seminggu lagi.”

“Seminggu? Yesung hyung bilang masih tiga minggu lagi.”

“Jin-Ah meminta agar aku mempercepat pernikahan kami.”

Aku melihat wajah Sungmin yang sedikit muram.

“Bagaimana kabar Jong-Woon hyung? Dia… baik-baik saja?” tanyaku hati-hati.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku sudah tahu semuanya, tapi aku tidak tahu apa yang aku tahu. Makanya aku mau bertanya padamu.”

“Maksudnya?”

“Aku tahu kau mengetahui segalanya, Sungmin~a. Malam itu, saat makan malam dengan hyung, aku tahu tatapan hyung tidak pernah lepas dari Jin-Ah. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi kelihatannya Jin-Ah gelisah sekali. Dengan sengaja aku berpura-pura pergi ke toilet, tapi sebenarnya aku mengintip dari balik dinding, mendengar pembicaraan mereka. Jong-Woon hyung berkata pada Jin-Ah seolah-olah gadis itu menyembunyikan sesuatu. Aku merasa terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Aku ingin tahu apa itu.”

Sungmin menatapku dengan gelisah kemudian menggeleng.

“Aku rasa bukan aku orang yang tepat untuk menjelaskannya.”

“Aku harus mengetahuinya, sebelum aku melakukan sesuatu yang salah. Aku mohon. Aku tidak ingin hyungku ataupun gadis yang aku cintai menderita.”

***

Pertaaruhan besar saat aku memutuskan untuk mendekati gadis yang jelas-jelas setiap hari datang ke kafe hanya dnegan harapan bisa bertemu sekali saja dengan hyungku. Tapi aku tidak bisa meyakinkan diri untuk mengabaikannya. Dia terlalu menarik untuk diacuhkan begitu saja. Jenis gadis yang akan membuat namja menoleh dua kali.

Aku mensyukuri keberanianku mendekatinya. Dia adalah gadis yang sangat menyenangkan. Dan tidak perlu waktu lama bagiku untuk memintanya jadi istriku. Yang membuatku terkejut adalah dia menerima lamaranku tanpa pikir panjang, padahal aku tahu bahwa dia sangat mengidolakan hyungku, bahkan terkadang aku berpikir bahwa dia mencintai Jong-Woon hyung. Tapi sekalipun Jin-Ah tidak pernah memintaku mempertemukannya dengan Jong-Woon hyung, hal itu yang membuat semua keraguanku terhadapnya menghilang.

Ada saat-saat dimana aku tidak bisa membaca perasaanya. Saat-saat dimana aku menyadari bahwa hatinya terbagi. Aku tahu dia mencintaiku, tapi juga ada bagian lain dari hatinya yang tidak bisa kumasuki dan aku tahu jelas bagian itu milik siapa. Jong-Woon hyung.

Akhir-akhir ini ketakutanku makin menjadi. Dia sering melamun dan tidak fokus. Karena itu aku memutuskan menemui Sungmin dan jawaban yang diberikannya benar-benar membuatku syok.

Aku tidak tahu bahwa dua orang yang sangat kucintai menderita gara-gara ketololanku. Tapi aku juga tidak bisa melepaskan gadis itu. Aku tahu apa yang akan terjadi kalau dia terlepas dari genggamanku. Aku tidak akan pernah bisa hidup dengan benar.

Tapi… bukankah kalau aku memaksa menikahinya aku malah akan membuatnya semakin menderita? Dan itu adalah hal yang paling tidak aku inginkan di dunia ini.

***

JIN-AH’S POV

Aku terduduk di lantai kamarku sambil terisak-isak. Besok hari pernikahanku dan itu malah menjadi hari paling mengerikan untukku. Hari dimana aku benar-benar tidak bisa lagi menggapai orang yang aku cintai.

Yah, aku tahu sekarang bahwa aku memang mencintai namja itu. Dari dulu. hanya saja tidak mau mengakuinya. Bertahan dengan kebohongan bahwa itu hanya rasa kagum semata. Bukankah bodoh bahwa aku jatuh cinta pada seorang idola?

Andai saja aku mengenalnya lebih cepat, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Mungkin aku akan berada di sisinya sekarang. Karena ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Karena dia ternyata juga mencintaiku.

Bukankah tidak ada cerita paling bodoh lain di dunia selain kisah hidupku?

***

YESUNG’S POV

Besok adalah hari pernikahannya. Dan dia sendiri yang meminta agar pernikahan ini dipercepat. Jadi dia benar-benar sudah tidak sabar ingin menikah dengan adikku, eh?

Kim Jin-Ah. Gadis yang membuatku dan adikku jatuh cinta. Ironi sekali, padahal tipe gadis yang kami sukai berbeda. Seandainya saja aku lebih cepat mengenalnya. Apa kalau hal itu terjadi dia akan memilihku?

Aku menghela nafas entah untuk yang keberapa kalinya dalam kurun waktu 15 menit terakhir. Bahkan Ddangkoma sekalipun tidak lagi menarik minatku.

“Kau tidak akan bunuh diri kan, hyung?” tanya Wookie hati-hati.

“Jangan bodoh!”

“Habisnya wajahmu merana sekali. Apa besok kaau akan datang ke pernikahan mereka?”

“Tentu saja. Aku kan jadi pengiring pengantin pria.”

“Kau sanggup?”

“Sanggup? Tidak. Berdoa saja aku tidak jatuh pingsan disana.”

***

JONG-JIN’S POV

“Kenapa kau menyuruhku datang pagi-pagi buta begini?” tanya Jong-Woon hyung bingung.

Aku memang meneleponnya dan menyuruhnya datang pagi-pagi, 3 jam sebelum pernikahan dimulai. Aku telah membuat keputusan yang sangat berat, tapi aku rasa aku bisa menjalaninya. Asalkan gadis itu bahagia. Asalkan hyungku bahagia.

“Ganti bajumu.”

“Ganti baju? Aku kan sudah memakai bajuku. Apalagi?”

“Gantikan aku.”

“Mwo?”

“Hyung, aku tahu kau tidak tuli.”

“Tidak mau. Jangan bercanda, Jong-Jin~a.”

“Dia akan menderita kalau menikah denganku.”

“Menderita? Dia kan mencintaimu.”

Aku menahan emosiku yang sudah mencapai ubun-ubun.

“Mencintaiku? Memang. Tapi dia lebih mencintaimu.”

“Yak, kau pikir kenapa dia mempercepat pernikahan kalian? Karena dia ingin cepat-cepat hidup bersamamu. Apa kau terllau bodoh sampai tidak menyadari hal itu?”

Aku mengabaikan keinginan untuk memukulnya walaupun kepalan tanganku sudah mengeras. Tidak ada bagusnya kalau itu terjadi. Apa kata orang kalau pengantin pria babak belur?

“Aku memberimu kesempatan dan jangan sampai kau menyia-nyiakannya, Jong-Woon babo! Kau mau atau tidak? Atau tidak aka nada pernikahan sama sekali pagi ini!”

***

JIN-AH’S POV

“Aigoo, menantuku cantik sekali!” puji ibu mertuaku yang baru masuk ke ruang ganti.

“Gomaweo, eommonim.”

Dia tersenyum dan menangkup pipiku dengan kedua tangannya.

“Kenapa wajahmu sedih begitu, hah? Kau harus bahagia di hari pernikahanmu. Jong-Jin sangat mencintaimu, makanya dia melakukannya. Dia akan membuatmu bahagia. Kau akan tahu seberapa baiknya hati anakku itu beberapa saat lagi. Dia akan mengusahakan apapun untuk membahagiakanmu. Jadi kau harus tersenyum, Jin-Ah~a, kau tidak akan menyesal saat sampai di altar nanti.”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ne, emmonim.”

***

Ayahku menggandeng tanganku ke depan altar. Aku hanya menundukkan wajah, memperhatikan langkahku. Disana pasti ada dia dan aku tidak mau melihatnya, karena aku yakin bahwa air mataku tidak akn bisa kutahan lagi. Karena kalau melihatnya aku akan menyesali keputusanku ini.

Aku sampai di depan altar dan ayahku menyerahkan tanganku ke dalam genggaman Jong-Jin. Aku tetap tidak mengangkat wajahku. Bahkan aku tidak berkonsentrasi pada apa yang sedang terjadi. Aku tidak mendengar ucapan pendeta sampai dia harus memanggil namaku berkali-kali untuk mendengar janji pernikahanku.

Setengah bingung aku mengucapkan kata yang ditunggu-tunggu setiap pengantin di dunia. Saya bersedia. Sedangkan dalam hatiku aku malah ingin berteriak yang sebaliknya.

Aku baru tersadar saat Jong-Jin mengangkat wajahku. Apa ini sudah saatnya bagi mempelai pria untuk mencium mempelai wanita?

Tapi yang kudapati bukan wajah Jong-Jin. Yang berada di hadapanku adalah Jong-Woon. Aku mengerjap-ngerjap bingung. Apa mungkin penglihatanku salah? Pasti begitu. Bagaimana mungkin aku menikahi orang yang salah?

Aku menoleh ke arah para tamu dan melihat Jong-Jin duduk di barisan paling depan, tersenyum ke arahku. Aku berbalik menatap Yesung oppa yang juga sedang tersenyum. Apa yang terjadi? Kenapa tidak ada seorang pun yang memberitahuku tentang hal ini?

Aku tersadar akan sesuatu. Pantas saja ibu mertuaku mengatakan hal-hal aneh di ruang ganti tadi. Jong-Jin berkorban sebesar ini. Untukku?

“Seharusnya kau bahagia, babo. Bukan menangis,” bisik Yesung oppa di telingaku. Dan sedetik kemudian dia mengecup bibirku singkat, membuatku terkesiap kaget.

Jadi… aku sudah menikah dengannya? Dengan namja yang kugilai setengah mati ini? Astaga, mimpi apa aku semalam?

Dia meluruskan tubuhnya lagi dan membungkuk ke arahku. Lagi-lagi dia tersenyum, membuatku mau tidak mau membalas senyumnya.

“Annyeonghaseyo, Kim Jong-Woon imnida. Suamimu seumur hidup. Namja yang akan selalu berada di sampingmu sampai kau mati.”

END

Yak, setelah hiatus dalam waktu yg lama, sekarang aku kembali lagi dengan ff yang gaje banget! Kacau, kan? G ada feelingnya sama sekali? Maklum, aku kan emang g ada feeling ma Jong-Woon! *PLAK!*

Apakah ini ff-ku yang paling hancur? Huhuhu… sepertinya. Padahal ini hasil semedi berhari-hari. Salahin Kyu yang g mau keluar dari otakku sedetikpun. Wkwkwk.

Untuk Kim Jin-Ah, mohon jangan bunuh aku. Hahaha…. Mian juga karena g ada adegan kisseu-kisseu seperti yang kamu inginkan. G ad aide lagi.

Oke, mohon komen, kritik dan sarannya. Dan jangan bunuh aku kalo pada nggak suka.