“Cium aku!”

“MWO?!”

 

***

 

Namaku Hye-Na. Han Hye-Na. Aku kelas 3 SMA. Sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir. Ah, mengingat hal itu aku jadi sakit kepala lagi! Lebih baik lupakan saja!

Aku adalah ELF. Ehm, aku mabuk Kyuhyun oppa. Hahaha…. Sampai-sampai aku berikrar bahwa aku tidak akan pacaran sebelum aku berhasil menciumnya. Gila? Memang! Dan aku adalah jenis gadis yang pantang ingkar janji. Walaupun itu artinya aku akan menjadi perawan tua seumur hidup.

Jadi, kalian sudah bisa menebak kan kalau aku ini belum pernah pacaran sekalipun? Ah, tapi itu bukan berarti aku tidak pernah naksir seseorang. Ng… bagaimana cara menjelaskannya? Aku mencintai namja bernama Cho Kyuhyun, tapi aku juga menyukai namja tertampan di sekolahku. Namanya Jino. Cho Jinho. Aigoo, namja itu imut sekali! Aku hampir pingsan setiap melihatnya tersenyum. Walaupun senyum itu bukan untukku. Ah, tapi tetap saja belum mampu membuatku sesak nafas sampai nyaris mati seperti yang terjadi saat aku melihat Kyuhyun oppa. Hanya melihat fotonya saja sudah seperti itu, aku tidak berani membayangkan kalau dia berdiri di hadapanku. Mungkin aku harus langsung dilarikan ke rumah sakit karena stroke!

 

***

“KYA!!!! Min-Ji~a, kau lihat itu! Astaga!!! Jino tampan sekali! OMO, OMO, dia menoleh kesini!”

PLETAK!

“YAK! Apa-apaan kau? Kenapa kau memukul kepalaku?!” protesku keras sambil menggosok-gosok kepalaku yang terasa sakit karena perlakuannya barusan.

“Heh, kau itu bisa tenang sedikit tidak? Membuat malu saja! Belum tentu dia itu menoleh kesini untuk melihatmu!”

“Biar saja! Memangnya aku peduli? Aigoo, Jino!”

“Dasar gila! Tapi baguslah, setidaknya namja ini nyata. Tidak seperti Kyuhyun oppamu itu!”

“Dia nyata, babo! Setiap hari kau kan melihatnya!”

“Yah, tapi dia itu artis. Mana mungkin kan kau berpacaran dengan artis. Heh, Hye-Na, kau sudah melupakan ikrar gilamu itu, kan? Kau tidak kasihan melihat namja-namja yang menyukaimu itu kau tolak terus-terusan?”

“Ah, kalau yang menyatakan perasaan padaku Jino sekalipun juga belum tentu aku terima. Aku sudah bilang, aku akan melaksanakan ikrarku itu bagaimanapun caranya!”

“Aish, kau benar-benar sudah tidak waras!”

 

***

 

Banyak orang bilang bahwa aku cantik. Aku juga tidak tahu, tapi banyak sekali namja yang berusaha mendekatiku. Bulan ini saja sudah ada 5 namja yang menyatakan perasaan mereka padaku dan memintaku menjadi pacar mereka. Ah, tapi tentu saja aku sama sekali tidak tertarik pada mereka. Di otakku cuma ada Cho Kyuhyun! Namja yang akhir-akhir ini sering berkeliaran memakai kacamata hitam, membuatku kehabisan oksigen.

Aku mengehembuskan nafas pelan, menatap ramyeon di hadapanku tanpa minat. Mau sampai kapan aku terus seperti ini?

“Permisi, boleh tidak aku duduk disini? Kursi lain sudah penuh.”

Aku mendongak menatap si pemilik suara lembut itu. OMO, apa yang dilakukan Cho Jinho di hadapanku saat ini?

“Tidak boleh, ya?” tanyanya lagi, karena aku tidak kunjung menjawab dan hanya melongo menatapnya.

“Mwo?” tanyaku bodoh.

“Aku boleh duduk disini tidak? Kursi lain sudah penuh.”

Aku buru-buru mengangguk. Memalukan sekali aku ini!

Dia duduk di depanku dan mulai memakan ramyeon pesanannya. Nanti aku harus berterima kasih pada Min-Ji yang hari ini absen karena sakit. Biasanya dia yang selalu duduk bersamaku, tapi kali ini, karena ketidakhadirannya, aku bisa menikmati detik-detik menyenangkan bersama namja pujaanku.

“Ah, aku lupa. Aku Cho Jinho, panggil saja Jino,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arahku. “Kau Han Hye-Na, kan?”

“Darimana kau tahu?”

Aigoo, dia tahu namaku! Ah, tahan Hye-Na~ya, berhentilah bersikap memalukan, ujarku menyemangati diri sendiri.

Dia tersenyum, senyum yang sangat aku sukai. Aish, lama-lama aku bisa gila kalau terus-terusan seperti ini!

“Kau yang suka ada di perpustakaan, kan? Aku sering melihatmu. Ah, dan bukankah kau juga sangat terkenal di kalangan namja sekolah kita?”

Aku tersenyum malu. Wajahku pasti sudah memerah sekarang.

Tiba-tiba saja dia mencubit pipiku pelan dan mengacak-acak rambutku.

“Ya, berhentilah menunjukkan wajah memerahmu itu di hadapanku, biasanya aku masih bisa menahan diri, tapi sekarang saat kita berhadapan seperti ini, hal itu terasa sangat sulit.”

“Mwo?” seruku kaget.

“Aku bilang kau juga tidak akan percaya. Ini kesempatan pertamaku bicara denganmu, sebelumnya aku tidak berani melakukannya. Kau tahu, 2,5 tahun terakhir, sejak pertama kali aku melihatmu muncul di perpustakaan, kau jadi salah satu alasanku untuk berangkat sekolah, karena itu satu-satunya cara untuk melihatmu setiap hari. Tapi Han Hye-Na yang dingin selalu menolak setiap namja yang menyatakan perasaan padanya, karena itu aku jadi takut mendekatimu. Kalau yang lain ditolak, mana mungkin aku bisa diterima.”

Aku terperangah mendengar ucapannya. Untuk pertama kalinya kami bicara dan aku langsung dibuatnya nyaris terkena serangan jantung gara-gara pengakuannya.

“Hari ini kau duduk sendirian dan aku berpikir kalau ini kesempatan terakhirku. Kau tahu, sangat sulit memendam perasaan lama-lama terhadap seseorang. Aku jadi sesak sendiri. Karena itu aku memberanikan diri mengatakannya padamu.” Dia menarik nafas berat. “Hye-Na~ya, choahae….”

MWO?!!!!!!!!!!!!! Dia menyukaiku? Namja yang selama ini aku taksir menyukaiku? AIGOO, AIGOO, aku yakin sebentar lagi jantungku melompat keluar.

“Hye-Na~ya, kenapa kau diam saja? Mianhae, aku membuatmu marah, ya?”

Tentu saja tidak, babo!

“A… aku….”

“Tidak usah dijawab sekarang. Aku juga tidak buru-buru. Ng… sudah bel. Masuklah, nanti kau terlambat.”

Dia menyentuh kepalaku lagi dan mengacaknya pelan lalu pergi begitu saja.

OMO, kenapa di sekolah tidak ada ambulans?

 

***

 

“MWORAGO?!!!!!!!!!!! JINO MENYATAKAN PERASAANNYA PADAMU DAN KAU BELUM MENJAWABNYA?!”

Aku buru-buru menutup mulut Min-Ji. Astaga, mulutnya itu tidak bisa dijaga!

“Yak, babo, kau mau semua orang tahu, hah? Jino itu kan banyak penggemarnya, kau mau aku dibantai?”

“Ah, mianhae, aku hanya terkejut. Lalu bagaimana? Kau mau jawab apa? Jangan mengatakan kau masih terikat dengan ikrar bodohmu itu. Itu tidak masuk akal, Hye-Na~ya!”

Semalam aku memikirkan masa depanku nanti. Aku juga tidak mau jadi perawan tua seumur hidup. Nah, konser SuJu di MuBank besok adalah saat yang paling tepat untuk menyelamatkan masa depanku. Aku akan menyelinap ke ruangan SuJu dan menemui namja yang setiap detik selalu berkeliaran di otakku. Dia harus mempertanggungjawabkan pesonanya itu!

“Ah, kau tenang saja, aku akan segera memberi jawaban padanya,” ucapku penuh rahasia.

 

***

 

Aku mencoba meredakan detak jantungku yang menggila. Malam ini apa yang akan kulakukan adalah hal yang amat sangat berbahaya dan mengambil resiko, sekaligus akan membuat jatuh harga diriku seumur hidup. Ah, tapi biar saja! Harga diriku akan lebih jatuh lagi kalau aku jadi perawan tua seumur hidup!

Aku menyelinap di antara para kru, berusaha tampak tidak mencolok. Member Super Junior pasti masih ada di ruang gantinya, kan?

Aku berhenti di depan ruangan yang bertuliskan Super Junior dan membuka pintunya. Benar saja, mereka bersepuluh ada di dalam! OMO, OMO, aku bahkan tidak pernah membayangkan akan melihat semua mereka dari dekat, bahkan dalam mimpiku sekalipun!

Member pertama yang menyadari kehadiranku adalah Leeteuk oppa. dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku. Astaga, astaga, aku bisa pingsan, dia member favoritku nomor 2 di SuJu. Omona, dia tampan sekali!

“Apa kau kru? Ada perlu apa?”

Aku hanya bisa ternganga saja menatapnya, kehilangan kewarasan mendadak.

“Hai, kau kenapa? Kau bukan kru, ya? Mana tanda pengenalmu?”

Aku berusaha menguasai diriku lagi dan mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari namja sialan yang berpotensi membuatku menjadi perawan seumur hidup itu. Itu dia! Di sudut! Sibuk dengan laptopnya. Astaga, masih sempat-sempatnya dia bermain game di saat seperti ini! Aku kira dia sudah tobat!

Aku menerobos masuk ke dalam tanpa memedulikan Leeteuk oppa yang berusaha mencegahku.

Aku berhenti di depan namja itu, membuatnya mendongak menatapku. Matanya yang tajam sukses membuatku terkena serangan asma mendadak. Mana jantungku? Aish, pasti sudah tercecer di suatu tempat. Aigoo, kenapa manusia tidak punya jantung cadangan yang bisa digunakan untuk saat-saat seperti ini?

“Yak, siapa kau?” teriak Heechul oppa yang sudah berdiri di belakangku.

“Cium aku!” ucapku tegas, singkat, dan jelas. Aku berusaha mempertahankan mataku agar tetap menatap matanya. Cho Kyuhyun ternyata benar-benar namja tertampan yang pernah aku lihat seumur hidupku!

“MWO?” serunya kaget. Tidak hanya dia, tapi juga semua member SuJu yang ada disana meneriakkan kata yang sama.

“Heh, apa kau sudah gila? Yang benar saja! Kau tiba-tiba datang dan memintaku menciummu? Gadis macam apa kau?” katanya sadis. Nadanya terdengar begitu dingin di telingaku. Ah, jadi benar, dia adalah namja yang galak dan tidak punya sopan santun. Kasar sekali sikapnya itu! Inikah namja yang membuatku histeris setiap hari?

“Kau ELF, ya? Kenapa tiba-tiba datang kesini dan meminta Kyuhyun melakukan itu?” tanya Donghae oppa, dia menatapku ingin tahu. Caranya berbicara jauh beda dengan cara bicara namja babo itu.

“Mi… mianhaeyo oppa, tapi aku harus melakukannya, kalau tidak aku akan jadi perawan tua seumur hidup.”

“Mwoya? Perawan tua? Bagaimana bisa?” seru Eunhyuk oppa.

“Aku berikrar bahwa aku tidak akan pacaran sebelum aku berhasil mencium Kyuhyun oppa dan aku paling benci ingkar janji, makanya aku nekat melakukan hal ini.”

“Yak, yeoja babo, kau kan bisa melanggar janji bodohmu itu! Kelakuanmu benar-benar tidak masuk akal! Menyuruhku menciummu? Kau pikir kau siapa, hah?”

“Kyuhyun~a, jaga cara bicaramu, dia itu ELF, kau sopanlah sedikit!” tegur Sungmin oppa.

“Yak, hyung, tapi gadis ini benar-benar tidak punya harga diri! Mana mungkin seorang gadis baik-baik meminta laki-laki yang tidak dikenal menciumnya?”

Ah, dan yeoja yang menurutmu babo ini, yeoja yang sedang kau caci-maki ini, benar-benar tidak bisa membencimu. Aku babo, itu benar. Dengan mudahnya aku memaafkanmu. Lagi. Selalu saja begitu. Tidak peduli sebesar apapun kesalahanmu. Aku selalu memaafkanmu. Tidak peduli sekasar apapun kata-kata yang kau lontarkan padaku, tidak peduli kau mengatakan aku tidak punya harga diri, aku tetap saja mencintaimu seperti orang gila. Aku bodoh, kau benar, oppa. Aku memang bodoh. Bodoh karena jatuh cinta padamu.

“Kyuhyun~a, berhentilah berkata tidak sopan seperti itu! Kau, siapa namamu?” tanya Leeteuk oppa, beralih menatapku.

“Hye-Na. Han Hye-Na.”

“Ya, Hye-Na~ya, maafkan perkataan dongsaengku yang bodoh itu. Dia memang seperti itu terhadap orang yang tidak dikenalnya. Acuhkan saja!”

Aku mengangguk.

“Kau benar-benar membuat ikrar seperti itu? Kau kan cantik, pasti banyak namja yang mendekatimu, kenapa harus ngotot memenuhi janjimu itu?” tanya Eunhyuk oppa penasaran.

“Karena itu aku kesini. Selama ini aku tidak menerima cinta siapapun karena aku memang tidak tertarik. Tapi tiba-tiba saja namja yang aku sukai menyatakan perasaannya padaku. Aku paling benci ingkar janji oppa, sudah aku katakan tadi. Aku harus memenuhi janjiku agar aku bisa menerima cinta namja itu.”

“Kau terima saja namja itu, atau kau memang berniat jadi perawan tua sampai mati, karena aku tidak akan pernah mau menciummu!” ujarnya tanpa perasaan.

“Memangnya apa salahnya, sih? Kau kan tidak rugi apa-apa. Yang rugi malah aku karena aku yang dicium! Kau juga sudah pernah melakukannya, jadi kenapa kau ngotot seperti itu?” sergahku kesal.

“YAK, KAU!”

“Itu berita bohong,” potong Leeteuk oppa.

“Mwo?” tanyaku bingung.

“Kyuhyun belum pernah ciuman. Itu hanya akal-akalannya saja karena dia malu kalau ketahuan belum pernah pacaran apalagi ciuman. Kau pasti nonton acara waktu dia menceritakan tentang ciuman pertamanya itu, kan? Ah, itu tidak benar!” jelas Eunhyuk oppa.

“Yak, hyung!” serunya marah.

“Ah, aku kan sedang membantumu menjelaskan kenapa kau tidak mau menciumnya, Kyuhyun~a. Kenapa kau harus marah?” ujar Eunhyuk oppa santai.

“Tapi aku pernah melihat foto ciumannya dengan gadis bernama Park Haneul,” sergahku tak percaya. Yang benar saja, masa seorang Cho Kyuhyun tidak pernah pacaran!

“Itu kebetulan saja mirip dengannya. Kau kan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.”

“Di drama musikal itu juga sebenarnya bukan sutradaranya yang baik hati menghilangkan adegan ciuman, tapi dia yang memohon-mohon memintanya. Dia tidak rela ciuman pertamanya diberikan pada nuna-nuna tua. Hahaha…” ejek Heechul oppa.

“Aish, jadi bagaimana ini?” gumamku panik.

“Aku saja yang menciummu, bagaimana?” tawar Donghae oppa. dia menatapku dan mengeluarkan senyumnya yang menawan. Aigoo, kalau mataku tidak dibutakan oleh si Kyuhyun brengsek ini, aku akan menerima tawarannya dengan senang hati.

“Ah, mianhaeyo, oppa. aku tidak bisa.”

“Kyuhyun itu apa menariknya, sih? Sadis, tidak berprikemanusiaan, dingin, suka menjahili kami, tidak punya sopan santun sama sekali, kenapa kau bisa menyukainya?” seru Eunhyuk oppa, membuatnya langsung mendapat jitakan di kepala dari Kyuhyun oppa.

“Tapi aku menyukainya,” jawabku dengan suara pelan.

“Sudahlah Kyuhyun~a, terima saja! Dia kan cantik. Kau tidak rugi apa-apa!” ujar Yesung oppa yang sedari tadi hanya diam.

Aku mendapati Kyuhyun oppa menatapku lekat, seolah menilai.

Jebal, jangan menatapku seperti itu! Aku sudah tidak bisa bernafas dengan benar sekarang. Paru-paruku sakit karena berjuang terlalu keras untuk memompa udara.

“Baik, aku akan memikirkannya dengan syarat kau mau menjadi pelayan pribadiku selama seminggu. Bagaimana?”

“MWORAGO?! Pelayan pribadimu?”

“Ne, waeyo? Kau tidak mau?”

“Yak, Kyuhyun~a, itu keterlaluan!” tegur Leeteuk oppa.

Aku tersenyum senang. Menjadi pelayan pribadi Kyuhyun oppa? Jangankan seminggu, seumur hidup pun aku mau!

“Tentu saja aku setuju!”

 

***

 

“Mwo? Kau jadi pelayan pribadinya? Apa kau sudah gila?” seru Min-Ji tak percaya.

“Hehe… aku memang sudah gila karena Cho Kyuhyun! Ah, aku bahkan tidak pernah bermimpi masuk ke dorm mereka! Aku beruntung sekali, kan? Aigoo Min-Ji~a, Kyuhyun oppa itu benar-benar tampan!”

“Heh babo, dia sudah memperlakukanmu seperti itu kau masih saja tergila-gila padanya?”

“Aduh, pasti aku bisa pingsan di tempat kalau dia benar-benar menciumku!” ucapku menghayal, tidak menghiraukan kata-katanya. “Atau aku langsung mati?”

“Kau benar-benar perlu ke rumah sakit jiwa untuk memeriksakan kondisi kejiwaanmu!”

 

***

 

“Annyeonghaseyo, oppadeul!” sapaku saat melangkah memasuki dorm mereka. Yang ada hanya Donghae, Ryeowook, Yesung, dan Sungmin oppa. yang lain sepertinya masih ada kegiatan.

“Ah, annyeong, Hye-Na~ya! Kau sudah datang!” seru Donghae oppa.

“Ne. Kyuhyun oppa tidak ada, ya?”

“Ada. Di kamar. Sepertinya dia tidur,” jawab Sungmin oppa.

“Tidur?”

“Iya. Sepertinya nanti malam dia mau begadang main game.”

“Kau masuk saja. Bangunkan dia! Dia sudah tidur 5 jam. Dasar anak itu! Kalau dia tidak mau bangun kau tendang saja,” saran Donghae oppa.

“Mwo?” seruku kaget.

“Dia itu kalau sudah tidur sulit sekali dibangunkan,” jelas Sungmin oppa.

“Ah, anio, oppa. Aku tidak berani. Nanti dia malah tambah marah padaku. Aku tunggu disini saja.”

“Sudah, pergi saja! Kalau dia mengamuk kami yang tanggung jawab!” ujar Yesung oppa.

Aku mau menolak tapi Donghae oppa malah mendorongku masuk ke kamar Kyuhyun oppa.

“Selamat berjuang!” katanya memberi semangat.

Mati aku!

Aku menatap ruangan yang ditempati Kyuhyun dan Sungmin oppa itu. Astaga, ini kamar atau gudang? Gudang bahkan masih lebih rapi daripada ini! Kaset game berserakan dimana-mana, baju-baju kaus bertebaran di lantai. Namja-namja ini apa benar-benar artis? Kotor sekali!

“Kyuhyun oppa, bangun!” ujarku sambil mengguncang-guncang tubuhnya. Dia tidak bergerak sedikitpun.

“Kyuhyun oppa!” Kali ini aku setengah berteriak, tapi tetap saja tidak berdampak apa-apa. Aku membalik tubuhnya yang tertelungkup di kasur. Aigoo, wajahnya polos dan lucu sekali. Tidak ada wajah dingin seperti setan yang diperlihatkannya padaku kemarin.

Tanpa sadar aku mengulurkan tanganku dan menyentuh wajahnya, menelusuri setiap lekuknya perlahan. Dia benar-benar tampan. Pasti yeoja yang mendapatkannya beruntung sekali.

Tiba-tiba saja dia membuka matanya dan menghempaskan tanganku dengan kasar.

“Mau apa kau? Jaga sikapmu atau aku akan berubah pikiran!”

Aku menatapnya gugup. Kakiku gemetaran tak terkendali.

“Mianhaeyo, oppa! Aku hanya berusaha membangunkanmu.”

“Aku sudah bangun! Sekarang bersihkan kamar ini! Satu jam lagi aku kembali kesini kamar ini harus sudah bersih. Awas saja kalau tidak!”

Dia keluar dari kamar dan mebanting pintu sampai menutup.

Aku menarik nafas, berusaha menenangkan diri. Ayo semangat, Hye-Na~ya!

 

***

 

“Omo, Wookie oppa, masakanmu enak sekali! Huh, kapan ya aku bisa masak?”

“Kau tidak bisa masak?” tanya Wookie oppa dengan nada tak percaya.

“Eh, hehe… tidak bisa,” ucapku malu.

“Kenapa kau heran? Dia kan memang tidak bisa apa-apa. Sudah jelas dari tampangnya!” komentar Kyuhyun oppa. Astaga, apa namja ini tidak pernah belajar sopan santun?

“Aduh, Kyuhyun~a, kau kenapa bisa sesadis itu, sih? Biasanya tidak separah ini!” tegur Sungmin oppa.

“Ya, Kyuhyun~a, kalau kau begini terus, aku akan membuka rahasiamu pada Hye-Na,” ancam Donghae oppa.

“Andwae! Awas saja kalau kau bilang sesuatu padanya!”

“Hah, ada rahasia apa?” tanyaku penasaran. “Kenapa aku tidak boleh tahu?”

“Bukan urusanmu!” sahut Kyuhyun oppa ketus.

“Uh, pelit!”

Aku memutuskan menyantap makananku saja, lama-lama bicara dengannya bisa membuatku darah tinggi!

“Kyuhyun oppa, kenapa kau akhir-akhir ini selalu pakai kacamata hitam?” Aku memang penasaran dengan masalah satu ini.

“Dia tidak pernah tidur beberapa malam terakhir karena main game, matanya jadi bengkak. Satu-satunya cara hanya pakai kacamata hitam,” ujar Yesung oppa.

“Ah, berhentilah bergaya seperti itu, kau membuatku pusing setiap kali melihatmu memakai kacamata itu. Ketampananmu bertambah banyak. Kau tidak kasihan padaku, oppa?”

Kyuhyun oppa ternganga mendengar keterus-teranganku, sedangkan member lain hanya bisa tertawa geli.

“Yeoja gila!” komentarnya.

 

***

 

“Hai.”

Aku menoleh saat mendengar seseorang menyapaku. Aku tersenyum saat mengetahui itu Jino. Dia mengambil tempat di sampingku dan menatapku dalam.

“Bagaimana?”

Omo, apa dia mau menanyakan jawaban atas perkataannya kemarin lusa?

“Ng… bisa beri aku waktu satu minggu?” tanyaku dengan wajah memerah.

“Tentu. Terserah kau saja. Ng… apa kau sakit? Mukamu sedikit pucat.”

“Ah, aku tidak apa-apa.”

Sebenarnya aku memang tidak enak badan gara-gara seharian kemarin si Kyuhyun oppa babo itu menyuruhku kerja rodi membersihkan kamarnya yang berantakan seperti kapal karam itu. Dan setelah pekerjaan yang menghabiskan banyak tenaga itu dia masih saja membentakku. Sialan!

“Jaga kesehatanmu baik-baik. Aku tidak mau kau sakit. Arasseo?”

Tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk. Perhatian sekali dia, berbeda dengan namja itu yang kerjanya hanya menyiksaku saja.

 

***

 

“Oppa, kau kan pemenang olimpiade matematika, bagaimana kalau kau membantuku mengerjakan tugas matematika? Aku tidak mengerti.”

“Apa? Membantumu mengerjakan tugas? Heh, memangnya siapa yang jadi pelayan sekarang?”

“Oppa, jebal!” rajukku sambil memasang wajah aegyo dan menatapnya dengan puppy eyes.

“Aish, cepat kemarikan tugasmu!”

Aku tersenyum senang dan menyerahkan bukuku kepadanya. Beberapa detik kemudian dia sudah menatapku sadis.

“Kau ini babo atau apa? Yang begini saja kau tidak mengerti? Astaga! Apa sih yang kau bisa?”

“Mencintaimu,” ucapku ringan. Dan kemudian aku tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang memerah dan salah tingkah.

“Hahaha… oppa, kau imut sekali!”

“Diam kau!” bentaknya malu. “Kalau kau masih tertawa aku tidak jadi mengajarkanmu!”

“Aigoo, arasseo.”

Dia duduk di depanku dan menjelaskan setiap rumus yang tidak kumengerti. Tentu saja aku langsung menjadi jenius karena yang mengajarkanku adalah Cho Kyuhyun. Ternyata memang mudah sekali. Aku saja yang babo.

Aku mengerjakan setiaap soal dengan semangat. Sesaat aku merasakan pusing di kepalaku, tapi aku tidak menghiraukannya. Badanku rasanya lemas sekali.

Tiba-tiba saja Kyuhyun oppa menyentuh pipiku dengan tangannya, membuat darah mengalir deras ke wajahku. Pasti rupaku sudah tidak karuan sekarang.

“Kau sakit, ya? Kenapa wajahmu pucat sekali?”

Aku berusaha menyerap oksigen dengan susah payah, bisa-bisa aku mati disini.

“Ya ya ya… kenapa kau?”

“Kau membuatku sesak nafas, oppa!” ucapku jujur.

Kami hanya berdua di dorm. Yang lain punya kegiatan masing-masing. Kyuhyun oppa saja yang sedang ada waktu luang.

“Kau benar-benar mengidolakanku, ya?” Kali ini nada suaranya berbeda dengan yang biasa. Terdengar lebih lembut di telingaku.

“Ng… mencintaimu tepatnya.”

“Mwo? Lalu bagaimana dengan namja yang menyukaimu itu?”

“Aku menyukainya.”

“Yeoja serakah!”

“Kenapa seorang Cho Kyuhyun tidak pernah pacaran?”

“Belum ada gadis yang berhasil membuatku tertarik.”

“Lalu gosipmu dengan Seohyun?”

“Itu hanya bisa-bisanya fans saja. Aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dia hanya sebagai dongsaeng saja bagiku. Kenapa tanya-tanya? Kau mau membuat gosip?”

“Ani. Hanya penasaran saja denganmu. Ng… tumben kau tidak galak lagi padaku?”

“Aku hanya malas mengeluarkan tenaga untuk meneriakimu.”

“Huh, menyebalkan!”

Aku bermaksud bangkit berdiri, tapi aku merasakan tubuhku limbung dan kepalaku berputar-putar. Hal terakhir yang aku tahu hanyalah Kyuhyun oppa yang menangkap tubuhku. Setelah itu semuanya hitam.

 

***

 

Aku menggerakkan tubuhku perlahan dan membuka mataku. Mengerjap-ngerjap sesaat untuk menyesuaikan diri.

“Kau sudah sadar? Lain kali bilang kalau kau sakit! Membuatku cemas saja!” bentak Kyuhyun oppa. Aku tersenyum melihat wajahnya yang khawatir.

“Memangnya masih ada lain kali? Waktuku tinggal 5 hari.”

Dia terdiam. Sebelum dia sempat bicara, pintu kamar terbuka dan member SuJu yang lain menyerbu masuk.

“Hye-Na~ya, kau sudah sadar? OMO, kau tahu tidak, Kyuhyun cemas sekali sampai menyuruh kami semua pulang. Dia tidak mau beranjak sedikitpun dari tadi,” seru Eunhyuk oppa.

“Hyung!” protes Kyuhyun oppa memperingatkan.

“Benarkah?”

“Sepertinya magnae kita sedang jatuh cinta!” goda Leeteuk oppa.

“Ya hyung, jangan menyebarkan fitnah. Mana mungkin aku menyukai gadis yang tidak bisa apa-apa seperti dia!”

“Benar oppa, mana mungkin Kyuhyun oppa menyukaiku.”

“Sudah, biar kuantar kau pulang. Cepat kumpulkan barangmu!” perintahnya.

 

***

 

Kyuhyun oppa menghentikan mobilnya di depan rumahku. Hoah, hari ini dia aneh sekali. Tiba-tiba menjadi baik hati. Aku jadi takut dia kenapa-napa.

“Oppa, aku turun dulu. Gomaweo sudah bersedia mengantarku pulang.”

“Jaga dirimu baik-baik, jangan membuatku cemas terus-terusan!” ujarnya sambil mengacak rambutku.

Aigoo, sepertinya dia benar-benar sudah tidak waras!

 

***

 

Hari ini mereka semua mengajakku ikut ke konser. Hihihi… aku benar-benar seperti sedang bermimpi berada di tengah orang-orang paling istimewa dalam hidupku.

Saat pulang ke dorm, ada beberapa ELF yang menunggu di lapangan parkir. Aku menatap anak-anak SuJu cemas. Bagaimana kalau mereka mencurigaiku?

“Sudahlah, tenang saja!” kata Donghae oppa. Dia menarikku turun dari mobil dan berjalan santai kea rah mereka.

“Donghae oppa!” teriak mereka histeris. “Itu siapa?”

“Pacarku. Cantik, kan?”

“Ya, enak saja kau! Bukan, gadis ini pacarku!” seru Eunhyuk oppa, menarikku menjauh dari Donghae oppa dan merangkul bahuku.

Astaga, apa-apaan mereka ini!

“Ya ya ya… kalian ini! Jangan mencari gara-gara! Dia kan pacarku!”

GUBRAK! Leeteuk oppa sama saja!

“Oppa, dia siapa? Pacar siapa?” teriak mereka heboh.

“A… aku….”

Belum sempat aku bicara, seseorang sudah merengkuh pinggangku.

“Jangan ganggu dia! Dia milikku!”

Bersyukur dia memegang pinggangku sehingga aku tidak terjatuh. Bersyukur aku masih waras sehingga tidak pingsan di tempat. Bersyukur dia langsung menggiringku masuk ke dorm, sehingga aku tidak mempermalukan diriku sendiri di depan semua orang. Karena aku sangat ingin berteriak seperti orang gila. Cho Kyuhyun, hebat, aku gila gara-gara kau!

 

***

 

“Min-Ji~a, bagaimana ini? Aku benar-benar jatuh cinta padanya.”

“Kan sudah kubilang dari awal. Kau itu membahayakan dirimu sendiri. Kalau sudah begini kau sendiri kan yang menderita! Jadi apa yang akan kau lakukan pada Jino?”

“Mollayo,” ucapku sambil menghembuskan nafas berat.

Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Karena sepertinya aku tidak bisa melihat namja lain selain dia….

 

***

 

Aku tidak datang selama tiga hari ke dorm mereka. Aku sibuk belajar karena sudah mendekati ujian. Lagipula aku harus bersiap meninggalkannya. Waktuku tinggal besok. Sebenarnya dia tidak benar-benar memperlakukanku seperti pelayan, karena aku hanya bekerja pada hari pertama saja. Selebihnya dia hanya menyuruhku mengambil ini dan itu, berteriak-teriak memberi perintah. Tapi kenapa aku tetap saja mencintainya setengah mati? Bodoh!

Aku menatap HP-ku yang berdering. Astaga, kenapa dia meneleponku?

“Yeoboseyo, oppa!”

“Kau ini kemana saja? Kau ingat tidak tugasmu sebagai pelayanku? Kau mau melarikan diri? Cepat kesini! Aku membutuhkanmu! 15 menit tidak sampai, aku pastikan kau jadi perawan tua seumur hidup!”

 

***

 

Aku terengah-engah kehabisan nafas saat sampai di dorm. Donghae oppa yang sedang duduk di depan TV menatapku heran.

“Kau kenapa?”

“Kyuhyun oppa mana?”

“Di kamar.”

Aku bergegas menyerbu masuk ke kamar namja kurang ajar itu.

“Oppa!” panggilku, berusaha mengatur nafas. “Aku sudah datang!”

“Aku lapar. Buatkan aku jajangmyeon!” ujarnya santai tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari layar komputernya.

“Mwo?” seruku kaget. Dia menyuruhku datang cepat-cepat ssehingga aku nyaris mati ditabrak mobil saat menyeberang hanya karena dia lapar?

Aku menjatuhkan tubuhku ke lantai, tidak bisa menahan air mataku yang mendesak keluar. Dia benar-benar tidak berperasaan! Kadang menjadi baik tiba-tiba seolah memberiku harapan, kadang-kadang dia menjadi namja dingin yang sama sekali tidak mengerti perasaanku. Aku benar-benar menderita karena mencintainya!

“Ya, Han Hye-Na, kenapa kau?”

“Sudahlah. Aku jelaskan kau juga tidak akan mengerti!”

Aku bangkit berdiri dan keluar dari kamarnya. Tapi langkahku terhenti karena dia mencengkeram tanganku.

“Kenapa kau menangis?”

“Bukan urusanmu! Kau lapar, kan? Aku pergi beli jajangmyeon sebentar.”

Aku melepaskan cekalannya dari tanganku dan keluar dari kamar.

“Kau mau kemana?” tanya Donghae oppa yang masih duduk di tempat semula.

“Pergi membelikan jajangmyeon untuk Kyuhyun oppa.”

“Biar aku antar.”

“Apa oppa bisa menjamin aku akan pulang dengan selamat?” candaku.

“Sudahlah, berhenti bersikap seperti itu! Matamu itu bengkak tahu! Jelek sekali! Kalau kau mau menangis ya menangis saja! Kajja!”

 

***

 

“Kau benar-benar mencintai Kyuhyun, ya?”

Aku menoleh menatap Donghae oppa dan tersenyum kecut.

“Ah, aku sudah janji padanya untuk tidak membocorkan rahasia. Hmmmh, kau tahu tidak, 3 hari terakhir dia terus uring-uringan. ‘Mana Hye-Na? Kenapa dia tidak datang? Aku akan membunuhnya!’ Sayang kau tidak bisa lihat tampang kesalnya itu. Leeteuk hyung menyuruhnya meneleponmu karena dia membuat telinga kami tuli gara-gara berteriak terus di dorm, tapi dia tidak mau. ‘Memangnya siapa gadis itu? Dia sama sekali tidak penting! Yeoja babo!’ Tapi jelas sekali kalau dia merasa kehilanganmu. Ah, kalau kau tahu rahasianya pasti kau senang sekali.”

“Rahasia apa?”

“Aku tidak bisa mengatakannya. Aku sudah janji. Biar dia sendiri yang mengatakannya padamu.”

Hmmfh, Cho Kyuhyun, apa rahasiamu? Kenapa aku tidak boleh tahu? Besok adalah hari terakhirku memiliki alasan untuk menemuimu. Tidak adakah kemungkinan kita bisa bertemu lagi?

“Apa kau akan menerima namja yang kau sukai itu?”

“Aku tidak tahu. Hatiku sudah tidak sempurna lagi, oppa.”

 

***

 

“Jino~ya, bisakah kita bicara sebentar?”

Dia menoleh ke arahku dan mengangguk, mengikutiku ke taman sekolah.

“Aku….” Astaga, aku tidak tega. Bagaimanapun aku tidak sanggup menyakiti namja yang pernah kusukai.

“Gwaenchana. Aku sudah tahu jawabanmu,” ucapnya ringan. “Aku sudah cukup lega bisa mengatakan perasaanku padamu.”

“Mwo?”

“Jangan merasa tidak enak. Aku tidak apa-apa. Tenang saja!”

Aigoo, kenapa aku tidak jatuh cinta padanya saja? Yak, pasti ada yang salah pada hatiku, aku bodoh! Benar-benar bodoh!

 

***

 

Aku menguatkan diri sebelum masuk ke dalam dorm SuJu. Hari ini adalah hari terakhir. Aku tidak akan memintanya menciumku. Tidak. Memangnya aku siapa sampai berhak mendapatkan ciuman pertama seorang Cho Kyuhyun? Aku sudah cukup bahagia, sangat bahagia bisa melihatnya dari dekat, bicara dengannya. Setidaknya dia tahu bahwa ada yeoja bernama Han Hye-Na yang mencintainya mati-matian di atas dunia ini.

Mencintainya… benar… perasaanku sudah kebablasan. Seharusnya hal ini kucegah dari awal. Aku hanya menyiksa diri sendiri saja. Karena aku juga tahu bahwa tidak ada kemungkinan aku bisa mencintai namja lain seumur hidupku. Dia benar-benar merusak otakku secara permanen. Mataku tidak bisa melihat namja lain selain Cho Kyuhyun. Ah, bukan mauku mencintainya….

“Kenapa kau berdiri saja di depan pintu? Ayo masuk!” seru Yesung oppa yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangku.

“Kau sedih ya harus meninggalkan Kyuhyun? Tidak usah dipikirkan, kami memberimu izin untuk main kesini kapanpun kau mau. Jadi kau masih bisa melihatnya. Rayakanlah hari ini sebagai hari kebebasanmu menjadi budaknya!” ujar Eunhyuk oppa.

Aku memaksakan diri untuk tersenyum. Hal itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan pernah kesini lagi. Aku tidak siap jika suatu saat nanti perasaanku meledak dan aku hancur berkeping-keping. Bagaimana kalau dia jatuh cinta pada seorang yeoja? Aku tidak akan sanggup memikirkan kemungkinan itu. Jalan keluar terbaik hanyalah tidak melihatnya lagi. Itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan hidupku yang sudah terlanjur kacau.

“HYE-NA!!!!” teriak Leeteuk oppa. Mereka ternyata menghias dorm dengan balon dan pita warna-warni. Ada tulisan besar-besar di dinding. PEMBEBASAN DIRI SEBAGAI BUDAK. Astaga, mereka ini!

Aku memandang berkeliling. Dia tidak ada. Bagus, bukankah itu bagus Hye-Na~ya? Lebih baik kalau dia tidak ada, jadi hari ini kau tidak perlu menangis banyak.

“Gomaweoyo, oppadeul!”

“Ah, tidak usah sungkan-sungkan! Kau akan jadi adik ipar kami, kenapa harus malu?” seru Heechul oppa.

“Hyung!” seru Donghae oppa seolah memperingatkan.

“Aigoo, aku lupa. Tidak usah dipikirkan Hye-Na~ya!”

Apa-apan dia itu? Dasar Heechul oppa aneh!

Kami memakan semua makanan yang tersedia sampai habis. Shindong oppa yang paling bersemangat. Sayang Siwon oppa tidak ada, karena dia terlalu sibuk syuting.

Aku sedang bercanda dengan Donghae oppa, mengejeknya karena dia terlalu cengeng, menangis hanya karena aku sudah terbebas dari perbudakan, saat tiba-tiba Kyuhyun oppa datang dan menarikku ke dalam kamarnya. Dia membanting pintu kamar sampai tertutup. Aku bermaksud protes dengan kelakuannya yang tidak sopan itu, tapi dia keburu menyudutkan tubuhku ke dinding dan mengunci bibirku dengan bibirnya. Cengkeramannya di tanganku terasa kasar, tapi anehnya bibirnya melumat bibirku dengan lembut.

A… aku pasti sedang bermimpi. Pasti. Ini hal paling gila dalam hidupku.

Dia meraih tengkukku, menciumku lebih dalam dari sebelumnya. Aku bisa merasakan tangannya di pinggangku dan itu berarti aku tidak sedang bermimpi.

“Oppa,” ucapku di sela-sela ciumannya.

Dia sama sekali tidak menghiraukanku. Dan entah sejak kapan aku malah membalas ciumannya. Kami baru melepaskan diri saat kehabisan oksigen. Nafasku tersengal-sengal, sehingga aku harus berpegangan di meja di sampingku agar bisa bernafas dengan normal.

“A… apa yang kau lakukan?” tanyaku saat berhasil menemukan suaraku lagi.

Dia masih memegangi pingggangku dan jarak kami masih begitu dekat.

“Bukannya kau yang minta? Kau senang? Sekarang kau bisa berpacaran dengan namja yang kau sukai itu. Itu kan yang kau inginkan?”

Aku bisa mendengar nada ketus dalam suaranya. Aku bersusah-payah menahan tangis dan tersenyum padanya.

“Gomaweo. Satu minggu terakhir adalah saat-saat paling membahagiakan dalam hidupku. Terima kasih telah mengizinkanku mengenalmu. Oppa, ini hari terakhirku. Maaf telah menyusahkan.”

Aku bergegas keluar kamar dan berlari pulang. Tidak memedulikan panggilan para member. Dia semakin membuatku ketergantungan pada kehadirannya. Sial! Mulai detik ini aku tidak bisa lagi hidup dengan benar!

 

***

 

“Ya, Hye-Na, kau membuatku cemas tahu! Berhentilah bersikap seperti mayat hidup! Kau membuatku ngeri!” protes Min-Ji.

Aku hanya diam. Seminggu ini aku tidak bersemangat melakukan apapun. Ujian akhir telah selesai. Aku melakukannya sebaik mungkin. Yakin bahwa aku akan lulus. Tapi hidupku malah hancur.

Huft, hidupku berantakan gara-gara dia. Dan aku dengan bodohnya masih saja mencari semua video, menonton semua acara yang ada dia di dalamnya. Hal yang hanya akan semakin membuaatku terluka. Melihat wajahnya sudah seperti kewajiban untuk menghirup oksigen bagiku, sekaligus meneteskan asam ke lukaku yang masih berdarah. Melihatnya saja sudah cukup. Tahu bahwa dia ada saja aku sudah puas. Babo! Han Hye-Na memang yeoja paling babo sedunia!

 

***

 

“Hye-Na~ya, appa mau bicara denganmu!”

Aku membalikkan tubuhku, tidak jadi masuk ke kamar.

“Kemarin lusa ada seorang namja yang datang kesini. Melamarmu menjadi istrinya. Appa pikir itu ide yang bagus. Kau sebentar lagi juga tamat sekolah. Sebulan lagi kalian akan menikah, tepat sehari setelah hari kelulusanmu.”

Aku bahkan tidak punya tenaga untuk menolak ataupun protes. Memang apa bedanya? Toh aku juga tidak akan mendapatkannya, jadi menikah dengan siapapun tidak masalah. Malah bagus. Aku tidak perlu jadi perawan tua seumur hidup.

“Siapa?” tanyaku pelan.

“Kau akan lihat di hari pernikahanmu. Eomma jamin kau pasti suka!” seru eommaku dengan senyum bahagia di wajahnya.

Aku pasti suka? Yang membuatku suka hanyalah Cho Kyuhyun. Memangnya eommaku tahu? Tapi setidaknya pasti dia namja yang tampan, karena eommaku senang sekali.

Siapa namja yang melamarku? Melamar? Kedengarannya lucu sekali! Pasti namja itu sama tidak warasnya sepertiku!

 

***

 

“Kau yakin?” tanya Min-Ji syok.

Aku mengangguk tak peduli.

“Kau benar-benar gila, Hye-Na~ya! Namja itu benar-benar membuatmu gila! Kau sekarang mau menikah dengan orang yang tidak akan kau lihat tampangnya sampai hari pernikahanmu dank au masih bisa tenang seperti ini? Sehebat apa si Cho Kyuhyun itu?”

Hebat, tentu saja dia hebat. Kalau tidak aku pasti masih waras sekarang.

 

***

 

Satu bulan kemudian…

Aku menatap pantulan tubuhku di cermin. Gaun pengantin ini membalut tubuhku dengan sempurna. Cantik sekali. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatnya.

“Aigoo, kau cantik sekali Hye-Na~ya!!!! Aku jadi iri!” seru Min-Ji yang baru masuk ke kamar gantiku.

“Gomaweo.”

“Ah, chukhahaeyo. Kau pasti akan sangat menyukai calon suamimu. Dia tampan sekali.”

“Kau sudah lihat? Apa aku mengenalnya?”

“Ng… bagaimana, ya? Itu rahasia!”

“Min-Ji!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

 

***

 

Ayahku menggandeng tanganku ke depan altar. Aku merasa gugup sekali di tengah tatapan semua orang. Aku menatap namja yang berdiri membelakangiku. Tubuhnya tinngi. Siluet tubuh yang sempurna. Sepertinya Min-Ji benar. Dia pasti namja yang tampan. Tapi kenapa aku merasa punggung itu seperti milik orang yang selama ini aku rindukan sampai nyaris gila? Ah, benar. Mungkin karena terlalu merindukannya aku jadi berhalusinasi. Sadar Hye-Na~ya, berhenti menjadi gila di hari pernikahanmu.

Kemudian namja itu berbalik dan… tara… aku benar-benar sudah gila!

 

***

 

Kyuhyun’s POV

Flashback 2007

 

Hari ini adalah hari pertamaku kembali ke panggung bersama Super Junior setelah kecelakaan mengerikan itu. Aku merasa sangat gugup sekaligus senang. Aku rindu sekali pada teriakan para ELF, euphoria saat kami berada di atas panggung.

Para member menatapku senang, memberiku semangat. Sebenarnya tubuhku belum 100% pulih, tapi aku ingin sekali memberikan panggung lengkap di depan mereka semua.

Kami melangkah bersama naik ke atas panggung. Saat itulah aku mendengar teirakan keras dari eorang yeoja. Dia berdiri di atas kursinya, berteriak penuh semangat.

“KYUHYUN OPPA, SARANGHAE!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Detik itu juga aku seperti tersihir saat menatap wajahnya. Itu wajah tercantik yang pernah kulihat. Tapi bukan itu masalahnya. Cara dia meneriakkan kalimat itu, seolah-olah dia benar-benar mencintaiku. Wajahnya memerah. Dia tersenyum malu karena beberapa orang menatapnya.

Aigoo gadis itu… aku menginginkannya….

“Kyuhyun~a, wae?” tanya Donghae hyung.

“Gadis itu, yang berteriak tadi.”

“Oh, dia. Kenapa? Dia cantik sekali! Hehe….”

“Hyung, aku menginginkannya.”

“MWO?”

“Kalau dia muncul lagi di hadapanku, aku akan mengusahakan segala cara agar bisa menikahinya.”

“MWO?!”

 

Flashback End

***

Hye-Na’s POV

Dia memeluk tubuhku dari belakang. Kami sedang berdiri di balkon, menatap pemandangan indah kota Seoul malam hari. Di rumah baru kami.

Aku menelan ludah, tidak percaya dengan alur hidupku yang menakjubkan. Rasanya mau pingsan saja! Ah, tidak! Sia-sia sekali kalau aku pingsan, aku jadi tidak bisa melihat wajahnya.

Jadi… namja babo-ku ini yang melamarku langsung ke orang tuaku. Aigoo, bisa-bisanya dia melakukan hal senekat itu! Aish, Han Hye-Na, kau adalah yeoja paling beruntung sedunia.

“Bagaimana kalau wartawan dan ELF tahu?”

“Biar saja. Memangnya aku peduli?”

“Cho Kyuhyun babo!”

Dia menjitak kepalaku. Sial!

“Kau itu bersyukur sedikit aku mau menikahi yeoja yang tidak bisa apa-apa sepertimu! Yang rugi itu aku tahu!”

“Iya, kau yang rugi.” Aku berbalik dan memeluk pinggangnya, menatap wajahnya yang sempurna. “Mmm… Han Hye-Na bodoh ini yang mencintaimu setengah mati. Aku tidak bisa mengungkapkan seberapa bahagianya aku saat melihat bahwa kaulah yang berdiri di depan altar.”

Dia mengulurkan tangannya dan mengusap rambutku, merapikan helai-helai rambutku yang berantakan tertiup angin.

“Tidak. Kau Han Hye-Na yang hebat, karena berhasil membuatku berpikir untuk menikah.”

Aku tertegun mendengar ucapannya. Sejak kapan dia bisa merangkai kalimat seperti itu?

“Aku tidak bisa bernafas dengan benar satu bulan terakhir, Hye-Na~ya. Berpikir bagaimana kalau kau menolak habis-habisan ide pernikahan gila ini? Memikirkannya sampai nyaris gila. Tapi orang tuamu bilang kau setuju tanpa protes, membuatku berpikir lagi, apa kau sudah melupakanku sampai menerima namja manapun yang disodorkan padamu? Tapi aku terima saja, setidaknya aku menikahimu.”

“Satu bulan ini aku menyusahkan hyung-hyungku yang harus jadi sasaran kekesalanku karena tidak bisa melihatmu. Rasanya tidak ada yang benar saat mataku tidak melihatmu. Kau tahu? Itu benar-benar menyebalkan!”

“Donghae oppa memberitahuku rahasia terbesarmu,” ucapku.

“Huh, jadi karena itu dia berani menculikmu dariku selama 10 menit? Padahal ini hari pernikahanku, seharusnya kau tidak boleh beranjak dari sisiku! Aku sudah tidak melihatmu selama satu bulan, aku tidak mau tidak melihat wajahmu lagi walau cuma 10 menit!” protesnya.

Aku tersenyum dan mengecup pipinya singkat.

“Jadi itu rahasiamu? Rahasia kenapa kau tidak mau juga punya pacar sampai umur 22 tahun? Karena ingin menikahiku?”

“Diam kau! Membuatku malu saja!”

“Kyuhyun babo!”

Dia hanya diam, menatap wajahku lekat-lekat.

“Tahu seberapa syoknya aku saat melihatmu tiba-tiba muncul di hadapanku dan memintaku menciummu? Bukan maksudku bersikap kasar. Itu hanya untuk menutupi rasa gugupku.”

“Jinjja? Ng… boleh tidak aku meminta sesuatu?”

“Mwo?”

“Kisseu.”

“Yak, gadis macam apa kau ini?”

“Oppa, jebal!”

“Tutup matamu!” ujarnya setelah beberapa saat.

Aku menutup mataku. Tapi 1 detik, 2 detik, 10 detik, tidak juga terjadi apa-apa. Kyuhyun brengsek!

Aku membuka mataku dan mendapatinya menutupi mulutnya, menahan tawa.

“Ya, Hye-Na, apa kau sebegitu menginginkan ciuman dariku? Ckckck….”

“Kau benar-benar menyebalkan!” teriakku sambil mendorong tubuhnya. Sayangnya, tenagaku sama sekali tidak cukup untuk membuatnya mundur satu langkah.

Dia menarik pinggangku, kali ini aku tidak akan tertipu lagi.

“Lepaskan! Yak, Cho Kyuhyun, lepaskan a….”

Kata-kataku terhenti karena dia sudah menempelkan bibirnya di bibirku, menciumku dengan begitu tiba-tiba. Aku menatapnya syok, tapi bibirnya bergerak lembut di atas bibirku, membuatku mau tidak mau mengalah dan membalas ciumannya.

Dia melepaskanku beberapa detik kemudian. Menangkup kedua pipiku dengan tangannya dan menatapku tepat di manik mata.

“Cho Hye-Na…” bisiknya pelan. “Saranghae….”

 

 

END