Funeral Place, Gyeongju

01.30 PM

 

Flashback

 

Hye-Na kecil memandang bosan ke arah orang-orang dewasa yang berlalu lalang di sekelilingnya. Ayahnya membawanya dan ibunya ke Korea untuk menghadiri ulang tahun pernikahan sahabat mereka dan malah asyik berbincang dengan sahabat mereka itu, menelantarkannya sendirian di salah satu stan makanan yang tersedia. Stan es krim lebih tepatnya. Dan tempat ini dikerubungi bocah-bocah kecil lain yang berebut meminta agar pelayan segera memberikan mereka semangkuk es krim dalam porsi besar.

Hye-Na melipat tangannya di depan dada. Semua teman-teman orang tuanya, bahkan orang tuanya sendiri selalu berkata bahwa dia terlalu cepat dewasa dibandingkan yang seharusnya. Umurnya baru 6 tahun, tapi gerak-gerik, cara berpikir, dan tindakannya, semuanya tidak menunjukkan ciri-ciri anak kecil yang baru menginjakkan kaki ke sekolah dasar. Salahkan saja ibunya yang memberinya kebebasan untuk membaca seluruh buku yang ada di perpustakaan pribadi di rumah mereka di Amerika. Buku-buku tentang penemuan-penemuan ilmiah paling muktahir, cara penggunaan senjata, buku-buku mafia, dan bahkan dia juga sudah selesai membaca data-data pribadi ayahnya tentang “orang-orang jahat yang harus ditangkap hidup ataupun mati’. Sebenarnya tidak sebebas itu juga. Di perpustakaan itu ada banyak buku-buku dongeng yang sengaja dibelikan ibunya untuknya, karena itu beliau membiarkannya keluar masuk perpustakaan sesukanya, berpikir bahwa anak perempuan satu-satunya itu baru lancar membaca dan tidak mungkin menamatkan semua buku itu dalam waktu singkat. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Hye-Na bosan membaca dongeng-dongeng tidak masuk akal tentang gadis yang hanya menunggu keajaiban datang untuk membawanya bertemu sang pangeran dan memilih mengacak-acak buku lain di ruangan itu, merasa asyik dengan dunia barunya.

Dia telah membaca banyak hal. Bagaimana setiap kasus kriminal yang ditangani KIA diselesaikan. Bagaimana para penjahat ditangkap. Dan bagaimana cara memakai senjata secara teoritis. Karena itu dia tidak menyia-nyiakan kesempatan pertama saat ayahnya membawanya ke tempat kerjanya untuk pertama kalinya. Ayahnya berkata padanya bahwa dia bekerja sebagai seorang agen pemerintah, seperti film mata-mata kesukaannya di TV. Mungkin ayahnya berpikir dia hanya akan menganggap itu adalah pekerjaan keren dimana ayahnya bisa menembak penjahat sesukanya dan menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah. Tapi beliau tidak tahu bahwa Hye-Na ingin menjadi bagian dari pekerjaan keren itu. Bahkan belum sadar sama sekali saat Hye-Na bermain-main dengan senapan yang tergeletak begitu saja di arena pelatihan, menarik pelatuknya, dan menembak tepat di tengah-tengah papan sasaran.

Bos ayahnya-lah, Park Soo-Hwan, yang pertama kali menyadari kemampuannya. Beliaulah yang mendesak ayah Hye-Na untuk membawa gadis kecil itu ke kantor setiap hari sepulang sekolah, mengajarinya secara diam-diam semua hal tentang organisasi itu sampai batas-batas tertentu yang diizinkan, sampai akhirnya Hye-Na tahu bahwa pada ulang tahunnya yang keenam, dia bahkan sama hebatnya dengan semua trainee perusahaan itu yang berumur sekitar 17 tahun ke atas. Dan saat ayahnya tahu, bukannya marah, pria itu malah menepuk-nepuk pundaknya bangga dan berkata bahwa gadis itu bisa bergabung dengan mereka saat umurnya sudah tepat nanti, berjuang bersama untuk menyelamatkan negara. Ibunya awalnya tidak terlalu setuju, tapi akhirnya mengalah saat melihat betapa anaknya sangat menikmati ‘permainan barunya’ itu.

Karena itu Hye-Na merasa sangat kesal saat dirinya ditinggalkan sendirian di tengah-tengah para bocah ingusan yang dalam jangka wakut dekat akan merengek mencari orang tua mereka. Dia sudah menghabiskan es krimnya dan berniat ingin mengambil gelas berisi cola di atas meja di seberangnya, tapi cukup tahu diri bahwa meja itu terlalu tinggi untuk dijangkaunya. Tapi kerongkongannya sudah kering dan dia malas mencari orang tuanya yang entah terdampar dimana di antara semua kerumunan ini.

Hye-Na mendekati meja itu. Ada seorang anak laki-laki yang lebih besar darinya juga berdiri disana. Sepertinya lebih tua sekitar 2 atau 3 tahun. Dan yang jelas, cukup tinggi untuk dimintai pertolongan.

“Chogiyo… bisakah kau membantuku mengambilkan cola? Mejanya terlalu tinggi,” ujar Hye-Na sopan.

Anak laki-laki itu menoleh, memperlihatkan keseluruhan wajahnya. Mata Hye-Na sedikit melebar melihat bahwa anak laki-laki itu mungkin saja adalah anak laki-laki tertampan yang pernah dilihatnya. Penampilan anak itu tampak berkelas dalam balutan jas dari desainer terkenal. Pasti orang tuanya kaya sekali.

Tatapan Hye-Na terpaku pada mata anak laki-laki itu. Tampak begitu gelap dan dingin. Mungkin sombong adalah kesan pertama yang akan didapat semua orang saat menatap mata anak itu. Dan wajahnya, tampak tidak ramah. Sepertinya dia sudah salah memilih orang untuk dimintai tolong.

“Kau menyuruhku?” tanya anak itu tidak percaya. Ekspresinya seolah-olah menunjukkan bahwa Hye-Na telah berbuat sesuatu yang salah dengan meminta tolong padanya.

“Anio. Bukan menyuruh. Aku hanya meminta tolong karena tidak ada orang lain di sekitar sini.”

“Itu sama saja. Memangnya kau tidak tahu siapa aku sampai berani-beraninya meminta tolong padaku?”

Hye-Na dengan refleks mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak meninju wajah di depannya itu. Sombong sekali bocah ini!

“Aku rasa aku tidak perlu tahu siapa kau hanya agar kau mau menolongku mengambilkan gelas di atas meja itu untukku,” geram Hye-Na sambil menggertakkan giginya dengan marah.

“Ada apa ini? Kyunnie?”

Seorang anak perempuan lain menyela mereka. Hye-Na menebak umur anak itu baru 12 atau 13 tahun. Tidak lebih. Dia sudah belajar cara mengira-ngira umur seseorang dari buku yang dibacanya.

“Apa lagi yang kau lakukan? Kau bersikap kasar lagi?” ulang anak perempuan itu. Sepertinya dia adalah kakak dari anak laki-laki sombong itu. Mata mereka mirip. Tapi jelas anak perempuan ini jauh lebih ramah.

Anak laki-laki yang sepertinya bernama Kyu itu tidak menjawab sama sekali dan malah memasang tampang angkuhnya, membuat anak perempuan itu menyerah dan mengalihkan tatapannya pada Hye-Na.

“Ah-Ra imnida. Kau boleh memanggilku onnie. Kau anak Seuk-Gil ajjushi, kan? Aku melihatmu datang bersamanya tadi. Aku, dan bocah menyebalkan ini, anak dari teman ayahmu. Pemilik rumah ini. Orang tua kamilah yang mengadakan pesta.”

“Ah, ye, onnie. Bangapseumnida,” ucap Hye-Na sambil membungkuk sopan.

“Jadi… beritahu aku, apa yang dilakukan Kyuhyun padamu?”

Jadi namanya Kyuhyun? Wajahnya seperti jelmaan setan menyebalkan, batin Hye-Na dalam hati.

“Aku meminta tolong padanya untuk mengambilkan gelas cola di atas meja karena aku tidak bisa meraihnya, tapi dia malah bertanya apakah aku tidak tahu siapa dia sampai berani-beraninya meminta tolong padanya seperti itu.”

“Aish, Kyunnie, hentikan sikap dingin dan sombongmu itu,” bentak Ah-Ra sambil menjewer telinga adiknya itu.

“Nuna, berhenti memperlakukanku seperti anak berumur lima tahun! Aku sudah 9 tahun!” seru Kyuhyun. Dia sedikit meringis, tapi tangannya dengan mudah mengenyahkan tangan kakaknya itu dari telinganya.

Ah-Ra mengambil gelas berisi cola itu dari atas meja dan memberikannya pada Hye-Na.

“Ini. Kalau kau butuh sesuatu lagi, jangan pernah meminta tolong padanya,” ujar Ah-Ra mewanti-wanti. “Aku pergi dulu.”

Hye-Na mengangguk, menatap punggung Ah-Ra yang berlalu dengan anggun, seanggun yang bisa dilakukan anak umur 13 tahun.

“Dasar pendek!”

Hye-Na berbalik saat mendengar suara penuh ejekan itu. Bocah menyebalkan itu benar-benar menguji kesabarannya.

Dia mencengkeram gelas cola-nya, menarik nafas dalam-dalam, dan memilih untuk mengabaikan setan kecil itu.

Oke, sepanjang sisa pesta, dia akan berusaha mencari tempat sejauh mungkin dari makhluk di depannya ini.

 

***

“Kenapa aku harus menemaninya?” protes Kyuhyun. Dari nada bicaranya jelas bahwa dia tidak mau mengerjakan perintah ayahnya dengan sukarela.

“Karena ajjushi tidak mungkin membawa Hye-Na kemana-mana di antara orang dewasa seperti ini. Jadi karena kalian sebaya, lebih baik kalian bersama-sama saja.” Ganti Seuk-Gil yang berusaha membujuk Kyuhyun agar anak itu mau bermain bersama Hye-Na, sementara para ornag tua membicarakan bisnis.

Kyuhyun menghela nafasnya. Dia ingin sekali menolak, karena jelas saja kalau dia berada di dekat anak perempuan yang terlihat menyebalkan itu dia akan emosi tingkat tinggi dan pada ujungnya mereka akan bertengkar. Gadis kecil itu memperlihatkan dengan jelas ketidaksukaannya pada Kyuhyun, jadi untuk apa dia harus bersikap baik dengan menemani anak itu? Tapi masalahnya, jika Seuk-Gil yang meminta, dia tidak bisa menolak. Dia dekat dan sangat menyukai ‘paman’nya itu dan ini adalah kali pertama dia bisa melakukan sesuatu untuk pria itu.

“Hye-Na juga suka bermain game, sama sepertimu. Iya kan, Sayang? Apa kau membawa PSP-mu? Kalian bisa bermain bersama,” ujar Seuk-Gil sambil mengusap rambut anak semata wayangnya.

Kyuhyun menoleh dan mendapati bahwa gadis itu menatapnya dengan raut wajah dingin sebelum mengangguk pelan.

“Nah, kalau begitu tunggu apalagi? Kalian pergi bermain saja sekarang.”

“Ayo ikut aku ke atas. PSP-ku ada di kamar,” ujar Kyuhyun sambil melangkah duluan meninggalkan Hye-Na, membuat gadis kecil itu terpaksa berlari-lari kecil untuk menjajari langkahnya yang besar.

“Berapa umurmu?” tanya Kyuhyun basa-basi. Sebenarnya dia tidak suka berbicara dengan orang asing, tapi apa boleh buat. Gadis ini anak ‘paman’ kesayangannya.

“6 tahun,” jawab gadis itu singkat.

Kyuhyun menggumam pelan dan membuka pintu kamarnya, membawa gadis itu masuk ke sebuah ruangan besar yang terdiri dari ruang tidur, ruang ganti pakaian, perpustakaan kecil, dan ruang belajar. Ada balkon besar yang tersambung dengan ruang tidur, menghadap pemandangan taman bunga luas kesayangan ibunya.

Kyuhyun melihat gadis itu sedikit terkesima, tapi berhasil menguasai ekspresinya dengan baik. Sesaat dia merasa gadis itu bersikap begitu dewasa, pembawaannya tidak seperti anak berumur 6 tahun, walaupun penampilannya memperlihatkan umurnya yang seharusnya. Dan… itu membuatnya sedikit terkesan.

Kyuhyun berjalan masuk ke ruang belajarnya, sedangkan Hye-Na mengikutinya dari belakang. Kyuhyun mengambil PSP-nya yang tergeletak di atas meja dan menyadari bahwa Hye-Na tidak mengikutinya lagi. Dia berbalik dan mendapati gadis itu sedang mengamati sebuah robot yang berdiri diam di sudut ruangan.

“Namanya Pocka,” ujar Kyuhyun sambil berjalan mendekati gadis itu. “Sentuh saja, dia akan bergerak.”

Hye-Na mendongak menatap Kyuhyun dan dengan ragu-ragu menjulurkan tangannya untuk menyentuh robot itu.

“Annyeonghaseyo, Pocka imnida. Bangaweoyo. Ireumi mwoeyo? (Salam kenal, namaku Pocka. Senang bertemu denganmu. Namamu siapa?)” ucap robot itu dengan suara kekanak-kanakan sambil mengulurkan tangannya ke arah Hye-Na, membuat gadis itu menatap benda itu kagum.

“Dia akan selalu begitu pada orang yang belum dikenalnya,” jelas Kyuhyun.

“Hye-Na imnida,” jawab Hye-Na sambil tersenyum, balas mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan robot tersebut.

“Hye-Na nuna, senang bertemu denganmu!”

“Nuna?” ulang Hye-Na bingung.

“Umurnya baru dua tahun, makanya dia memanggilmu nuna.”

“Dia bisa apa saja?” tanya Hye-Na dengan ketertarikan yang jelas terlihat di wajahnya.

“Bisanya dia hanya menemaniku bermain game. Dia bisa melakukan beberapa hal kalau kuprogram.”

“Kau program?”

“Dia robot ciptaanku.”

Hye-Na menegakkan tubuhnya, menatap Kyuhyun tak percaya.

“Terserah kau percaya atau tidak, tapi dia memang ciptaanku. Aku sedang membuat rancangan untuk menciptakan sebuah android yang sangat mirip dengan manusia dan mungkin appa bisa memproduksinya.”

“Android mirip manusia?”

“Mmm. Kalau kau mau tahu, aku ini sudah kelas 1 SMP walaupun umurku baru 9 tahun. Aku loncat kelas berkali-kali.”

Hye-Na merengut dan mengerucutkan bibirnya.

“Kau sedang pamer padaku, ya?”

“Menurutmu?” ujar Kyuhyun sinis. Dia berjalan ke ruang tidur dan membuka pintu balkon.

“Sampai jumpa, nuna!” seru Pocka saat Hye-Na bergegas menyusul anak itu.

“Ne,” ujar Hye-Na sambil melambai sekilas. Gadis itu melangkah keluar dan mendapati balkon yang cukup luas untuk bersantai. Ada kursi kayu panjang dan kursi malas disana, di bawah naungan atap yang menghalangi sinar matahari yang menusuk pada siang hari. Pemandangan yang diperlihatkan sangat memukau. Taman bunga yang diterangi lampu-lampu taman yang sangat terang sehingga semuanya terlihat jelas, sama seperti di siang hari.

“Kau benar-benar sangat dimanjakan, ya?” kata Hye-Na dengan sedikit nada mengejek yang tidak berusaha disembunyikannya.

“Membuat banyak anak-anak berusaha mendekatiku dengan cara menjilat,” sahut Kyuhyun dengan wajah dingin tanpa ekspresinya.

Hye-Na menoleh ke arah anak laki-laki itu, menatapnya seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

“Aku bahkan tidak berniat mendekatimu,” ujar Hye-Na tenang, membuat Kyuhyun dengan refleks tertawa kecil.

“Tidak usah kau katakan aku juga sudah tahu.”

Gadis itu terdiam, sedikit terpaku dengan raut wajah laki-laki itu saat tertawa. Wajah yang datar dan dingin itu terlihat begitu ramah ketika sudut-sudut mulutnya terangkat membentuk senyum dan kekehan yang keluar dari mulutnya terdengar sedikit berat, khas anak laki-laki yang sudah mulai beranjak dewasa. Pendapat awal gadis itu benar. Anak itu memang anak laki-laki tertampan yang pernah dilihatnya.

“Jadi… kau tidak punya teman?” tanya Hye-Na hati-hati seraya mendudukkan tubuhnya di atas kursi kayu panjang, tepat di samping laki-laki itu.

“Aku kira kita kesini untuk bertanding game,” elak Kyuhyun. Tangannya memutar-mutar PSP dalam genggamannya.

Hye-Na mengedikkan bahunya. “Terserah padamu.”

Kyuhyun menarik nafas berat dan meletakkan PSP-nya ke atas meja. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia bersedia menceritakan rahasia pribadinya pada gadis kecil yang awalnya tidak disukainya ini. Tapi bukankah kau memang akan merasa nyaman saat bercerita pada orang asing yang tidak kau kenal sehingga dia tidak akan menghakimimu karena dia tidak mengenalmu? Setidaknya menurutnya begitu.

“Kau tahu, menjadi anak laki-laki orang terkaya di Korea sama sekali tidak enak. Semua orang tahu bahwa aku akan menjadi pewaris tunggal perusahaan ayahku saat aku sudah besar nanti. Aku disekolahkan di sekolah terbaik dan bergaul dengan anak-anak dari keluarga terpandang. Semua orang tua berusaha menyuruh anak mereka untuk berteman denganku. Mungkin mereka berpikir bahwa jika sang anak dekat denganku, ayahku akan tahu dan berminat berbisnis dengan mereka. Semua orang selalu berkata bahwa aku terlalu cepat dewasa dan jalan pikiranku sama sekali tidak menunjukkan isi otak anak berumur 9 tahun. Mereka benar dalam beberapa hal.”

“Aku tahu jalan pikiran orang dewasa dan berpikir sama seperti mereka. Tapi aku juga anak kecil yang ingin memiliki teman bermain yang memang ingin berteman denganku dan tidak menggunjingkanku di belakang. Dan satu-satunya teman terbaik yang kukenal hanya Eunhyuk hyung, sepupuku. Tapi dia lebih tua dan kami tidak satu sekolah. Jadi tetap saja pada intinya aku tidak punya teman.”

“Saat itu aku merasa begitu marah dan membenci teman-temanku. Jadi saat pulang sekolah, saat para orang tua menjemput anaknya, sedangkan aku dijemput oleh supirku, aku membuat keributan. Salah satu ayah temanku mendatangiku dan berkata bahwa dia mengenal ayahku. Dia memberikan kartu namanya padaku dan menyuruhku memberikan kartu nama itu pada ayahku. Aku sangat ingat kata-katanya waktu itu, ‘Sang-Hyun teman baikmu, kan? Aku menyuruh anakkku berteman denganmu agar kau punya teman disini. Jadi katakan pada ayahmu bahwa aku berharap kami juga bisa berteman seperti pertemananmu dengan anakku.’” Kyuhyun tersenyum getir sebelum melanjutkan ceritanya.

“Tentu saja dia berpikir bahwa dia sedang berbicara dengan anak kecil yang tidak akan mengerti maksud terselubung dari ucapannya itu. Pria tua itu salah besar. Aku dengan kesal langsung menyobek kartu namanya itu tepat di depan matanya sendiri dan membuangnya ke tanah. Lalu berteriak padanya bahwa aku tidak butuh teman seperti anaknya yang cengeng dan suka menggunjingkanku dengan teman-teman yang lain, mengatakan bahwa aku sombong karena tidak mau mengajaknya ke rumahku untuk bermain. Bahwa anaknya itu suka mencuri barang-barangku yang mahal lalu memamerkannya pada anak-anak yang lain. Semua orang di lapangan parkir mendengarnya dan aku senang saat memikirkan betapa malunya pria tua dan anaknya yang penjilat itu. Besoknya anak itu tidak masuk sekolah. Kudengar mereka pindah ke Jepang.”

“Aku heran kau tidak melemparkaan kartu nama itu ke wajahnya. Apa kau tidak pernah menonton film?” komentar Hye-Na dengan raut wajah polosnya.

Kyuhyun tertawa keras, terpesona dengan cara gadis itu merespon ceritanya dan bahwa jalan pikiran mereka berada pada frekuensi yang sama.

“Tentu saja aku berpikir untuk melakukannya,” ujar Kyuhyun setelah tawanya mereda. “Tapi pria itu jauh lebih tua dariku dan aku diajari sopan santun bagaimana cara bersikap kepada orang tua. Kalau aku melakukannya, pasti orangtuaku akan dicap buruk karena tidak bisa mengajariku dengan baik.”

“Tapi pada akhirnya kau juga meneriakinya dan membuka aib anaknya. Itu sama saja.”

“Beda. Aku kan membicarakan fakta.”

“Ya ya, bela saja dirimu terus Tuan Muda Cho.” Hye-Na mengatakannya dengan senyum lebar di wajahnya.

“Jadi… sejak saat itu kau selalu bersikap sinis pada semua orang asing?”

Kyuhyun menimbang-nimbang sesaat sebelum menjawab.

“Tidak juga. Dari dulu aku juga begini. Nuna gatal sekali ingin menjitak kepalaku karena terkadang aku tidak bisa menjaga ucapan sinisku di saat-saat tertentu.”

“Lalu… kau menciptakan Pocka sebagai teman bermain terbaikmu yang tidak akan menggunjingkanmu di belakang dan tidak punya orang tua yang akan menyuruhnya mendekatimu agar bisa berbisnis dengan ayahmu?”

“Yah, kira-kira begitu.”

“Untuk anak umur 9 tahun… kau jenius sekali.”

“Umurku 7 tahun saat menciptakannya,” potong Kyuhyun.

“Dasar tukang pamer!”

“Kau juga bisa pamer kalau kau mau. Tapi memangnya apa yang bisa dilakukan gadis kecil pendek dan ingusan sepertimu?”

“Yak, berhenti mengataiku pendek!” bentak Hye-Na tak terima.

“Tapi kau kan memang pendek,” ujar Kyuhyun tak mau kalah.

“Asal kau tahu saja, aku ini trainee di KIA. Direktur KIA sendiri yang mengajariku secara pribadi. Aku bisa menembak tepat sasaran dan diperbolehkan mengakses arsip-arsip KIA. Bahkan Soo-Hwan ajjushi juga suka meminta pendapatku tentang suatu kasus karena menurutnya aku sudah membaca arsip-arsip lama KIA jauh lebih banyak daripada sebagian besar agen disana.”

Kyuhyun menatap gadis itu kagum, setengah tidak percaya bahwa gadis pendek bertampang polos di depannya itu sebegitu hebatnya di umurnya yang baru 6 tahun.

“Ayah tidak pernah mengizinkanku masuk ke gedung KNI. Dia hanya membawaku ke ACC setelah aku menciptakan Pocka dan berpikir bahwa aku tertarik dengan robot.”

“Kau tertarik dengan KNI?”

“Aku tertarik mempelajari beberapa hal. Menembak, menjinakkan bom, hal-hal keren seperti itu. Tapi aku lebih tertarik melanjutkan bisnis ayah. Hanya saja, sepertinya aku memang harus mempelajari banyak tekhnik melindungi diri karena untuk menjadi pebisnis hebat seperti ayah berarti aku akan mengorbankan diriku ke tangan para penjahat. Ayahku bahkan membutuhkan ayahmu untuk melindunginya dari kemungkinan pembunuhan.”

Hye-Na mengangguk setuju. Dia tahu bahwa ada banyak percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh saingan bisnis ayah Kyuhyun dan tugas ayahnyalah untuk menggagalkan itu semua.

“Kau mau minum?” tawar Kyuhyun tiba-tiba. Dia menunjuk ke arah kulkas kecil di dekat mereka.

“Apa ada kopi?” tanya Hye-Na antusias. Di rumah ibunya selalu mengawasinya sehingga gadis kecil itu tidak bisa mencicipi kopi kesukaannya. Tapi diam-diam ayahnya selalu menyisakan kopinya dan memberikannya pada anak gadis semata wayangnya itu.

“Kau suka kopi? Kafein itu kan berbahaya, Na~ya.”

“Na~ya?”

Kyuhyun terdiam salah tingkah saat menyadari bahwa dia menyingkat nama gadis itu begitu saja tanpa sadar.

“Lebih bagus, kan?” gumamnya pelan.

“Tapi… itu kedengarannya seperti kita sudah sangat dekat. Padahal kan tadinya aku tidak menyukaimu,” ujar Hye-Na dengan tampang cemberut.

“Tadinya? Jadi sekarang kau menyukaiku?” goda Kyuhyun, lagi-lagi tanpa berpikir. Padahal biasanya dia tidak pernah tertarik pada gadis manapun, apalagi sampai menggoda.

Hye-Na mengusap tengkuknya pelan. “Kau… lumayan. Tidak terlalu buruk seperti yang kupikirkan. Kalau kau mau… kita bisa berteman. Anggap saja aku teman pertamamu. Hmm?”

Kali ini, tanpa mempertimbangkannya sedikitpun, Kyuhyun langsung menganggukkan kepalanya. Tangannya terjulur membuka kulkas kecil tadi dan mengeluarkan sekaleng kopi dari dalamnya, mengulurkannya pada Hye-Na setelah dia melepaskan pengait kaleng itu.

“Na~ya kedengarannya bagus,” gumam Hye-Na sambil meneguk kopi dinginnya. “Tapi itu berarti aku juga harus punya nama panggilan untukmu.”

“Yang pasti kau harus memanggilku oppa. Kau lebih kecil 3 tahun dariku.”

“Oppa? Aku belum pernah memanggil siapapun dengan sebutan oppa. Baiklah. Hyun oppa?”

“Hyun?”

“Ne. Hyun itu terdengar seperti nama anak laki-laki yang baik dan manis. Saat aku pertama kali mendengar namamu, aku pikir nama itu cocok sekali dengan perilakumu. Cho Kyuhyun. Terdengar seperti nama setan dan kebetulan kau juga mirip setan. Jadi imejmu harus diperbaiki sedikit.”

“Yak yak, Han Hye-Na, apa yang barusan kau katakan, hah?” protes Kyuhyun kesal.

“Sudahlah, tidak perlu protes. Itu kan memang kenyataan,” tandas Hye-Na santai. Dia meminum kopinya dalam satu tegukan cepat dan mengulurkan kaleng itu ke arah Kyuhyun yang balas menatapnya dengan pandangan tak mengerti.

“Kau tidak terlalu suka kopi? Mulai sekarang kau harus mencoba menyukainya. Anggap saja sebagai awal pertemanan kita. Eo?”

Kyuhyun menatap kaleng berisi kopi itu dengan ragu. Dia belum pernah….

“Kau belum pernah meminum bekas orang lain? Dasar Tuan Muda manja,” ejek Hye-Na, menyuarakan pikiran Kyuhyun. “Tahu tidak? Selalu ada kali pertama untuk segala hal. Kau juga harus mencoba segala hal yang tidak kau sukai sebelum kau memutuskan menyukainya atau tidak. Appaku bilang begitu.”

Kyuhyun mengambil kaleng minuman itu dan meneguknya pelan. Dia hanya pernah sekali mencoba minuman itu dan dia tidak terlalu menyukai rasa pahitnya, tapi saat dia melihat mata cokelat gadis itu yang menatapnya dengan penuh harap dan senyum manis kekanakannya, Kyuhyun berpikir bahwa rasa kopi ini sama sekali tidak buruk. Dan dia menyukainya.

“Kau mau bertanding game denganku?” tawar Hye-Na.

“Bukannya dari awal tujuan kita memang untuk bertanding?”

 

***

Kyuhyun menoleh saat merasakan sesuatu tiba-tiba membebani bahunya. Dia sedang asyik memainkan game di PSP-nya dan baru menyadari bahwa Hye-Na sudah jatuh tertidur di sampingnya.

Dia melihat jam tangannya sekilas. Sudah jam 11 malam. Pantas saja.

Kyuhyun meletakkan PSP-nya ke atas meja, dengan hati-hati memegangi kepala Hye-Na agar tidak terkulai jatuh dan membaringkannya ke atas pahanya secara perlahan agar gadis itu tidak terbangun.

Kyuhyun menarik nafas pelan sambil menatap wajah polos gadis yang sedang tertidur di pangkuannya itu. Hela nafas gadis itu terdengar teratur saat bahunya bergerak naik turun membantu paru-parunya memompa udara. Angin malam kota Seoul terasa sedikit dingin, tapi Kyuhyun tidak bisa bergerak sedikitpun untuk mengambil selimut ke dalam walaupun dia sangat ingin melakukannya. Jadi sebagai gantinya dia melepaskan jas yang dipakainya dan membentangkannya menutupi tubuh bagian atas gadis kecil itu.

Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, gadis itu sudah banyak mengajarkannya hal-hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Berbicara dengan orang asing, tertawa dengan lepas untuk pertama kalinya di depan orang asing, berbagi satu kaleng minuman yang sama dengan orang asing, menceritakan perasaannya pada orang asing itu, memutuskan menjadikan orang asing itu sahabat pertamanya, bertukar nama panggilan yang aneh, dan sekarang orang asing itu tidur dengan nyamannya di atas pangkuannya.

Dia tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu, karena semua yang dibutuhkannya akan selalu tersedia di depannya begitu saja jika dia menginginkannya. Tapi sekarang… dia sangat ingin mengenal gadis kecil dalam pangkuannya ini lebih jauh. Gadis yang terlihat begitu dewasa dan lebih pintar daripada anak-anak sebayanya. Gadis yang dengan enteng berkata padanya bahwa dia harus melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya tanpa perlu mendengarkan pendapat orang lain. Bahwa selalu ada kali pertama untuk segala hal.

Dan gadis itu benar. Memang selalu ada kali pertama untuk segala hal, termasuk saat dia untuk pertama kalinya benar-benar menginginkan sesuatu. Dia ingin bertemu dengan gadis itu lagi, tidak peduli kapan, dan saat itu terjadi dia yakin bahwa dia akan lebih dari siap untuk mengenal gadis itu lebih jauh, bertemu dengannya lagi dan lagi. Ini bukan jenis perasaan yang dipahami oleh anak seusianya, tapi dia tahu pasti apa yang diinginkannya. Dan kali ini dia akan mendapatkannya tanpa bantuan orang lain. Dengan usaha dan caranya sendiri.

 

***

“Hyun oppa, ireona!”

Kyuhyun merasa tubuhnya diguncang-guncang seseorang dan dia mendengar nama… Hyun oppa?

Kyuhyun mengusap wajahnya dan membuka matanya sedikit. Dia merasa bingung selama beberapa detik karena kesadarannya yang masih belum terkumpul penuh, tapi akhirnya dia mengenali siapa gadis kecil yang sedang berusaha membangunkannya itu.

“Na~ya? Wae?” tanyanya dengan suara serak. Dia membenamkan wajahnya ke dalam bantal, berusaha melanjutkan tidurnya yang terganggu tadi.

“Yak, oppa, aku mau pulang ke Amerika sebentar lagi. Ayo bangun!”

Mendengar kalimat itu Kyuhyun langsung tersentak kaget dan dengan refleks duduk di atas tempat tidurnya. Ada rasa pusing yang sedikit menyerang disebabkan oleh gerakannya yang begitu tiba-tiba itu, tapi dia mengabaikannya begitu saja.

“Kau? Pulang?”

“Ne. 2 jam lagi pesawatku berangkat. Aku mau pamit. Ibumu bilang kau baru bangun jam 10 di hari libur, tapi aku tidak bisa menunggu selama itu. Pesawat kami berangkat jam 9, jadi maaf kalau aku mengganggu tidurmu.” Hye-Na tersenyum manis dan memiringkan wajahnya, menatap Kyuhyun dengan bingung. “Kata Ah-Ra onnie kau paling tidak suka jika tidurmu diganggu, tapi kau kelihatannya tidak marah aku mengganggu tidurmu?”

Kyuhyun baru tersadar akan kebiasaannya saat gadis itu mengucapkannya. Dan dia jadi merasa bingung sendiri.

“Gwaenchana,” jawabnya akhirnya.

“Ya sudah, aku hanya mau mengatakan itu. Kau bisa melanjutkan tidurmu,” ujar Hye-Na sambil bangkit dari atas tempat tidur Kyuhyun.

“Chakkaman!” cegah Kyuhyun sambil memegangi pergelangan tangan gadis itu, menghalangi langkahnya.

“Ne?”

“Bukannya… biasanya saat berpisah… harus meninggalkan sesuatu?” tanya Kyuhyun salah tingkah. Dia tidak akan heran jika wajahnya berubah jadi memerah saat ini.

Hye-Na membelalakkan matanya, tapi kemudian tertawa geli.

“Oppa, kau pasti terlalu banyak menonton film romantis.”

“Ani. Nuna selalu memaksaku menemaninya menonton sambil merengek-rengek, jadi aku terpaksa memenuhi permintaannya,” gumam Kyuhyun tak jelas.

Hye-Na tersenyum dan menjatuhkan tubuhnya lagi ke atas tempat tidur.

“Barang kenangan? Menurutmu kita akan bertemu lagi saat dewasa lalu saling memperlihatkan barang pemberian masing-masing… dan jatuh cinta satu sama lain?” Hye-Na terkekeh membayangkan hal menggelikan itu. “Itu hanya ada dalam kisah cinta zaman dulu, oppa.”

“Aku setuju dengan dua hal pertama, tapi tidak dengan yang terakhir.”

“Apanya? Bagian jatuh cintanya? Cih, saat kita bertemu lagi aku pasti sudah memiliki kekasih yang tampan dan kaya, lalu aku akan menikah dengannya.”

“Memangnya aku tidak tampan dan kaya?”

“Kau itu menyebalkan. Aku tidak mau punya suami sepertimu.”

“Aku menyebalkan?” ulang Kyuhyun tak terima.

“Aish, oppa, sekarang bukan waktunya untuk berdebat. Cepat beritahu aku benda apa yang harus kuberikan padamu. Aku harus segera berangkat.”

Kyuhyun mendengus sebelum akhirnya mengalah dan mulai berpikir.

“Bagaimana kalau PSP-mu saja? Itu barang kesayanganmu, kan?”

“PSP? Tapi itu hadiah dari Soo-Hwan ajjushi saat ulang tahunku yang kelima.”

“Aku juga akan memberikan PSP-ku. Eotte?”

Hye-Na tampak berpikir sesaat, kemudian membuka tas ransel kecil di punggungnya, mengeluarkan PSP kesayangannya dan memberikannya pada Kyuhyun.

“Kau harus menjaganya baik-baik, eo? Kalau sampai rusak, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”

Kyuhyun mengambil PSP-nya yang tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, menyerahkannya pada gadis itu.

“Kau juga harus melakukan hal yang sama pada PSP-ku.”

Hye-Na mengangguk dan memasukkan PSP itu ke dalam tasnya.

“Sudah, kan? Aku pergi dulu. Annyeonghi gaseyo!”

Gadis itu melambaikan tangannya dan berlari keluar dari kamar, tanpa menoleh ke belakang sama sekali.

Kyuhyun tersenyum lemah, membiarkan tatapannya tetap tertuju ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup, menyembunyikan sosok gadis kecil yang baru dikenalnya kurang dari 24 jam, tapi berhasil mengubah beberapa hal dalam hidupnya dengan begitu mudah.

“Annyeong… Na~ya….”

FLASHBACK END

 

***

Hye-Na memegangi kepalanya yang terasa sedikit berdenyut-denyut. Ingatan masa kecilnya itu membanjiri pikirannya tanpa ampun, seolah karena telah tertahan begitu lama, kenangan itu datang menyerbu seperti air bah.

Dia tidak tahu kenapa dia bisa melupakan kenangan itu selama ini. Sepertinya dia terlalu membenci pria itu sampai-sampai tidak mau menyisakan sedikit tempat pun di sudut otaknya untuk didiami oleh ingatan 14 tahun yang lalu itu.

Dia ingat kejadian 2 minggu setelah pertemuan mereka. Ayahnya baru pulang ke Amerika setelah menjalankan tugasnya sebagai agen di Korea. Tugas apa lagi kalau bukan melindungi ayah Kyuhyun. Saat itulah kebencian awalnya pada pria itu memuncak seperti virus kanker yang tidak bisa disembuhkan. Ayahnya membawa PSP kesayangannya yang telah retak di beberapa bagian dan benar-benar mustahil untuk bisa dimainkan lagi.

 

“Ini punyamu, kan? Kau pasti meninggalkannya di Korea waktu itu. Tapi kenapa kau tidak bilang pada appa? Appa kan bisa mencarikannya untukmu.”

“Darimana appa mendapatkannya?”

“Ada ancaman bom di kediaman keluarga Cho. Kami terpaksa menggeledah semua tempat. Appa menemukannya di tempat sampah di lantai dua di dekat kamar Kyuhyun. Appa pikir karena kau sangat menyayangi PSP-mu kau pasti ingin melihatnya.”

 

Dia ingat dengan jelas bahwa kemudian dia menangis semalaman. Bukan karena itu adalah benda yang paling disayanginya, pemberian dari orang yang sangat dihormatinya, orang yang telah mengajarkannya segala hal yang mengagumkan, orang pertama yang mempercayai anak kecil sepertinya, tapi karena dia merasa lebih sakit hati dengan kenyataan bahwa benda yang seharusnya dijaga baik-baik oleh orang yang dianggapnya sebagai sahabatnya itu malah berakhir di dalam tempat sampah. Rusak tidak berbentuk.

Dia sudah menganggap bahwa Kyuhyun adalah sahabat yang dapat dipercayainya, bahwa namja itu bukan orang yang menyebalkan seperti yang dipikirnya sebelumnya, tapi ternyata semua dugaannya salah besar. Namja itu sama sekali tidak pantas menjadi sahabatnya. Dan saat itu dia masih gadis kecil berumur 6 tahun, gadis kecil yang langsung mengambil keputusan untuk membenci pria itu seumur hidupnya, berjanji tidak akan kembali lagi ke Korea dan bertemu dengan pria itu, dan menghapus semua kenangan tentang pria itu dari ingatannya. Dan buktinya dia memang tidak ingat sama sekali sampai detik di saat Kyuhyun menyebutkan namanya. Satu-satunya nama panggilan yang hanya pria itu yang tahu, karena memang hanya pria itu yang pernah memanggilnya seperti itu.

Hye-Na menghembuskan nafasnya dan mendongak, menatap pemandangan perbukitan dan kumpulan pohon pinus di sekelilingnya. Jika berada di sisi yang tepat, dari tempat ini bahkan bisa terlihat pemandangan seluruh kota dari kejauhan. Area pemakaman itu sepi, walaupun beberapa puluh menit yang lalu sempat ribut karena kedatangan para polisi dan agen KNI yang melakukan pemeriksaan terhadap mobilnya. Entah bagaimana Kyuhyun bisa menyelamatkan Hye-Na dari kewajiban diinterogasi dan menyuruh gadis itu masuk ke areal pemakaman pribadi yang hanya boleh dimasuki oleh anggota keluarga. Gadis itu memang suka menginterogasi orang, tapi tidak pernah suka jika dirinyalah yang harus dijadikan sasaran interogasi.

Hye-Na mendesah keras. Pria itu menyelamatkannya. Lagi. Hal ini benar-benar memalukan, mengingat bahwa dirinyalah yang seharusnya melindungi pria itu. Cukup mengherankan bahwa Kyuhyun selalu datang tepat waktu untuk menyelamatkannya, seolah ada alarm tersembunyi di kepala pria itu, yang akan berbunyi saat Hye-Na berada dalam kesulitan. Dan dia jadi penasaran sendiri, hal apa di atas dunia ini yang tidak bisa dilakukan seorang Cho Kyuhyun dengan baik? Sepertinya nyaris mustahil menemukan hal yang bisa membuat pria itu tidak terlihat mempesona. Dia selalu melakukan segala sesuatunya dengan sempurna, tanpa kesalahan sedikitpun.

Hye-Na sudah melakukan penghormatan di depan makam ayahnya tadi dan memilih duduk di atas kursi kayu panjang di bawah sebuah pohon yang langsung menghadap ke arah pemandangan pantai di bawah. Angin musim gugur yang berhembus cukup kencang membuat udara terasa asin, bau khas laut. Bahkan debur ombak yang menghantam karang terdengar sangat jelas dari sini.

Hye-Na menyandarkan kepalanya ke batang pohon. Wajahnya sedikit mendongak ke atas, menerima langsung pancaran sinar matahari yang tidak terlalu menusuk, bahkan cuaca saat ini bisa dikatakan sangat sejuk. Dia membiarkan matanya menutup selama beberapa saat, sampai akhirnya dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya, membuatnya dengan refleks membuka mata dan menegakkan tubuhnya.

“Kopi?” tawar Kyuhyun sambil menyodorkan kaleng berisi kopi dingin yang tadi ditempelkannya ke pipi Hye-Na. Pria itu membuka penutup kaleng sebelum menyerahkannya pada Hye-Na dan beranjak untuk mengambil tempat di samping gadis itu.

“Kau suka tempat ini? Aku sering kesini saat sedang bosan dengan kegiatan di kantor. Appa sendiri yang langsung memilih tempat ini sebagai tempat pemakaman ayahmu. Kadang-kadang kami kesini bersama untuk ziarah.”

Hye-Na menyeruput kopi itu pelan, merasakan cairan pahit itu turun melewati kerongkongannya. Dia meletakkan kaleng minuman itu ke pangkuannya dengan telapak tangan yang mengelilingi permukaan kaleng itu, merasakan teksturnya yang dingin.

“Kau tidak menjaga PSP-ku dengan baik,” ujar gadis itu dengan suara pelan, tapi masih dapat ditangkap dengan baik oleh Kyuhyun.

Pria itu menoleh, menatap Hye-Na lekat-lekat.

“Kau ingat?” tanyanya dengan suara tercekat. Ada perasaan bahagia yang terpancar dengan sangat jelas dari matanya, membuat Hye-Na untuk sesaat terpaku dan tidak dapat menemukan konsentrasinya yang mendadak buyar.

“Aku ingat bahwa kau membuang PSP-ku ke dalam tempat sampah.”

Kyuhyun mengerutkan keningnya tidak mengerti.

“Ayahku mengembalikan PSP-ku yang sudah rusak dan berkata bahwa dia menemukannya di tempat sampah di dekat kamarmu. Karena itu aku memutuskan untuk membencimu dan tidak mau mengingat tentangmu lagi.”

“Tae-Hwa yang membuangnya,” ujar Kyuhyun. Suaranya sedikit bergetar saat berbicara. “Cho Tae-Hwa, orang yang sudah tidak kuanggap sebagai pamanku lagi. Orang yang sangat ingin kuhabisi dengan tanganku sendiri. Dia yang membuangnya.”

“Mwo?”

“Dia bukan paman yang kusukai. Dia tidak pernah suka melihatku dimanjakan oleh ayah. Dibelikan semua barang keluaran terbaru yang harganya sangat mahal.”

“Aku menyimpan PSP-mu baik-baik, menganggapnya sebagai barang milikku yang paling berharga. Aku tahu kadang-kadang Tae-Hwa suka masuk ke kamarku, mulai menceramahiku tentang betapa borosnya ayahku dalam membelanjakan uangnya untuk membelikanku barang-barang terbaik. Dia suka mengambil barang-barang milikku dan membawanya pulang untuk diberikan kepada anaknya, karena itu aku sengaja menyimpan PSP-mu di dalam laci meja di dekat tempat tidurku. Tapi saat itu aku lalai. Setelah memainkannya aku lupa meletakkannya ke tempat semula. Aku baru sadar PSP-mu hilang keesokan harinya. Aku benar-benar ketakutan dan mencarinya ke semua sudut di kamarku. Saat aku mengadu kepada ayah, Tae-Hwa dengan santainya berkata bahwa dia sudah membuang PSP itu ke tempat sampah. Dia beralasan bahwa aku seharusnya belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus, bukannya bermain game terus-terusan. Saat itu aku nyaris menghajarnya kalau ayahku tidak cepat menghalangiku. Mulai hari itu dia menjadi orang yang paling kubenci di atas dunia ini.”

“Aku sudah mencari PSP itu ke tempat-tempat sampah di rumahku, tapi tidak menemukannya. Mungkin ayahmu lebih dulu menemukannya dan mengembalikannya padamu.” Kyuhyun menghembuskan nafas dengan berat. “Mianhae, Na~ya.”

Untuk sesaat yang terasa lama Hye-Na tertegun. Ada aura kebencian yang kuat saat Kyuhyun bercerita tentang pamannya itu. Membenci pamannya hanya karena masalah sepele seperti itu.

“Kau membencinya karena itu?”

“Kau melupakanku gara-gara dia. Itu alasan terbesarku membencinya. Dan sekarang… aku menghadapi kenyataan bahwa dia yang telah merencanakan pembunuhan terhadap ayahku dan ayahmu dan mungkin saja dia juga yang telah memasang bom di mobilmu. Aku sangat ingin membunuhnya, kau tahu?”

“Kyu….”

Kyuhyun tersenyum singkat dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

“Kau sepertinya tidak akan memanggilku Hyun oppa, kan?”

Hye-Na melongo sebelum akhirnya mendengus.

“Menggelikan!”

Gadis itu menghabiskan kopinya dalam satu tegukan dan melempar kalengnya ke dalam tempat sampah di dekat kursi tempat mereka duduk. Dia mengambil tasnya dan menyampirkannya ke bahu kemudian bangkit berdiri.

“Ayo pulang,” ajaknya. “Seingatku kau meninggalkan pekerjaan pentingmu, kan? Bagaimana mungkin kau bisa meninggalkan Presiden Korea dan para Duta Besar begitu saja hanya untuk menyelamatkanku?”

“Mereka tidak lebih penting darimu,” ucap Kyuhyun singkat. “Kau berada dalam prioritas utamaku. Seharusnya kau sudah tahu itu, kan? Aku akan mendahulukanmu di atas apapun.”

Hye-Na merasakan keringat dingin mendadak mengaliri tengkuknya, pertanda bahwa dia mulai salah tingkah.

Astaga, kapan pria ini akan berhenti membuatnya terpesona?

“A… ayo pulang. Aku harus segera kembali ke kantor,” katanya gugup. Dia baru saja akan melangkah saat merasakan cekalan Kyuhyun di tangan kirinya. Dia berbalik dan tanpa sadar menatap langsung ke mata pria itu. Mata yang sedang menatapnya dengan intens, seolah dia adalah sesuatu yang sangat berharga untuk dilihat. Seolah dia adalah objek paling menarik yang pernah ditatap oleh pria itu. Seolah… tidak ada kegiatan lain yang lebih menyenangkan selain menatapnya.

“Aku berpikir banyak tadi,” ujar Kyuhyun dengan suara berat. “Aku memang akan melakukan segala hal yang aku bisa untuk mempertahankanmu, tapi saat bersamaku kau juga membahayakan keselamatanmu sendiri, kan?”

“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu tentu saja. Anggap saja aku egois karena tidak mempedulikan keselamatanmu. Tapi sejauh ini aku berhasil melindungimu, kan?”

“Aku berpikir tentang berapa banyak lagi waktu yang aku punya. Aku tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa bisa saja aku lalai dan kehilanganmu sewaktu-waktu, jadi aku pikir sudah saatnya aku mengatakannya padamu.”

Kyuhyun mengganti cekalannya dengan genggaman ringan di tangan gadis itu, menyentuhnya dengan begitu hati-hati seolah tangan gadis itu adalah barang antik yang hanya tersisa satu-satunya di atas dunia ini.

“Mungkin seharusnya aku mengatakannya sejak dulu, tapi… aku tidak tahu kapan waktu yang tepat, bagaimana cara mengucapkannya dengan benar. Aku takut dengan reaksi apa yang akan kau berikan, bagaimana tanggapanmu saat aku mengatakannya.”

“Kau tahu?” Suara Kyuhyun berubah serak, merefleksikan kegugupannya. Hye-Na sendiri berdiri membatu di tempatnya, merasakan hembusan angin laut yang terasa dingin, membuatnya nyaris menggigil. Dia mendadak bisa menebak apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya dan merasa bahwa dia belum siap mendengarnya. Bahwa dia tidak yakin bisa berdiri dengan benar jika pria itu tidak terus memeganginya. Bahwa ekspresi wajahnya mungkin akan terlihat sangat bodoh dan dia tidak akan heran jika pria itu bisa mendengar detak jantungnya yang begitu keras, detakan yang membuat rongga dadanya terasa nyeri. Bahwa jika pria itu mengatakannya, dia tidak tahu reaksi seperti apa yang harus diberikannya selain tampak memalukan dengan wajah yang memerah dan kaki yang gemetaran.

Hye-Na merasakan tangannya diremas, tahu dengan jelas bahwa pria itu sendiri sangat gugup karena genggaman tangannya tidak semantap biasanya, dan telapak tangan pria itu terasa basah karena keringat.

“Aku mencintaimu… Na~ya….”

***

Heechul’s Home, Gangnam, Seoul

04.00 PM

 

Heechul memarkirkan mobilnya dengan cepat ke garasi rumah, nyaris menimbulkan bunyi berdecit karena rem yang diinjak tiba-tiba. Pria itu baru saja menyelesaikan take terakhir drama yang dimainkannya dan entah kenapa begitu ingin cepat sampai di rumah. Dia bahkan menolak mentah-mentah ajakan sutradara untuk makan bersama dengan para kru dan pemain lainnya, padahal biasanya Heechul tidak akan pernah menolak ajakan semacam itu.

Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi seharian tadi, sepanjang pengambilan gambar berlangsung, dia selalu teringat bahwa ada seseorang yang menunggunya di rumah, bahwa ada keinginan besar untuk melihat gadis itu lagi secepatnya, tidak peduli jika mereka baru saja bertemu tadi pagi sebelum dia berangkat syuting. Dia sangat ingin mendengar suara dan melihat senyum gadis itu lagi, satu-satunya gadis yang pernah diinginkannya dan pada akhirnya membuat dia memutuskan untuk menikah.

Well, lamaran kemarin sebenarnya di luar rencana. Dia tidak tahu apa yang membuatnya memiliki keberanian untuk menghadapi orang tua gadis itu dan mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak sopan untuk diucapkan di depan calon mertua. Tapi mau apalagi, yang penting dia sudah meminta izin untuk menikahi anak mereka. Setuju atau tidak setuju itu urusan mereka, karena Heechul tidak akan peduli dan tetap pada pendiriannya. Untung saja mereka tidak keras kepala dan bersedia menyerahkan anak mereka. Mungkin karena mereka berpikir Heechul cukup kaya dan disamping masa lalunya yang kelam, sebenarnya dia calon menantu yang potensial.

Mereka sempat bersitegang saat memutuskan dimana Min-Hyo akan tinggal sebelum mereka menikah. Heechul tahu dengan jelas bahwa Min-Hyo tidak akan mau kembali tinggal di rumah itu dan pria itu sendiri tidak mau jika Min-Hyo sampai terlepas dari pengawasannya. Masalahnya adalah orang tua Min-Hyo tidak mau anak mereka dicap buruk karena tinggal bersama seorang pria yang belum berstatus sebagai suaminya. Cih, seperti mereka peduli saja dengan apa yang akan terjadi pada anak mereka. Yang mereka sebenarnya pedulikan hanya nama baik mereka. Ciri khas orang kaya yang tergila-gila pada martabat.

Heechul berhasil membawa Min-Hyo kembali ke rumahnya setelah dia berteriak kepada kedua orang itu bahwa dia tidak akan menghamili anak mereka sebelum mereka resmi jadi suami istri, dan saat orang tua Min-Hyo masih syok mendengar ucapan Heechul itu, dia menarik Min-Hyo keluar dan dengan cepat pergi dari tempat itu. Min-Hyo berkali-kali berkata bahwa dia tidak akan heran jika kedua orang tuanya terkena serangan jantung gara-gara pria itu.

Heechul terseyum saat ingatan itu singgah di otaknya lagi. Dia membanting pintu mobilnya dan berlari ke dalam rumah, mencari gadis itu ke setiap ruangan, tapi tidak menemukannya dimanapun. Dia nyaris putus asa dan mengira gadis itu sudah pergi entah kemana saat akhirnya dia mendengar dentingan sendok yang beradu di ruang makan yang tersambung dengan dapur. Pria itu bergegas kesana dan dengan cepat menghela nafas lega saat Min-Hyo mendongak, menatapnya heran dengan sumpit di mulutnya yang terlihat menggembung. Gadis itu mengunyah nasinya cepat-cepat dan menyeruput air di gelasnya karena tersedak dalam usahanya menelan makanan.

“Oppa, kau sudah pulang? Cepat sekali,” tanyanya bingung. “Dan kenapa kau seperti orang yang baru selesai lomba lari begitu?”

Heechul merasakan tubuhnya membeku di depan pintu ruang makan. Dia tidak sempat berpikir jernih karena terlalu terburu-buru ingin melihat gadis itu lagi, jadi dia belum menyiapkan satupun alasan yang terdengar masuk akal untuk menjelaskan kenapa dia pulang terlalu cepat dan kenapa nafasnya terdengar tidak beraturan.

Pria itu mengacak rambutnya pelan, memutar otak dengan cepat.

“Yak, apa yang sedang kau lakukan, hah? Ini baru jam 4 sore dan kau sudah memakan jatah makan malammu?” bentak Heechul sambil berjalan mendekat, menarik salah satu kursi dan menjatuhkan tubuh di atasnya.

“Anieyo. Aku tadi sibuk membersihkan rumah dan merapikan kamarmu, memastikan tidak ada satu debu pun yang tersisa. Karena kelelahan aku tertidur dan melewatkan makan siangku,” jelas Min-Hyo membela diri.

Heechul menatap gadis di depannya itu lekat-lekat, kemudian setelah beberapa saat dia mengambil sumpit di atas meja dan memindahkan setumpuk daging dan kimchi ke dalam mangkuk gadis itu.

“Yak, Park Min-Hyo, mulai sekarang kau harus makan yang banyak. Dan jangan sampai kau lupa makan seperti tadi lagi. Kau tidak tahu bahwa tubuhmu itu kurus sekali dan sama sekali tidak menarik untuk dilihat? Kau harus makan yang banyak dan jaga kesehatanmu, jangan sampai kau merepotkanku. Arasseo?”

“Oppa, apa kau tidak sadar kalau kau itu juga sangat kurus, hah?”

“Aku ini memang tidak akan bisa gemuk walau makan sebanyak apapun, kau tahu tidak? Jadi kau tidak perlu mengomentari tubuhku! Habiskan saja makananmu itu!” seru Heechul sengit. Dia mengambil kimchi dengan sumpit yang sedang dipegangnya dan memasukkannya secara paksa ke dalam mulut gadis itu.

“Aish, kau ini kasar sekali!” dengus Min-Hyo, bersusah payah mengunyah makanan di dalam mulutnya.

“Oppa, bukannya hari ini hari terakhir syutingmu? Bukankah biasanya pada hari terakhir semua orang melakukan pesta perpisahan dan makan bersama? Kenapa kau sudah berada di rumah sore-sore begini?” tanya Min-Hyo, kembali mengulang pertanyaan yang sangat ingin dihindari Heechul itu.

“Eh… aku…. Aish, sudahlah, kau tidak usah banyak tanya! Habiskan dulu makanan di mulutmu itu! Menjijikkan!” semprot Heechul, membuat Min-Hyo langsung menutup mulutnya dan menghabiskan makanannya dalam diam.

Heechul memainkan sumpit di tangannya, mengaduk-aduk sup di dalam mangkuk di depannya dengan gerakan memutar.

“Yak, Park Mi-Hyo,” panggilnya dengan suara pelan.

“Mmm?”

“Bisakah kau memberitahuku apa yang terjadi? Seharian ini aku mengingatmu terus seolah kau tidak mau enyah dari otaakku. Aku berpikir bahwa aku ingin cepat pulang dan bertemu denganmu lagi. Lalu tadi aku mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, padahal kau tahu bahwa aku tidak suka melanggar peraturan apapun. Dan aku berlari ke rumah, mencari kau kemana-mana tapi aku tidak menemukanmu. Aku sempat mengira kau kabur dariku atau orang tuamu datang dan membawamu pulang dengan paksa. Aku benar-benar ketakutan memikirkan kemungkinan itu. Seperti ada sesuatu yang tidak enak di perutku, membuatku merasa mual dan ingin memuntahkannya. Tapi saat aku melihatmu lagi, rasanya sesuatu yang tidak enak di perutku itu hilang begitu saja, seolah hal itu memang tidak ada dan hanya perasaanku saja. Aku tidak mengerti dengan perasaan yang seperti ini. Bisakah kau memberitahuku apa yang sebenarnya sedang terjadi? Aku sedang tidak waras atau apa? Apa itu ada hubungannya dengan penyakit? Aku perlu ke dokter mungkin?”

Min-Hyo terbatuk dan merasa kerongkongannya tercekik. Gadis itu buru-buru mengambil gelasnya dan meminum isinya dalam satu tegukan besar.

“Yak, gwaenchana?” tanya Heechul panik sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap punggung gadis itu.

“Oppa… kau merindukanku,” ucap gadis itu dengan suara serak. Ada senyum manis yang tersungging di wajah cantiknya.

“Ne?” tanya Heechul, merasa pendengarannya sedikit bermasalah.

“Kau merindukanku,” ulang Min-Hyo lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras dan jelas. “Saat kau tiba-tiba merasa sangat ingin bertemu dengan seseorang dan ingin melakukan apa saja untuk bisa melihatnya lagi, itu artinya kau merindukan orang itu.”

Heechul mengerutkan keningnya, berusaha mencerna penjelasan gadis itu. Dia tidak tahu bahwa ada perasaan seperti itu. Dia tidak pernah merindukan siapapun sebelumnya.

Pria itu meletakkan sumpitnya dan melipat tangannya di depan dada. Matanya terarah kepada gadis itu dalam satu tatapan intens.

“Kalau begitu sebaiknya kita segera menikah saja agar aku bisa membawamu kemanapun aku pergi. Jadi aku tidak perlu merindukanmu lagi.”

***

STA Building

08.30 PM

 

“Kita harus bicara.”

Suara tenor itu membuat Eun-Kyo yang sedang sibuk mengetik laporan di komputernya terlonjak kaget. Gadis itu mendongak dan langsung membelalak syok melihat siapa yang sedang mengajaknya bicara.

“Leeteuk ssi…” gumamnya lirih. Tiba-tiba saja gadis itu merasa ketakutan melihat tatapan mata Leeteuk yang tampak menghakimi.

“Kau dan aku, kita harus bicara,” ulang namja itu lagi. Wajahnya tampak sangat serius dan matanya menyorot tajam, seolah hidupnya bergantung pada gadis di depannya itu.

“Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan,” jawab Eun-Kyo cepat. Dia melirik jam di atas meja kerjanya dengan gugup dan bergegas meraup semua barang-barangnya kemudian memasukkannya secara serampangan ke dalam tas. Laporan yang sedang diketiknya sepertinya harus ditunda sampai nanti malam. Sebaiknya dia pulang sekarang. Lebih cepat menjauh dari pria di depannya ini lebih baik. Eun-Kyo tahu bahwa emosinya sedang tidak stabil dan dia mungkin saja akan kehilangan kendali jika harus memaksakan diri untuk berbicara dengan pria ini sekarang, tapi dia juga tahu, bahwa saat berhadapan dengan pria ini, entah kenapa hatinya menjadi begitu lemah. Seolah apapun alasan pria itu mendekatinya, dia tidak akan peduli dan dengan mudah akan jatuh ke pelukan pria itu lagi semudah hokum gravitasi berlaku pada setiap benda yang terjatuh ke atas permukaan bumi.

Eun-Kyo menggantungkan tali tasnya ke bahu dan berjalan secepat yang bisa dilakukan kakinya ke arah pintu, tapi tangan Leeteuk bergerak lebih cepat. Pria itu mencengkeram tangan Eun-Kyo dengan begitu erat, nyaris membuat gadis itu meringis kesakitan.

“Kenapa kau menghindariku?” tanyanya tajam.

Eun-Kyo menggertakkan giginya dan menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengontrol emosinya. Dia tetap berdiri membelakangi Leeteuk, berusaha tidak menatap wajah yang selalu berhasil membuaatnya kehilangan akal sehat itu.

“Lepaskan,” ucapnya pelan, nyaris berbisik.

Leeteuk menaikkan tangannya dari pergelangan tangan Eun-Kyo ke siku gadis itu, menariknya kuat sehingga tubuh gadis itu dengan refleks berbalik menghadapnya. Dia nyaris tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak mengguncang-guncang tubuh gadis itu, jadi sebagai gantinya dia berteriak frustasi dengan suara bergetar yang tidak bisa dikontrolnya.

“PARK EUN-KYO SSI!!!”

Eun-Kyo mendongak dan menyadari bahwa semua karyawan yang masih berada di kantor memandangi mereka dengan raut wajah ingin tahu. Kantor pribadi Eun-Kyo hanya dilapisi dinding kaca, jadi semua orang bisa melihat apa yang terjadi di dalam.

Dengan seluruh tenaga yang bisa dikerahkannya, Eun-Kyo menghentakkan tangannya sampai terlepas dan dengan cepat berlari keluar. Dia berusaha tidak memedulikan tatapan-tatapan penasaran saat dia lewat, bahkan dia mengacuhkan paru-parunya yang sudah memberontak mencari udara dan tetap berlari sampai ke halte bus yang berjarak 10 menit dari Five States.

Gadis itu memegangi bangku halte yang terasa sangat dingin, mencengkeramnya kuat-kuat saat dia berusaha menormalkan nafasnya kembali. Dia nyaris terduduk di atas pelataran halte, hampir-hampir tidak bisa menahan tubuhnya sendiri. Sekujur tubuhnya sudah basah karena keringat, membuatnya terpaksa melonggarkan syal yang melilit lehernya, mencari sedikit udara dingin yang mungkin bisa sedikit menyegarkan otaknya.

Halte itu kosong dan biasanya memang seperti itu, karena kebanyakan karyawan KNI memiliki mobil pribadi masing-masing atau memilih naik kereta api bawah tanah yang stasiunnya terletak tidak terlalu jauh dari gedung mewah itu. Dan hal tersebut menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi Eun-Kyo. Dia tidak pernah mau terlihat lemah di depan orang lain. Dia tidak suka tatapan simpati dan kasihan dari orang luar yang tidak mengenalnya.

Gadis itu bangkit berdiri dengan susah payah. Tangan kanannya memegangi tasnya yang beratnya terasa bertambah lima kali lipat daripada yang seharusnya, sedangkan dia sendiri harus berjalan tertatih-tatih karena energinya sudah lenyap entah kemana, menguap seperti kepulan kabut yang terbentuk saat dia menghela nafas. Musim gugur tahun ini memang termasuk ekstrim, nyaris sama membekukannya dengan musim dingin.

Bunyi dentuman sepatu hak tingginya memantul di atas aspal setiap kali dia melangkah. Jalanan itu nyaris kosong tanpa ada kendaraan yang lewat, padahal masih jam 8 malam. Eun-Kyo memutuskan untuk berjalan kaki ke jalan raya yang berjarak 10 menit dari tempat itu, berniat untuk menyetop taksi pertama yang dijumpainya.

Gadis itu merasa sedikit gentar saat melihat dua orang pria berbadan besar berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Cara berjalan mereka terlihat sedikit sempoyongan, seperti orang yang sedang mabuk, membuat gadis itu merasa ketakutan sendiri saat jarak mereka semakin dekat.

Eun-Kyo menahan nafasnya saat mereka berpapasan. Dia nyaris menjerit saat merasakan tangan salah satu dari pria itu menyentuh pundaknya.

Sial. Sekali kau dalam keadaan sial, semua kesialan itu akan secara beruntun menghampirimu.

***

Leeteuk menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang tidak pernah dicobanya sebelumnya, 15 km/jam. Dia mengikuti Eun-Kyo dari belakang, mematikan lampu depan mobilnya agar gadis itu tidak sadar. Dia sendiri tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya, tapi dia cemas dengan emosi seperti itu Eun-Kyo akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak, atau mungkin saja akan terjadi sesuatu yang membahayakan nyawanya di jalan.

Dan benar saja. Leeteuk merasakan jantungnya mencelos saat melihat dua pria yang kelihatannya sedang mabuk berat berjalan mendekati gadis itu. Dia dengan refleks mencengkeram setir mobilnya dan mengumpat keras.

Gadis bodoh itu, apa dia harus membahayakan dirinya sendiri hanya untuk menghindarinya?

***

Eun-Kyo memegangi tasnya di depan dada saat salah seorang pria itu berusaha menariknya mendekat. Pria satu lagi mengelus rambutnya sambil mengucapkan kata-kata yang tidak sopan, membuat gadis itu bergidik ketakutan saat menyadari dirinya benar-benar berada dalam bahaya besar. Dia berusaha untuk mendorong tangan salah satu pria itu agar menjauh dari tubuhnya, tapi bahkan untuk mengangkat tangannya saja dia nyaris sudah tidak punya sisa tenaga.

Dia membelalak ngeri saat pria yang bertubuh paling besar, dengan bau alkohol yang sangat menyengat menguar dari mulutnya, mencengkeram wajahnya dengan kasar dan berusaha menciuminya. Perutnya terasa mual dan isi perutnya nyaris menyembur keluar saat dia berusaha memalingkan wajahnya, mencegah sesuatu yang paling tidak diinginkannya terjadi.

Tubuh Eun-Kyo terhuyung ke belakang, nyaris menghantam tanah saat pria itu tiba-tiba terkapar di dekat kakinya, merintih kesakitan sambil memegangi pinggangnya. Eun-Kyo merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya dan menariknya mendekat agar gadis itu bisa berpegangan dan tidak terjatuh karena kehilangan keseimbangan, sedangkan kaki sang penyelamatnya itu dengan cepat melayang, menendang pria satu lagi yang berusaha menyerangnya.

“Gwaenchana?” tanya pria itu pelan sambil menghampiri kedua tubuh yang sudah terkapar tidak berdaya di atas aspal itu, menarik Eun-Kyo bersamanya. Pria itu menjulurkan kakinya dan membalik tubuh kedua pria itu sampai terlentang dengan kakinya itu, memastikan bahwa kedua pria itu benar-benar sudah pingsan.

Eun-Kyo mendengar suara yang begitu familiar itu mencapai telinganya, membuat tubuhnya langsung menegang kaku saat menyadari siapa pria yang telah menyelamatkannya itu.

Leeteuk menyadari perubahan gestur tubuh Eun-Kyo sehingga dia menarik tubuh gadis itu lagi, nyaris menyeretnya, ke tepi jalan dan mendudukkannya di atas tembok pembatas.

“Gwaenchana?” ulang pria itu lagi sambil menyentuh bahu Eun-Kyo dengan kedua tangannya dan melirik gadis itu dari atas sampai bawah, memastikan bahwa keadaan gadis itu baik-baik saja.

“Aku tidak apa-apa. Kau bisa pergi sekarang,” ujar Eun-Kyo dingin dengan kepala menunduk.

Leeteuk menarik tangannya dari tubuh Eun-Kyo, menggertakkan giginya dengan kedua tangan terkepal erat.

“Tidak bisakah kau berhenti bersikap bodoh seperti ini dan menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kau membahayakan dirimu sendiri hanya karena kau ingin menghindariku. Apa kau tidak tahu seberapa cemasnya aku saat melihatmu berada dalam bahaya seperti tadi?” teriak Leeteuk, tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri sehingga dia nyaris meledak seperti bom waktu.

“Kalau kau mau berhenti merasa cemas kenapa kau tidak pergi saja dan berhenti mengkhawatirkanku? Kau bisa mencari gadis lain yang jatuh cinta setengah mati padamu dan bersikap seperti orang bodoh agar bisa menarik perhatianmu, jadi kau bisa mempermainkannya sama seperti kau mempermainkanku! KENAPA KAU TIDAK PERGI SAJA DAN BERHENTI MUNCUL DI HADAPANKU, HAH?!!” ujar Eun-Kyo balas berteriak.

Leeteuk membulatkan matanya. Jadi karena itu? Apa gadis itu sudah mengetahui semuanya dan mengira bahwa dia mendekati gadis itu hanya karena keegoisannya saat mengetahui bahwa gadis itu tidak menyukainya lagi? Bahwa dia hanya ingin bermain-main saja dan membuktikanbahwa apapun yang terjadi gadis itu akan tetap menyukainya lagi? Bahwa dia terlalu mempesona untuk dilupakan gadis itu begitu saja?

Sial!

Leeteuk menarik Eun-Kyo sampai bangkit berdiri dan menyeret gadis itu ke mobilnya yang berjarak beberapa meter di belakang. Dia membuka pintu penumpang dan mendorong gadis itu masuk dengan paksa. Setengah berlari dia mengitari mobilnya dan masuk ke bangku kemudi, menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak gas dalam-dalam. Dia melirik Eun-Kyo yang tubuhnya sedikit tersentak karena guncangan yang tiba-tiba itu. Pria itu menarik nafas dan menepikan mobilnya, menimbulkan bunyi decit yang memekakkan telinga.

Leeteuk menjulurkan tubuhnya ke arah gadis itu dan menarik seatbelt, memasangkannya ke sekeliling tubuh gadis itu sebelum mengemudikan mobilnya lagi.

Tidak ada suara yang terdengar sepanjang perjalanan yang terasa benar-benar sunyi itu. Eun-Kyo sendiri memalingkan wajahnya ke pemandangan di luar jendela, dengan jelas menunjukkan bahwa dia tidak akan mengacuhkan pria itu sedikitpun.

Setengah jam berikutnya Leeteuk menepikan mobilnya di depan pagar rumah gadis itu, mematikan mesin, dan menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Dia menolehkan wajahnya dan melihat Eun-Kyo berusaha membuka seatbelt dengan tangannya yang gemetar, sepertinya begitu tergesa-gesa ingin segera kabur dari hadapannya.

Leeteuk mengulurkan tangan kanannya dan melepaskan seatbelt itu dengan mudah, masih dengan tatapan yang tetap terhujam di wajah gadis itu.

Eun-Kyo membuka pintu mobil, berniat melangkah keluar dan langsung berlari masuk ke rumahnya, saat suara Leeteuk menghentikan gerakannya. Pria itu tidak bergerak untuk mencegahnya sama sekali, hanya berbicara dengan suara yang terdengar begitu lemah dan putus asa, seolah dia bahkan tidak punya energi lagi yang tersisa untuk sekedar menghalangi gadis itu pergi.

“Dinginkan kepalamu agar kita bisa bicara. Dan… Eun-Kyo ssi, aku tidak pernah bermain-main dengan setiap keputusan yang sudah aku ambil. Kalau aku mengatakan bahwa aku menginginkanmu, maka itu berarti aku akan mengejarmu habis-habisan.” Leeteuk menatap gadis itu dalam-dalam, tepat di manik mata. “Dan biasanya, aku selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan.”

***

Zhoumi’s Home, Seoul

08.00 PM

 

Yu-Na membawa semangkuk besar popcorn yang baru saja diambilnya dari AutoChef ke ruang tamu. Zhoumi menunggunya disana sambil mencari film bagus dari setumpuk DVD miliknya. Mereka berencana menonton film bersama malam ini, dan Yu-Na tidak peduli film apa yang akan mereka tonton, selama itu bisa membuatnya bersama pria itu lebih lama lagi. Biasanya dia sudah masuk ke dalam kamarnya saat jam 9 malam, tapi sepertinya malam ini dia akan tidur sedikit larut. Biasanya film berdurasi minimal satu setengah jam, dan itu berarti dia bisa melihat pria itu lebih lama daripada malam-malam sebelumnya. Tidak perlu menjadi orang pintar untuk bisa menebak bahwa dia sedang jatuh cinta. Dalam waktu yang sangat singkat, waktu yang terlalu singkat untuk menilai seseorang dan jatuh cinta padanya.

Yu-Na menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Gadis itu mengambil bantal kecil dan meletakkannya di atas pangkuan Zhoumi dan tanpa minta izin sedikitpun membaringkan kepalanya di atas bantal itu. Dia berbaring miring menghadap TV dan meletakkan mangkuk popcorn tadi di depan tubuhnya, menahannya dengan tangan kiri yang melingkar di sekeliling mangkuk tersebut selagi tangan kanannya sibuk meraup popcorn tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Yak yak yak, kau pikir apa yang sedang kau lakukan, hah?” ujar Zhoumi sambil mengacak-acak rambut Yu-Na, membuat gadis itu berteriak protes.

“Aish, oppa, jangan merusak rambutku! Biasanya aku selalu menonton sendiri dan tidur di atas sofa, jadi karena sekarang kau juga duduk di atas sofa ini, aku terpaksa harus tidur di pangkuanmu. Memangnya tidak boleh?” tanya gadis itu, sibuk merapikan rambutnya yang berantakan.

“Kau bersikap seolah aku ini kekasihmu, itu masalahnya.”

Yu-Na meluruskan tubuhnya, kepalanya mendongak ke atas, tepat ke arah Zhoumi.

“Memangnya bukan? Setahuku kemarin kau baru saja melamarku jadi istrimu,” jawab gadis itu santai.

“Dan kau belum menjawabku.”

“Kau perlu cincin, kata-kata romantis, dan tempat yang tepat kalau kau menginginkan jawaban dariku.”

Zhoumi tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ah, jadi kau ingin yang seperti itu, ya? Apa aku juga harus berlutut di hadapanmu saat melamar?”

“Itu juga boleh.”

Zhoumi menyentuhkan tangannya ke pipi gadis itu, mengusapnya pelan.

“Lalu setelah aku melakukannya, kau mau menikah denganku?”

Yu-Na terpana sesaat karena wajah pria itu begitu dekat. Sorot mata pria itu terlihat sangat serius, seolah dia benar-benar membutuhkan jawaban dari gadis itu.

“Kalau aku menolak apa yang akan kau lakukan?” tanya gadis itu lirih.

“Menarikmu ke altar dan memaksa pendeta menikahkan kita. Itu pilihan utamaku.”

***

“Kau tidak perlu mengantarkanku ke kamar segala. Aku kan bukan anak kecil,” protes Yu-Na sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang berada di dalam genggaman Zhoumi.

“Aku hanya ingin memperlama waktu kita bersama,” jawab pria itu jujur, mengulurkan tangan kirinya untuk membuka pintu kamar gadis itu.

Yu-Na melangkah masuk ke dalam kamarnya, menunggu selama beberapa saat, berharap Zhoumi melakukan sesuatu. Ciuman selamat malam mungkin? Tapi pria itu hanya berdiri diam saja disana, membuat Yu-Na menjadi malu sendiri karena sudah mengharapkan yang tidak-tidak.

“Aku masuk dulu, oppa,” ucapnya salah tingkah.

Zhoumi mengangguk. Dia sangat ingin menarik gadis itu ke pelukannya dan menciumnya, tapi tidak yakin apakah gadis itu akan menyukai perlakuannya atau tidak. Bagaimana kalau gadis itu marah dan menamparnya?

“Yu-Na~ya,” panggil Zhoumi tanpa sadar. Dia mengutuki mulutnya sendiri yang tiba-tiba berada di luar kendali.

“Ne?”

Zhoumi ragu-ragu sesaat sebelum akhirnya menghembuskan nafasnya dan menarik pinggang Yu-Na dengan tangan kanannya, membuat tubuh gadis itu sedikit terangkat dari lantai. Dia menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu dalam satu lumatan ringan, membuat gadis itu membelalak kaget, tidak menyangka bahwa dia akan melakukan hal itu.

Zhoumi sedikit mendorong tubuh Yu-Na, menyandarkan tubuh gadis itu ke dinding agar tidak terjatuh. Dia memiringkan wajahnya untuk memperdalam ciuman mereka dan nyaris melakukan hal yang lebih kalau saja communicator-nya tidak berbunyi di saat yang begitu tepat.

Pria itu menegakkan tubuhnya dan mendecak kesal, membuat Yu-Na terkekeh geli.

“Itu artinya kau sedang tidak beruntung, Zhoumi ssi.”

Zhoumi memegang communicator-nya di tangan kanan dan menunduk, menyapukan kecupan singkat di bibir gadis itu.

“Itu artinya aku harus segera menikahimu sebelum aku kehilangan kendali, Nona Kwon.”

***

Donghae’s Home, Gangnam, Seoul

09.00 PM

 

Donghae baru saja menutup pintu mobilnya saat mendengar bunyi piring yang pecah dari arah rumah. Dia mengerutkan keningnya dan mendadak pikiran buruk menyergapnya. Apa terjadi sesuatu pada… Ga-Eul?

Pria itu berlari cepat ke dalam rumah, nyaris tidak bisa berpikir jernih saat dia dengan tergesa-gesa mendorong pintu ruang makan sampai menjeblak terbuka dan menemukan gadisnya terduduk di lantai dengan pecahan piring di sekelilingnya.

“Gwaenchana? Kau terluka?” tanyanya panik sambil memeriksa keadaan gadis itu.

“Kakiku…” ucap Ga-Eul lirih sambil meringis.

“Tunggu disini. Aku ambil kotak obat dulu,” perintah Donghae, dengan cepat berdiri dan menghilang di balik pintu. Dia memeriksa lemari dinding di dekat ruang TV, mengobrak-abrik isinya sampai berantakan sampai akhirnya dia teringat bahwa dia meletakkan kotak itu di kamarnya. Pria itu bergegas menaiki tangga dan mengambil kotak itu di kamarnya, menjatuhkan beberapa pajangan dalam ketergesaannya kembali ke ruang makan.

Tapi langkahnya mendadak terhenti di depan pintu saat dia mendapati Ga-Eul berdiri di pinggir meja sambil tersenyum lebar, terlihat baik-baik saja. Gadis itu berjalan pelan ke arah Donghae dengan wajah ceria, mengharapkan pujian karena dia sudah bisa berjalan lagi. Donghae merasakan tangannya bergetar, menjatuhkan kotak obat yang dipegangnya karena genggamannya yang tiba-tiba melemah. Kekhawatirannya yang berada di titik puncak tadi dengan cepat berubah menjadi kemarahan yang meledak-ledak.

“Oppa, tadi pagi eomma menemaniku latihan seharian. Dan coba kau lihat, aku sudah bisa berjalan lagi! Hanya saja tidak bisa terlalu lama,” ujar gadis itu saat sudah berhadapan dengan Donghae.

“Cho Ga-Eul,” ucap Donghae penuh penekanan. “Tidak bisakah kau mencari cara lain untuk memberitahuku selain dengan pura-pura terluka dan membuatku hampir mati ketakutan karena mencemaskanmu? Kau tahu seberapa paniknya aku saat melihatmu terluka di depanku seperti tadi? Apa kau tidak tahu aku tidak bisa berpikir jernih jika terjadi sesuatu yang buruk padamu? Dan sekarang kau tersenyum di depanku seolah tanpa dosa, kau punya otak tidak?!” teriaknya keras, membuat Ga-Eul tersentak ke belakang dengan wajah ketakutan.

“Op… pa….”

Donghae membenamkan tangannya ke rambut, berusaha menenangkan diri. Dia mengusap wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam sebelum mendongak menatap gadis itu lagi.

“Mianhae,” bisiknya. “Mianhae…. Aku… aku hanya ketakutan saat melihatmu terluka seperti tadi. Lain kali jangan melakukannya lagi, oke?”

Ga-Eul mengangguk cepat, masih terlalu takut untuk mendekat ke arah Donghae lagi, sehingga pria itulah yang akhirnya mendekat duluan dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya sendiri ke rambut gadis itu.

“Chukhahae. Kau pasti senang sudah bisa berjalan lagi, kan?”

“Kedengarannya kau tidak senang.”

“Menurutmu aku harus senang?” Donghae menegakkan tubuhnya dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. “Tentu saja aku menjadi orang yang paling bahagia melihat kau bisa berjalan lagi. Tapi… aku juga sedih karena itu berarti kau kehilangan satu alasan untuk membutuhkan kehadiranku.”

Ga-Eul menatap pria itu heran.

“Apa kau tidak tahu bahwa kau ada dalam urutan teratas orang yang paling kubutuhkan dalam hidup? Kau satu-satunya orang yang bersikeras untuk membiarkanku tetap hidup di saat yang lain menyerah dan memutuskan mencabut semua alat bantu kehidupanku. Aku sudah bisa berjalan sehingga kau tidak perlu jadi kakiku lagi. Lalu mungkin sebentar lagi aku akan bisa mengingat semuanya sehingga kau juga tidak perlu menjadi memoriku. Tapi ada satu alasan lain yang akan tetap membuatku membutuhkanmu.”

“Aku membutuhkan kehadiranmu untuk kucintai. Aku butuh seseorang untuk membuatku jatuh cinta lagi, dan… kau orangnya.”

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju, South Korea

09.30 PM

“Gamsahamnida, ajjushi,” ujar Hye-Na sambil membungkuk. Kyuhyun menyuruh Ji-Hwan menjemputnya ke kantor karena gadis itu harus lembur untuk membuat laporan kejadian tadi siang kalau dia tidak mau diinterogasi secara langsung.

“Ne. Cheonmaneyo,” ucap Ji-Hwan sambil tersenyum. Pria paruh baya itu memutar mobilnya ke arah gerbang setelah melambai pamit.

Hye-Na menaiki beberapa anak tangga yang menuju ke pintu masuk dan menggunakan kuncinya sendiri untuk membuka pintu. Gadis itu memijit tengkuknya pelan kemudian meregangkan tangannya. Dia menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia mandi air hangat terlebih dahulu atau langsung tidur. Tubuhnya benar-benar sudah lelah sekali. Belum lagi tekanan psikis yang didapatkannya tadi siang, membuat kelelahannya meningkat menjadi berkali-kali lipat.

Dia membuka pintu kamarnya dan langsung membelalak kaget saat mendapati kamarnya telah berubah seratus delapan puluh derajat. Semua barang-barangnya, dan bahkan tempat tidurnya hilang, digantikan oleh rak-rak berisi ratusan buku, sofa santai, dan meja baca.

Dia memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dia tidak mungkin salah masuk kamar, kan?

Gadis itu dengan cepat melangkah menyeberangi kamarnya dan membuka pintu yang menyambungkan kamarnya dengan kamar Kyuhyun. Tapi tidak ada siapapun disana. Dan kamar pria itu terlihat normal-normal saja.

Hye-Na berlari keluar kamarnya, menuju ruang kerja pria itu yang terletak di ujung. Dia mendorong pintu ruangan itu dengan kasar sampai menjeblak terbuka dan menghambur masuk.

“Yak, kenapa kamarku jadi kosong dan penuh dengan barang-barangmu? Kau kemanakan tempat tidur dan barang-barangku?” teriak Hye-Na kesal.

Kyuhyun mengalihkan wajah dari layar komputernya dan mendongak menatap gadis itu.

“Barang-barangmu ada di kamarku. Mulai malam ini kau tidur denganku,” jawab Kyuhyun santai, kembali sibuk mengetik di keyboard komputernya.

“Bagaimana bisa kau mengambil keputusan tanpa menanyakan pendapatku dulu?”

“Bukankah kau lebih suka tidur di kamarku? Selama aku pergi kau juga tidur disana, kan?” tandas Kyuhyun dengan senyum yang bermain di sudut bibirnya.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Hye-Na sengit. Wajahnya sudah memerah, malu karena pria itu tahu rahasia kecilnya. Rahasia kecil yang benar-benar membuatnya tidak tahu dimana harus menyembunyikan wajahnya.

Kyuhyun tersenyum dan menekan tombol merah di sudut meja kerjanya. Dinding di bagian kanan mereka mendadak bergerak membuka ke atas, menampakkan puluhan layar di baliknya. Layar-layar itu masing-masingnya memperlihatkan setiap ruangan di rumah itu, dengan pemandangan yang sangat jelas ke setiap sudutnya, membuat Hye-Na menghadapi ketakutan terbesarnya.

“Apa saja yang sudah kau lihat, hah?” tanyanya dengan suara tercekat. Dia berusaha menelan ludahnya dengan susah payah.

Kyuhyun terkekeh senang dan memutar bola matanya, menunjukkan bahwa dia sangat menikmati permainan barunya menggoda gadis itu.

“Well, aku bisa mengatakan bahwa aku sudah melihat semuanya. Dimulai dari saat kau masuk ke kamarku, membuka lemari pakaianku, mengambil salah satu kemejaku, kemudian…. Kau tidak bermaksud mendengarku menceritakan kelanjutannya kan, Na~ya?”

“KAU!!!” teriak Hye-Na emosi sambil mengangkat tangannya, bermaksud memukul pria itu, tapi Kyuhyun lebih cepat dan dalam beberapa detik dia telah terperangkap di antara tubuh pria itu dan meja kerjanya. Pria itu mendudukkannya dengan paksa ke pangkuannya dan tangannya menahan kepalan tangan Hye-Na dengan kuat, membuat gadis itu tidak bisa bergerak kemana-mana.

“Kau terlalu cepat emosi, Na~ya,” gumam Kyuhyun sambil menangkupkan tangannya yang bebas ke pipi gadis itu, menyibakkan anak rambutnya ke belakang telinga. Dia sedikit menarik wajah gadis itu ke depan, membuat wajah mereka nyaris tidak berjarak.

Hye-Na menunggu dengan tegang, tahu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya. Tanpa sadar kepalan tangannya melemas, terjuntai membuka di dalam cekalan Kyuhyun yang juga semakin melemah.

Pria itu dengan sengaja berlama-lama menahan gerakannya, membiarkan bibir mereka hanya berjarak kurang dari satu inci tanpa ada tanda-tanda akan menyentuhnya, membuat Hye-Na berusaha keras untuk tidak menjulurkan wajahnya dan mencium pria itu duluan.

Jari Kyuhyun menyusup masuk ke dalam helaian rambut Hye-Na, memberikan sensasi geli yang aneh di perut gadis itu, seolah ada ratusan sayap kupu-kupu yang mengepak secara serentak di dalamnya.

Kyuhyun menekankan bibirnya dengan perlahan ke permukaan bibir Hye-Na, sebelum akhirnya memberikan ciuman yang rakus dan mendesak, melepaskan segala hal yang sejauh ini berusaha ditahan-tahannya. Dia menelusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Hye-Na yang sedikit terbuka, mengeksplorasi rongga mulut gadis itu, menjelajahinya tanpa ampun.

Dia melepaskan cekalannya dan memindahkan tangannya ke pinggang Hye-Na, menarik tubuh gadis itu lebih dekat agar tidak terkena sisi meja di belakangnya, sedangkan tangannya yang satu lagi menahan kepala gadis itu agar tidak bergerak menjauh. Dia sedikit terkejut saat gadis itu membalas ciumannya, tangannya yang sudah bebas dari cekalan Kyuhyun bergerak naik, mencengkeram kerah kemeja pria itu.

Setelah yakin bahwa Hye-Na tidak akan mendorong tubuhnya, Kyuhyun menurunkan tangannya dari kepala gadis itu, menyentuh tengkuknya, dan beranjak ke kancing teratas kemeja gadis itu, seiring dengan ciuman mereka yang semakin panas dan tidak sabar. Dengan mudah dia meloloskan kancing pertama dari lubangnya, berlanjut dengan kancing berikutnya.

Tangan Kyuhyun di pinggang Hye-Na bergerak naik, masuk melalui celah di bagian bawah kemeja gadis itu, membuatnya bisa menyentuh kulit punggung gadis itu dengan leluasa. Nafas mereka menderu, mulai kehabisan oksigen untuk dihirup.

“Kyuhyun~a, kau harus melihat undangan pernika….”

Kyuhyun terkesiap kaget, merasakan tubuh Hye-Na yang menegang dalam pelukannya. Dia memiringkan kepalanya, melihat melalui bahu gadis itu.

“…hanku.” Eunhyuk menyelesaikan ucapannya dengan wajah yang sedikit syok. Dia berdiri di tengah-tengah ruangan, merasa bersalah saat menyadari bahwa dia baru saja menginterupsi hal yang sangat penting. Melihat raut wajah Kyuhyun hanya memperburuk keadaannya. Pria itu seperti akan menerkamnya hidup-hidup.

“Sepertinya aku sudah mengganggu proses penciptaan keponakan pertamaku,” gumam Eunhyuk tidak jelas.

Kyuhyun menahan tubuh Hye-Na agar tetap membelakangi sepupunya itu, memberi gadis itu waktu untuk memasangkan kembali kancing kemeja yang tadi sudah berhasil dibukanya. Dia sendiri membantu gadis itu merapikan rambutnya yang sudah terlihat acak-acakan karena sentuhan tangannya tadi.

“Seharusnya kau mengetuk pintu dulu,” gerutu Kyuhyun sambil memegangi pinggang Hye-Na, memastikan gadis itu tidak terjatuh saat mereka bangkit berdiri.

“Kau keluar duluan, nanti aku menyusul,” ujar Kyuhyun ke arah Eunhyuk yang langsung mengangguk mengerti.

“Aku cukup sabar menunggu sampai kalian menyelesaikan apa yang sudah aku interupsi tadi,” seru Eunhyuk sebelum melangkah keluar dari ruangan.

Kyuhyun mendengus kesal sebelum memfokuskan tatapannya lagi ke arah Hye-Na. Dia tersenyum puas saat melihat akibat perbuatannya tadi terhadap gadis itu.

“Aku suka penampilanmu,” ucapnya sambil menjulurkan tubuhnya dan mengecup pipi gadis itu singkat, bergegas menyusul Eunhyuk yang sudah pergi duluan.

Hye-Na mematung selama beberapa saat, memerlukan waktu yang cukup lama untuk kembali berkonsentrasi dan menepuk-nepuk pipinya mencari kesadaran. Dia menoleh sekilas ke arah lemari kaca yang memantulkan bayangannya dengan jelas dan mengerang putus asa. Bibirnya terlihat merah dan sedikit membengkak akibat ciuman tadi, rambutnya tampak tidak karuan dan kemejanya kusut di beberapa tempat.

Astaga, dia benar-benar terlihat seperti gadis yang baru saja berciuman habis-habisan!

***

“Mianhae. Aku… mengganggu kegiatanmu,” ucap Eunhyuk dengan tangan menutupi mulutnya, berusaha mengontrol tawanya yang hendak menyembur keluar.

“Aish, hyung, aku sangat ingin membunuhmu, kau tahu?” dengus Kyuhyun, menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.

“Hahaha… jadi itu yang kau lakukan saat bersamanya? Astaga, kalau ada wartawan yang melihat kalian seperti itu, mereka semua pasti langsung menyesal karena pernah menggosipkanmu gay,” ujar Eunhyuk sambil tertawa keras. “Kalau aku tidak datang pasti kau akan menerkamnya, kan? Bercinta di atas meja kerja itu memang keren sepupu, tapi setelah itu tubuhnya pasti akan kesakitan.”

Kyuhyun dengan cepat melempar koran yang tergeletak di atas meja, tepat mengenai kepala sepupunya yang menyebalkan itu.

“Aish, kau ini kasar sekali! Yak, apa Hye-Na tidak pernah protes dengan perlakuanmu? Kau tidak melakukannya dengan kasar, kan? Karena kalau iya, dia pasti tidak akan mau melakukannya lagi denganmu.”

“Hentikan ocehan mesummu itu, Lee Hyuk-Jae!” bentak Kyuhyun habis kesabaran. “Mau apa kau kesini malam-malam begini?”

Eunhyuk tersenyum lebar dan mengacungkan kertas berbentuk stroberi berwarna merah di tangannya.

“Lusa aku menikah. Kau orang pertama yang mendapat undangan ini dan khusus diantarkan sendiri olehku.”

Kyuhyun mengambil kertas itu dan membaliknya.

“Kenapa berbentuk stroberi? Kenapa tidak monyet saja? Aaaaa, biar kutebak, kalian pasti akan mengadakan pesta di kebun binatang, kan? Di kandang monyet?”

Eunhyuk melempar balik koran tadi dan menatap Kyuhyun dengan bengis.

“Apa kau sebegitu dendamnya padaku karena sudah menginterupsi adegan mesummu, hah? Dan kenapa selera humormu tiba-tiba meningkat seekstrim itu? Gadis itu melakukan apa sebenarnya sampai kau terlihat begitu….”

“Manusiawi?” lanjut Kyuhyun, menyelesaikan ucapan Eunhyuk.

“Ne,” ucap Eunhyuk setuju.

“Dia tidak melakukan apa-apa. Bahkan sebenarnya kami berdua tidak pernah benar-benar bicara. Kebanyakan hanya pertengkaran-pertengkaran tidak penting, atau aku harus menyelamatkannya saat dia akan dibunuh, dibom, semacam itu.”

“Dan saat berdekatan kalian terlihat seperti magnet yang saling tarik-menarik satu sama lain. Seperti… kau buminya dan dia gravitasinya. Bagaimana bisa begitu?”

Kyuhyun mengangkat bahunya dan tertawa.

“Kau mana bisa bertanya padaku kenapa bisa begitu, hyung. Yang melihat kan kau, bukan aku. Aku bahkan tidak tahu kalau kami terlihat seperti itu.”

“Membuat iri saja,” dengus Eunhyuk.

“Jadi… kalian akan menikah dimana?” tanya Kyuhyun mengalihkan pembicaraan.

“Bermuda.”

“Bermuda? Kau mau semua undanganmu menghilang tanpa alasan yang jelas saat berusaha mencapai lokasi pernikahan kalian?” ejek Kyuhyun, merujuk pada prestasi daerah itu yang sering membuat kapal-kapal dan bahkan pesawat yang melintas di atasnya menghilang tanpa ada tanda-tanda akan ditemukan.

“Itu berada di sisi lain, bodoh!” rengut Eunhyuk. “Kami akan mengucapkan janji pernikahan di pinggir pantai dan hanya akan dihadiri keluarga dekat saja, lalu malamnya ada pesta untuk umum.”

“Lalu kau pikir semua undanganmu mau mengeluarkan uang untuk pergi jauh-jauh kesana?”

“Semuanya aku fasilitasi. Tapi sepupu, tentu saja aku kesini untuk bernegosiasi denganmu,” ujar Eunhyuk dengan gelagat yang menurut Kyuhyun sangat mencurigakan. “Kau ingat kan, yacht-mu yang seperti rumah mewah itu. Boleh aku meminjamnya sebagai tempat pesta? Aku akan meninggalkan yacht-ku disini untuk mengangkut para undangan. Eotte? Kedengarannya bagus, kan?”

Kyuhyun mendengus tak percaya.

“Kenapa kau tidak beli saja yacht yang mirip seperti itu? Uangmu kan banyak.”

“Aigoo, kau tidak ingat berapa harga yacht itu? 2 milyar dollar! 2 trilyun won! Untuk apa aku mengeluarkan uang sebanyak itu kalau aku bisa meminjamnya darimu?”

“Aish, dasar monyet pelit! Ya sudah, kau pergi saja ke pelabuhan dan beritahu penjaganya. Ada lagi?”

“Kau bisa jadi….”

“Tidak,” potong Kyuhyun cepat. “Aku tidak akan pernah mau menjadi pendamping pengantin siapapun.”

“Ck, kau ini!”

“Ngomong-ngomong, seingatku kau belum pernah mengenalkanku pada Ji-Yoomu.”

“Tidak. Kau bertemu dengannya nanti saja saat kami sudah menikah.”

“Wae? Kau takut dia jatuh cinta padaku?” tanya Kyuhyun geli.

“Ani. Aku takut kau akan terpesona padanya.”

“Mworago? Yak hyung, aku sudah punya….”

“Hye-Na. Ya ya ya, aku tahu. Kalau otakmu dibedah pasti isinya hanya gadis itu saja. Aku jadi penasaran, apa yang akan terjadi kalau dia tidak kembali ke Korea? Kau akan tetap sendirian seumur hidupmu?”

Kyuhyun tersenyum dengan pandangan sedikit menerawang. Matanya berkilat saat otaknya membayangkan apa yang akan dilakukannya jika hal itu benar-benar terjadi.

“Aku memberi batas waktu. Saat umurku 25 tahun, dan dia tidak juga muncul di hadapanku, aku akan langsung ke Amerika dan melamarnya pada ibunya. Apa saja, agar dia menjadi istriku. Dengan paksa kalau perlu.”

***

Kyuhyun membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk, mendapati gadisnya sudah tertidur nyenyak lengkap dengan baju tidur favoritnya, baju kaus kebesaran dan celana pendek. Pria itu naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut sampai menutupi tubuh gadis itu, mengambil remote dan menyetel suhu ruangan agar terasa sedikit hangat. Temperatur udara pada musim gugur ini memang sangat dingin dan dia tidak mau gadis itu terserang flu, demam, dan semacamnya.

Kyuhyun mematikan lampu kecil di dekat tempat tidur tanpa menggunakan perintah suara, takut jika gadis itu terganggu dan malah terbangun. Dia kemudian berbaring di samping Hye-Na, menariknya mendekat, melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang gadis itu, dan sedikit menunduk untuk membenamkan wajahnya di rambut gadis tersebut, menghirup nafas disana.

Pria itu tersenyum, merasa sangat rileks dengan posisinya. Setelah bertahun-tahun menginginkan gadis ini, akhirnya dia benar-benar bisa mendapatkannya. Dan dia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa senangnya dia bisa menjadikan gadis itu istrinya, hidup bersama gadis itu, dan memiliki gadis itu dalam dekapannya saat dia tertidur. Itu gambaran kehidupan sempurna dalam pikirannya, dan dia sudah mewujudkannya dengan baik. Sangat baik.

***

Snowy Photograph & Art, Myeongdeong, Seoul

02.00 PM

 

Kibum memarkirkan mobilnya beberapa blok dari studio milik Nou-Mi. Studio itu terdiri dari dua lantai, lantai dua digunakan untuk tempat editing foto dan hal-hal tekhnis lainnya, sedangkan lantai bawah digunakan sebagai tempat pameran yang terbuka untuk umum.

Pria itu menyeberang jalan dan menghentikan langkahnya di depan pintu masuk. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya disini, hanya saja setelah dua hari tidak bertemu gadis itu dia merasa ada yang aneh. Dia bahkan tidak nyaman dengan hidupnya sendiri. Dan alih-alih kembali ke kantor setelah makan siang, dia malah membelokkan mobilnya ke daerah ini dan baru tersadar saat dia melintas di depan studio gadis itu. Dia tidak mungkin masuk ke dalam, jadi sebagai gantinya dia hanya berdiri di balik pilar-pilar yang berjejer di depan bangunan itu, setidaknya dia bisa dengan leluasa melihat ke dalam karena semua dinding studio itu terbuat dari kaca.

Kibum tidak tahu kenapa dia bisa bersikap menyebalkan dua malam yang lalu. Kalau gadis itu berada di dalam mobil yang sama dengan adiknya saat kecelakaan itu terjadi memangnya kenapa? Kalau gadis itu terlalu trauma karena masa lalunya dan tidak bisa mendekat untuk menolong adiknya lalu kenapa? Bukankah Sae-Hee juga bisa disalahkan karena bersikeras untuk mengemudi padahal jelas-jelas dia sedang mabuk berat? Pada akhirnya tidak ada yang bisa diubah dan kecelakaan itu akan tetap terjadi. Kalau dia memang mencintai gadis itu bukankah dia akan memaafkan gadis itu dan menolong gadis itu menghilangkan trauma yang dihadapinya seorang diri selama bertahun-tahun? Jadi kenapa dia bisa bersikap seperti pria tolol dan malah meneriaki gadis itu?

Kibum memasukkan tangannya ke dalam kantong celana dan menyandarkan tubuhnya ke tembok pilar, menatap ke dalam studio melalui dinding kaca. Matanya menangkap sosok gadis itu di sudut ruangan, sedang sibuk berbicara dengan salah seorang pengunjung, sepertinya sedang menjelaskan makna dari foto di depan mereka. Gadis itu memakai baju terusan yang panjangnya nyaris mencapai lutut, celana jins, dan syal tipis yang melingkar di lehernya. Wajahnya tampak sedikit pucat. Entah karena suhu udara yang lumayan dingin, atau karena gadis itu memang sedang sakit. Dan sepertinya tidak ada luka lebam baru, bahkan wajahnya sudah kembali mulus lagi. Mungkin saja calon suaminya itu sudah mulai sembuh dan berhenti memukulinya.

Kibum tanpa sadar tersenyum, terlalu senang karena bisa melihat gadis itu lagi. Tapi mendadak dia teringat bahwa gadis itu akan menikah tiga hari lagi dan raut wajahnya langsung berubah muram. Dia tidak suka dengan kenyataan bahwa ada pria lain yang akan segera memiliki gadis itu. Rasanya seolah perutnya ditonjok dengan keras. Hanya saja bedanya rasa sakitnya tidak akan sembuh dalam beberapa hari, mungkin akan butuh waktu bertahun-tahun. Atau seumur hidup.

Kibum menegakkan tubuhnya dan sedikit mundur, memastikan tubuhnya tersembunyi dengan baik di balik pilar saat Nou-Mi berbalik dan tersenyum ke arah seseorang di depannya yang tidak bisa dilihat oleh Kibum karena terhalang pilar tempatnya bersembunyi. Tapi sesaat kemudian dia melihat seorang pria berjalan mendekat dan memeluk Nou-Mi, sedangkan gadis itu tampak tersenyum senang.

Tentu saja, batin Kibum, itu kan pria yang akan segera menikahinya.

Nou-Mi berbicara dengan pengunjungnya itu lagi kemudian menghilang sebentar dan kembali lagi sambil membawa tas tangannya. Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari studio sambil bergandengan tangan dan masuk ke dalam mobil pria itu.

Jadi apa dia tega menghapus senyum di bibir gadis itu dan melakukan apa saja untuk membatalkan pernikahan mereka? Apa dia tidak bisa bersikap seperti pria baik-baik yang akan merelakan gadisnya dengan orang lain agar gadis itu bahagia? Masalahnya dia bukan pria seperti itu, karena dia meyakini dengan baik bahwa gadis itu tidak akan pernah bahagia kalau bukan dengannya. Jadi jawabannya tidak. Jika menyangkut gadis itu, dia tidak bisa menjadi pria baik-baik.

***

Port Area, Seoul

10.00 AM

 

“Jadi ini yang kau sebut dengan yacht?” tanya Hye-Na sinis sambil mendelik menatap suaminya yang hanya mengangkat bahu tak peduli.

Yang dimaksud dengan yacht oleh suaminya yang sok kaya itu adalah sebuah… oke, Hye-Na tidak tahu bagaimana mungkin sebuah benda besar yang lebih berbentuk seperti rumah mewah itu bisa disebut yacht. Yacht itu bahkan lebih besar dua kali lipat dari rumahnya di Manhattan.

“Dan berapa tepatnya uang yang kau habiskan untuk membeli… benda ini?”

“2 milyar dollar.”

“Itu gajiku seumur hidup!” teriak Hye-Na nyaris meledak. Eunhyuk yang berdiri di belakang mereka bersama calon istrinya tertawa keras sampai terbahak-bahak.

“Diam kau, Lee Hyuk-Jae!” bentak Kyuhyun dengan aura menyeramkan sehingga pria itu langsung menutup mulutnya dan menarik Ji-Yoo naik ke atas yacht itu duluan. Orang tua Eunhyuk, Ji-Yoo, dan Kyuhyun sudah naik dari tadi bersama Ah-Ra dan So-Ra yang akan menjadi pendamping pengantin untuk Ji-Yoo, dan Leeteuk yang akan menjadi pendamping pengantin pria.

“Apa kegiatan favoritmu itu memang menghambur-hamburkan uang, hah?” cetus Hye-Na sambil naaik ke atas yacht itu, diikuti oleh Kyuhyun di belakangnya.

“Yak, lalu apa gunanya aku punya uang sebanyak itu kalau hanya untuk ditumpuk-tumpuk sampai memenuhi satu bank, hah?”

“Kau bisa berhenti mencari uang kalau begitu. Lebih baik kau pensiun saja. Apa kau tidak sadar ada banyak pengusaha yang bangkrut gara-gara kau menguasai semua bisnis yang ada? Kau masih bisa menghidupi sepuluh keturunanmu dan bahkan lebih walaupun mereka hanya menghambur-hamburkan uangmu saja tanpa bekerja.”

Kyuhyun terkekeh geli dan mengulurkan tangannya, melingkarkannya ke pinggang gadis itu sehingga mereka berdua berjalan bersisian.

“YAK!” protes Hye-Na sambil berusaha melepaskan diri, tapi seperti biasa, tenaganya tidak cukup kuat untuk mengalahkan pria itu.

“Keturunan, eh? Aku akan memikirkannya kalau kau bersedia membuatkan anak untukku,” ucap Kyuhyun santai.

“Anak? Apa eomma baru saja mendengar kata anak? Kau sedang hamil, Hye-Na~ya?”

Hye-Na terlonjak kaget saat tiba-tiba ibu mertuanya muncul di hadapan mereka, menatapnya penasaran. Dia mendelik ke arah Kyuhyun yang menutup mulutnya untuk menahan tawanya yang hampir menyembur keluar, sama sekali tidak berniat membantu gadis itu.

“A… aniyo, eomma. Ma… maksud Kyuhyun… ng… kami….”

“Kami sedang mengusahakan memberimu seorang cucu, eomma,” ucap Kyuhyun memperparah keadaan.

Hye-Na menginjak kaki pria itu dengan keras saking kesalnya, membuat pria itu meringis kesakitan dan memalingkan wajahnya ke arah lain agar ibunya tidak curiga.

“Kalau begitu usahakanlah yang cepat! Eomma dan eommamu sudah tidak sabar ingin segera punya cucu.”

“Ne, eomma,” ujar Hye-Na pasrah.

“Ya sudah, kalau begitu eomma mau mencari So-Ra dulu, dia harus mencoba gaunnya.”

Hye-Na mengangguk dan menunggu sampai wanita itu menghilang sebelum berbalik ke arah Kyuhyun dengan emosi yang sudah naik ke tingkat maksimum.

“Apa-apaan itu tadi?”

“Hanya membantumu. Kau mau diinterogasi eomma kalau dia tahu bagaimana hubungan kita sebenarnya? Seharusnya kau berterima kasih karena aku sudah mau membantu.”

Hye-Na tertegun mendengar ucapan pria itu. Bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya?

Dia tiba-tiba tersadar bahwa setelah seminggu lebih pernikahan mereka, dia merasa seperti pernikahan itu memang nyata, bahwa dia sama sekali tidak keberatan telah dipaksa menjadi istri pria itu. Tapi sekarang… saat pria itu menyinggungnya, dia baru teringat bahwa pernikahan ini hanya sekedar perjanjian tak kasatmata. Dan mungkin dalam waktu dekat akan segera kadaluwarsa.

***

A Beach in Bermuda

09.00 AM

 

Ji-Yoo menatap pantulan bayangannya di cermin. Penata riasnya baru saja selesai mendandaninya dan meninggalkannya sendirian di ruangan itu, membiarkannya mengagumi penampilan barunya sebagai seorang pengantin.

Pria itu benar-benar tidak memberinya waktu sama sekali untuk melakukan persiapan yang matang, walaupun dia sendiri juga tidak keberatan. Jadi dia memutuskan untuk memakai gaun pengantin ibunya saja. Hanya gaun biasa penuh renda, tapi Ji-Yoo memang dari dulu mengagumi gaun pengantin ibunya itu dan berkhayal untuk memakainya saat dia menikah nanti. Lagipula dia memang tidak terlalu suka gaun-gaun yang berat dan memiliki terlalu banyak hiasan.

Ji-Yoo meremas tangannya gugup. Hanya beberapa menit lagi dia akan berjalan ke depan altar dan mengucapkan janji pernikahan di depan semua orang dan dia benar-benar merasa panik. Dia merasa tubuhnya dialiri keringat dingin dan kakinya sedikit gemetaran, membuatnya cemas apakah dia bisa sampai ke depan altar dengan selamat atau malah terjatuh di tengah jalan.

Gadis itu berbalik saat mendengar ketukan pelan di pintu. Dia mengernyitkan keningnya dan berjalan ke arah pintu, berniat membukanya.

“Jangan buka pintunya,” ujar suara berat dari arah luar.

“Oppa?” tanya Ji-Yoo memastikan.

“Kau sendirian di dalam?”

“Ne.”

“Baguslah. Mendekatlah ke arah pintu, ada yang ingin aku katakan.”

“Kenapa kau tidak masuk saja?”

“Shireo. Aku tidak mau melihatmu sekarang. Aku ingin melihatmu dalam balutan gaun pengantin di depan altar saja, jadi aku bisa memasang tampang meyakinkan bahwa aku terpesona melihat penampilanmu.”

Ji-Yoo tertawa mendengar ucapan kekanak-kanakan pria itu. Dia kadang terkejut karena pria itu bisa bersikap begitu kekanakan dan tidak dewasa di depannya, padahal imej pria itu selama ini terlihat keren dan menyilaukan mata.

Ji-Yoo menyandarkan tubuhnya ke pintu dan entah bagaimana bisa tahu bahwa pria itu juga sedang melakukan hal serupa.

“Yoo~ya, kau yakin kan mau menikah denganku? Bukan karena merasa terpaksa?”

Mata Ji-Yoo melebar saat mendengar pertanyaan yang benar-benar aneh itu.

“Yak, oppa, menurutmu aku yakin atau tidak? Bukankah selama ini kau yang mendesakku untuk cepat menikah denganmu? Dan kau baru sadar sekarang?”

“Jadi kau merasa terpaksa?”

Ji-Yoo terdiam sesaat kemudian tersenyum.

“Tidak juga,” ucapnya pelan. “Sama sekali tidak. Kalau aku memang tidak mau menikah denganmu pasti aku sudah menolak, kan?”

“Mungkin saja kau merasa kasihan kepadaku.”

“Oppa, kau tidak sedang terkena sindrom pra-nikah, kan? Jangan bilang kau mau membatalkan pernikahan karena merasa belum siap.”

“Ani…. Aku hanya… ingin memastikan bahwa kau merasa bahagia menikah denganku. Karena aku merasa seperti itu. Hari ini berada di urutan kedua hari paling membahagiakan dalam hidupku, jadi aku tidak mau merusaknya dengan kemungkinan bahwa kau merasa terpaksa melakukannya.”

“Urutan kedua?”

“Mmm. Urutan pertama tentu saja pertemuan pertama kita. Saat aku bertemu gadis yang membuatku berubah pikiran tentang pernikahan. Aku masih muda, sukses, dan masih ingin bersenang-senang, bukannya terikat dalam sebuah pernikahan. Dulu kedengarannya itu sangat mengerikan bagiku, tapi setelah jatuh cinta padamu… sepertinya itu sama sekali tidak buruk.”

“Kau yakin tidak akan menyesal menikahiku? Maksudku, kita kan belum kenal terlalu lama.”

Ada keheningan yang cukup lama menyusul setelah itu, membuat Ji-Yoo merasa perutnya mual membayangkan bahwa pria itu sedang berpikir ulang tentang pernikahan mereka. Bisa saja kan tiba-tiba pria itu merasa dia bukan gadis yang paling tepat untuk dia nikahi? Bagaimana kalau di luar sana ada gadis yang lebih baik lagi?

“Sayangnya tidak. Aku sudah memikirkannya berkali-kali. Kalau ada gadis yang lebih cantik dan lebih baik darimu lalu kenapa? Aku merasa tidak keberatan dengan semua kekurangan yang mungkin kau miliki. Aku juga tidak tahu bagaimana, tapi… aku rasa akan sangat menyenangkan jika bisa hidup bersamamu.” Eunhyuk menghela nafas keras. “Karena kalau bukan kau aku tidak mau.”

***

Ji-Yoo menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan dirinya saat mereka sudah mendekati lokasi pernikahan. Eunhyuk memilih tempat tepat di depan pantai dengan kursi-kursi yang tersusun rapi di bawah naungan pepohonan. Altar diletakkan di bawah rangka setengah lingkaran yang dilapisi pita putih dan bunga mawar berwarna pink. Ada tiang-tiang dengan buket bunga mawar putih di atasnya, mengelilingi tempat itu, dan karpet putih yang terhampar di sepanjang jalan menuju altar. Kursi-kursi dilapisi kain berwarna putih dan pita berwarna pink, tepat menghadap ke arah lautan berwarna biru tenang dan bukit-bukit hijau di sekitarnya. Semua hiasan itu sederhana saja, tapi terlihat sangat indah dan menyejukkan. Ji-Yoo tidak tahu bagaimana pria itu bisa merancang ini semua dalam waktu singkat, tapi semuanya benar-benar sesuai dengan seleranya.

Eunhyuk menunggunya tepat di depan altar, terlihat menawan dalam balutan jasnya yang rapi. Angin dari arah laut membuat rambutnya terlihat sedikit berantakan, tapi malah semakin membuat ketampanannya terlihat jelas dan Ji-Yoo semakin gugup saat mereka bertatapan.

Eunhyuk menatap gadis itu dengan terpesona dan nyaris tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya. Gaun sederhana itu terlihat sangat cantik dan sesuai di tubuh gadis itu, dan rona merah di wajahnya membuat gadis itu kelihatan semakin manis, terlihat bersinar di bawah sinar matahari yang begitu cerah dan menyilaukan.

Eunhyuk menyambut tangan Ji-Yoo yang terjulur ke arahnya dan merasakan tepukan ringan di punggungnya, yang diberikan oleh ayah gadis itu untuk menenangkannya.

Mereka berdua berbalik menghadap pendeta yang akan menikahkan mereka dan menunggu dengan tegang saat pendeta itu mulai membacakan janji pernikahan mereka. Eunhyuk berusaha mengingat dengan baik janji pernikahan yang telah dihapalkannya dan berharap bahwa dia tidak akan melakukan kesalahan sekecil apapun di hari sepenting ini.

Dia meremas tangan Ji-Yoo dalam genggamannya dan tersenyum gugup. Akhirnya dia berhasil menikahi gadis ini juga. Dengan baik-baik. Setidaknya tidak seperti Kyuhyun yang benar-benar melakukan pemaksaan mengerikan agar Hye-Na mau menikah dengannya. Dan mulai detik ini dia juga akan berusaha menjadi pria baik-baik, yang akan merasa tidak sabar untuk segera pulang ke rumah setelah seharian bekerja di kantor dan melihat wajah istrinya lagi.

Membayangkan hal itu saja nyaris membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum seperti orang gila.

***

Wedding Party, on Yacht

07.00 PM

 

“Kami sudah menginterogasinya lagi, tapi sepertinya dia memang tidak tahu apa-apa tentang bom itu. Hanya saja dia merasa prihatin karena bom itu tidak berhasil meledakkan kalian berdua,” ujar Leeteuk sambil menyesap anggurnya.

Kyuhyun mencengkeram gelasnya sambil menggertakkan giginya kesal.

“Berarti ada pelaku lain? Tapi siapa?”

“Kalau kau memikirkannya baik-baik, aku rasa masih ada rahasia yang belum terungkap. Maksudku, apa kau tidak heran kita bisa menangkap mereka semua dengan mudah? Dan pasti ada orang dalam yang terlibat karena kami tidak bisa menemukan rekaman video di tempat parkir di hari mobil Hye-Na diletakkan disana sampai hari sebelum bom itu aktif.”

“Akan butuh waktu lama sampai Zhoumi bisa membuat serum yang baru. Aku bisa menjamin keselamatan Hye-Na selama di rumah, tapi kalau di kantor….”

“Aku yang akan menjaganya. Kau tenang saja. Aku tidak akan mungkin membiarkan adik perempuanku satu-satunya terluka, kan?”

Kyuhyun mengangguk dan tersenyum, matanya beralih ke arah tangga dimana dua orang wanita paling penting dalam hidupnya turun dengan gaun malam membalut tubuh mereka. Jelas sekali kalau Hye-Na terlihat tidak nyaman dan sedang mendebat Ah-Ra yang tadi dengan paksa menariknya untuk didandani. Tapi kakaknya memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Gadis itu terlihat menawan dengan gaun kuning gading selututnya. Rambutnya diikat rapi membentuk ekor kuda dengan poni yang menutupi sebagian keningnya dan sepertinya dia berhasil menolak memakai sepatu hak tinggi lagi seperti biasa.

Kyuhyun melangkah ke arah tangga dan menunggu gadis itu di bawah dengan tangan yang terbenam di saku celana. Dia bisa melihat gadis itu menyadari kehadirannya dan menatapnya seolah menantang agar pria itu mengejek penampilannya.

Hye-Na menghentikan perdebatannya dengan Ah-Ra tentang penting atau tidaknya dia memakai gaun dan memfokuskan tatapannya pada pria yang sekarang berada di depannya. Dia mendadak merasa perutnya mual dan tidak nyaman. Apa dia terlihat jelek dengan penampilan seperti ini?

“Hai,” sapa Kyuhyun singkat saat mereka berdua sudah berhadapan.

“Hai?” desis Ah-Ra tak percaya. “Yak, kalian ini suami istri, sapaan macam apa itu? Kau Cho Kyuhyun, kau adikku apa bukan? Cepat ulurkan tanganmu dan ajak dia berdansa! Kau ini payah sekali!”

“Ani, onnie. Aku tidak bisa berdansa,” tolak Hye-Na cepat.

“Tidak masalah. Itu bisa diatasi,” ujar Ah-Ra, benar-benar tidak mau menerima penolakan dengan alasan apapun kecuali kalau Hye-Na mematahkan kakinya sekarang juga.

“Ayo,” ajak Kyuhyun sambil mengukurkan tangannya. Sepertinya dia tidak beetah berada di dekat nunanya itu lebih lama lagi dan menerima petuah-petuah tentang masalah pernikahan.

Hye-Na membiarkan pria itu menggenggam tangannya dan berjalan secepat mungkin agar terhindar dari tatapan menusuk Ah-Ra. Kenapa jadi dia yang paling bernafsu menyuruh mereka berduaan?

Ruangan itu sudah penuh dengan orang-orang yang berdansa. Orang-orang yang tidak dikenal Hye-Na sama sekali. Sepertinya semuanya relasi bisnis Eunhyuk dan Kyuhyun. Eunhyuk sendiri berdansa di tengah ruangan bersama Ji-Yoo, menjadi pusat perhatian semua orang. Yeah, malam ini memang malam mereka berdua.

“Aku benar-benar tidak bisa berdansa,” bisik Hye-Na saat Kyuhyun menarik pinggangnya mendekat. Pria itu mengangkat bahunya tidak peduli dan tiba-tiba menunduk, melepaskan sepatu yang dipakai Hye-Na dan sedikit mengangkat tubuh gadis itu, meletakkan kaki Hye-Na tepat di atas kakinya yang masih memakai sepatu.

“Sekarang tidak masalah lagi, kan? Kau hanya perlu diam saja.”

Hye-Na terpana sesaat, merasa pita suaranya tiba-tiba rusak. Pria itu selalu saja melakukan sesuatu yang mengejutkan dan melakukan semuanya secara mendadak tanpa bisa diprediksi sebelumnya.

Posisi itu terasa sangat tidak nyaman bagi Hye-Na karena tubuh mereka yang saling menempel dan wangi tubuh pria itu yang merasuki indera penciumannya, membuatnya kehilangan orientasi selama beberapa saat. Dia bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria itu di wajahnya dan ketakutan sendiri bahwa dia akan jatuh pingsan tiba-tiba.

Dia mulai tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri sejak siang dimana pria itu mengatakan bahwa dia mencintai Hye-Na. Rasanya seolah dia ingin mengatakan hal yang sama, tapi ada gengsi yang menahannya untuk tetap diam, padahal dia ingin sekali berteriak saking bahagianya. Dia sangat ingin membicarakan tentang status pernikahan mereka, tapi terlalu malu untuk memulainya duluan. Terlalu malu untuk mengatakan bahwa dia bersedia menjadi istri pria itu seumur hidupnya.

Pria itu bergerak pelan mengikuti alunan musik klasik yang sedang diputar. Dia menarik tubuh gadis itu sedikit lebih dekat, membuat gadis itu mendongak menatapnya. Dia menahan diri utnuk tidak menjulurkan wajahnya dan mencium gadis itu di depan semua orang, jadi sebagai gantinya dia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi gadis itu ringan, merasakan tekstur lembut kulit gadis itu di telapak tangannya.

“Kau ingat ucapanku waktu itu? Bahwa kau tidak boleh berdandan seperti ini jika tidak dimaksudkan untuk menggodaku? Kau tidak sadar sedang berusaha merobohkan pertahananku, Nyonya Cho?”

Hye-Na merengut dan mengerucutkan bibirnya.

“Dengar ya Tuan Cho Yang Terhormat, aku tidak melakukan ini karena keinginanku sendiri. Dan jangan harap aku akan menggodamu. Aku pasti sudah tidak waras kalau sampai itu terjadi!”

Kyuhyun tersenyum dan menundukkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan.

“Ngomong-ngomong, kalau kau belum tahu, kau terlihat cantik sekali malam ini.”

***

STA Building, Seoul

09.00 AM

 

“Aish, jinjja!” keluh Hye-Na sambil mendorong kursinya dan berlari ke arah kamar mandi di sudut ruangan. Ini entah sudah yang keberapa kalinya dalam pagi ini dia bolak-balik ke kamar mandi, merasa ingin memuntahkan sesuatu, padahal sama sekali tidak ada apapun yang keluar dari perutnya. Dia bahkan tidak bisa sarapan tadi pagi karena perutnya yang terasa mual dan melilit. Untung saja dia bisa menghindar dari Kyuhyun denagn mengatakan dia sedang datang bulan, kalau tidak dia yakin seratus persen bahwa pria itu akan langsung menyeretnya ke rumah sakit terdekat. Padahal dia tidak tahu ada masalah apa dengan pencernaannya. Dia bahkan sepertinya sudah telat halangan bulan ini.

Gadis itu mematikan keran dan melihat wajahnya yang pucat di cermin. Sepertinya keadaannya cukup parah. Dia hanya berharap bahwa dia tidak mengalami usus buntu atau sesuatu yang membuatnya harus menjalani operasi. Dia benar-benar alergi dengan apapun yang berhubungan dengan rumah sakit.

Hal itu terjadi berpuluh-puluh kali sampai waktu makan siang, membuat gadis itu bosan dan merasa kelelahan karena harus masuk ke kamar mandi berkali-kali. Dengan kesal dia pergi ke gedung SRO dan menghambur masuk ke ruangan Yesung. Pria itu harus menolongnya. Setidaknya lumayan, daripada dia harus pergi ke rumah sakit.

“Apa ada gangguan pencernaan atau semacamnya? Aku tidak harus dioperasi, kan?” desak Hye-Na setelah pria itu menyuruh Jin-Ah memeriksanya. Pria itu terlalu takut dengan kemungkinan Kyuhyun akan menghajarnya kalau dia sampai menyentuh tubuh istri kesayangannya itu.

“Tergantung,” jawab Yesung santai. “Kau mau melakukannya secara normal atau dengan melakukan operasi caesar.”

Hye-Na mengerutkan keningnya sesaat sebelum matanya membelalak lebar dan mulutnya menganga tak percaya.

“Chakkamman. Kau… mau bilang kalau aku… hamil?”

Yesung mengangguk dan tersenyum. “Chukhahae.”

“Ta… tapi kami hanya melakukannya sekali dan… ng… dua kali… tapi tetap saja… bagaimana mungkin aku hamil?”

“Hye-Na~ya, kau tidak bodoh, kan? Apa kalian melakukannya memakai pelindung? Kau yakin kalau saat itu kau tidak sedang dalam masa subur?”

Hye-Na mendesah dan menggeleng. Dia tidak tahu harus merasa senang atau tidak. Yah, sebenarnya dia senang-senang saja punya anak dari pria itu, tapi mengingat status pernikahan mereka yang tidak jelas seperti itu….

Aku mencintaimu, Na~ya….

Gadis itu menghembuskan nafas dan tersenyum saat teringat kejadian itu. Sepertinya tidak masalah. Sama sekali tidak masalah.

“Yesung ssi, bisakah kau tidak memberitahukan siapapun tentang hal ini? Terutama pada Kyuhyun. Aku ingin memberitahunya sendiri. Eo?”

***

Hye-Na kembali ke kantornya dengan bibir yang yang melebar membentuk senyum. Dia menepuk-nepuk pipinya, berusaha kembali waras. Dia harus ke kamar mandi lagi setelah keluar dari ruangan Yesung, tapi kali ini dia sama sekali tidak merasa kesal lagi.

Dia hamil? Astaga, membayangkannya saja tidak pernah. Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu? Ah ani, bagaimana caranya memberitahu pria itu? Dia tidak mungkin tiba-tiba berdiri di depan pria itu dan memberitahu kalau dia hamil, kan?

Hye-Na menjatuhkan tubuh ke atas kursinya dan menghidupkan komputer. Matanya tertuju pada sebuah amplop putih yang tergeletak di atas mejanya, padahal sebelumnya tidak ada apa-apa disana.

Gadis itu merobek amplop itu dan mengeluarkan isinya dan sedetik kemudian dia nyaris membeku di kursinya.

Salam kenal, Nyonya Cho Hye-Na. Senang sekali bisa berkenalan langsung denganmu. Kau pasti bertanya-tanya siapa aku. Aku adalah orang yang memasang bom di mobilmu, dalang di balik semua kejadian yang menimpa keluarga Cho… dan ayahmu.

Kau pasti terkejut, kan? Tentu saja dua orang yang sudah kalian tangkap itu bersalah. Tapi mereka hanya pion. Kalian tidak akan pernah berhasil menangkap aku, rajanya.

Jadi sebagai informasi, aku mau memberitahu bahwa kau adalah orang yang harus segera aku singkirkan secepatnya. Tapi aku bisa memberimu pilihan. Kau tetap disini dan aku akan melakukan segala cara untuk menghabisimu atau kau tinggalkan Kyuhyun dan kembali ke Amerika, menjalani kehidupanmu yang semula. Aku tidak bisa memberitahumu kenapa aku bersedia membebaskanmu, tapi kau harus tahu bahwa pilihan ini sangat adil. Mengingat kau punya satu tanggungan lagi yang harus kau selamatkan nyawanya. Anakmu.

Heran kenapa aku bisa tahu sedangkan kau baru mengetahui kenyataannya tidak sampai setengah jam yang lalu? Kau seharusnya merasa ketakutan sekarang. Aku berada sangat dekat, Nyonya Cho. Sangat dekat. Sehingga bisa membubuhkan racun di dalam minumanmu tanpa dicurigai siapapun, membuat rem mobilmu blong, atau apapun, apapun yang bisa membunuhmu.

Jadi aku sarankan kau segera pergi dari negara ini. Tinggalkan suamimu dan aku berjanji bahwa aku tidak akan mengganggu anakmu. Dan jangan lupa, kau juga harus tutup mulut tentang kehamilanmu. Jangan biarkan siapapun tahu kau mengandung anaknya.

Permainan ini semakin menarik, kan? Aku sangat berharap kita berdua bisa berhadapan, tapi sepertinya itu tidak akan terwujud. Lebih baik tidak terwujud kalau kau tidak mau mencari gara-gara denganku dan membahayakan keselamatan janinmu.

Aku tunggu keputusanmu, Nyonya Cho. Waktumu hanya dua hari.

Pikirkan baik-baik.

 

Hye-Na merasakan tangannya bergetar hebat. Bagaimana mungkin pria itu tahu mengenai kehamilannya?

Kemungkinan pertama di otaknya adalah Yesung yang telah melakukan semua ini. Tapi dengan cepat dia menghapus pikiran itu karena instingnya mengatakan bahwa pria itu tidak ada hubungannya dengan ini semua. Lagipula dia yakin bahwa Yesung tidak meninggalkan ruangannya sedikitpun.

Hye-Na bangkit berdiri dan pergi ke ruang informasi, tempat semua rekaman kamera CCTV berada. Seharusnya ada rekaman saat seseorang masuk ke dalam ruangannya.

“Tidak ada?” tanya Hye-Na kaget.

Kang-In menggeleng. “Aku meninggalkan ruangan ini saat makan siang, tapi aku yakin sudah menguncinya dan ruangan ini tidak memiliki kunci cadangan. Apa terjadi sesuatu? Ada yang masuk ke ruanganmu?”

“Ani. Gwaenchana.”

Hye-Na cepat-cepat pergi dari ruangan itu sebelum pria itu merasa curiga. Tidak ada satupun kejadian di tempat ini yang tidak dilaporkan kepada Kyuhyun, jadi sebaiknya dia tidak bergerak sembarangan dan membuat seseorang curiga kemudian melapor pada pria itu. Dia tidak ingin pria itu tahu bahwa dia mendapat surat ancaman itu.

Hye-Na merasakan wajahnya memucat. Pria itu benar. Dia sama sekali tidak terdeteksi. Dan sangat dekat. Sangat dekat.

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju, South Korea

10.00 PM

 

Hye-Na terbaring kaku di samping Kyuhyun yang sudah tertidur. Gadis itu sudah memikirkan surat itu seharian dan dia tahu bahwa pria itu tidak main-main dengan ancamannya. Dia benar-benar tidak punya pilihan selain pergi dan kembali ke Amerika kalau dia tetap mau anaknya selamat. Tapi meninggalkan pria di depannya ini adalah keputusan yang sangat berat. Dia tidak tahu akan bagaimana keadaannya nanti tanpa pria itu. Hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dan… dia tidak yakin apakah itu masih bisa disebut hidup. Tanpa pria itu, apa hidup masih bisa disebut hidup?

Hye-Na menatap wajah di hadapannya. Berusaha merekam rupa wajah itu baik-baik di kepalanya. Dia tidak boleh lupa. Separah apapun ingatannya, dia tidak boleh melupakan wajah itu sama sekali.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu?” tanya Kyuhyun, membuka matanya tiba-tiba, membuat gadis itu terkesiap kaget.

“Ani,” jawab gadis itu serak, seolah ada sesuatu yang tersangkut di kerongkongannya.

“Kau sakit? Wajahmu pucat,” komentar Kyuhyun sambil menyentuhkan tangannya ke kening gadis itu.

“Tidak. Hanya… masalah wanita.”

Kyuhyun mengangguk mengerti dan tidak bertanya lebih jauh.

“Ng… Kyu… boleh aku memelukmu?”

Kyuhyun membulatkan matanya mendengar permintaan gadis itu. Kalimat itu tidak akan pernah keluar dari mulut gadis itu, tapi sekarang….

“Kau aneh sekali, Na~ya. Ada sesuatu? Kau membuatku takut, kau tahu?”

“Boleh?” ulang gadis itu lagi tanpa memedulikan ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun mengulurkan tangannya dan menarik gadis itu mendekat, sehingga Hye-Na bisa lebih leluasa memeluknya.

“Kyu?”

“Mmm?”

Saranghae….

Hye-Na menarik nafasnya, ingin sekali mengucapkan kata itu. Tapi kata itu tidak pernah terlontar dari mulutnya dan dia malah mengucapkan hal tidak penting yang benar-benar disesalinya.

“Selamat malam.”

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju, South Korea

08.00 AM

 

“Aku mau ke Irlandia pagi ini. Perbaikan peternakan yang aku beli waktu itu sudah selesai, jadi aku mau kesana untuk mengeceknya. Kau mau ikut? Kita bisa menginap,” tawar Kyuhyun saat mereka sedang berada di ruang makan untuk sarapan.

Hye-Na mendongak. Besok adalah waktu terakhirnya. Mungkin… dia bisa membuat kenangan-kenangan terakhir bersama pria itu.

“Oke. Aku akan bersiap-siap.”

“Na~ya… kau tidak apa-apa, kan? Kau benar-benar terlihat aneh,” ujar Kyuhyun cemas.

“Tidak. Aku memang selalu seperti ini kalau sedang datang bulan. Memangnya kau tidak capek mendengarku berteriak-teriak terus?” elak Hye-Na.

Kyuhyun menatap gadis itu lekat-lekat. Dia tahu ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu, tapi dia tidak bisa menebak apa dan itu membuatnya benar-benar ketakutan.

***

Dublin, Ireland

11.00 AM (Ireland’s Time)

 

Mereka berangkat dari Seoul jam 9 pagi dan sampai di Dublin jam 11 siang, tepatnya jam 7 malam waktu Korea, karena perbedaan waktu 8 jam di antara kedua negara itu. Kyuhyun langsung ke peternakan setelah mengantar Hye-Na ke rumah Siwon karena gadis itu ingin bertemu dengan Eun-Ji. Keputusan yang akhirnya disesali Hye-Na karena Eun-Ji merecokinya dengan semua pembicaraan tentang tetek bengek pernikahan yang membuat kepalanya terasa sakit. Dan gadis itu hanya bisa pasrah saat Eun-Ji memaksanya menjadi pendampingnya di hari pernikahan nanti.

Kyuhyun menjemputnya saat makan siang dan membawanya ke villa pria itu yang terletak di daerah pegunungan. Gadis itu tidak habis pikir, apa sebuah kastil saja tidak cukup sampai pria itu juga harus memiliki sebuah villa? Tapi villa itu memang indah sekali, dengan pemandangan hijau pohon-pohon pinus di sekelilingnya. Mereka makan siang di taman belakang yang menyuguhkan suasana hutan yang hening dan sejuk. Di Irlandia musim gugur baru datang, jadi cuaca belum terlalu dingin dan matahari masih bersinar terang.

“Setelah ini kau mau ikut aku jalan-jalan?” tanya Kyuhyun. “Ada pantai di dekat sini dan kudengar pemandangan dari arah mercusuarnya indah sekali.”

“Aku akan ikut kalau kau membelikanku es krim.”

Kyuhyun meletakkan sendoknya ke atas piring dan menatap gadis itu heran.

“Na~ya, kau benar-benar sedang tidak waras, ya?”

***

Kyuhyun benar. Pemandangan pantai itu indah sekali. Mercusuar itu terletak di atas bukit yang dikelilingi batu karang dan cuaca benar-benar sedang cerah. Matahari juga tidak bersinar terlalu terik.

Cocok untuk merayakan perpisahan mereka, batin Hye-Na.

Kyuhyun memegangi tangan gadis itu saat mereka mendaki melewati bebatuan, sesekali harus mengangkat tubuh gadis itu saat jalanan yang mereka lewati benar-benar terjal. Pria itu merasakan perasaan tidak nyaman menyerangnya, tapi dia mengabaikannya begitu saja. Dia tidak bisa menikmati momen langka seperti ini dengan pikiran buruk.

“Ini kopimu,” ujar Kyuhyun sambil menyodorkan gelas kertas berisi kopi yang masih panas ke tangan Hye-Na. Dia mengambilnya dari AutoChef yang tersedia di depan bangunan di samping mercusuar, sepertinya tempat ini cukup sering dikunjungi para turis, jadi ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan untuk umum.

Hye-Na mengambil gelas itu dan meniupnya pelan, menunggu sampai cairan hitam kental itu cukup dingin untuk diminum. Gadis itu memandang laut di depannya dengan tatapan kosong. Bau asin air laut menyergap indera penciumannya dan telinganya menangkap bunyi keras debur ombak yang menghantam karang, mencipratkan tetesan-tetesan air ke dekat mereka.

Tanpa sadar dia mengangkat tangannya dan meminum kopi itu, menyebabkan rasa terbakar di lidahnya. Tapi dia diam saja, tidak mengeluh sama sekali.

“Rasanya aneh, kau tahu? Duduk berdua denganmu tanpa berdebat sekalipun dalam waktu yang cukup lama,” ucap Kyuhyun tiba-tiba. Dia menoleh menatap gadis itu kemudian tersenyum enggan. Tangannya terangkat merapikan anak rambut gadis itu yang berantakan dihembus angin, menyisipkannya ke belakang telinga.

Biasanya gadis itu akan protes dan berusaha mengelak dari sentuhannya, tapi kali ini gadis itu hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa, membuat Kyuhyun merasa bahwa benar-benar ada sesuatu yang buruk yang akan segera terjadi. Pria itu merasa perutnya dihantam dengan keras. Tangannya yang bebas mengepal, mencengkeram baju gadis itu, menarik pinggangnya mendekat, dan sesaat kemudian pria itu sudah mencium Hye-Na dengan putus asa, menyalurkan segala rasa frustasinya.

Lidah gadis itu terasa hangat karena kopi yang baru saja diminumnya dan Kyuhyun tidak mau merepotkan diri dengan bersusah payah mencium gadis itu dengan lembut. Dia melumat bibir gadis itu dengan rakus, meredam teriakan depresinya yang berusaha mendesak keluar. Ada yang salah. Benar-benar salah.

Kyuhyun menjauhkan wajahnya sedikit saat paru-paru mereka sudah memberontak meminta oksigen. Dadanya terengah-engah mengambil nafas dan dia bisa merasakan deru nafas gadis itu di wajahnya.

Pria itu menunduk dan menatap gadis itu sayu, berusaha tidak memeluk gadis itu erat-erat seperti yang ingin dilakukannya, karena dia takut kalau-kalau dia akan meremukkan tubuh gadis itu saking frustasinya.

“Rasanya kita lebih dekat dari kapanpun,” ujarnya serak. “Tapi kenapa aku merasa akan kehilangan dirimu segera?”

TBC

 

 

60 halaman woi, gila!!!!! *pingsan*

Aku bikin apaan, yak? Kok kayaknya kacau banget? Ckckck. Aaaaaaaaah, akhirnya pisah dari Kyu juga. Pada mau happy ending atau sad ending? Part depan udah tamat, loh!

Well, mian lanjutannya lama banget. Aku sempat galau dan memutuskan buat nutup nih blog dan berenti nulis. Tapi yeah, ada reader yang ehm… kayaknya menderita banget kalo nggak baca ff aku *lirik Yoo-Jin onnie* Gara-gara onnie aku membatalkan keputusanku. Bangga, kan? Wkwkwk. Abis onnie bilang, “You make him more than alive.” Aigoo, aku tersentuh banget *peyuk peyuk*

Ah udahlah ya, nih cerita aneh malah makin lama makin aneh. Ckckck. 60 halaman, loh! 60 halaman! Dan 15 halaman flashback yang kayaknya amat sangat membosankan *lap keringat*

Ditunggu komen dan kritiknya *tepar*