Author            : Shela_Hyukjae a.k.a Choi Ji-Yoo

Han Hye-Na menyentak-nyentakkan kakinya ke lantai keramik putih. Matanya memandang ragu ke lembaran kertas lusuh yang masih ia genggam erat. Sesekali napasnya terdengar berat. Ingin rasanya Hyena meremas kertas itu kuat-kuat, mengubahnya jadi bulatan tak beraturan, lalu melemparnya masuk ke keranjang sampah di sudut kelas.

“Berapa nilai matematika-mu?” Shin Hyo-Ri menyandarkan tubuhnya ke meja Hye-Na. Melihat Hye-Na yang hanya mendongak dengan tatapan miris, Hyo-Ri mengangguk paham.

“Kali ini berapa? 30?”

Hye-Na meringis lalu menunjukkan lembaran lusuh di tangannya.

“Nyaris tepat, 45.”

“Sepertinya kita memang harus ikut bimbingan belajar atau semacamnya. Hasil ulanganku tidak jauh beda denganmu,” ujar Hyo-Ri sambil menunduk dan menarik napas panjang.

Hal yang sama dilakukan oleh Hye-Na, ditambah dengan desahan berat. Tapi kemudian perhatiannya tertuju pada gerombolan siswi yang mengelilingi seorang siswa. Alis Hye-Na mengernyit, ia menyipitkan mata untuk bisa melihat lelaki itu dengan lebih jelas. Cho Kyuhyun berdiri tegap sambil memasukkan tangan ke saku celana. Senyumnya terumbar pada semua siswi yang berkumpul seperti gerombolan lebah di sekitarnya.

“Hebat! Nilai sempurna lagi untuk matematika, ya?” rajuk seorang gadis berkuncir satu di samping Kyuhyun. Lelaki itu tidak memberi komentar, ia hanya tersenyum kecil.

Gadis yang berambut panjang tidak mau kalah. “Ajari aku, Kyuhyunie~~~”

“Kalau aku ada waktu, pasti kuajari,” ujar Kyuhyun sambil tetap mempertahankan sikap khas pangerannya.

Hye-Na memandang wajah sempurna lelaki itu dengan penuh kekaguman. Ia, yang hanya dikenal sebagai siswi biasa dan sama sekali tidak menonjol, sama-sama memendam rasa kagum pada lelaki tinggi bernama Cho Kyuhyun. Siswa teladan dan sikap yang menyenangkan menjadi alasan untuk tidak mengaguminya.

“Berhenti memandanginya begitu,” sela Hyo-Ri. “Matamu bisa lepas dari tempatnya, Hye-Na ssi.”

“Dia sempurna sekali, ya!” Hye-Na bicara tanpa menoleh. “Menurutmu, apa Tuhan memang tidak adil begini? Kyuhyun itu tampan, pintar, baik, dan menyenangkan. Persis seperti pangeran dari negeri dongeng.”

Hyo-Ri melambaikan tangannya ke depan wajah Hye-Na. “Ya! Kau sudah gila? Bicaramu seperti orang mabuk.”

“Mabuk, aku mabuk pangeran,” racau Hye-Na. Ia nyengir lebar. “Seandainya aku bisa dekat dengan Cho Kyuhyun, aku pasti bisa bahagia selamanya….”

“Teruslah bermimpi!”

***

Hye-Na menyeret kakinya dengan susah payah menaiki tangga. Ia merebahkan tubuh di ranjang birunya sambil memandangi langit-langit. Baru saja ia akan memejamkan mata saat Hye-Na sadar harus menyiapkan makan malam.

Dengan malas ia mengganti seragamnya dengan kaus longgar dan celana pendek yang kusam. Hyena melesat menuju dapur lalu memeriksa isi kulkas, dan memutuskan memasak sup kimchi untuk ayahnya. Tangannya baru saja menyalakan kompor saat telepon rumah berdering memanggilnya.

Hye-Na berjalan cepat ke ruang tengah. “Ya?”

“Hye-Na~ya, kau sudah pulang? Kau belum masak makan malam kan?” ujar suara berat di ujung sana.

“Belum, baru akan mulai. Appa pulang jam berapa?” tanya Hye-Na. Ia melirik jam dinding di atas sofa. “Sudah hampir jam 7 malam.”

Ayahnya diam sejenak lalu berdeham. “Jangan masak. Appa pulang sebentar lagi. Kami sedang di mobil sekarang.”

“Kami?” ulang Hye-Na, seolah tak yakin pada indera pendengarannya sendiri.

“Kau ingat soal wanita yang appa ceritakan? Kita akan makan malam bersamanya, bagaimana?” ujar ayahnya pelan, terdengar ragu-ragu menyampaikan kabar itu pada putri tunggalnya.

Hye-Na mengangkat bahu. “Oh? Aku bisa siap-siap sekarang. Makan dimana?”

“Di rumah, kami sudah membeli makanan dari luar. Lagipula memang harus mengenal rumah kita lebih dulu kan?” sahut ayahnya.

“Aku tidak perlu ganti baju, kan? Berjaga-jaga seandainya appa mau aku terlihat seperti anak gadis yang manis,” tawar Hye-Na sambil memilin-milin ujung kausnya yang memang sudah kusam.

“Ah, tidak perlu. Pakai yang biasa saja. Hanya di rumah, bukan di restoran mewah, Hye-Na~ya,” ujar ayahnya sebelum benar-benar memutus sambungan telepon.

Hye-Na memerhatikan dirinya di cermin. Tampilannya tidak cukup buruk, setidaknya untuk ukuran standar menurutnya sendiri. Tapi bisa saja wanita yang disukai ayahnya itu langsung kabur begitu melihat calon putrinya yang tampak menyedihkan seperti ini.

Tanpa butuh waktu lama, Hye-Na hanya mengangkat bahu santai. “Aku adalah aku. Tidak peduli siapa yang akan datang, aku suka seperti ini.”

***

Tiga puluh menit setelahnya, Hye-Na benar-benar memaki dirinya sendiri. Entah kenapa tadi ia tidak memutuskan untuk ganti baju selagi sempat. Sekarang Hye-Na hanya bisa membeku di ruang tengah saat melihat tamu istimewa ayahnya.

Hye-Na menarik lengan ayahnya. “Appa! Appa tidak bilang kalau wanita itu punya anak,” bisiknya. Ia menambahkan, “Dan anaknya itu adalah Cho Kyuhyun!”

“Oh? Kau mengenal Kyuhyun-i?” tanya ayahnya sambil mendorong punggung Kyuhyun. “Ya.. ini Cho Kyuhyun, kakak tirimu.”

“Kakak- apa??” Hye-Na memekik nyaring. Matanya terbelalak lebar sementara Kyuhyun membungkuk sambil tersenyum manis. “Appa, kapan appa menikah dengan bibi ini?”

Ayahnya berubah tersipu. “Tadi pagi kami menikah di catatan sipil. Dan malam ini saatnya keluarga baru kita berkumpul. Bagaimana, kau senang kan?”

“S-senang?” ulang Hye-Na.

Ia tidak bisa berhenti memandangi Kyuhyun, pangeran sempurna yang sekarang sedang duduk di sofa rumahnya. Seharusnya ia memang senang, bahkan bisa saja hatinya meledak saat itu juga. Hyena tidak pernah membayangkan lelaki itu tersenyum di depannya, bahkan mendadak statusnya bisa berubah. Tadi pagi, Cho Kyuhyun adalah teman sekelasnya yang pintar. Tapi sekarang, Cho Kyuhyun sudah menjadi kakak tirinya!

“Kuharap kita bisa jadi saudara yang akur,” ucap Kyuhyun.

“Ternyata kalian satu sekolah, dan teman sekelas juga? Aigoo~ dunia memang sempit,” ayahnya menepuk-nepuk punggung Kyuhyun. “Bagaimana sikap Hye-Na di sekolah? Pasti Hye-Na terkenal bodoh ya? Sungguh berbeda dari Kyuhyun-i yang pintar.”

Hye-Na tersenyum kecut. Tepat sekali. Ia bukan siswi teladan yang populer, jauh berbeda dibandingkan dengan Cho Kyuhyun. Dan mendadak Hye-Na harus menjadi adik tirinya? Yang benar saja, batin Hye-Na.

“Hye-Na bisa memanggilku ‘oppa’ mulai sekarang.” Kyuhyun menatap Hye-Na dengan lembut.

Tanpa sadar Hye-Na malah mengangguk-angguk setuju. Sepertinya tatapan itu sudah menghipnotisnya. “A-aku… senang punya kakak.”

“Baguslah~ berarti kami bisa meninggalkan kalian selama bulan madu!” ucap sang ayah.

Hye-Na langsung menoleh sambil membelalakkan mata. Ayahnya menjelaskan, “Mulai besok kami akan bulan madu ke Pulau Jeju, jadi sebaiknya kalian jaga rumah dengan benar. Bisa kan, Kyuhyun-ah, Hye-Na~ya?”

Kyuhyun mengangguk. “Akan kuusahakan, paman.”

“Aboji. Panggil aboji saja,” perintah ayah Hye-Na.

Hye-Na membeku. Banyak sekali kejutan hari ini. Semuanya berhasil membuat Hye-Na mendadak lumpuh otak. Ayahnya menikah tanpa pemberitahuan, Cho Kyuhyun tiba-tiba berganti status menjadi kakak tirinya, dan sekarang ayahnya akan pergi bulan madu, meninggalkan dirinya dengan Kyuhyun hanya berdua di rumah?

“Sampai kapan…?” suara Hye-Na terdengar mengambang, bahkan di telinganya sendiri.

Ayahnya tersenyum. “Hanya seminggu, paling lama sepuluh hari. Tapi kami usahakan hanya seminggu. Jangan rindukan kami ya.”

Hye-Na mendengus sambil berbisik, “Seandainya bisa, aku lebih suka ayah tidak usah pulang saja.”

***

Day 1

“Kau dan Cho Kyuhyun? Saudara tiri?” reaksi Hyo-Ri persis sama seperti yang diduga Hye-Na. Salah besar ternyata menceritakan petaka semalam di rumahnya pada Shin Hyori.

Hye-Na mengangkat bahu. “Begitulah. Konyol kan?”

“Konyol? Bukannya hebat? Kau bilang kau akan bahagia selamanya kalau bisa dekat dengan Cho Kyuhyun?” ujar Hyo-Ri.

“Benar, tapi itu seandainya Kyuhyun tidak menjadi kakak tiriku,” dengus Hye-Na. Sesaat kemudian ia membenamkan wajahnya di meja. “Ahh… appa benar-benar menyebalkan!”

“Orang tuamu jadi bulan madu?” tanya Hyo-Ri, mendadak teringat bagian cerita bulan madu ayah Hye-Na.

Hye-Na lagi-lagi menarik napas berat. “Nanti siang mereka berangkat. Pulau Jeju, mungkin seminggu atau lebih. Tapi aku lebih gugup dibandingkan mereka. Bagaimana bisa aku bertahan hidup saat pangeran sempurna itu tinggal seatap denganku?”

“Seminggu… berdua… ahh~ kurasa aku tahu apa yang akan terjadi,” ucap Hyo-Ri sambil mengusap-usap dagunya yang lancip. “Hye-Na~ya, saudara tiri boleh menikah kok, tenang saja.”

Alis Hye-Na terangkat sebelah. “Ng? Maksudmu?”

“Aish… kau ini pura-pura bodoh, ya? Tentu saja hal yang akan dilakukan lelaki dan gadis yang sedang bersama.” Hyo-Ri berbisik.

Hye-Na memukul meja nyaring. “YA! Kau pikir aku gadis macam apa?”

Untuk sejenak Hyo-Ri tampak berpikir lalu tersenyum lebar. “Tentu saja gadis pemuja pangeran super sempurna seperti Cho Kyuhyun.”

***

Ayah dan ibu baru Hye-Na sudah bersiap di ruang tengah. Koper-kopernya berbaris rapi di lantai sementara Kyuhyun membawakan tas tangan ibunya. Diam-diam Hye-Na memberi penilaian lebih pada Kyuhyun. Satu nilai plus, penyayang orang tua.

“Tidak perlu mengantar kami ke bandara. Sudah ada taksi di depan,” ujar ayahnya. “Jaga diri selama kami tidak ada, ya!”

Kyuhyun membungkuk singkat lalu tersenyum. “Tenang saja, aboji. Aku dan Hye-Na pasti bisa saling menjaga,” ucapnya setelah melambaikan tangan pada kedua orang tua barunya.

Deg… deg… deg… saling apa katanya? Saling menjaga? Hye-Na terus berpikir keras. Aku memang harus dijaga, dijaga supaya imajinasiku tidak berkembang terlalu pesat.

Dalam lima menit saja, Hye-Na sudah berkhayal yang tidak-tidak. Membayangkan Kyuhyun akan jatuh cinta padanya di hari pertama, sampai imajinasi soal kawin lari di hari ketujuh. Hye-Na menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mempertahankan akal sehat yang masih tersisa.

“Aish… pikiranku kacau gara-gara Hyo-Ri,” umpat Hye-Na pelan. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri, berharap otaknya akan segera sembuh. Kyuhyun tampak sedang memunggunginya. Hye-Na menggaruk kepalanya kaku. “Ng… aku harap kita bisa ja….”

“Cerewet!”

“Eh?” Hye-Na terpaku, kali ini bukan tatapan Kyuhyun yang membuatnya begitu. Tapi nada suara lelaki itu yang berubah drastis.

Kyuhyun berbalik, memandang Hye-Na dengan tatapan merendahkan. “Kau itu terlalu cerewet, gadis jelek.”

“EH?” pekik Hye-Na sekali lagi. Lagi-lagi otaknya menjadi cacat. Sulit sekali mencerna maksud ucapan kasar yang baru saja dikatakan oleh seorang Cho Kyuhyun.

“Selain jelek, ternyata kau juga tuli. Ahh… entah kenapa aku malah dapat saudara tiri sepertimu. Merusak citraku saja!” Kyuhyun mencibir tanpa melirik wajah Hye-Na yang pucat. “Dan kau harus ingat, kalau di sekolah, kita tidak punya hubungan apa-apa, paham?”

Hye-Na melongo. Matanya menatap lelaki itu lekat-lekat. Bayangan di kepalanya langsung hancur berantakan. Cho Kyuhyun, sang pangeran super sempurna berubah menjadi lelaki menyebalkan yang tidak punya hati.

Tiba-tiba Kyuhyun sudah berdiri tepat di depannya. Ia berbisik, “Kalau sampai ada orang yang tahu, kau pasti mati.”

Sekali lagi Hye-Na membeku. Wangi tubuh Kyuhyun memenuhi rongga hidungnya. Napasnya pun bisa ia rasakan di sekitar pipi Hye-Na. Hye-Na berusaha keras untuk tetap menyadarkan pikirannya. Kyuhyun terlalu dekat, sangat dekat. Dengan susah payah Hye-Na menelan ludah lalu mengangguk.

“Dan satu lagi, jangan coba-coba membayangkan sesuatu yang aneh tentang aku!” Kyuhyun memunggungi Hye-Na dan menghentikan langkahnya di depan tangga.

Hye-Na mengerutkan kening bingung. Ia memang sedikit berkhayal soal ia dan Kyuhyun. Tapi Hye-Na tidak tahu lelaki itu bisa membaca pikirannya.

Kyuhyun berbalik sebentar. “Orang bodoh pun tahu kalau kau sedang berpikir yang tidak-tidak.” Ucapan itu seolah menjawab pertanyaan di kepala Hyena. “Jangan ganggu aku, aku mau tidur sampai malam.”

“Eh, ya, oppa,” ucap Hye-Na lemas sambil memerhatikan punggung Kyuhyun yang menjauh.

Pikirannya soal Tuhan yang tidak adil sudah ia ralat sejak tadi. Tuhan memang adil. Tidak ada pangeran super sempurna seperti Cho Kyuhyun. Dengan sikapnya yang seperti tadi, Hye-Na tahu ia akan menganggap Kyuhyun sebagai pangeran kegelapan.

Hye-Na mendesah berat. “Memangnya seperti apa wajahku saat sedang berkhayal?”

Sejenak kemudian Kyuhyun menyahut. “Tentu saja seperti orang bodoh!”

***

Day 2

Hye-Na mencibir saat melihat Kyuhyun kembali dikelilingi siswi-siswi di kelasnya. Ia menjadi tambah kesal begitu lelaki itu memasang tampang sok baik dan menunjukkan sikap pangeran abal-abalnya. Seperti Cho Kyuhyun. Bagaimana bisa ada lelaki dengan kemampuan akting yang mengagumkan Kyuhyun, batin Hye-Na.

Napas Hye-Na terasa berat. “Seharusnya aku tidak menilai dia terlalu cepat. Dasar pangeran kegelapan!”

Tubuhnya terpaku di tempat saat Kyuhyun dan gerombolan siswi itu melewati Hye-Na begitu saja. Ternyata lelaki itu memang tidak bercanda soal teori tidak-saling-mengenal yang ia ucapkan kemarin. Hye-Na menarik napas, menyesal sekali rasanya sudah mengagumi Cho Kyuhyun.

“Jangan melihatnya begitu,” sela Hyo-Ri. Tahu-tahu ia sudah ada di samping Hye-Na. “Apa hubungan kakak-adik kalian tidak berjalan baik?”

“Kakak-adik? Tadinya aku pikir bisa berjalan lancar. Tapi kurasa sekarang aku berubah pikiran,” ujar Hye-Na lemas.

Hyo-Ri mengamit lengan Hye-Na. “Jangan cepat menyerah~ perankan adik yang baik untuknya. Kau selalu bilang ingin punya saudara, kan?”

“Memang,” lagi-lagi nada suara Hye-Na mengambang tak tentu. “Tapi aku lebih suka punya kakak yang tidak setampan dia.”

Hyo-Ri mencibir. “Bodoh!”

***

Hye-Na membuka panci di depannya. Wangi kare langsung tercium begitu Hye-Na mendekatkan wajahnya. Ia mengangkat panci itu pelan-pelan. Malam ini setidaknya ia harus bisa makan malam bersama dengan kakak barunya itu.

Pintu depan terbuka, menandakan Kyuhyun sudah pulang entah darimana. Hye-Na menyambutnya di ruang tamu. “Oppa sudah pulang, aku memb….”

“Aku lelah. Jangan ganggu aku, gadis jelek,” ucap Kyuhyun tegas.

Hye-Na diam agak lama. Sesuatu dalam otaknya sudah putus. Kesabarannya lenyap dengan cepat. Ia membanting panci kare yang ada di tangannya, menimbulkan suara gaduh yang mengejutkan. Kyuhyun menoleh cepat, melihat Hye-Na menundukkan kepala.

“K-kau kenapa?”

“Aku kenapa? Ya! Kau ini sinting, ya? Aku sudah lama menunggumu pulang, memasak kare juga supaya kita bisa makan bersama. Kau ini punya hati tidak? Kenapa seenaknya saja menyiksa orang lain?” pekik Hye-Na. “Aku hanya berharap kita bisa jadi keluarga yang hangat, memangnya salah?”

Kyuhyun diam, membeku di tempatnya.

“Dan kau, kau juga malah seenaknya mengataiku gadis jelek. Memangnya kau setampan apa sampai bisa mengolok-olokku begitu, hah?” Ucapan Hye-Na makin berantakan. “Begini-begini, aku juga dibilang manis oleh mantan pacarku! Aku ini ciptaan Tuhan, berani-beraninya kau mencela ciptaan Tuhan!”

Kali ini Hye-Na yang diam, sadar bahwa omelannya tadi sama sekali tidak masuk akal. Hye-Na memaki dirinya sendiri, ia bahkan tidak mengerti apa yang baru saja ia ucapkan.

Kyuhyun memandangi Hye-Na lama. Kemudian ia mendorong pundak gadis itu sampai terpojok ke tembok. “Begitu? Kau sudah selesai? Atau ada tambahan lain?”

“S-sudah.” Hye-Na menelan ludah. Ia terlalu sibuk mengatur napas dan tidak punya waktu mengomel tentang hubungan adik-kakak yang menyenangkan.

“Baiklah, kuturuti keinginanmu.” Kyuhyun melepaskan pundak Hye-Na lalu mundur selangkah. “Kau mau bermain rumah-rumahan, dengan peranku sebagai kakak yang baik, kan? Baik, kita lakukan. Tapi hanya di dalam rumah.”

Hye-Na melongo. “Pikiranmu berubah secepat itu?”

“Karena kupikir kalau aku memang merelakan ibuku menikah lagi, aku harus memainkan peranku dengan benar sampai akhir, kan?” ucap Kyuhyun tenang. “Kau puas?”

“Benarkah?” Hye-Na sama sekali tidak yakin dengan apa yang ia dengar. “Terima kasih, oppa!”

Kyuhyun memutar bola matanya lalu menunduk ke bawah. “Pekerjaan pertamamu sebagai adik perempuan, bersihkan kare yang tumpah ini.”

***

Day 3

“Selamat pagi, oppa,” Hye-Na meletakkan tas sekolahnya di atas meja. Senyumnya terkembang begitu melihat Kyuhyun duduk di kursi.

“Pagi, tidurmu nyenyak?” balas Kyuhyun. Tapi kemudian ia berbisik, “Memangnya kehidupan kakak-adik yang menyenangkan itu seperti ini?”

Hye-Na mengangkat bahu. “Aku juga anak tunggal. Tidak tahu banyak soal itu. Tapi kurasa ini sudah lumayan.”

Kyuhyun mengangguk-angguk pelan. “Selesaikan sarapanmu, kita harus ke sekolah sekarang.”

“Ne, oppa.” Lagi-lagi Hye-Na tersenyum lebar. Ia senang Kyuhyun sudah mulai mencoba. Pikiran nakal menggelitiknya. Seandainya saja lelaki di depannya itu bukan kakak tirinya….

Mereka keluar rumah bersamaan. Tapi kemudian Kyuhyun mendorong tubuh Hye-Na jauh-jauh. “Ya! Setelah keluar rumah, permainan kita di-pause.”

“Aku tahu, oppa,” sahut Hye-Na. “Maksudku, Kyuhyun ssi.”

***

Hye-Na terpaku, lagi,  saat melihat gerombolan gadis kembali mengelilingi Kyuhyun. Bukan hal yang langka, tapi kenapa Hye-Na merasa itu tidak menyenangkan? Apa karena ia cemburu begitu kakaknya sibuk dengan hal lain?

“Ya! Kenapa kau melihat uri Kyuhyun-i seperti itu, ha?” tegur salah seorang gadis yang menyadari kehadiran Hye-Na.

Gadis lainnya menyahut. “Kau tidak pantas memandanginya terlalu lama. Bisa-bisa Kyuhyun-i terkontaminasi oleh wajah jelekmu.”

“Setidaknya dia bukan gadis menyebalkan yang suka membuntutiku.” Suara Kyuhyun menyela, membuat semua gadis menatapnya terkejut, termasuk Hye-Na. Kejutan lain muncul saat Kyuhyun tiba-tiba menarik tangan Hye-Na. “Kita harus pergi dari sini.”

Hye-Na tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah kaki Kyuhyun. Ia memberanikan bersuara. “Anu… Oppa, soal ucapan gadis-gadis itu… tidak apa-apa, aku baik-baik saja, kok.”

“Tidak apa-apa, aku juga sudah bosan dengan citra pangeran-ku. Jadi lebih baik mereka tahu bagaimana aku yang sebenarnya, benar kan?”

“Ng… kalau oppa hanya mau memainkan peran sebagai kakak yang bisa melindungi adiknya, oppa sudah memain….”

Kyuhyun memotong. “Ini bukan di dalam rumah. Aku melakukan hal tadi bukan sebagai kakakmu, bodoh.”

Hye-Na berpikir. Kalau saat ini bukan peran itu yang dimainkannya, lalu apa? Untuk sejenak tadi Hye-Na bisa merasakan jantungnya yang bergerak berantakan. Dan entah sejak kapan, ia mengeratkan genggaman tangan Kyuhyun.

***

“Hye-N~ya, kau mau kubantu memasak?” tawar Kyuhyun. Ia masuk ke dapur dan menemukan gadis itu sedang berkutat dengan sayuran di tangannya.

Hye-Na menggeleng. “Tidak usah. Aku adalah anak gadis di rumah ini, jadi tugas memasak itu menjadi tugasku.”

“Begitu?” Kyuhyun mendekat sampai ia berdiri di belakang Hye-Na. “Kalau begitu aku akan ada disini sampai kau selesai memasak.”

Dengan susah payah Hye-Na menelan ludah. Ia merasakan hembusan napas Kyuhyun di tengkuk belakangnya. Otaknya kembali rusak mendadak. Setelah tadi siang ucapan Kyuhyun membuatnya bingung, sekarang keberadaan lelaki itu di dekatnya saja sudah bisa membuat Hye-Na kehilangan konsentrasi.

“Ng.. O-oppa, bisa berdiri di tempat lain saja?” ujar Hye-Na sambil memasukkan satu sendok garam ke dalam sup kimchinya. Ia mengusap keringat dengan punggung tangannya. “Aku.. kepanasan.”

Kyuhyun mengangkat tangan lalu mundur selangkah. “Aku menunggu di meja makan saja.”

Kepala Hye-Na mengangguk. Tangannya kembali sibuk mengaduk-aduk masakan di depannya. Entah bagaimana Hye-Na selalu gugup di dekat Kyuhyun.

“Sadarkan dirimu, Hye-Na. Dia kakakmu,” bisiknya pelan.

Tiba-tiba Kyuhyun kembali mengejutkannya dengan berdiri di samping Hye-Na. “Aku mau coba.”

“Eh, silahkan saja. Masakanku ini selalu ena….”

Kyuhyun memuntahkan kuah sup yang baru saja ia rasakan. “Ya! Kau membuat sup kimchi atau sup buah? Kenapa manis sekali?”

“He? Manis bagaimana??” pekik Hye-Na. Ia yakin ia sudah memasak seperti biasanya. Tapi keyakinannya itu lenyap saat matanya melirik tempat gula yang belum ditutup. Ia menatap Kyuhyun takut-takut. “S-sepertinya aku salah mengira gula dengan garam.”

“Bilang saja kau mau membunuhku!” cibir Kyuhyun kesal. “Lalu bagaimana dengan makan malam kita?”

Hye-Na menarik napas panjang. “Kita bisa pesan pizza kalau oppa mau….”

“Apa boleh buat,” Kyuhyun mendengus. Ia menarik lengan Hye-Na saat gadis itu akan meninggalkan dapur. “Mau kemana? Kau yang telepon. Sana~”

***

Day 4

“Kita akan menonton DVD bersama di rumah,” ujar Kyuhyun saat istirahat makan siang.

Hye-Na mengerutkan kening. “Ng? Kenapa?”

“Kenapa?” ulang Kyuhyun. “Bukankah kau sendiri yang mau kita memainkan peran sebagai kakak-adik yang baik? Dengan menonton DVD bersama, kurasa itu bisa membantu perkembangan hubungan kita.”

“Ah, begitu? Baiklah~~~” Hye-Na memekik senang.

Kyuhyun menyela. “Jangan terlalu senang, kau yang harus mengurus masalah makanannya.”

Bibir Hye-Na tertarik ke belakang. “Serahkan saja padaku.”

Kemudian Kyuhyun mencibir. “Ingatkan aku untuk menyembunyikan tempat gula. Kurasa kau terlalu terobsesi pada benda manis.”

Hye-Na cemberut lalu memukul lengan Kyuhyun sementara lelaki itu mengacak rambut Hye-Na pelan. Dan lagi-lagi perasaan itu muncul. Rasa sesak menyenangkan yang nyaris membuat dadanya meledak.

***

Day 5

Hyo-Ri mencondongkan badannya ke depan meja, mencoba melihat wajah Hye-Na dengan lebih dekat. “Ada apa denganmu?”

“Aku? Baik,” jawabnya pendek.

“Tenang saja, sudah kubilang kan kalau saudara tiri itu bisa menikah,” ucap Hyo-Ri santai.

Hye-Na mendengus. “Menikah, kepalamu! Siapa yang bilang aku mau menikahi kakakku sendiri?”

“Ya! Wajahmu itu sudah mengatakan semuanya. Kau pikir aku buta?” sungut Hyo-Ri sambil menunjuk wajah Hye-Na. “Lagipula… sepertinya kakakmu itu juga menyukaimu.”

“Shin Hyo-Ri ssi, kalau mau bercanda, cari bahan pembicaraan yang lebih baik,” cibir Hye-Na.

“Aku ini bisa membaca wajah semua orang. Memangnya kau tidak sadar tatapannya saat sedang melihatmu? Dia seperti lelaki lembut yang jatuh cinta.” Hyo-Ri mencoba memperagakan dengan gaya dramatis.

Hye-Na merengut. “Lucu sekali.”

“Ya! Kau mau bertaruh denganku? Cho Kyuhyun itu punya tatapan berbeda saat bersamamu.”

“Itu karena aku adiknya, bodoh,” umpat Hye-Na. “Aku akan membelikan mantel yang kita lihat kemarin kalau ucapan konyolmu ini benar.”

Hyo-Ri menjentikkan jari. “Wah… kalau begitu kau harus menyiapkan banyak uang untuk membelikanku mantel mahal!”

***

Day 6

“Jah~ sekarang kita mau nonton apa lagi?” tanya Hye-Na begitu film horror yang mereka tonton berakhir. Ia menoleh dan hanya melihat Kyuhyun yang sedang tertidur. Buru-buru ia menutup mulut dengan kedua tangannya. “Mianhae, oppa.”

Hye-Na tidak tahu bagaimana tapi ia merasa ada tarikan magnet yang kuat, memaksanya memandangi wajah pangeran tidur di sampingnya.

“Seandainya kau bukan kakak tiriku, apa kau akan bersikap baik di kelas?” Hye-Na bertanya pada dirinya sendiri.

Tangannya terangkat ke udara, terhenti tepat di wajah Kyuhyun bagian samping. Dengan setengah tak sadar, Hye-Na mengusap wajah pualam yang lembut itu. Pelan sekali, terlalu pelan sampai Kyuhyun tidak akan terbangun karenanya.

Godaan lain mampir di kepala Hye-Na. Ia sudah membelai wajah Kyuhyun, dan Hye-Na sangat tergoda untuk mencium bibir kakak tirinya itu. Sejenak kemudian kepalanya menggeleng kuat-kuat. Pikiran bodoh! umpatnya, bagaimana bisa pikiran itu mengganggu kerja otaknya?

“Ng… tapi,” Hye-Na memilin-milin ujung sweaternya. “Anggap saja ini yang pertama dan terakhir. Setelah ini, tidak akan ada yang tahu. Hanya aku dan Tuhan, juga tumpukan DVD ini.”

Hye-Na mendekatkan wajahnya, merasakan napas Kyuhyun memburu teratur. Tangannya menyentuh kedua pipi lelaki itu. Sejenak berikutnya, Hye-Na sudah menempelkan bibirnya dengan bibir Kyuhyun. Lembut dan manis. Terlalu berat untuk dilepaskan.

Desiran angin sejuk menerpa tubuhnya. Hye-Na senang, sekaligus berdebar luar biasa cepat. Ini tindakan paling gila sekaligus paling manis yang pernah ia lakukan. Ia baru saja mencium kakak tirinya sendiri!

“Aku pasti sudah gila!” Hye-Na mengacak rambutnya frustasi.

Perlahan ia menyentuh kembali bibirnya. Masih hangat. Hye-Na memegangi pipinya sendiri, merasakan panas mulai menjalari tubuhnya. Darahnya juga sudah terkumpul di kepala. Ia yakin wajahnya semerah tomat saat ini.

“Tidak apa-apa, Hye-Na. Setelah ini semuanya akan normal. Anggap saja tidak pernah terjadi apapun.” Hye-Na berusaha sangat keras menenangkan dirinya sendiri.

Dalam hitungan kelima, ia sudah bangkit dan membereskan tumpukan DVD yang masih berserakan di atas meja. Hye-Na mematikan televisi dan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.

Hye-Na sama sekali tidak tahu Kyuhyun membuka mata dan mengamati gerak-geriknya. “Gadis bodoh….”

***

Day 7

“Orang tua kalian akan pulang hari ini?” tanya Hyo-Ri. Hye-Na menjawabnya dengan anggukan kepala. “Lalu kenapa tidak bersemangat begini?”

Hye-Na mengernyitkan alis. “Apanya? Siapa yang tidak bersemangat? Aku… senang.” Tapi kemudian ia menghela napas berat. “Baiklah, aku memang agak kebingungan. Aku bingung bagaimana harus bersikap pada Kyuhyun di depan orang tuaku.”

“Kenapa?”

“Ng.. kurasa kau benar, aku menyukainya,” aku Hye-Na.

“Begitu? Ya sudah, bukankah sudah kubilang kalau saudara tiri bisa menikah?” sahut Hyo-Ri santai.

Hye-Na mendesah. “Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaan Kyuhyun.. bagaimana kalau hanya aku yang jatuh cinta sendirian? Dia tidak mungkin menyukaiku, kau tidak lihat gadis-gadis yang selalu berkumpul di sekitarnya?”

“Yang selalu mengelilinginya seperti gerombolan lebah itu?” Hyo-Ri tergelak. “Ya! Mereka memang lebih cantik, lebih pintar, dan lebih menyenangkan darimu, tapi….”

“Kau mengajakku berkelahi?”

“Dengarkan dulu,” sela Hyo-Ri. “Tapi yang disukai Kyuhyun kan dirimu, bodoh~”

“Tapi kurasa saudara itu tetap saudara,” Suara bening itu membuat Hye-Na dan Hyo-Ri menoleh cepat dan menemukan beberapa gadis berdiri di belakang mereka. “Kau dan Cho Kyuhyun sudah jadi saudara, kan? Kau pikir kami tidak tahu?”

Salah seorang dari mereka menarik kerah Hye-Na. “Ya! Kau pikir uri Kyuhyun-i akan menyukai gadis jelek sepertimu? Bodoh!”

Hye-Na mengepalkan tangannya kuat-kuat. Saat ini ia hanya ingin meneriakkan kalau ia memang….

“Aku memang menyukainya, lalu kenapa?” Kyuhyun berjalan santai menghampiri kumpulan gadis-gadis yang sejak tadi menyebut-nyebut namanya. Ia menggenggam tangan Hye-Na. “Aku menyukai Han Hye-Na. Ada masalah?”

Mata gadis-gadis itu terbelalak. “Tapi kalian itu sauda….”

“Saudara? Lalu kenapa? Tidak ada hukum yang melarang saudara tiri menikah, kan?” ujar Kyuhyun. Ia memaksa Hye-Na meninggalkan kerumunan itu.

Hye-Na berbisik. “Kali ini oppa membantuku sebagai kakak atau….”

“Sudah kubilang ini sekolah, aku bukan kakakmu disini.” Kyuhyun memandang Hye-Na lekat-lekat. “Ng… dan juga, mana ada adik yang diam-diam mencium bibir kakaknya? Kau itu sudah gila, ya?”

“HE? Kau tahu?”

Kyuhyun tersenyum licik. “Tentu saja aku tahu. Kau pikir waktu itu aku sudah mati? Aku kan hanya tidur.”

“Memalukan!” Hye-Na menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Kenapa? Menciumku itu bukan perbuatan yang memalukan,” cibir Kyuhyun. “Lalu soal tadi… aku memang menyukaimu.”

“Bohong!”

Kyuhyun berdecak. “Untuk apa aku repot-repot berbohong di depan mereka?”

“Lalu bagaimana dengan… orang tua kita?” Hye-Na menatap lelaki di depannya dengan cemas. Sebentar lagi kedua orang tua mereka pulang dan ia sama sekali belum siap bercerita soal hal menyimpang ini.

“Tentu saja kita bilang bersama, kecuali,” Kyuhyun melepaskan tangan Hye-Na. “Kecuali kau tidak….”

“Aku suka oppa! Sangat!” seru Hye-Na cepat. “Sekalipun oppa bukan pangeran sempurna, dan sekalipun oppa adalah pangeran kegelapan, aku tetap suka. Aku suka Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun tersenyum, hanya sesaat. “Pangeran kegelapan katamu?”

-FIN-

Credit: http://sheverlasting.wordpress.com/

Ehm, ff ini bikinan dongsaeng aq sebagai tanda terima kasih aku udah ngebuatin dia ff yang JiHyuk Couple Scene: Like An Idiot waktu itu. Jiaaah… makasih ya, saeng! Aku suka banget ceritanya, walaupun lagi-lagi aku yang ngejar-ngejar si yeobo babo. Kekeke… Sering-sering aja saeng bikini ff buat aku! *Gubrak! Ditabok Shela*. Hehe… Jangan lupa komen, yow!