EUNHYUK’S POV

“Yak, yak, Lee Hyuk-Jae, mau kemana kau, hah?” teriak Leeteuk hyung saat aku baru melangkahkan kaki keluar dorm. Aish, dia ini, tidak senang sekali melihat aku bahagia. Masa mau menghirup udara segar sebentar saja susahnya minta ampun?

“Eh, hyung? Sedang apa hyung disini? Apartemenmu kan di atas.”

“Memangnya ada larangan aku datang kesini? Sudah, jangan mengalihkan pembicaraan! Mau kemana kau siang-siang begini? Nanti malam kan kita ada jadwal. Kau mau melarikan diri, ya?”

“Yak, hyung, bisakah kau berhenti berpikiran negatif tentangku? Aku hanya mau keluar sebentar cari udara segar. Bosan di dorm terus menerus. Aku kan juga butuh penyegaran. Masa tiap hari yang kulihat hanya wajah kalian saja!”

“Apa katamu? Kau bosan melihat wajahku? Hyuk~a, kau tidak suka lagi melihat wajahku? Kau sudah tidak menyayangiku lagi?” Tiba-tiba saja entah darimana datangnya Donghae sudah berdiri di belakangku. Matanya tampak berkaca-kaca. Aish, jinjja, anak satu ini sensitif sekali. Dasar ikan Mokpo!

“Lee Donghae, kau ini cengeng sekali! Bukan begitu maksudku! Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, menyegarkan pikiran. Siapa tahu nanti aku bisa bertemu gadis cantik. Aku ini kan bukan homo yang sudah puas kalau melihat wajah kalian saja!”

“Gadis cantik? Aku ikut, ya? Kau harus mengajakku! Jebal!”

“Mwoya? Shireo! Aku ingin pergi sendiri!”

“Hyuk-Jae~a, kau benar-benar tidak menyayangiku lagi?”

Aku menatap Teukie hyung memohon bantuan. Aigoo, dia ini memang dekat denganku, tapi bukan berarti pasangan ikan harus selalu bersama kemana-mana, kan?

“Donghae~ya, kau di dorm saja! Bagaimana kalau aku menemanimu latihan akting? Kau bilang aktingmu masih jelek, kan? Kau mau dimarahi sutradara lagi?” bujuk Teukie hyung.

“Aish, benar. Ya sudah, lebih baik aku latihan denganmu saja hyung daripada pergi dengan orang yang tidak mengharapkan kehadiranku!”

“Ya ya ya, maksudku bukan seperti itu!” ujarku merasa tidak enak.

“Hahahaha… akhirnya pasangan EunHae tamat! Sungmin hyung, saatnya kita tunjukkan kekuatan kita!” seru Kyuhyun yang akhirnya mengalihkan tatapannya dari laptopnya dan ber-high five dengan Sungmin hyung. Dasar magnae kurang ajar! Awas saja dia nanti!

Aku memberi senyuman terima kasih pada Teukie hyung dan bergegas pergi sebelum ada lagi yang menghentikanku. Urusan Donghae biar kuurus nanti saja, yang penting aku ingin sekali menghirup udara segar! Hoah, sudah lama sekali aku tidak punya waktu luang. Terlalu banyak kegiatan, sampai aku tidak sempat mengurusi diriku sendiri.

Aku menghentikan mobilku di depan sebuah taman yang cukup sepi. Sebelum turun aku memastikan kacamata hitam dan topi yang aku kenakan berhasil menyamarkan wajahku dengan baik, aku sedang tidak mau dikejar-kejar fans saat ini.

Aku duduk di atas kursi besi di bawah sebuah pohon rindang yang menghadap ke jalan. Angin musim semi berhembus pelan, membuatku merasa nyaman. Aku mengeluarkan MP3 dan mnemasang headset di telingaku. Ah, indahnya hari ini!

Aku memperhatikan sekelilingku, orang-orang yang berlalu-lalang dengan bebas dan melakukan apa yang mereka inginkan, hal yang sekarang tidak lagi aku miliki. Ah, tapi jangan berpikir aku menyesal dengan kehidupanku yang sekarang. Tidak sama sekali. Aku malah bersyukur memiliki keluarga baru yang amat sangat menakjubkan, Super Junior dan ELF-ku. Hanya saja aku terlalu lelah, kegiatan yang banyak begitu menghimpitku, tapi itu semua akan sirna setelah aku menghirup udara segar sendirian seperti saat ini. Aku hanya butuh energi baru. Itu saja.

Mataku berhenti di toko bunga yang berada di seberang taman ini. Tepat berhadapan denganku. Semua dindingnya kaca, jadi aku bisa melihat dengan leluasa ke dalamnya. Pot-pot bunga, rangkaian-rangkaian bunga yang disusun indah untuk menarik perhatian pelanggan. Toko yang indah. Aku suka penataan dan desainnya. Pemiliknya pasti sangat mementingkan kenyamanan pelanggan.

Ah, kapan terakhir kali aku membeli bunga? Seingatku sudah bertahun-tahun yang lalu. Itupun untuk ibuku. Aku ingat nuna-ku yang iri karena aku tidak membelikan bunga juga untuknya. Aku sudah berjanji, tapi aku selalu saja lupa. Otakku hanya bisa mengingat lirik rap dan dance-ku saja. Payah.

Mengingat itu semua pikiranku langsung melantur kemana-mana. Kapan ya aku bisa membelikan bunga untuk gadisku? Benar. Gadisku. Walaupun semua orang bilang aku ini adalah Cassanova-nya SuJu karena aku suka mendekati member-member girlband, tapi sebenarnya aku ini pemalu. Aku mendekati mereka karena aku tidak tertarik pada mereka, jadi aku tidak perlu merasa gugup. Tapi saat berada di hadapan gadis yang aku sukai, aku akan bersikap kaku dan kehilangan kata-kata. Tidak tahu kenapa. Jangankan menyentuh, berbicara dengan gadis itu saja mungkin aku tidak akan sanggup. Haha… Lee Hyuk-Jae payah!

Pacar terakhirku… hah… sebenarnya aku merasa tidak pernah benar-benar jatuh cinta. Gadis terakhir yang menjadi pacarku, itupun sebelum aku debut, memang cantik dan sangat menarik. Tapi ya hanya begitu. Aku tidak pernah merasa terlalu gugup di dekatnya, karena itu aku curiga kalau aku memintanya jadi pacarku hanya karena dia itu cantik dan aku sedang ingin pacaran. Itu saja. Astaga, aku bahkan baru menyadarinya sekarang.

Seorang gadis merangsek masuk ke dalam tatapan mataku. Gadis toko bunga itu. Dia duduk menghadap taman, sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas. Dia sibuk merangkai bunga mawar yang akan dijadikan buket bunga. Tangannya tampak begitu cekatan dan sesekali senyum melintas di wajahnya. Jarak taman dengan tokonya dekat sekali, karena hanya dipisahkan jalan kecil yang hanya muat untuk dilewati satu mobil, makanya aku bisa melihat semua yang dilakukannya dengan jelas.

Gadis yang cantik, pikirku. Selama ini yang berkeliaran di sekitarku memang gadis-gadis cantik, tapi aku yakin wajah mereka sudah disentuh pisau bedah, jadi kecantikan mereka itu tidak alami. Tapi gadis ini… wajahnya akan membuat siapapun betah menatapnya berlama-lama. Senyumnya cerah, membuat orang yang melihatnya juga ikut tersenyum.

Apa dia begitu menyukai pekerjaannya sampai-sampai saat merangkai bunga pun dia tersenyum senang?

Entah kenapa aku jadi begitu betah mengikuti setiap gerakan yang dibuatnya. Berkali-kali dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Rambutnya panjang, ikal, dan membingkai wajahnya dengan sempurna. Mataku mengikutinya saat dia berdiri, melangkah dengan anggun, dan menghilang di balik rak, kemudian muncul lagi dengan beberapa tangkai bunga lili di pelukannya.

Aku suka cara berpakaiannya. Tank-top putih, cardigan hijau, dan rok bermotif bunga. Tipe gadis yang akan menarik perhatianku.

Aigoo, apa yang sedang aku pikirkan? Ah, mungkin ini karena aku sudah terlalu lama tidak melihat gadis cantik, makanya aku jadi melantur dan berpikir yang tidak-tidak. Benar! Pasti begitu!

Gadis itu berdiri lagi dan melangkah keluar dari toko sambil membawa buket bunga lili yang baru selesai dirangkainya. OMO, dia melangkah kesini. Astaga, apa dia menyadari bahwa aku memperhatikannya dari tadi dan berniat mendampratku?

Aku merasakan jantungku berdetak cepat saat dia semakin mendekat. Dilihat dari dekat seperti ini dia malah tambah cantik, poin plus baginya. Tapi ternyata dia melewatiku begitu saja dan sekilas aku menghirup wangi parfum yang dipakainya. Lili. Wangi lili.

Aku berbalik, penasaran dia mau kemana. Ternyata dia berhenti di depan seorang nenek-nenek yang duduk di kursi di belakangku. Baguslah, aku jadi bisa mendengar percakapan mereka.

“Halmeoni, annyeonghaseyo, bagaimana kabarmu hari ini?”

“Ah, Ji-Yoo~a, annyeonghaseyo. Aigoo, kau membawakan bunga lili lagi untukku? Aish, kau bisa rugi kalau melakukannya setiap hari!”

Ji-Yoo… namanya Ji-Yoo?

“Ah, sama sekali tidak. Aku senang melakukannya. Aku tidak rugi karena setiap halmeoni menerima bunga dariku, halmeoni pasti tersenyum senang. Itu saja sudah cukup.”

“Kau ini, bisa saja!”

“Halmeoni, apa hari ini halmeoni sehat?”

“Ne, aku sehat sekali. Dokter bilang keadaanku sudah mulai membaik sekarang setelah dia mengizinkanku berjalan-jalan keluar dari rumah sakit. Rumah sakit itu memang membosankan, kau tahu?”

“Hahahaha… iya, aku tahu! Jadi, apa halmeoni besok akan kesini lagi? Halmeoni mau aku membawakan bunga apa?”

“Mawar putih. Tapi aku tidak mau tahu, besok aku akan membayar buket bungamu!”

“Ah, ne, terserah halmeoni saja. Aku kembali ke toko dulu, ya! Annyeonghi gaseyo!”

Dia melintas di sampingku lagi. Kali ini aku menatapnya dengan cara berbeda. Gadis macam apa yang mau memberikan bunga setiap hari secara cuma-cuma kepada orang yang tidak dikenalnya? Apalagi dia itu florist, itu kan sumber penghasilannya. Gadis ini… Ji-Yoo… benar… namanya Ji-Yoo… gadis pertama yang benar-benar aku inginkan seumur hidupku….

 

***

 

“Donghae~ya, apa kau masih marah padaku?”

Sesampainya di dorm aku langsung naik ke lantai 12, menemui pasangan ikanku itu. Dia sedang duduk menonton TV dan sama sekali tidak mengacuhkan kedatanganku.

“Ya, Donghae~ya, jebal, maafkan aku!”

Dia diam saja, tidak menjawab pertanyaanku.

“Yah, padahal aku kesini ingin menceritakan sesuatu padamu. Ya sudahlah kalau kau tidak mau memaafkanku!” ucapku dengan suara sedih kemudian beranjak pergi.

“Aish, aku tidak marah padamu! Cepat cerita ada apa! Jangan membuatku penasaran!” serunya. Hahaha… aku berhasil!

Aku duduk kembali di sampingnya dan sesaat kemudian mengalirlah cerita tentang gadis bernama Ji-Yoo itu dari mulutku.

“Kau jatuh cinta pada pandangan pertama? Pada gadis yang tidak kau kenal? Aigoo, Hyuk~a, kau sudah gila!” komentarnya.

“Memangnya aku bisa mengontrol perasaanku! Yang benar saja!”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Menemuinya dan mengungkapkan perasaanmu padanya? Bisa-bisa dia mengusir dan memaki-makimu!”

“Yah, aku juga belum berpikir sampai kesana.”

“Tentu saja! Otakmu itu kan tidak sepintar aku!” ejeknya, yang membuatku dengan refleks memukul kepalanya.

“Yak, Lee Hyuk-Jae! Kurang ajar kau!”

Tapi belum sempat dia balas dendam, sudah ada tangan lain yang memukul kepalaku duluan. PLETAK!

Aku berbalik dan mendapati Kyuhyun yang cengegesan menatapku.

“Aku membantu Donghae hyung membalaskan dendam. Aku baik, kan?” ucapnya dengan tampang polos tak bersalah. Percuma, aku tidak akan tertipu dengan tampangnya itu! Setan satu ini benar-benar harus diberi pelajaran!

Aku mengangkat tanganku untuk menghajarnya, tapi dia dengan cepat berlari dan bersembunyi di balik punggung Donghae yang jelas-jelas jauh lebih pendek darinya.

“Ya, Hyuk~a, sudahlah! Kau seperti tidak tahu dia saja!” lerai Donghae.

Aku menatap magnae tak berperasaan itu dengan sadis.

“Awas kau!”

“Hehehehe….” Dia dengan sok manis mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk tanda damai.

“Kyuhyun~a, mau apa kau kesini?”

“Mencari Lee Hyuk-Jae, dia disuruh Teukie hyung turun ke bawah. Anjingnya membuat keributan dengan Heebum.”

Kali ini aku tidak tahan lagi dan menggeplak kepalanya.

“PANGGIL AKU HYUNG!”

 

***

 

 

“Ya, Lee Hyuk-Jae, kenapa kau? Dari tadi tersenyum-senyum sendiri. Membuatku ngeri saja!” seru Teukie hyung saat kami sedang dalam perjalanan pulang setelah rekaman Sukira.

Aku menatapnya kaget. Memangnya dari tadi aku tersenyum-senyum sendiri? Aigoo, memalukan saja!

“Ah, gwaenchana, hyung!”

“Kau sedang jatuh cinta, ya?” tebaknya, menatapku dengan curiga, membuat wajahku langsung memerah karena malu.

“Jelas sekali, ya?”

“Jadi benar? Siapa?”

Aku menimbang-nimbang sesaat dan akhirnya bercerita padanya.

“Gadis biasa? Hmmh… jadi kau mau bagaimana? ELF agak sedikit susah sepertinya.”

“Yak, hyung, aku bahkan belum kenalan dengannya! Kau berpikir terlalu jauh!”

“Masa kau tidak mau melakukan apa-apa? Kau mau diam saja, begitu? Payah kau!”

Melakukan sesuatu? Memangnya aku harus melakukan apa?

 

***

 

JI-YOO’S POV

“MWO? SHIREO!” tolakku mentah-mentah.

“Ayolah, hanya 3 hari. Setelah aku kembali dari Jeju kau bisa bebas lagi. Ya? Kau bisa bertemu Leeteuk, loh!”

Aku menatap Lee Seung-Hwan, sepupuku yang selama ini sangat dekat denganku, menimbang-nimbang permintaannya. Mendengar nama Leeteuk oppa sedikit banyak mempengaruhi. Ah, kalian semua tahu Lee Seung-Hwan, kan? Manajer SuJu yang kata orang tampan sehingga dia juga punya banyak penggemar. Apanya yang tampan? Puih!

Dia memintaku menggantikannya jadi manajer sementara selama dia pergi ke Jeju untuk mengunjungi ibunya yang sakit. Bukannya aku tega, tapi tolonglah, kenapa harus aku yang menggantikannya?

“Bukannya masih ada manajer lain?”

“Iya, tapi satu manajer juga merangkap boyband dan girlband lain, jadi mereka juga sibuk. Hanya tiga hari, jadi untuk apa mencari manajer baru. Pekerjaannya mudah. Paling hanya mengatur jadwal mereka dan menyiapkan keperluan mereka. Manajer lain akan membantumu. Kau satu-satunya yang aku kenal di kota ini, Ji-Yoo~a. Aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Aku berjanji akan mencari penggantiku untuk 3 hari ini dan mereka setuju. SuJu sangat sibuk saat ini, jadi akan kacau kalau satu manajer hilang. Kau mau, ya?”

Aish, melihat tampang memelasnya itu aku jadi tidak tega. Karena itu akhirnya aku mengangguk, menyanggupi permintaannya. Lagipula, aku akan bertemu Leeteuk oppa! Hihihi….

Sebenarnya aku ini ELF, tapi aku hanya suka pada Leeteuk oppa saja. Dia adalah leader yang mengagumkan menurutku. Berhasil mengurus boyband yang jumlahnya seabrek itu bukanlah hal yang mudah. Dia benar-benar luar biasa. Hah, dan akhirnya, karena sepupuku yang tersayang ini, aku bisa bertemu dengannya secara langsung! Hehehe….

 

***

 

EUNHYUK’S POV

Hari ini aku datang ke taman itu lagi. Keinginan untuk melihatnya lagi begitu kuat. Jadi aku menyerah saja.

Aku duduk lagi di tempat yang sama, melakukan hal yang sama. Mengamati gerak-geriknya. Dia sedang merangkai bunga seperti kemarin. Kali ini bunga mawar putih. Pasti untuk nenek itu lagi.

Tiba-tiba bunga itu terlepas dari genggamannya dan dia buru-buru memasukkan jari telunjuknya ke mulut. Astaga, kenapa dia? Terkena duri mawar?

Refleks aku berdiri, ingin melakukan sesuatu untuknya. Tapi sesaat kemudian aku terduduk lagi. Memangnya apa yang bisa aku lakukan?

Aku menghela nafas berat. Aish, Lee Hyuk-Jae, kau memang payah!

Dia keluar dari toko sambil menyeret pot besar berisi bertangkai-tangkai bunga lili. Sepertinya dia sangat menyukai bunga itu. Dia naik ke atas kursi, mengambil setangkai bunga, dan mulai merangkainya di atas plafon. Sepertinya dia berencana menggantung bunga-bunga lili itu di langit-langit pintu masuk toko.

Aku melihatnya kesusahan menyingkirkan rambutnya yang menghalangi pandangan. Dia berdiri di atas kursi dan harus menunduk untuk mengambil bunga, sehingga rambutnya yang tergerai berkali-kali jatuh menutupi wajahnya.

Kali ini, aku tidak bisa mencegah kakiku lagi.

 

***

 

JI-YOO’S POV

Aish, rambut ini menggangguku saja!

Aku memang tidak suka mengikat rambutku, karena keseringan mengikat rambut bisa membuat rambut cepat patah dan rontok. Tapi kali ini aku sedikit menyesal tidak membawa ikat rambut, rambut ini mengganggu pekerjaanku.

Untuk keseratus kalinya, mungkin, aku menyingkirkan rambutku ke balik telinga. Tapi tetap saja jatuh lagi.

Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik rambutku ke belakang dan mengikat rambutku. Aku berbalik kaget dan buru-buru turun dari atas kursi.

“Hei, jangan marah dulu. Aku melihatmu kesusahan karena itu aku meminjamkan sapu tanganku untuk mengikat rambutmu.”

Aku menatapnya curiga. Dia memakai topi, kacamata hitam, dan masker, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Gerak-geriknya seperti penjahat.

Dia tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi entah kenapa akhirnya dia hanya membungkuk dan pergi begitu saja. Namja aneh!

 

***

 

EUNHYUK’S POV

Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan karena tiba-tiba saja aku sudah berdiri di belakangnya. Mau tidak mau aku menguatkan diri. Aku mengeluarkan sapu tangan dari sakuku, menarik rambutnya ke belakang dengan hati-hati dan mengikatnya dengan sapu tangan itu.

Dia berbalik kaget dan turun dari atas kursi.

“Hei, jangan marah dulu. Aku melihatmu kesusahan karena itu aku meminjamkan sapu tanganku untuk mengikat rambutmu.”

Aku bisa melihat tatapan curiganya. Tentu saja. Penampilanku saat ini memang seperti penjahat. Topi, kacamata hitam, dan masker. Aku ingin mengatakan sesuatu untuk menenangkannya, tapi lidahku terasa kelu. Aku tidak bisa menemukan kata-kata apa tepatnya yang seharusnya aku katakan padanya. Berada berhadapan dengannya seperti ini membuatku terlalu gugup, sehingga akhirnya yang bisa aku lakukan hanya membungkuk dan pergi meninggalkannya begitu saja.

Aigoo, Lee Hyuk-Jae, kebodohanmu memang sudah akut!

 

***

 

“Manajer baru?” seruku sambil menatap Seung-Hwan hyung. Dia baru memberitahu kami bahwa dia akan cuti selama 3 hari menjenguk ibunya yang sakit dan sepupunya akan menggantikannya mengurus keperluan kami selama dia pergi.

“Ne. Dia bertangggung jawab kok, kalian tenang saja. Lagipula tugasnya kan hanya menyiapkan keperluan kalian. Aku yakin dia bisa.”

“Yeoja?” tanya Donghae ingin tahu. Dasar!

“Ne. seharusnya dia sudah sampai sekarang, sepertinya dia terlambat. Namanya….”

Perkataan Seung-Hwan hyung terputus karena pintu ruangan terbuka tiba-tiba. Aku duduk membelakangi pintu, sibuk mengutak-atik HP-ku sehingga tidak tahu siapa yang datang.

“Ah, mianhaeyo, cheongmal mianhaeyo! Aku terlambat!” seru seorang yeoja yang sepertinya berdiri tepat di belakangku karena aku bisa mendengar dengan jelas nafasnya yang ngos-ngosan. Seketika wangi lili memenuhi rongga hidungku. Wangi itu lagi!

“Ah, ini dia! Namanya Ji-Yoo. Choi Ji-Yoo.”

Dengan cepat aku berbalik dan terbelalak menatapnya. Dia… gadis itu… dia berdiri tepat di hadapanku. Menatapku dengan heran karena gerakanku yang tiba-tiba.

“Dia, ya?” bisik Donghae di telingaku.

Aku mengangguk. Mendadak kehabisan oksigen untuk bernafas dengan benar.

 

***

 

JI-YOO’S POV

Aish, aku terlambat! Aku sudah janji akan datang tepat waktu kepada Seung-Hwan oppa, tapi jalanan macet karena ada kecelakaan sehingga jadwalku berantakan.

Aku berlari masuk ke gedung KBS, menyelinap di antara para kru yang berlalu-lalang. Aku mengenakan kartu tanda pengenal yang diberikan Seung-Hwan oppa kepadaku, sehingga aku tidak perlu takut diusir.

Ah, itu dia! Ruangan Super Junior. Leeteuk oppa, aku datang!

Aku membuka pintu dan berhenti dengan nafas terengah-engah.

“Ah, mianhaeyo, cheongmal mianhaeyo! Aku terlambat!” seruku. Aku memegangi dadaku agar bisa menarik nafas dengan benar.

“Ah, ini dia! Namanya Ji-Yoo. Choi Ji-Yoo,” ujar Seung-Hwan oppa memperkenalkanku.

Aku terkesiap kaget saat namja yang duduk membelakangiku membalikkan tubuhnya tiba-tiba, menatapku dengan pandangan tak percaya. Aku balas menatapnya heran. Eunhyuk. Namanya Eunhyuk, kan? Kenapa dia?

Aku melihat Donghae oppa membisikkan sesuatu di telinganya dan dia mengangguk.

Di Super Junior, dia adalah member yang tidak aku sukai. Sikapnya seperti Cassanova, suka menarik perhatian para gadis, menganggap dance-nya yang paling keren, dan yang paling membuatku tidak menyukainya adalah dia suka nonton yadong. Ih, dia bukan namja baik-baik! Dia juga cengeng sekali, sama dengan pasangan ikannya itu, si Donghae. Leeteuk oppa memang suka menangis juga, tapi dia menangis karena terharu akan sikap para ELF, sedangkan dia menangis untuk hal-hal sepele. Memalukan!

“Ji-Yoo~a, kenalkan dirimu,” ujar Seung-Hwan oppa.

Aku menganggu dan membungkuk singkat.

“Annyeonghaseyo, Choi Ji-Yoo imnida. Selama 3 hari ini aku akan menjadi manajer sementara kalian. Mohon bantuannya!”

Aku menatap Leeteuk oppa lekat-lekat. Aigoo, dia benar-benar tampan! Dan dia sekarang sedang tersenyum ke arahku. Aish, rasanya mau pingsan saja! Tapi apa yang dikatakannya setelah itu memang membuatku hampir mati di tempat.

“Ji-Yoo? Apa kau memiliki toko bunga di dekat taman?”

Aku menatapnya bingung tapi tetap mengangguk. Darimana dia tahu?

“Ah, jadi Choi Ji-Yoo ini yang membuat seorang Lee Hyuk-Jae jatuh cinta dan kelimpungan setengah mati?”

“MWO?!”

 

***

 

EUNHYUK’S POV

“Ah, jadi Choi Ji-Yoo ini yang membuat seorang Lee Hyuk-Jae jatuh cinta dan kelimpungan setengah mati?”

Aku menatap Teukie hyung dengan sadis. Apa-apaan dia? Mau membunuhku dengan mempermalukanku di depan Ji-Yoo?

“MWO?!” seru Ji-Yoo kaget. Dia beralih menatapku, menuntut penjelasn.

“HYUNG!” teriakku kesal.

“Aku hanya membantumu, Hyuk-Jae~a!” ucapnya tanpa rasa bersalah.

“Aku tidak mengenalmu, jadi bagaimana mungkin kau menyukaiku?” tukasnya dingin.

“Aku… aku namja yang kemarin mengikat rambutmu.”

Dia menatapku tak percaya, menggelengkan kepalanya.

“Kau tahu Lee Hyuk-Jae, kau member SuJu yang paling tidak aku sukai!” ujarnya, kemudian keluar dari ruangan sambil membanting pintu.

“Aku akan bicara padanya,” kata Seung-Hwan hyung dan bergegas mengejar Ji-Yoo.

Aku menundukkan kepalaku, membenamkannya ke dalam lutut. Bagus, gadis yang kusukai ternyata membenciku. Rasanya mau mengubur diri hidup-hidup saja.

“Hyuk~a, mianhaeyo, aku tidak tahu….”

“Sudahlah hyung,” potongku. “Lebih baik aku tahu sekarang.”

“Yah, mungkin sebaiknya kau cari gadis lain saja. Banyak gadis di luar sana yang mengantri untuk mendapatkanmu,” ujar Shindong hyung.

“Memangnya siapa yang bilang aku akan berhenti mengejarnya?”

 

***

 

Aku bersembunyi di balik tembok, melihat Ji-Yoo yang terduduk di lantai, berusaha ditenangkan oleh Seung-Hwan hyung.

“Oppa, kau tahu aku tidak menyukainya! Aku menyukai Leeteuk oppa! Dia merusak rencanaku untuk mendekati Leeteuk oppa! Gara-gara dia menyukaiku, sudah pasti Leeteuk oppa tidak akan menatapku sama sekali! Dia tidak akan mempertimbangkanku sebagai seorang gadis, oppa!”

“Ya, Ji-Yoo~ya, sudahlah. Kau juga tidak bisa menyalahkannya karena menyukaimu. Itu haknya. Sekarang kau harus bersikap profesional. Pergilah ke toilet dan bersihkan wajahmu, lalu temui mereka.”

Ji-Yoo mengangguk dan bangkit berdiri.

Aku menyandarkan tubuhku ke tembok dan memegangi kepalaku yang terasa sakit.

Gadis yang kusukai, gadis pertama yang kuinginkan seumur hidupku, malah menyukai hyung-ku sendiri?

 

***

JI-YOO’S POV

Aku membasuh mukaku dan menatap bayanganku di cermin, mendesah kesal. Lee Hyuk-Jae sialan itu! Aku tidak akan memaafkannya!

Aku membuka pintu toilet dan langkahku langsung terhenti. Namja itu sedang berdiri bersandar di dinding. Menatapku.

“Hai,” ucapnya dengan suara pelan.

“Mau apa kau?”

“Ji-Yoo~a, aku ini lebih tua darimu, sopanlah sedikit.”

Aku hanya diam, tak menanggapinya.

“Kau menyukai Teukie hyung?” Nada suaranya terdengar lelah. Putus asa.

“Kalau iya memangnya kau mau apa?”

“Karena aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu. Tidak mau menyerahkanmu pada siapapun. Kau memang tidak mengenalku. Belum. Kau membenciku, aku tahu. Tapi dari detik ini….” Dia menarik nafas berat. “Mulailah menatapku.”

Aku terlalu terpana mendengar ucapannya sampai-sampai tidak bisa bereaksi apa-apa saat dia melangkah mendekatiku dan menyentuh pipiku dengan tangannya.

“Choi Ji-Yoo, ya? Namamu memang bagus, tapi aku lebih suka kalau margamu menjadi Lee. Lee Ji-Yoo. Tidak terlalu buruk, kan?”

DEG! Aigoo, kenapa aku tiba-tiba menjadi gugup begini?

 

***

 

Entah setan apa yang merasukiku, aku jadi menuruti permintaannya. Untuk pertama kalinya, sepanjang sejarah aku menyukai SuJu, aku tidak menatap Leeteuk oppa saat konser. Aku memfokuskan pandanganku padanya. Astaga, kenapa aku ini?

Aku menepuk-nepuk pipiku, mencoba menjernihkan pikiran. Kenapa aku jadi berpikiran bahwa dance-nya di Bonamana keren sekali? Kenapa dia tampak begitu mempesona di atas panggung? Aigoo, Choi Ji-Yoo, kau sudah gila!

Aku menunggu mereka di ruang ganti. Menyiapkan air dan handuk. Tugas pertamaku sebagai manajer dimulai.

Aku melihatnya berlari ke arahku dengan senyum lebar.

“Bagaimana?”

“Apanya?” tanyaku acuh, berusaha kedengaran tak peduli.

“Penampilanku! Apa kau sudah bisa menatapku sekarang?”

Ya, ya, ya, kenapa detak jantungku jadi berantakan seperti ini? Berhentilah tersenyum dan menatapku seperti itu, Lee Hyuk-Jae! Belum satu hari godaan darinya sudah begitu besar! Sial, bisa-bisa besok aku malah sudah jatuh cinta padanya!

Aku mengangkat bahuku. “Mungkin.”

Dan tiba-tiba saja dia menarikku ke dalam pelukannya, membuatku benar-benar berhenti berpikir tentang hal lain selain rasa hangat yang menjalar dari pelukannya.

“Aish, kalian berdua! Tadi bertengkar, sekarang malah peluk-pelukkan! Ini tempat umum tahu! Bagaimana kalau ada ELF atau wartawan yang lihat?” teriak Heechul oppa.

“Hahaha… Hae hyung, lihat pasangan ikan terimu itu! Dia selingkuh! Dia akan meninggalkanmu! EunHae couple benar-benar tamat!” seru Kyuhyun oppa dengan kegembiraan tiada tara. Astaga, dia ternyata benar-benar evil magnae! Sesaat kemudian dia langsung mendapat jitakan dari Eunhyuk oppa.

“Jangan cari gara-gara kau!”

“Yak, hyung, sakit tahu!” protesnya.

Aku hanya tertawa geli melihat tingkah mereka. Aku bermaksud membereskan barang-barang saat Eunhyuk oppa lagi-lagi mengalungkan tangannya ke bahuku.

“Yak, kalian semua, mulai hari ini gadis bernama Choi Ji-Yoo ini milikku! Tidak boleh ada yang mengganggunya, terutama Teukie hyung! Berusahalah agar kau tidak membuatnya terpesona lagi, hyung! Aku sedang berusaha mengalihkan tatapannya darimu, jadi tolong bantu aku!”

Aku terperangah menatapnya. Barusan dia bilang apa?

Aku menjitak kepalanya. Sembarangan sekali namja ini kalau bicara!

“Kau mau membuatku jadi perawan tua? Aku bukan milikmu! Aku maunya menjadi milik Leeteuk oppa! Kalau kau melarang semua namja mendekatiku, aku mau menikah dengan siapa, hah?”

“Ya denganku, babo!” ujarnya sambil menyentil keningku. “Aku baru menawarkan lowongan untuk menjadi Nyonya Lee padamu saja!”

“Ya, Hyuk~a, dia itu maunya denganku!” kata Leeteuk oppa dengan tampang jahil, menarikku dari rangkulan Eunhyuk oppa.

Rasa bingung memenuhi otakku. Hei, bukankah seharusnya aku deg-degan dipeluk Leeteuk oppa? Bukankah seharusnya aku merasa hampir pingsan kehabisan nafas kalau dia memelukku seperti ini? Tapi kenapa rasanya malah… biasa-biasa saja?

“Hyung~a, jangan ganggu dia! Naui Ji-Yoo, ayo pergi!”

Dia menarikku kembali ke pelukannya dan membawaku menjauh. Nah, seharusnya seperti ini, kan? Seharusnya ini yang kurasakan saat Leeteuk oppa memelukku tadi. Jantung berdetak cepat, kehabisan nafas, aku bahkan merasa tidak bisa berjalan dengan benar karena lututku terasa bergetar, tidak bisa menopang tubuhku dengan baik. Kenapa aku malah merasakannya saat bersama namja yang kubenci ini?

Aku jadi mengkhawatirkan sesuatu… bagaimana kalau aku jatuh cinta padanya?

 

 

***

 

EUNHYUK’S POV

Aku memberanikan diri menyentuhnya, memeluknya, bukan karena aku sudah merasa tidak gugup lagi, tapi karena itu satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatiannya. Satu-satunya cara agar dia mau menatapku. Kalau aku hanya diam tanpa melakukan apa-apa, bagaimana mungkin dia bisa melupakan Teukie hyung dan mulai belajar menyukaiku?

“Hyung, kau sudah gila, ya? Tersenyum-senyum sendiri! Apa yang sudah dilakukan Ji-Yoo padamu?” komentar Kyuhyun. Aish, aku baru menyadari kalau satu dorm dengannya itu benar-benar menyebalkan! Kenapa Sungmin hyung bisa-bisanya dekat dengan anak setan ini? Mulutnya itu terus mengoceh seperti burung perkutut.

“Kau urus saja game-mu itu!”

“Tentu saja! Kau tidak lihat aku sedang apa?” saahutnya. Dia memang sedang asyik berkutat dengan laptopnya. Ambisi terbesarku saat ini selain mendapatkan Ji-Yoo adalah menghancurkan laptopnya itu! Lihat saja kalau dia berani macam-macam padaku!

 

***

 

JI-YOO’S POV

“Yak, Choi Ji-Yoo, ireona!”

Aku berguling tanpa ada niat membuka mataku. Aku masih ngantuk sekali. Malam tadi aku sulit tidur gara-gara tempat baru. Yah, selama tiga hari ke depan aku memang harus tidur di dorm SuJu. Dan aku ini sulit sekali menyesuaikan diri dengan suasana baru.

“Bangun! Kau harus mulai bekerja pagi ini! Kau lupa dengan tugasmu? Hei, bangun!” Orang itu mengguncang-guncang tubuhku tak sabar. Astaga, namja ini minta aku bunuh sepertinya! Suara siapa tadi? Pasti itu suara cempreng si Lee Hyuk-Jae!

“Aduh, kau bisa diam tidak? Aku baru tidur jam 2 pagi!”

“Yeoja macam apa yang bangun siang-siang? Ini sudah jam 9, babo!”

“Aduh, lalu kenapa kalau sudah jam 9, hah? Nanti aku bangun. 2 jam lagi!”

“Kalau kau tidak bangun, aku akan menciummu!”

Mendengar itu aku langsung meloncat bangun.

“Awas kau kalau macam-macam!” semprotku.

“Kenapa kau takut sekali aku cium?” ujarnya sambil tertawa geli.

“Aku belum pernah ciuman. Dan aku tidak sudi menyerahkan ciuman pertamaku padamu. Sekarang keluar kau, aku mau mandi!”

Bukannya menuruti ucapanku, dia malah berjalan mendekatiku. Mataku membelalak menatapnya, aku memundurkan tubhku, bersandar di kepala tempat tidur, menutupi tubuhku dengan selimut.

“Mau apa kau?”

“Belum pernah ciuman? Menarik juga!”

“KYA…. OPPA!!!! TOLONG AKU!!!!” teriakku refleks. Sesaat kemudian pintu kamarku menjeblak terbuka dan Leeteuk oppa menyerbu masuk diikuti member lain.

“Ya, Hyuk-Jae, kau apakan dia?”

“Tidak ada. Dia saja yang berlebihan!” ujar Eunhyuk oppa disertai cengiran lebar di wajahnya. Sial!

 

***

 

Aku menopang wajahku dengan satu tangan, menatap layar laptopku. Apa yang sedang kulakukan? Men-download semua video fancam Lee Hyuk-Jae? Aish, aku sudah tidak waras sepertinya. Bahkan dance-nya yang dulu tidak aku sukai jadi tampak begitu keren di mataku.

“Ckckck… Choi Ji-Yoo mulai menyukai Lee Hyuk-Jae sepertinya.”

Aku mendongak dan mendapati Cho Kyuhyun berdiri di belakangku, menatap layar laptopku. Aigoo, sejak kapan dia berdiri di situ?

“Oppa, jangan memberitahunya!! Jebal!”

“Boleh saja. Tapi belikan aku game edisi terbaru. Bagaimana?” ujarnya dengan tampang setan.

“Shireo! Uangku jauh lebih berharga!”

“Kau itu sama pelitnya dengan Eunhyuk. Ya sudah kalau tidak mau.”

Aku berpikir dia mendadak menjadi baik hati dan melepaskanku, tapi bukan Cho Kyuhyun namanya kalau dia memiliki hati seperti malaikat. Dia mengelurkan HP-nya dan menghubungi seseorang.

“Hyung~a, kau sedang dimana? Di SBS? Aku ada berita bagus untukmu! Ji-Yoomu….”

Secepat kilat aku merebut HP-nya dan memutuskan sambungan.

“Oppa, kau benar-benar setan!”

“Ah, kau baru tahu? Jadi bagaimana?”

“Ara, ara, aku akan membelikannya,” ujarku tak rela.

“Haha… kau memang baik! Gomaweo, Ji-Yoo~a!”

Gomaweo kepalamu, Kyuhyun!

 

***

 

“Hai, sudah 3 jam kita tidak bertemu!”

Aku buru-buru menutup video yang sedang aku tonton dan mematikan laptopku saat Eunhyuk oppa tiba-tiba sudah duduk di sampingku.

“Ya, wae? Kau sedang menonton apa? Kenapa kau mematikan laptopmu?” tanyanya heran.

“Dia sedang menonton….” Kyuhyun oppa belum sempat menyelesaikan ucapannya karena aku langsung melempar majalah yang berada di dekatku ke kepalanya.Hy Namja ini benar-benar minta dimusnahkan sepertinya! Padahal aku sudah mengeluarkan uangku yang amat sangat berharga untuk membelikannya kaset game terbaru yang harganya mencekik leher.

“Aish, Choi Ji-Yoo, sadis sekali kau!” protesnya.

“Ya ya ya, ada apa ini? Apa yang kalian rahasiakan dariku?” seru Eunhyuk oppa kebingungan.

“Tidak ada. Kalau kau masih menginginkanku, jangan tanya-tanya lagi!”

“Ne, arasseo.”

“Ah, lebih baik aku masuk ke kamar! Membuatku iri saja!” tukas Kyuhyun oppa sambil mengangkat laptopnya.

“Memang tidak ada yang menginginkanmu disini!”

Kyuhyun oppa mendecak kesal dan berlalu masuk ke kamarnya.

“Ji-Yoo~a, kenapa bukan kau yang menemani kami ke Sukira?” tanyanya setelah beberapa saat kami saling berdiam diri.

“Itu kan bukan tugasku!”

“Huh, menyebalkan! Aku merindukanmu!”

“Jangan norak!”

Aku bangkit berdiri tapi dia menarik tanganku sehingga aku terjatuh ke pangkuannya.

“Apa-apaan kau?” desisku.

“Menurutmu?”

Aku menatap matanya yang hanya berjarak kurang dari lima senti, hidung kami bahkan nyaris bersentuhan. Posisi ini membuat otakku berhenti bekerja. Kosong. Tidak bisa mengingat apa-apa.

Paru-paruku bekerja ekstra keras untuk memompa udara. Rasanya sulit sekali melakukan segala sesuatu dengan benar saat dia berada begitu dekat denganku seperti saat ini.

Tangannya menyentuh pipiku. Aigoo, apa yang akan dilakukannya?

“Aku belum mengatakannya. Ng… Choi Ji-Yoo… saranghae….”

Kali ini tatapan matanya terasa lebih tajam dari biasanya. Wajahnya tampak begitu serius, tidak seperti yang diperlihatkannya di depan kamera saat acara reality show. Ini jenis wajah yang hanya diperlihatkannya saat sedang menari di atas panggung. Jenis wajah yang membuat para ELF berteriak kesetanan.

Bernafas Ji-Yoo~a, bernafas!

Dia mendekatkan wajahnya perlahan, memberiku kesempatan untuk menolak, tapi yang kulakukan hanya diam saja. Tidak bergerak, tidak melakukan apapun untuk menghentikannya.

Sedetik kemudian bibirnya menyentuh bibirku, membuatku benar-benar kehilangan oksigen untuk bernafas. Bibirnya bergerak perlahan dan yang bisa aku pikirkan hanyalah cara agar aku tetap bisa hidup di saat yang bersamaan. Lee Hyuk-Jae dengan mudahnya merusak fungsi kerja otakku!

“Wooo… beraninya kalian berbuat mesum di dorm kami yang suci!”

Aku melepaskan diri dari pelukannya dan berbaalik, menatap para member yang berbaris memperhatikan kami, membuat wajahku memerah karena malu.

“Maaf mengganggu, tapi kami harus menjaga keselamatanmu Ji-Yoo~a, kau kan tahu Eunhyuk itu seperti apa. Kalau kami biarkan, bisa terjadi yang tidak-tidak,” jelas Leeteuk oppa, bersikap sok bijaksana.

“Yak, hyung, kau pikir aku namja seperti apa?” protes Eunhyuk oppa.

“Namja yang membuat Kyuhyun menelepon kami dengan panik, mengatakan bahwa kau mau menodai Ji-Yoo,” tukas Heechul oppa.

“MWO? Bocah itu! CHO KYUHYUN!!!! KELUAR KAU!!!!”

“AKU SUDAH TIDUR, HYUNG!” balasnya dari dalam kamar.

GUBRAK!

 

***

 

Bebas, bebas, besok aku bebas! Swiiiiiing… Seung-Hwan oppa pulang lebih cepat dari perkiraan. Senangnya! Aku lama-lama bisa stress bergaul dengan orang-orang tidak waras seperti mereka!

Aku membuka pintu kamarku. Menyambut pagi yang begitu indah ini. Baru saja aku melangkahkan kaki keluar kamar, seseorang sudah memeluk tubuhku erat-erat.

“KYA… apa-apaan ini?!” teriakku kaget.

“Ji-Yoo~a, besok kau akan meninggalkan kami! Kami merasa sedih sekali!” ujar Leeteuk oppa sambil melepaskan pelukannya.

“Ini hadiah dari kami untukmu, karena selama dua hari ini kau sudah mengurus kami dengan cukup baik.” Leeteuk oppa menyerahkan bungkusan kepadaku, diikuti hadiah dari member lain. Tapi… Eunhyuk oppa dimana?

“Eunhyuk pagi ini menghilang entah kemana, mungkin nanti dia akan menemuimu,” jelas Donghae oppa, seolah mengerti isi pikiranku.

“Ah, gomaweoyo.”

“Ne, kau pantas mendapatkannya!”

Aku membuka hadiah dari mereka satu persatu. Leeteuk oppa memberiku jam tangan cantik. Heechul oppa memberiku seperangkat alat make-up. Aigoo! Hadiah dari Yesung oppa adalah gantungan kunci berbentuk kura-kura. Shindong oppa, sesuai dengan hobinya, memberiku miniatur berbagai jenis makanan, sedangkan aku mendapatkan gaun berwarna pink dari Sungmin oppa. Donghae oppa memberiku baju kaus bergambarkan wajahnya. Astaga, namja satu ini narsis sekali! Siwon oppa, yang menitipkan hadiahnya karena dia tidak menginap di dorm, memberiku voucher gratis berbelanja di mall miliknya, sedangkan Wookie oppa dengan teganya memberiku buku resep masakan. Dia tahu saja kemampuanku yang payah dalam hal masak-memasak.

Aku membuka hadiah dari Kyuhyun oppa takut-takut. Apa kira-kira yang akan diberikannya padaku?

Aku merobek kertas pembungkusnya dan… OMO, dia memberiku poster-poster, klipingan, dan beberapa DVD yang di sampulnya bertuliskan “Hyuk-Jae focus”.

“Aku baik, kan? Aku meminta ELF memberikannya padaku,” ujarnya bangga.

“Gomaweoyo, oppa!” seruku senang.

 

***

 

Aku sedang memasukkan barang-barangku ke dalam tas untuk dibawa pulang besok saat Eunhyuk oppa masuk ke kamarku. Dia duduk di atas tempat tidur dan menyodorkan hadiahnya padaku.

“Kalau aku memberikan hadiah ini bersama dengan member lain, pasti kau akan membuka hadiahku paling terakhir, kan? Karena kau membenciku. Makanya aku memutuskan memberikannya secara terpisah.”

Siapa yang membencimu, Hyuk-Jae babo?

“Ah, jangan pikir karena tugasmu sudah selesai kau bisa lepas dariku. Jangan mimpi! Kau selamanya tetap milik Lee Hyuk-Jae!”

“Memangnya aku barang?!”

“Bukan. Kau gadisku.”

 

***

 

Aku baru membuka hadiah pemberiannya setelah dia pergi. Seuntai gelang dengan enam buah liontin yang bergelantungan di sepanjang rantainya. JIHYUK. Gabungan nama kami. Aigoo, ini indah sekali!!! Hadiah terindah yang pernah aku terima seumur hidupku.

Aku keluar dari kamar dengan senyum lebar. Lee Hyuk-Jae itu… apa dia sebegitu hebatnya sampai bisa membuatku menjadi tidak waras seperti ini?

Dengan perasaan senang aku mulai membereskan dorm. Tidak apa-apalah, ini kan hari terakhirku. Mereka semua sedang tidak ada pekerjaan hari ini. Hanya Leeteuk dan Eunhyuk oppa yang harus rekaman Sukira nanti malam.

“Yak, apa itu? JiHyuk? JiHyuk? Siapa yang memberikannya padamu? Hyuk-Jae?” seru Donghae oppa sambil menarik tanganku mendekat ke wajahnya, memperhatikan gelang yang melingkari pergelangan tanganku.

“Oppa sedang apa disini? Kau lapar? Wookie oppa tadi masak nasi goreng. Cari saja di dapur,” ujarku. Member yang tinggal di lantai 12 memang sering turun ke bawah kalau mereka lapar.

“Gelang ini pemberian Hyuk-Jae?” tanyanya lagi, mengabaikanku.

“Ne. Waeyo?” tanyaku bingung.

“Mana anak itu?” tanyanya dengan raut wajah kesal. Aigoo, kenapa lagi dia?

“Lee Hyuk-Jae!!! Dimana kau?”  teriaknya keras.

Eunhyuk oppa muncul dari kamarnya sambil mengucek-ucek matanya. OMO, dia imut sekali!

“Ya, Hae~a, waeyo? Aku sedang tidur. Kau ini meribut saja!” gerutunya. Sungmin, Wookie, dan Yesung oppa juga keluar dari kamar masing-masing. Kalau si magnae setan tidak usah ditanya. Mana rela dia meninggalkan gamenya. Tidak peduli ada gempa sekalipun sepertinya dia akan tetap bertahan di kamar.

“Hyuk~a, aku memang memberi restu kau pacaran dengan Ji-Yoo, tapi bukan begini caranya. Kita sudah kenal berapa lama? 8? 9 tahun? Kau tidak pernah mau mengeluarkan uang sepeser pun untukku, tapi kau membelikan barang yang sangat mahal untuk Ji-Yoomu. Apa selama ini kau tidak pernah menganggapku sebagai sahabatmu? Menurutmu apa arti kebersamaan kita selama ini?”

Aku melongo menatap namja yang berdiri di sampingku ini. Astaga, dia ini normal tidak, sih? Aku baru tahu Lee Donghae itu seperti ini! Benar-benar sensitif.

“Yak, Lee Donghae, tentu saja berbeda. Aku tidak akan pelit kepada gadis yang aku cintai. Kalau kau lain masalahnya. Uangmu kan juga banyak. Kau mau apa ya beli saja sendiri! Itu bukan urusanku!”

“Tapi aku kan juga mau hadiah darimu Hyuk~a!” ujarnya dengan wajah memelas.

“Selama ini aku selalu bersamamu, menemanimu kemana-mana. Memperkenalkan kita sebagai EunHae couple yang tidak terpisahkan. Apa kehadiranku tidak cukup jadi hadiah untukmu?”

Aku melihat member-member lain memegangi perut mereka, bersikap seakan ingin muntah. Aku juga. Pasangan ini menjijikkan sekali!

 

***

 

Aku jadi heran sendiri. Selama 2 hari ini aku tidak melakukan apa-apa sebenarnya. Hanya pada hari pertama saja saat mengurus konser mereka, setelah itu para member memiliki kegiatan sendiri-sendiri dan sudah ada manajer yang mengurus mereka. Sedangkan aku hanya bersantai-santai saja di dorm, menikmati hari dikelilingi para namja yang tampan yang sayang sekali kelakuannya seperti orang sakit jiwa. Lihat saja Yesung oppa yang menggendong kura-kuranya kemana-mana, berbicara dengan Ddangkoma-nya seolah binatang itu bisa mengerti apa yang dikatakannya. Sungmin oppa yang tidur dengan daster pink. Wookie oppa yang senang sekali bereksperimen dengan masakannya dan Cho Kyuhyun tidak waras yang menghabiskan setiap detik waktu luangnya untuk bermain game. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dorm atas, tapi pasti sama parahnya.

“Ji-Yoo~a!”

Aku berbalik dan mendapati Eunhyuk oppa berdiri di belakang kursi yang sedang aku duduki.

“Mwo?”

“Nanti dengarkan siaran radio kami. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

“Kenapa tidak kau katakan sekarang saja?”

“Tidak seru. Pokoknya nanti kau harus mendengarkannya. Dengarkan suaraku, bukan suara Leeteuk hyung. Arasseo?”

“Aish, ne, ne, ara.”

“Kalau begitu aku berangkat dulu.” Dan tiba-tiba saja dia sudah merangkul bahuku dari belakang, mencium pipiku cepat.

“Saranghae,” bisiknya tepat di telingaku.

Aigoo, dia mau membuatku terkena serangan jantung?

 

***

 

“Hyuk-Jae~a, kau bilang ada yang mau kau sampaikan. Ayo cepat!”

Aku mendengar suara Leeteuk oppa yang penuh semangat. Aku mendengarkan siaran radio mereka dari laptopku. Aku ini terlalu menurut terhadap perkataan Lee Hyuk-Jae! Hah, ngomong-ngomong apa yang akan dikatakan namja babo itu? Awas saja kalau dia membuatku malu!

“Ne. aku ingin mengatakan sesuatu. Ng… pertama-tama, aku mau minta maaf dulu pada para ELF. Mungkin apa yang akan kukatakan akan membuat kalian marah. Ah, tapi aku sangat berharap kalian bisa mengerti.”

“ELF, Lee Hyuk-Jae ini sedang jatuh cinta. Pada gadis biasa. Gadis yang menjual bunga di seberang taman dan dengan sukses membuatnya kelimpungan. Cerita cinta mereka seperti dongeng. Aku sebagai leader berharap kalian bisa mengerti. Kami semua juga punya kehidupan pribadi. Kami memang milik kalian semua tapi kami juga memiliki keinginan sebagai manusia biasa. Karena itu Hyukkie mau meminta restu dari kalian semua terlebih dahulu,” ujar Leeteuk oppa.

Astaga, dia mau membuat pernyataan cinta secara terbuka?

“Namanya Ji-Yoo. Choi Ji-Yoo. Sulit sekali mendekatinya karena dia membenciku. Dia bilang akulah member SuJu yang paling dibencinya. Ah, tapi aku harap pesonaku dapat membuatnya jatuh cinta. Hahaha….”

“Ng… hari ini hari terakhirnya menjadi manajer sementara kami. Karena itu aku ingin mengucapkan terima kasih padanya. Pada gadis yang selamanya hanya akan menjadi milik Lee Hyuk-Jae!”

“Ji-Yoo~a… terima kasih telah terlahir ke atas dunia ini…. Terima kasih telah membuat aku mencintaimu seperti seorang idiot…. Terima kasih… telah menjadi kau… Choi Ji-Yoo… satu-satunya gadis yang aku inginkan seumur hidupku…. Choi Ji-Yoo~a, saranghae….”

 

***

 

EUNHYUK’S POV

Aku membaca reaksi pendengar yang dikirim lewat email. Ah, sepertinya tidak terlalu buruk. Memang ada beberapa yang tidak setuju, tapi lebih banyak lagi yang memberi restu. Sepertinya mereka senang aku berhubungan dengan gadis biasa yang bukan berasal dari kalangan artis.

“Nah, ELF memang baik, kan?” ujar Leeteuk hyung.

Aku mengangguk dan tersenyum senang. Aku menoleh ke arah jendela kaca, dimana para ELF berkumpul di luar seperti biasa, menonton acara radio kami secara langsung. Aku membungkuk dan berniat melambaikan tangan, tapi gerakanku terhenti saat melihat gadis yang berdiri di barisan paling depan. Dia tersenyum menatapku, mengedipkan matanya.

Ah, apa dia dengar? Apa dia tadi mendengar pernyataan cintaku?

Aku berdiri dan melangkah ke arah jendela kaca itu. Para ELF langsung bersorak histeris. Tapi pandanganku hanya terfokus padanya saja.

Aku menunjuknya dengan jari telunjukku dan memberi kode agar dia mendekat. Dia masih tersenyum dan menuruti permintaanku. Sekarang kami sudah berdiri berhadap-hadapan, hanya dipisahkan selapis kaca.

Itu senyum pertamanya yang benar-benar untukku. Aku bisa melihat gelang pemberianku melingkar di tangannya. Ah, jadi apakah dia sudah berubah pikiran dan memutuskan menyukaiku?

Aku mengangkat tanganku ke atas kepala, membentuk simbol hati. Para ELF diluar berteriak semakin keras, aku bahkan bisa mendengarnya dari dalam. Beberapa orang dari mereka menunjuk Ji-Yoo, mungkin bertanya-tanya apakah dia gadis yang aku bicarakan tadi.

Ji-Yoo membuka mulutnya, mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku dengar, tapi aku bisa membaca dengan jelas gerakan bibirnya. Kalimat yang membuat aku kehilangan tenaga untuk berdiri dengan benar, karena seluruh persendianku terasa lemas.

“Nado saranghae, oppa….”

 

***

 

Aish, gadis menyebalkan itu! Setelah acara rekaman selesai, dia malah menghilang entah kemana. Dasar tidak bertanggung jawab! Seharusnya kan dia menemuiku! Mana saat aku mencarinya di dorm dia sudah tidur dan pintu kamarnya dikunci. Percuma aku berteriak-teriak memanggilnya, dia sama sekali tidak menjawab. Apa dia malu? Dasar!

Pagi-pagi sekali aku mencari Kim hyung, manajer kami, memintanya memberiku kunci cadangan kamar gadis itu. Dia pikir aku bodoh apa?

Aku membuka pintu kamarnya dan menutupnya lagi. Dia sedang meringkuk di balik selimutnya. Ini memang baru jam 6 pagi. Tapi aku tidak akan kasihan melihatnya. Dia harus bangun. Kali ini dia tidak akan bisa kabur lagi!

“Yak, Choi Ji-Yoo, ireona!”

 

***

 

JI-YOO’S POV

“Yak, Choi Ji-Yoo, ireona!”

Aish, apa lagi itu? Aigoo, bagaimana dia bisa masuk ke kamarku? Aku kan sudah menguncinya tadi malam! OMO, aku malu!!! Saking malunya aku bahkan langsung kabur sebelum acara radio selesai. Aku tidak tahu harus berkata apa saat dia menemuiku. Lalu sekarang bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Ah, pura-pura tidur saja lebih baik! Benar!

“Yak, aku tahu kau sudah bangun! Jangan pura-pura!”

Ck… kenapa dia tiba-tiba jadi pintar begitu?

Aku membenamkan wajahku ke bantal, menolak membuka mata.

“Kau bangun atau aku benar-benar melaksanakan perkataanku waktu itu?” ancamnya.

Hah, perkataan yang mana? Ah, aku lupa! Masa bodohlah! Kalau aku tetap seperti ini lama-lama dia juga akan bosan dan menyerah.

Aku merasakan dia naik ke atas tempat tidurku. OMO OMO, mau apa dia?

Dia membalik tubuhku dan sesaat kemudian aku merasakan sesuatu menyentuh bibirku. Aku langsung membuka mata karena syok. A… a… apa-apaan dia!

“A… apa yang kau lakukan?” seruku panik, berusaha keras mendorong tubuhnya.

“Kan sudah kubilang dari tadi. Kalau kau tidak bangun aku akan menciummu. Salahmu sendiri kenapa tidak mau bangun.”

“Hyuk-Jae mesum!!!! Pergi kau!” teriakku.

“Shireo!” tolaknya, tapi dia melepaskanku dan duduk di tepi tempat tidur. “Ji-Yoo~a, kenapa kau kabur tiba-tiba tadi malam?”

Aku masih meredakan detak jantungku yang berantakan gara-gara kejadian barusan. Dia benar-benar membuatku syok!

“Ji-Yoo?”

“Aku malu!” seruku dengan wajah memerah. “Aku tidak tahu harus bicara apa karena kau pasti akan menemuiku.”

“Hah, jadi aku membuatmu grogi begitu? Apa kau sangat menyukai Lee Hyuk-Jae ini?” godanya.

Aku menutupi mukaku dengan selimut. Dasar bodoh! Kenapa dia berkata seperti itu? Membuatku semakin malu saja!

“Ne, aku sangat menyukaimu. Sekarang keluarlah, aku benar-benar malu!”

Bukannya keluar dia malah menarik selimut yang menutupi wajahku. Dia menyentuh pipiku dengan tangannya, membuatku terpaksa mendongak menatapnya. Dia memandangku lekat, wajahnya berubah jadi serius.

“Memangnya kau pikir aku tidak malu? Aku harus berusaha sekuat tenaga agar bisa berbicara denganmu seperti ini, mengenyahkan semua rasa gugupku saat melihatmu. Kau pikir aku tidak kehabisan tenaga agar bisa menyentuhmu? Aku terlalu menyukaimu Ji-Yoo~a, sampai-sampai tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Menurutmu bagaimana? Lee Hyuk-Jae babo ini benar-benar mencintaimu.”

“Menurutku?” Aku menghela nafas, berusaha menguatkan diri. “Apa kau puas kalau aku bilang bahwa Choi Ji-Yoo ini juga menyukaimu? Aku kan sudah bilang tadi malam. Jangan buat aku harus mengulanginya lagi!” rengekku.

“Ah, arasseo.” Dia tersenyum dan memelukku. Aigoo, kalau setiap hari aku mengalami ini, aku harus sering-sering cek kesehatan jantungku ke rumah sakit. Terlalu berbahaya untuk keselamatan nyawaku.

“Nah, ya, sedang apa kalian?”

Kami buru-buru memisahkan diri saat pintu kamarku menjeblak terbuka. Astaga, kapan sih mereka akan berhenti mengganggu kami? Tidak senang sekali melihat orang lain bahagia!

“Aish, jangan bilang kalau magnae sialan itu lagi yang memberitahu kalian!” seru Eunhyuk oppa kesal.

“Ani, dia belum bangun. Kali ini Wookie. Dia melihatmu masuk ke kamar Ji-Yoo. Kamar adalah tempat yang paling berbahaya. Uri Ji-Yoo masih polos!” ujar Heechul oppa, dia sedang menggendong Heebum.

“YAK, KIM RYEOWOOK, KUBUNUH KAU!!!!”

“Aigoo, hyung!” Ryeowook oppa berlari ketakutan, sedangkan Eunhyuk oppa bergegas mengejarnya. Aku hanya tertawa melihat kelakuan mereka.

“Ji-Yoo~a, kau masih perawan, kan? Belum disentuh Hyuk-Jae?”

Aku menatap Donghae oppa ganas dan menggeplak kepalanya.

“Tentu saja! Kau pikir aku gadis macam apa, hah?!”

 

END

 

KYA… KYA… KYA… Ini FF persembahanku untuk dongsaeng-ku tersayang, uri Ji-Yoo a.k.a Shela. Mianhae, cheongmal mianhaeyo… FF-nya kacau! Aku g bakat! Emang! Maaf ngecewain kamu, saeng! Sumpah, deh! Aku mengacaukan segalanya! Endingnya ngawur, iya aku tahu. Kalo kamu g suka kasih tau, ya! Bilang bagian mana yg g kamu suka! Aku akan memperbaiki diri. Jangan pernah nyesel y dibikinin FF ma aku! Hehe….