HYE-NA’S POV

 

            Aku duduk di antara para kru acara reality show Golden Stage, berusaha tidak tampak terlalu mencolok, karena aku merasa ada beberapa orang yang memperhatikanku penuh rasa ingin tahu, padahal aku sudah berbaur dengan para penata gaya lainnya.

            “Kenapa banyak yang melihat ke arahku, sih? Apa pakaianku terlalu berlebihan?” keluhku kepada Min-Hyo onnie yang duduk di sampingku. Dia memang menjadi salah satu penata gaya yang dibawa dari Korea kesini, membuat Heechul oppa mengamuk hebat karena mereka tidak bisa bertemu selama beberapa minggu.

            “Ani, tapi karena tadi Kyuhyun menggenggam tanganmu,” ujarnya sinis.

            Aish, jadi gara-gara itu? Ini semua salah namja sialan itu. Lagi-lagi dia mengajakku menemaninya syuting. Aku sih iya-iya saja karena aku baru akan kembali ke Korea besok pagi, tapi seenaknya saja tadi dia menggenggam tanganku saat memasuki gedung. Kami lewat jalan belakang, jadi tidak ada kerumunan fans. Tapi itu bukan berarti dia bisa memperlakukanku seperti itu di depan begitu banyak kru yang berkeliaran.

            “Dan jangan bilang kau cemburu,” ejekku. “Kau bisa dikuliti Heechul hidup-hidup sesampainya di Korea nanti.”

            “Heechul? Kau juga bisa dimutilasi kalau dia mendengarmu memanggilnya tanpa embel-embel oppa.”

            “Aish, sudahlah onnie, berhentilah menyukai suamiku itu. Aku sudah memiliki terlalu banyak saingan tanpa ditambah oleh kehadiranmu.”

            “Siapa suruh dia begitu tampan sampai membuat air liur para gadis menetes,” ujarnya enteng, membuat mataku mendelik kesal.

            “Hahahaha!!!”

            Aku mendongak dan melihat Kyuhyun dan Hyukkie saling menatap dan tertawa seperti orang gila setelah mereka selesai memilih bahan makanan. Astaga, bagaimana mungkin aku mempunyai suami memalukan seperti itu? Menjatuhkan harga diri saja!

***

            “Apa sih yang kau masak? Kau mau membuat orang muntah karena masakanmu? Atau mati?” tanyaku ingin tahu saat mereka sedang break syuting. Aku menatap ngeri saat salah seorang kru yang mencicipi masakan mereka terbatuk-batuk parah. Kyuhyun sendiri bahkan sampai jatuh terbungkuk-bungkuk.

            “Kau kan tahu bagaimana kemampuanku di dapur, jadi tidak usah cerewet. Rasanya pedas sekali,” ujarnya sambil meneguk air dari botol minumnya.

            “Benarkah?” seruku dengan mata berbinar. Kata pedas selalu berpengaruh besar untuk telingaku. Aku ini tergila-gila dengan makanan pedas. Bisa dikatakan bahwa aku tidak akan makan jika tidak ada cabe di atas piringku.

            Dia menatapku tajam dan mendesah.

            “Aku tahu isi otakmu. Nanti aku sisakan sedikit,” ujarnya dengan nada tidak suka. Seperti aku yang selalu merecokinya agar makan sayuran, walaupun aku sendiri juga tidak suka sayuran, dia juga tidak pernah berhenti menyuruhku mengurangi konsumsi cabeku yang terkadang terlalu berlebihan. Kami cukup sering bertengkar tentang hal ini.

            “Gomaweo,” ucapku dengan senyum lebar di wajah.

            “Mmm hmm,” gumamnya sambil mengulurkan tangan untuk mengacak rambutku, tapi aku langsung menghindar sebelum hal itu terjadi.

            “Semua orang sudah curiga karena kau tadi menggenggam tanganku, kau mau membuat skandal baru lagi?”

            Dia mengerucutkan bibirnya dan mengangguk lesu.

            “Menyebalkan!” gerutunya sambil melangkah meninggalkanku untuk melanjutkan syuting.

            “Susah kan menikah dengan artis?” kata Min-Hyo onnie yang sudah berdiri di sampingku.

            “Kau juga akan merasakannya saat menikah dengan Heechul nanti.”

            “Cih, benarkah? Aku rasa di otaknya itu tidak ada kosakata menikah. Dia juga pernah bilang tidak mau menikah, kan?” Aku melihat wajahnya yang sedikit sendu saat mengatakan itu. Akhir-akhir ini hubungan mereka berdua sedikit aneh karena Min-Hyo onnie berencana menjadi model tetap untuk sebuah merk pakaian terkenal dan keluar dari pekerjaannya sekarang. Dia memang sangat cocok menjadi model menurutku. Wajah dan tubuhnya membuat iri.

            “Apapun bisa terjadi, onnie,” ucapku menyemangatinya.

            “Benar. Ada kemungkinan kan Kyuhyun tiba-tiba jatuh cinta padaku suatu saat nanti?”

            “ONNIE!!!”

***

            “Aish, jinjja, mashita!!!” seruku saat mencicipi masakan Kyuhyun dan Hyukkie. Rasa pedasnya benar-benar mengagumkan. Kenapa sampai tidak ada yang suka dengan masakan mereka?

            “Hye-Na~ya, itu terlalu pedas,” ujar Sungmin oppa memperingatkan. Member-member lain  menatapku dengan ngeri saat tanganku bergerak cepat memasukkan makanan itu ke dalam mulut dan menelannya dengan wajah puas. Kami sedang makan bersama setelah syuting selesai, berkumpul di ruangan yang telah disediakan. Yang lain memilih memakan makanan yang disediakan kru, juga mencicipi masakan Wookie, Zhoumi, Henry dan Sungmin oppa yang jelas-jelas sangat enak. Tidak ada yang menyentuh makanan Kyuhyun dan Hyukkie sama sekali. Jadi aku bisa menghabiskannya sendirian.

            “Ani, ini enak sekali!” ujarku sambil menyeka keringatku yang menetes saking semangatnya menghabiskan makanan itu.

            “Kau bisa sakit perut nanti,” kata Henry oppa mencoba menghentikanku.

            “Tidak akan!”

            Gerakanku terhenti saat seseorang merebut sumpit yang sedang aku gunakan, menarik piring mapo tofu itu menjauh, dan duduk di sampingku.

            “Yeah, akan ada perang dunia ketiga. Sebaiknya kita menyelamatkan diri sekarang,” seru Eunhyuk oppa sambil bangkit berdiri diikuti member lain. Mereka memilih duduk di meja di sudut ruangan dan melanjutkan menyantap makanan mereka.

            “Yak, aku masih mau makan, apa-apaan kau?” teriakku tidak terima.

            “Kau mau terserang radang usus buntu?” ujarnya balas berteriak sambil menyeka keringat di dahiku dengan tangannya, membuatku tertegun selama beberapa saat. “Aku hanya mengusahakan segala hal yang aku bisa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu, tapi kau malah melakukan yang sebaliknya.”

            Aku masih memandangnya tanpa berkata apa-apa saat dia mengelap tangannya dengan tisu basah yang tersedia di atas meja dan menyodorkan makanan lain kepadaku.

            “Makan yang ini saja.”

            “Tapi tidak ada….”

            “Aku tahu tidak ada cabenya. Hari ini sudah cukup kau makan makanan yang pedas.”

            “Tapi….”

            “Mulai sekarang,” ucapnya sambil menatapku dengan serius. “Aku akan mulai memakan sayuran yang ada di atas piringku, asalkan kau mau mengurangi jatah makanan pedasmu. Adil, kan?”

            Aku menyandarkan kepalaku ke kursi dan menatapnya yang sedang menikmati isi kotak makanannya dengan wajah merana.

            “Apa kita memang tidak cocok? Kenapa kau tidak menyukai apa yang aku sukai? Aku suka makanan pedas, kau malah tidak suka. Aku suka durian, kau malah sangat anti. Apa kau pikir itu tidak….”

            “Setidaknya kita saling tergila-gila satu sama lain,” potongnya santai tanpa menoleh ke arahku sama sekali.

            Aku memandangnya dari samping, berusaha keras agar tidak tersenyum lebar dan memilih mengambil sumpitku, mulai menyantap makanan yang tadi dia berikan.

            Saling tergila-gila satu sama lain. Istilah yang bagus. Dan aku yakin itu berasal dari pikirannya sendiri, bukan terkontaminasi ajaran orang lain. Donghae oppa kan sedang sibuk syuting, jadi aku yakin bahwa kali ini tidak ada campur tangan dari raja gombal satu itu.

***

KYUHYUN’S POV

 

            “Tidak bisakah kau tinggal disini lebih lama lagi?” tanyaku saat melihat Hye-Na yang sedang sibuk menyusun pakaiannya ke dalam koper.

            “Aku ini seorang mahasiswi, Tuan Cho.”

            “Cepatlah tamat dengan nilai memuaskan. Setelah itu aku bisa membawamu kemanapun aku mau.”

            Aku teringat ucapan ayahku di hari pernikahanku. Hal yang sangat ingin aku lakukan, tapi terasa begitu sulit. “Jangan pergi ke tempat dimana kau tidak bisa membawa istrimu.” Masalahnya adalah, tempatku berada juga menjadi tempat dimana aku tidak bisa menunjukkannya kepada semua orang.

            Aku duduk di atas tempat tidur dan menghadap ke arahnya.

            “Ada tempat yang ingin kau kunjungi selain Yunani?”

            Dia mendongak dan menatapku dengan kening berkerut.

            “Wae?”

            “Ani. Hanya ingin tahu saja.”

            “Paris. Jeju.”

            “Kau mau ikut denganku ke Paris? Tanggal 9 kami akan berangkat kesana. Kau bisa….”

            “Aku tidak bisa,” potongnya. “Aku sudah minta izin tidak masuk kuliah terlalu sering, sebentar lagi aku akan ujian. Aku rasa aku akan sangat sibuk.”

            “Arasseo,” jawabku lesu. Haish, kenapa jadwalku terlalu padat? Benar-benar menyusahkan!

            “Ini apa?” tanya Hye-Na tiba-tiba sambil mengacungkan kertas coretanku di atas meja. Aish, sial! Dia belum boleh melihatnya sekarang!

            Aku berlari ke arahnya dan merebut kertas itu cepat, menyembunyikannya di lemari.

            “Itu apa, sih? Kenapa aku tidak boleh melihatnya?”

            Nanti kau juga tahu. Sekarang belum waktunya.”

            Kertas itu berisi coretan lirik lagu yang kubuat sendiri. Satu setengah bulan lagi ulang tahunnya dan seperti yang kukatakan di reality-reality show yang pernah kudatangi, yang bisa aku lakukan dengan baik hanya menyanyi, jadi itu pilihan satu-satunya. Aku berusaha keras untuk hal ini karena ini pertama kalinya aku berminat untuk membuat lagu. Member SuJu M lainnya sudah menawarkan bantuan, tapi aku menolak dengan tegas karena aku tidak ingin ada campur tangan orang lain di dalamnya. Ini untuk dia dan hanya boleh aku saja yang memberikannya. Dengan usahaku sendiri.

            “Kau pelit!”

            “Tutup mulutmu, Cho Hye-Na!”

            “Tapi aku ingin lihat! Sepertinya mencurigakan.”

            Aku merentangkan tanganku dan merangkul tubuhnya saat dia bergerak mendekat untuk membuka lemariku.

            “Jangan membuatku harus bertindak frontal untuk menghentikanmu,” ujarku tajam sambil menarik tubuhnya tubuhnya ke atas tempat tidur dan menarik selimut.

            “Lebih baik kau tidur, besok kau berangkat pagi-pagi sekali, kan?”

            Dia mencibir ke arahku dan membalikkan tubuhnya, berbaring membelakangiku. Aku tertawa kecil. Gadis ini kekanak-kanakan sekali.

***

HYE-NA’S POV

 

            Dasar Kyuhyun menyebalkan! Apa sih yang dirahasiakannya dariku?

            Aku merasakan tubuhku ditarik dari belakang dan tangan yang tiba-tiba melingkari pinggangku. Hembusan nafasnya di leherku terasa menggelitik, membuatku bergidik sesaat.

            “Berhentilah bersikap kekanak-kanakan seperti itu Cho Hye-Na, kau itu sudah 20 tahun. Berbalik,” perintahnya.

            “Shireo.”

            “Berbalik.”

            Aku mengernyit dan berbalik sambil menggerutu kesal.

            “Apa la….” Ucapanku terhenti saat menyadari wajahnya terlalu dekat denganku, membuat mukaku memerah seketika.

            “Memangnya sudah berapa tahun kita mengenal, hah? Ini bahkan sudah 9 bulan kita hidup bersama, dan wajahmu masih saja memerah saat melihatku? Apa aku terlalu mempesona untuk matamu?” ejeknya.

            “Cih, berhentilah mengejekku! Kenarsisanmu benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi, Cho….”

            Bibirnya bergerak di bibirku di detik yang sama, membuatku lagi-lagi tidak bisa melanjutkan kalimatku. Kenapa dia suka sekali menciumku tiba-tiba, hah? Kenapa tidak seperti di film-film dimana si pria akan mendekati si wanita secara perlahan, seolah meminta izin dulu, jadi setidaknya aku punya waktu untuk menendangnya pergi dan menjauhkanku dari kemungkinan pingsan karena sentuhannya.

            “Apa aku harus menciummu terus untuk membuatmu tutup mulut? Kau cerewet sekali, Na~ya,” gumamnya di sela-sela ciuman kami. Dia melepaskanku beberapa detik kemudian saat aku sudah mulai kehabisan nafas.

            “Kau mencuri susu stroberi Hyukkie lagi, ya?” tebaknya. “Lidahmu rasa stroberi.”

            Aku memukul kepalanya keras dan berbalik memunggunginya lagi.

            “Yak, appo! Aish, kau ini perempuan atau bukan, hah?”

***

 ChocoBerry Love Café, Seoul, South Korea…

 

            “Kenapa Min-Hyo harus jadi model? Haish, itu benar-benar menyebalkan! Masa dia tersinggung hanya karena aku berkata bahwa aku lebih cantik darinya? Kenyataannya kan memang begitu! Kecantikanku tidak terkalahkan!”

            Aku mendelik menatap pria AB di hadapanku ini. Hari ini aku mendapat pekerjaan baru, menjadi tempat berkeluh-kesah seorang Kim Heechul. Dan pekerjaan ini sama sekali tidak menyenangkan walaupun dia bersedia mentraktirku makan kue sepuasnya di kafe Ah-Zin onnie.

            “Oppa, gadis manapun akan merasa tersinggung kalau pacarnya mengatakan bahwa gadis itu kalah cantik darinya. Kau ini ada-ada saja! Lagipula Min-Hyo onnie itu memang lebih cantik darimu!”

            “Cih, kau sama menyebalkannya! Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak suka dia jadi model dan mengumbar kecantikannya kemana-mana. Dia itu milik Kim Heechul!” serunya posesif.

            “Bilang saja kau takut dia berpose mesra dengan pria lain atau dia jatuh cinta pada salah seorang model pria. Iya, kan? Aku benar tidak?”

            “Apa kau bilang? Aku? Cemburu?” teriaknya tidak terima.

            “Oppa, bisakah kau menutup mulutmu? Pelangganku bisa lari semua! Kau ini sudah kuberi ruangan khusus agar tidak dikenali orang lain, tapi suaramu itu memekakkan telinga!” gerutu Ah-Zin onnie yang melongok di balik pintu.

            “Kau tidak usah ribut!” ujarnya balas berteriak.

            Ah-Zin onnie melengos dan pergi begitu saja. Memang sangat sulit mengalahkan setan senior satu ini.

            “Jadi… bagaimana pernikahanmu?” tanyanya tiba-tiba.

            “He?”

            “Pernikahanmu. Apa menikah itu menyenangkan?”

            “Kau mau menikahi Min-Hyo onnie?” tanyaku penasaran.

            “Siapa bilang?”

            “Kalau tidak, kau tidak akan menanyakan hal itu padaku.”

            “Cih, jawab saja apa susahnya? Kau ini cerewet sekali.”

            Ugh, bagaimana bisa aku setuju untuk menemaninya siang ini? Rasanya seperti pulang ke neraka.

            Aku termenung sesaat, memutar kembali setiap detail yang aku ingat tentang pernikahanku dengan Kyuhyun. Penuh dengan pertengkaran, bentakan, tendangan, teriakan, tapi jika diingat-ingat lagi, kenapa semuanya terasa begitu menyenangkan? Pasangan seperti apa kami ini? Pasti semua orang akan berpikir bahwa kami berdua sudah gila.

            “Aku rasa… menikah itu menyennagkan. Menyenangkan untuk menemukan seseorang yang spesial yang ingin kau ganggu selama sisa hidupmu,” jawabku sambil tersenyum.

            “Seseorang yang spesial yang ingin kau ganggu selama sisa hidupmu?” ulangnya tak percaya dengan kening berkerut. “Kedengarannya bagus. Jadi aku bisa mengganggunya setiap hari? Baiklah, itu akan sangat mengasyikkan.”

            Aku menatapnya ngeri. Tunggu, apa aku salah bicara? Apa yang sedang berkecamuk di otaknya itu? Kelihatannya dia akan mempersembahkan neraka untuk Min-Hyo onnie. Kau tidak akan bisa menebak apa yang akan diakukan seorang Kim Heechul.

            “Donghae bilang… jangan menikahi orang yang kau pikir kau bisa hidup bersamanya, tapi menikahlah dengan orang yang kau tidak bisa hidup tanpanya. Kenapa sampai sekarang aku tidak bisa mengerti apa yang dia maksud? Anak satu itu kosakata cintanya terlalu rumit. Setidaknya kita masih satu spesies, kan?”

            “Apa maksudmu dengan satu spesies?” tanyaaku curiga.

            “Setan?” jawabnya sambil terkekeh geli.

            “Aish, otakku sedang miring sampai aku setuju untuk makan siang denganmu,” ujarku sambil mengecak-acak rambutku frustasi.

            “Sudahlah. Lebih baik kau jelaskan saja padaku apa maksud kalimat itu.”

            “Memangnya kau pikir frekuensi otakku sama dengan si ikan itu?”

            “Kalau sudah menyangkut Kyuhyun aku rasa jalan pikiranmu akan sama dengannya.”

            Aku memotong kueku dengan penuh emosi dan menyuapkan satu sendok besar potongannya ke dalam mulut.

            “Kau pasti bisa hidup dengan siapapun selama kau bisa menyesuaikan diri. Karena itu, lebih baik kau menikah dengan orang yang menurutmu kau tidak bisa hidup tanpanya. Orang yang membuat kau berpikir bahwa akan ada yang berbeda dengan hidupmu jika dia tidak ada.”

            Dia menjulurkan tubuhnya, melipat tangannya di meja, dan menatapku lekat-lekat.

            “Apa hidup bersama Kyuhyun itu sebegitu menyenangkannya? Apa jika aku menikah aku akan seperti kalian berdua?” tanyanya tanpa berharap jawaban dariku. “Aku terkadang sering memergoki Kyuhyun sedang menatapmu begitu lama dan otakku tidak bisa berproses untuk hal-hal yang seperti itu. Tatapan yang digunakannya… bagaimana, ya? Lembut? Terlihat sekali bahwa dia sangat menyukai apa yang dia lihat. Aku akan berbagi suatu rahasia padamu. Waktu itu aku bertanya padanya kenapa dia senang sekali menatapmu dan kau tahu? Aku sampai syok di tempat karena tidak menyangka bahwa kalimat itu akan keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun. Seharusnya terdengar menjijikkan, tapi entah bagaimana, saat dia yang mengucapkannya, kalimat itu berdampak lain terhadap jalan pikiranku.”

            “Memangnya dia bicara apa? Apa sama menjijikkannya dengan Donghae oppa?”

            “‘Hanya mengagumi wanita yang akan menua bersamaku saja, hyung. Merekam setiap ekspresinya agar aku tidak lupa. Kau tidak akan mengerti hal ini sampai kau menikah dengan Min-Hyo nanti.’ Lalu aku mulai berpikir tentang pernikahan. Sepertinya hal itu tidak terlalu buruk.”

            “Memang tidak buruk oppa, sama sekali tidak buruk.”

***

.KYUHYUN’S POV

 

Apartment, Seoul, South Korea…

 

            Hah, akhirnya kegiatan SuJu M di Taiwan berakhir dan aku bisa kembali ke Korea. Tapi kemana gadis sialan itu? Apa dia belum pulang kuliah?

            Aku berjalan masuk ke ruang tamu dan mendapati laptopnya tergeletak hidup di atas meja, tapi dimana dia?

            Aku menatap layar laptopnya yang menampilkan foto-foto bangunan-bangunan kuno di Yunani. Sepertinya Tae-Wo yang mengirimkan itu untuknya.

Kuil Olympia Zeus, Parthenon, Paestum, Erechtheum. Aku mengeja nama-nama tempat di foto itu. Sial, kapan namja itu tidak mengalahkanku dalam hal menyenangkan hati Hye-Na?

            Aku memencet tombol panggil di HP-ku dan menghubungi Seung-Hwan hyung.

            “Hyung, apa aku ada jadwal untuk tanggal 15-18 Juli?”

            “Belum tahu. Memangnya kenapa?”

            “Aku ingin ke Yunani.”

            “Mwo?”

            “Hye-Na ulang tahun. Kalau ada konfirmasi jadwal tolong beritahu aku secepatnya,” ujarku sambil memutuskan hubungan.

            Aku membuka pintu kamar gadis itu dan melongokkan kepala ke dalam, bertepatan dengan saat Hye-Na keluar dari kamar mandi dengan tubuh hanya berbalut handuk.

            “KYAAAA!!! Sedang apa kau, hah? Cepat keluar!!! Keluar!!!”

            “Aish, berapa kali lagi aku harus bilang bahwa aku sudah melihat semuanya? Jadi berhentilah berteriak-teriak setiap kali aku melihatmu nyaris telanjang.”

            Dan balasan yang kudapat setelah itu adalah lemparan bantal tepat di wajahku.

***

HYE-NA’S POV

 

            Aku duduk di ruang ganti bersama Ah-Zin onnie, menunggu Kyuhyun, Wookie, dan Yeusng oppa selesai didandani. Malam ini SuJu KRY konser di Busan dan Kyuhyun memaksaku ikut sambil membawa satu tas berisi pakaian. Katanya kami akan pergi ke suatu tempat setelah ini. Dia bahkan menyetir mobil sendiri kesini. Cih, untung saja ada Ah-Zin onnie yang menemaniku. Kalau tidak aku akan mati bosan disini.

            “Sepertinya dia lebih sering berdandan daripada aku,” keluhku dengan mata tetap tertuju ke layar PSP-ku.

            “Mereka kan artis. Aigooya, Wookie oppa imut sekali.”

            Aku mendongak dan mendapati mereka bertiga sudah berdiri di hadapan kami, baru selesai make-up. Aku menutup mulutku, mencegah teriakan histerisku yang mau menyembur keluar saat melihat penampilan Kyuhyun malam ini. Jas kotak-kotak warna hitam, kaus V-Neck warna putih, dan kalung panjang dengan liontin berbentuk daun yang menyita perhatianku. Rambutnya, rambutnya keren sekali! Sudah jelas kan kalau penata gaya mereka di Korea jauh lebih berbobot daripada di Taiwan. Aku sempat mengamuk saat rambut Kyuhyun dicat pirang. Aish, kapan jiwa fangirl-ku ini akan hilang?

             “Yak, kenapa kau?” tegur Kyuhyun saat melihatku mengacak-acak rambutku gusar.

            “Ani,” jawabku tanpa menatapnya, mencegah kemungkinan bahwa aku akan membuat malu diri sendiri karena aku pasti akan menatapnya dengan mulut menganga.

            Dia mengambil PSP dari tanganku, berjongkok, dan menatapku lekat-lekat.

            “Apa malam ini aku begitu tampan sampai kau tidak berani menatapku?” tanyanya sambil terkekeh geli.

            “Hahaha,” sahutku sinis.

            “Setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Jadi tonton penampilan kami baik-baik, oke?”

            Dia bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan bersama Yesung dan Wookie oppa.

            “Onnie, kenapa dia tampan sekali?! OMO, Ya Tuhan, kenapa dia bisa setampan itu?” teriakku histeris sambil mengguncang-guncang tubuh Ah-Zin onnie yang hanya bisa meringis kesakitan.

            “Aku bisa mendengarnya, Cho Hye-Na,” ujar Kyuhyun yang tiba-tiba saja sudah melongokkan wajahnya dari balik pintu dengan cengiran lebar di wajahnya, mebuatku terpaku syok dengan wajah pucat.

            “GYAHAHAHAHA!!!!”

            “Diam kau, onnie!” semprotku. Sial, mau ditaruh dimana mukaku ini?

***

KYUHYUN’S POV

 

            “Kita mau kemana, hah?” tanyanya sambil menatapku ingin tahu. Kami memang sedang dalam perjalan ke suatu tempat setelah konser tadi selesai.

            “Jeju,” jawabku singkat.

            “Jeju? Malam-malam begini? Jinjja?”

            Aku menoleh ke arahnya, tersenyum saat melihat wajahnya yang berseri-seri.

            “Mmm hmm.”

            “Lalu kita akan menginap dimana?”

            “Ayahhku punya villa dekat pantai, kita bisa menginap disana. Tapi… besok pagi-pagi sekali kau harus bangun kalau ingin jalan-jalan. Aku ada kegiatan siang harinya.”

            “Oke,” serunya senang.

            Kami terdiam setelah itu. Aku bisa merasakan matanya menatap ke arahku, bukan ke wajahku, ke dadaku lebih tepatnya. Aku merutuk dalam hati dan melepaskan benda yang tergantung di dadaku itu.

            “Isi otakmu itu terpampang jelas sekali, Na~ya. Ambillah, aku rasa kau bisa meneteskan air liur karena menginginkannya,” ejekku sambil menyodorkan kalung yang tadi kupakai. Selama konser tadi aku bahkan nyaris yakin bahwa matanya hanya tertuju ke kalung itu saja. Masa aku harus cemburu hanya karena sebuah kalung? Gadis ini memang memiliki obsesi terselubung terhadap apapun yang berbentuk daun.

            Dia tertawa dan mengambilnya dengan senyum lebar.

            “Lain kali kenapa tidak kau katakan saja apa yang kau inginkan secara langsung? Masa aku harus menjadi pembaca pikiran dulu untuk tahu apa yang kau inginkan?”

            “Aku ingin makan ramyeon pedas, ingin paket liburan lengkap ke Paris dan Yunani, kaset game terbaru, susu stroberi, es krim satu kotak besar, lalu….”

            Aku menutup mulutnya dengan tanganku sebelum daftar itu bisa bertambah panjang lagi.

            “Diam kau! Tidak usah saja! Lupakan ucapanku tadi,” gerutuku kesal.

            “Hahahahaha.”

***

            “Yak, ireona!” seruku sambil mengguncang tubuhnya. Aku sengaja menghidupkan alarm jam lima pagi. Ah-Ra nuna bilang matahari terbit disini keren sekali dan sepertinya aku harus membuktikannya.

            “Yak, Cho Hye-Na, bangun kau!” teriakku lagi, mulai hilang kesabaran.

            “Aish, nanti saja Kyuhyun~a, ini masih malam.”

            “Ini sudah jam lima pagi, bodoh!”

            “Masih jam lima? Bangunkan aku 3 jam lagi.”

            Aku menepuk pipinya agar dia bangun, tapi dia tidak bergerak sama sekali. Astaga, bagaimana mungkin aku bisa punya istri yang tidur seperti babi begini?

            “Bangun, Cho Hye-Na,” ujarku sambil mencium bibirnya. Tanganku bergerak masuk ke dalam baju kausnya, membuatnya terlonjak kaget dan dengan cepat bangkit dari tempat tidur.

            Aku tertawa keras, yang langsung mendapat tatapan tajam darinya.

            “Apa-apaan kau? Kau mau mengambil kesempatan, hah?”

            “Hanya ciuman selamat pagi. Itu baik untuk kesehatan. Bagaimana kalau setiap hari aku membangunkanmu dengan cara itu?” godaku.

            “Menjijikkan!” bentaknya dan berjalan masuk ke kamar mandi.

            “Hei, bagaimana kalau kita di kamar saja dan melanjutkan yang tadi?”

            “Aku akan membuat cacat wajahmu!” sahutnya dari kamar mandi.

            Lebih baik aku mencobanya lain kali. Paling-paling juga dia akan berakhir di ranjang bersamaku.

***

HYE-NA’S POV

 

            Aku bersandar ke kap mobilnya, menatap langit yang sudah mulai terang di hadapan kami. Sebentar lagi matahari akan muncul dan aku yakin 100% bahwa pemandangan yang akan kulihat sesaat lagi akan sangat menakjubkan.

            Dia membawaku ke pantai yang dikelilingi padang bunga berwarna kuning yang sempat dijadikan tempat syuting untuk adegan Kimbum dan So-Eun di BBF. Dilihat secara langsung ternyata tempat ini jauh lebih indah daripada yang kulihat di TV. Benar-benar menyejukkan mata.

“Kau suka?” tanyanya dengan pandangan tetap tertuju ke depan.

“Mmm. Gomaweo.”

“Aku dengar kau sempat menjadi tempat curhat Heechul hyung.”

“Dia memberitahumu?”

“Dia meminta pendapatku tentang melamar Min-Hyo. Bertanya padaku apakah aku bahagia dengan pernikahanku. Aku rasa dia masih sangat bingung dengan keputusannya.”

“Kau pasti menjawab bahwa kau menyesal menikah dengan gadis sepertiku, lalu kau akan menceritakan segala hal yang buruk tentangku. Benar, kan?”

“Kau selalu saja berpikir buruk tentangku. Ckckck. Aku menjawab bahwa aku bahagia tahu! Dan….”

“Dan?”

“Aku akan melanjutkan jika kau berjanji tidak akan muntah. Setidaknya.”

“Oke.”

“Aku memberitahunya bahwa pria akan tahu apakah mereka bahagia atau tidak setelah mereka menikah. Saat seorang pria mendapat pernikahan yang bahagia, tidak peduli apapun yang terjadi dengan pekerjaannya, tidak peduli apapun yang terjadi di sisa harinya, akan ada tempat bersandar saat dia pulang ke rumah. Ada kenyataan menyenangkan, mengetahui bahwa kau bisa memeluk seseorang tanpa rasa takut bahwa dia akan mendorongmu dan berkata “Jauhkan tanganmu dariku.” Mengetahui bahwa, seperti apapun istrimu, dia sudah lebih dari sekedar cukup untukmu.”

Aku terpana menatapnya yang mengucapkan itu tanpa menoleh ke arahku sama sekali. Dia bertahan memandangi ombak pantai yang berdebur menuju pantai, seolah pemandangan itu memang sangat indah. Tidak tahu sama sekali bahwa detak jantungku sudah berantakan karena ucapannya. Seperti itukah arti pernikahan kami baginya?

“Mataharinya sudah terbit. Indah, kan? Ternyata apa yang dibilang nuna benar.”

***

KYUHYUN’S POV

 

            Aish, apa yang baru saja aku katakan padanya? Aku sampai tidak berani menatapnya setelah mengatakan kalimat menjijikkan itu. Sebenarnya aku jadi heran pada diri sendiri, kenapa akhir-akhir ini kosakata menjijikkanku meningkat pesat berpuluh-puluh kali lipat?

            Cahaya matahari bersinar menyilaukan, perlahan-lahan naik ke langit, membuat langit yang tadinya masih sedikit gelap mulai terang. Aku mengerjap agar mataku terbiasa dan menoleh ke arahnya yang sedang menatapku.

“Mataharinya sudah terbit. Indah, kan? Ternyata apa yang dibilang nuna benar.”

Aku bergerak dan berdiri di depannya, menghalangi sinar matahari yang menusuk tepat ke arahnya dengan punggungku. Dia memicingkan matanya dan mendongak, menatapku dengan mata cokelatnya yang besar.

“Nuna, apa menurutmu aku sedang jatuh cinta?”

“Kau jatuh cinta pada tetangga sebelah rumah kita? Ckckck, baru berumur 14 tahun saja kau sudah jatuh cinta. Kau terlalu cepat dewasa, Kyuhyun~a.”

“Aku bahkan sudah menyukainya sejak umur 7 tahun.”

“Astaga. Anak zaman sekarang benar-benar parah. Ayo duduk disini, aku harus memberimu beberapa pengarahan,” ucap Ah-Ra  nuna serius.

“Cih, kau jangan sok dewasa begitu nuna, kau juga baru 17 tahun. Jangan sok menasihatiku.”

Dia mendelik tapi tidak berkata apa-apa, bersabar menghadapi kelakuanku.

“Lalu, bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan bahwa kau menyukainya?”

“He? Mana aku tahu. Tapi aku rasa akan sangat menyenangkan bahwa saat dia lewat di depanku dan teman-temanku, aku bisa dengan bangga memberitahu teman-temanku bahwa dialah orangnya.”

“Kekanak-kanakan sekali. Saat  kau jatuh cinta, siapapun yang lewat di hadapanmu, kau bahkan tidak akan peduli sedikitpun. Kau tetap berdiri disana, menatap gadis tercantik yang pernah kau lihat seumur hidupmu.”

Ah-Ra nuna benar. Karena 9 tahun kemudian, aku tetap saja tidak bosan menatapnya. Menikah dengannya mungkin akan menjadi satu-satunya hal yang paling aku syukuri seumur hidupku. Mengetahui bahwa aku akan menghabiskan setiap hari dan setiap musim yang akan datang di sisa hidupku bersama gadis ini, dan berpikir bahwa inilah tepatnya yang aku inginkan. Dan maaf saja, aku tidak akan memberitahunya. Biar itu jadi rahasiaku pribadiku.

Aku mengulurkan tangan dan menyentuh rambutnya hati-hati.

“Bersabarlah sedikit lagi. Aku akan mulai memenuhi keinginanmu satu per satu.”

***

Jakarta, Indonesia….

 

            Kami baru saja menyelesaikan konser pertama kami di Indonesia 30 menit yang lalu dan sedang dalam perjalanan ke bandara untuk kembali ke Korea. Aku duduk di sudut bagian belakang mobil dan mengeluarkan HP-ku.

            “Yeoboseyo?”

            Aku mengernyit mendegar suaranya yang terdengar serak dan sengau.

            “Kau sakit?” tanyaku langsung.

            “Flu.”

            “Tadi saat aku tinggalkan kau tidak apa-apa.”

            “Memangnya aku bisa memprediksi kapan virus sialan ini akan menyerangku?” jawabnya ketus.

            “Sudah minum obat?”

            “Tidak mau.”

            “Kau itu! Ya sudah, istirahat sana. Malam ini aku akan segera pulang.”

            Aku menghubungi Ah-Ra nuna setelah memutuskan hubungan teleponku ke Hye-Na. Gadis itu membuatku cemas saja.

            “Ada apa anakku sayang?”

            “Aku bukan anakmu, nuna.”

            “Ah, terserah kau sajalah. Ada apa kau meneleponku, hah? Ini sudah lewat tengah malam.”

            “Nuna, bisakah kau ke apartemenku? Hye-Na sakit. Sepertinya batuk dan flu. Bawakan obat yang biasanya kita pakai. Ya?”

            “Kau sudah gila, ya? Ini sudah jam setengah satu malam!”

            “Nuna!”

            “Aish, baiklah! Kau ini merepotkanku saja! Istrimu itu hanya flu, bukan sakit kanker! Berlebihan sekali!”

            “Berlebihan? Dia itu sakit dan….”

            “Iya, baiklah Kyuhyun~a, aku akan mampir dan melihat keadaannya. Kau tidak perlu menceramahiku tentang seberapa pentingnya gadis itu untukmu. Oke?”

 

***

HYE-NA’S POV

 

            Aku bangkit dengan malas dari tempat tidur untuk membukakan pintu. Aish, siapa yang datang tengah malam begini? Apa dia tidak tahu kepalaku pusing dan hidungku tersumbat? Benar-benar menyebalkan!

            “Onnie?” seruku tak percaya melihat siapa yang datang.

            “Annyeong Hye-Na~ya, aku tidak bisa lama-lama, ini sudah malam. Ini, aku bawakan obat untukmu. Kyuhyun meneleponku dan menyuruhku datang kesini untuk melihat keadaanmu. Cepat sembuh, oke? Suamimu itu berlebihan sekali.”

            “Ah, ne onnie, jeongmal gomaweoyo.”

            Aku mengambil bungkusan itu dari Ah-Ra onnie yang langsung bergegas pergi. Aish, bocah satu itu ada-ada saja. Kan sudah aku bilang bahwa aku hanya terkena flu, berani-beraninya dia membuat Ah-Ra onnie kerepotan seperti itu.

***

KYUHYUN’S POV

 

            Aku membuka pintu kamarnya dan mendapatinya sedang tertidur lelap. Ini memang baru jam 6 pagi, wajar saja kalau dia masih tidur.

            Aku duduk di atas tempat tidur dan menyentuhkan telapak tanganku ke dahinya. Tidak terlalu panas. Tapi tubuhnya berkeringat dingin.

            Aku mengambil sapu tangan dari lemari dan menyeka keringatnya hati-hati agar dia tidak terbangun, tersenyum saat menyadari bahwa dia tidur dengan memakai kemejaku.

            Dia menggeliat sesaat dan membuka matanya.

            “Kau sudah pulang?” tanyanya serak.

            “Kau sudah minum obat? Nuna jadi kesini, kan?”

            “Kau merepotkan Ah-Ra nuna saja,” gerutunya.

            “Aku hanya mencemaskanmu.”

***

HYE-NA’S POV

 

            “Aku hanya mencemaskanmu,” ujarnya sambil merapikan rambutku dengan tangannya. Dia membaringkan tubuhnya di sampingku dan tersenyum. Senyum favoritku seumur hidup. Mendadak ucapan ibuku dulu terngiang lagi di benakku.

            “Tunggulah pria yang akan mengejarmu, seseorang yang akan membuat momen-momen biasa menjadi luar biasa seperti sihir, jenis pria yang akan memberikan yang terbaik untukmu dan membuatmu ingin menjadi manusia yang lebih baik. Tunggulah pria yang akan menjadi sahabat terbaikmu, orang yang akan menomorduakan segala hal hanya agar bisa bersamamu tidak peduli bagaimanapun keadaannya. Tunggulah pria yang akan membuatmu tersenyum seolah itu adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan dan saat dia juga tersenyum, kau tahu bahwa dia membutuhkanmu. Tunggulah pria yang tetap ingin memamerkanmu pada dunia saat kau sedang berkeringat dan tanpa make-up. Tunggulah pria yang akan menjadikanmu sebagai pusat dunianya, karena sudah jelas bahwa dia juga pusat duniamu.”

            Aku sudah menemukan pria itu, eomma. Bahkan jauh lebih hebat daripada pendeskripsianmu tentang pria sempurna yang akan mendampingiku. Benar, pria di hadapanku ini jauh lebih baik dari siapapun. Aku tidak akan menyerahkannya demi apapun. Tidak akan.

***

            Hari ini aku tinggal sendiri lagi di apartemen. Super Junior M ada kegiatan fanmeeting di Taiwan dan aku menghabiskan waktu seharian di depan laptop untuk mencari tahu tentang acara itu. Dan tahu apa yang kudapatkan? Fotonya yang sedang menggendong salah seorang fans. Apa lagi yang lebih menyebalkan dari itu? Tapi… tunggu, kenapa aku lebih cemburu melihat kemesraannya dengan Siwon oppa? Sepertinya aku benar-benar sudah sakit jiwa.

            Aku menatap layar HP-ku. Ada telepon darinya.

            “Apa?” tanyaku ketus.

            “Woa, jadi aku berhasil membuatmu cemburu?” serunya senang.

            “Kenapa kau terlalu mesra dengan Siwon oppa, hah? Saat fanmeeting kemarin juga begitu.”

            “Apa?” teriaknya kaget. “Kau cemburu pada Siwon hyung? Aku kira kau cemburu karena aku menggendong fans.”

            “Cih, untuk apa? Kau juga tidak mengenal gadis itu.”

            “Kau aneh. Sudahlah, besok aku pulang.”

            “Memangnya aku menunggumu pulang?”

            “Yeah, yang kau tunggu setiap hari kan Tae-Womu itu.”

            “Nama suamiku Kyuhyun, bukan Tae-Wo,” jawabku cepat sambil memutuskan sambungan telepon. Sesaat kemudian HP-ku bergetar lagi menandakan ada pesan masuk.

Jadi tunggulah Kyuhyun-mu ini pulang. Hahahaha. Menjijikkan.

 

            Aku tertawa kecil. Untuk kali ini, kedengarannya tidak terlalu menjijikkan.

 

***

KYUHYUN’S POV

 

ChocoBerry Love Café, Seoul, South Korea….

 

            Siang ini aku menemani Wookie makan siang di kafe pacarnya. Cih, kalau bukan karena dia berjanji akan mentraktirku, aku tidak akan mau menjadi obat nyamuk disini.

            Aku mengangkat wajahku dari PSP-ku karena merasa tidak nyaman akan tatapan Ah-Zin ke arahku.

            “Apa?”

            “Apa bagusnya sih tanganmu?” tanyanya bingung. Aku yang mendengarnya jauh lebih bingung lagi.

            “Tanganku?”

            “Iya. Kenapa Hye-Na bisa histeris karena melihat tanganmu? Waktu konser di Busan kemarin bahkan lebih parah. Dia sampai memegangiku hanya karena tidak sanggup berdiri saking histerisnya melihat tangan dan wajahmu. Kau tahu tidak, dia bahkan punya satu folder foto tanganmu.”

            Aku ternganga lebar mendengar penjelasan Ah-Zin. Tanganku? Memangnya tanganku kenapa?

            “Dia bilang tanganmu besar dan jari-jarinya panjang. Sangat hangat untuk digenggam. Dan tanganmu itu milik pribadinya.”

            Astaga, apa dia tidak waras sampai-sampai mengidolakan tanganku segala? Pantas saja kadang-kadang aku memergokinya sedang asyik menatap tanganku. Aku kira aku sendiri yang salah lihat.

            “Hye-Na itu terkadang bisa begitu histeris hanya karena mendengar suaramu saja, oppa. Gayanya saja yang sok tidak peduli di depanmu.”

            Aku tersenyum dan mengangguk.

            “Aku tahu.”

***

            “Kenapa kau sering memakai baju yang sama saat di bandara? Dan selalu saja memakai masker? Kau tahu tidak kalau sulit sekali melihat kalian dari dekat dan salah satu cara agar bisa bertemu dengan kalian adalah di bandara. Mereka berharap banyak tahu, dan kau malah menutupi wajahmu dengan masker,” celotehnya saat aku sedang memasukkan perlengkapanku ke dalam tas. Hari ini aku akan berangkat ke Paris dan gadis ini malah menceramahiku tentang hal yang tidak penting, bukannya menolongku.

            “Kenapa jadi kau yang sewot?”

            “Hanya memberitahumu.”

            “Agar kau bisa mendapat fotoku yang bagus saat di bandara, kan?” Aku membalik-balik tumpukan bajuku dari dalam lemari dan menjatuhkan pilihan pada kaus cokelat dan rompi hitam.

            “Ini belum pernah aku pakai di bandara, kan? Kau puas?”

            “Aish, sudahlah, mandi sana!”

            “Kau tidak mau ikut mandi bersamaku?”

            PLAK!!!!

            Astaga, pukulan keberapa yang dilayangkannya ke kepalaku saat ini? Bisa-bisa aku benar-benar gegar otak!

***

HYE-NA’S POV

 

            Aku sedikit terkesima saat melihatnya keluar dari kamar mandi. Oke, aku merasa menyesal telah menyuruhnya memakai baju itu tadi. Dia terlalu tampan untuk berkeliaran di bandara dengan baju seperti itu. Aish, aku jadi tidak rela.

            “Wae?”

            “Ani.”

            “Kau tidak mau mengantarku ke bandara?”

            “Kau hanya poergi tiga hari, bukan setahun. Lagipula aku tidak mau dipelototi fans-fansmu itu. Kau tidak tahu kalau sudah beredar gosip bahwa kau sudah memiliki yeojachingu gadis biasa? Jadi lebih baik kau berhati-hati.”

            “Ck, kau pasti akan menyesal tidak memperhatikanku baik-baik. Kau tidak tahu bahwa aku akan satu pesawat dengan Song Qian? Lalu besok aku akan duet dengan Seohyun. Kami menyanyikan lagu lain. Way Back Into Love. Lagu kesukaanmu, kan? Apa kau tidak cemburu sama sekali? Aku akan menggandeng tangannya lagi.”

            “Dengan Seohyun?” tanyaku kesal.

            “Ne. Wae? Kau tidak rela, kan?”

            “Kenapa bukan dengan Taeyeon onnie saja? Kalian kan sudah pernah membawakan lagu itu bersama. Padahal kalian cocok sekali. Bagaimana dengan couple TaengKyu? Aigoo, aku ini sangat mengidolakan Taeyeon onnie! Dia….”

            Lagi-lagi dia menciumku untuk membuatku tutup mulut. Sial! Ini sama saja dengan membunuhku secara perlahan namanya.

            “Kenapa kau suka sekali menjodohkanku dengan yeoja lain? Kau tidak mempertimbangkan couple KyuNa mungkin? Itu kedengarannya lebih menarik. Berhentilah membuatku kesal, Cho Hye-Na.”

            He? KyuNa? Dasar namja gila!

***

KYUHYUN’S POV

 

Paris, French….

 

            Sebentar lagi aku akan tampil dengan Seohyun. Mendadak aku merasa kesal sendiri. Kenapa harus dipasangkan dengan gadis itu terus? Lebih baik aku tidak usah diberi sesi duet atau solo sekalian. Aku lelah digosipkan terus menerus dengan gadis-gadis itu. SeoKyu, KyuYoung, KyuRi, KyuToria, dan bahkan istriku sendiri membuat couple baru untukku, TaengKyu. Kapan si bodoh itu bisa mengerti bahwa aku haanya menginginkan KyuNa saja?

            Aku melirik HP-ku dan tanpa sadar memencet nomor 9.

            “Yeoboseyo? Nugu?”

            Aish, aku lupa bahwa aku sudah mengganti nomorku selama disini dan lupa memberitahunya.

            “Ini aku.”

            “Ah, Tuan Cho. Wae? Bukankah kau sedang konser?”

            “Hmm, sebentar lagi giliran duetku.”

            “Lalu kenapa kau malah meneleponku?”

            “Apa ada larangan bagi seorang suami untuk menelepon istrinya sendiri?”

            “Memangnya ada apa, hah? Kau mau bertanya apa aku cemburu atau tidak karena kau akan menggenggan tangan Seohyun lagi?”

            “Aku tidak perlu bertanya. Kau memang cemburu, kan? Bukankah tanganku ini milikmu?”

            “Aish, apa Cho Ah-Zin yang mengatakan itu padamu? Sialan!”

            Aku terkekeh geli mendengar umpatannya.

            “Jadi apa Paris menyenangkan? Tentu saja menyenangkan ya, ada banyak gadis cantik di sekelilingmu, kan? SNSD, f(x), Z.E.A.L. Kau tinggal pilih salah satu. Apalagi banyak yang mengidolakanmu. Ya, kan?”

            Aku mendecak kesal karena ucapannya. Lagi. Dia menyuruhku menatap gadis lain lagi. Susahkah memahami kenyataan bahwa aku hanya akan melihatnya saja?

            “Tapi aku tidak akan menyerahkanmu pada mereka, Kyuhyun~a. Tidak akan,” lanjutnya sebelum aku sempat membentaknya. Tumben sekali dia mau terus-terang seperti itu.

            “Baguslah. Aku kan sudah bilang bahwa kau saja sudah cukup. Dan mengenai Paris….” Aku mengambil nafas sesaat dan menghembuskannya sambil tersenyum. “Aku akan membawamu kesini. Secepatnya.”

TBC

Mian, mianhae, jeongmal. Ini kacau banget. Aku tahu. Mian buat semua reader yang udah nunggu lama. Ini sumpah, kacau banget! Please, jangan cekek aku. Udah kelamaan nggaak nulis gini nih jadinya. Huweeee!!!!

Btw, ehm, mengenai NBY SPECIAL HONEYMOON yang bakal diposting tanggal 15 Juli, aku takutnya jadwal Kyu pas tanggal segitu malah padet dan proyek ff itu akan batal. Jadi gimana? Kalau kalian nggak keberatan seandainya untuk yang satu part ini nggak sesuai dengan jadwal kyu, ff ini bakal aku posting. Tapi kalo kalian emang pengen NBY tetap mengikuti jadwal Kyu, berarti tuh ff batal. Dan aku juga ngasih tau kalo part itu bakal FULL ROMANCE, penuh adegan romantis dan dialog norak. Hahaha. Jadi aku tunggu pendapat kalian.

Oke, part ini bakal penuh kritikan. Aku menunggu dengan deg-degan. Mohon komennya.